
Aku merasakan sesuatu yang basah menempel di dahiku.
"Halo Pit, Tisa pingsan. Badannya panas. Kamu bisa datang ke sini nggak?!" samar-samar aku mendengar suara itu.
Aku kenal dengan suara itu. Itu suara Andri.
Perlahan, aku membuka mata. Tanganku meraba benda basah yang menempel di dahiku.
Terlihat Andri berdiri di depan pintu kamarku dengan posisi membelakangiku.
Ketika dia hendak membalikkan badan, aku kembali menutup mataku.
Terdengar langkah kakinya masuk ke dalam kamar.
Aku bisa merasakan dia duduk di sampingku.
Handuk yang menempel di dahiku terasa diangkat. Andri menempelkan telapak tangannya ke dahiku.
"Masih panas," ucapannya.
Karena aku tidak merasakan adanya gerakan lagi, aku pun mulai mengintip.
Ternyata Andri masih duduk di sampingku. Tangannya sibuk mencelupkan handuk kecil yang tadi menempel di dahiku ke sebuah baskom berisi air. Kemudian dia memerasnya.
Aku langsung menutup mataku kembali.
Andri meletakkan handuk yang diperasnya tadi ke dahiku.
Terasa tangan Andri menyentuh pipiku. Lama sekali dia memegang pipiku.
Mau apa sih dia? Kenapa lama sekali memegang pipiku?!!
Terdengar Andri menghela nafas panjang.
Kemudian deru motor matic berhenti di depan sana.
Andri melepaskan tangannya dari pipiku.
"Gimana keadaan Tisa?" itu suara Pipit.
"Dia masih belum sadar. Badannya juga masih panas!" itu suara Andri.
Aku merasakan seseorang duduk di sampingku. Dari bau parfumnya sih, ini Pipit.
Aku merasakan tangannya mengelus kepalaku.
"Cepet sadar dong Tis!" ucapnya.
"Aku mau ke apotek dulu ya. Mau beli minyak kayu putih sama obat penurun panas," ucap Andri.
"Iya," sahut Pipit di sampingku.
Aku masih terus menutup mataku.
Setelah beberapa lama dan aku yakin kalau Andri sudah pergi, aku pun membuka mata.
"Tisa, kamu sudah sadar?!"
Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Menyenderkan punggungku ke dinding.
"Aku ambilin kamu minum dulu ya." Pipit berlalu keluar kamar. Dia ke dapur untuk mengambil air minum.
Tak berapa lama, dia kembali lagi ke kamar.
Aku mengernyit melihat Pipit kembali tanpa membawa air.
"Dapurnya dikunci Tis! Aku nggak bisa masuk. Kunci dapurnya mana ya?!" tanya Pipit.
Aku tertawa kecil mendengarnya. "Di balik pintu," ucapku sambil menunjuk daun pintu kamarku.
Pipit mengambil kunci itu dan kembali keluar kamar.
Pintu kamar kembali terbuka. Tapi yang muncul bukan Pipit, melainkan Andri.
"Tisa! Kamu sudah sadar!!" Andri bergegas ke arahku.
Kemudian, Pipit juga datang membawa segelas air.
__ADS_1
________
Setelah dua hari, aku akhirnya sembuh.
Aku sudah kembali beraktivitas di kantor.
Seperti biasa, aku selalu makan siang di sebuah warteg dekat kantor.
"Aku nggak nyangka, ternyata asisten direktur makan di warteg!"
Alisku bertaut mendengar perkataan itu. Aku langsung menoleh ke sumber suara.
Cowok dengan tubuh tinggi, berdiri di sampingku. Kulitnya begitu putih. Dengan kedua matanya yang sipit, dia tersenyum kepadaku.
Dengan mulut yang masih penuh nasi, aku menatapnya. Dari atas sampai bawah, kemudian balik lagi ke atas. Sepertinya dia keturunan Cina.
Dia memakai kemeja dan dasi dengan warna senada.
Aku mengernyit bingung. Aku tidak mengenal orang ini.
Siapa orang ini?! Kenapa dia bisa tahu kalau aku asisten direktur?!
"Maaf, Koko siapa ya?" tanyaku setelah nasi di dalam mulutku kutelan.
"Koko?" dia malah balik nanya.
Apa aku salah?! Bukankah laki-laki di Cina dipanggil Koko?!!
Aku mengangguk. Dia malah tertawa kecil dan malah duduk di sampingku. Meja dan kursi warteg ini bentuknya memanjang.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya.
Ngapain masih nanya? Orang udah duduk!
"Bu, pesan nasi pecel satu sama es teh satu ya Bu!" ucapnya pada penjaga warung.
"Kenalin, aku Yosua." Dia menjulurkan tangannya ke arahku.
Aku pun menjabat tangannya. "Tisa."
Buset! Tangannya halus bener! Ngala-ngalahin tangan cewek.
________
Setelah makan siang, aku langsung kembali ke kantor.
"Tisa, makan siang bareng yuk!" ajak Andri ketika aku baru masuk ruangan.
"Maaf, Ndri. Aku sudah makan," jawabku.
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk!" Andri mempersilahkan.
Aku terkejut melihat orang yang masuk ke dalam ruangan.
Itu kan Koko yang tadi!
"Koko ngapain kesini?!" tanyaku keceplosan.
"Koko?!" Andri menatapku mengernyit. Tapi kemudian matanya beralih menatap Koko itu. "Ada apa?" tanya Andri.
Koko itu mulai membicarakan sesuatu dengan Andri.
Tak lama kemudian, dia keluar. Sebelum keluar, dia tersenyum kepadaku.
"Apa tadi? Koko?!" tanya Andri. "Kenapa kamu memanggilnya Koko?!"
Aku mengernyit bingung. "Karena aku mengira dia orang Cina, jadi aku memanggilnya Koko."
"Saat pertama kali bertemu dengan orang lain, kau memanggilnya Koko. Tapi berbeda denganku. Kau memanggilku Om, saat pertama kali kita bertemu!" ucap Andri.
Andri kenapa sih? Kenapa dia jadi kesal?!
"Jangan memanggilnya Koko lagi! Dia itu Manager di sini," ucap Andri lagi.
__ADS_1
Aku sedikit terkejut mendengarnya. "Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Aku menugaskannya di luar kota. Baru kemarin dia datang."
Mulutku membentuk huruf O mendengar penjelasan Andri.
"Ayo ikut aku ke kafe!"
Aku menatap Andri mendengar ajakannya.
"Aku lapar! Dari tadi aku menunggumu untuk makan. Tapi ternyata kau sudah makan duluan!!" ucap Andri lagi.
Kenapa Andri menungguku?!
________
Dokumen yang aku bawa terlalu banyak.
Alhasil malah jatuh berserakan di lantai.
Aku langsung memunguti kertas-kertas itu.
Tiba-tiba sebuah tangan putih membantuku memungut kertas di lantai. Membuat tangan kami saling bersentuhan.
Aku langsung menarik tanganku dan mendongak.
Ternyata Koko yang tadi. Eh, maksudku Pak Yosua.
Dia membantuku mengumpulkan kertas-kertas yang berjatuhan di lantai.
"Terimakasih, Pak Yosua," ucapku.
Dia mengernyit. "Koko-nya mana?"
"Ahaha. Maaf, waktu itu saya nggak tahu kalau Pak Yosua adalah Manager di sini."
"Nggak papa. Aku juga nggak keberatan kok dipanggil Koko," ujarnya.
________
Aku berdiri di depan kantor. Tanganku sibuk mengusap layar hp.
Katanya hari ini Pipit akan menjemputku. Tapi kenapa dia tak kunjung datang?
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depanku.
"Mau pulang?" ternyata itu Pak Yosua.
Aku mengangguk menjawabnya.
"Ayo naik, aku anterin!"
"Nggak usah. Tisa pulang sama saya!" seseorang memegang pundakku dari belakang.
Aku langsung menoleh, ternyata Andri.
"Kalau gitu, saya pulang duluan ya Pak," pamit Pak Yosua.
Motornya melaju meninggalkan kantor.
"Ayo kita pulang," ajak Andri.
"Kamu pulang duluan aja. Aku nunggu Pipit. Katanya dia mau menjemputku."
Setelah mendengar ucapanku, Andri mengeluarkan hp dari sakunya.
Kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo Pit?"
Aku langsung menoleh ke Andri.
"Tisa pulang bareng aku. Jadi kamu nggak usah jemput Tisa ya."
Setelah mengatakan itu, Andri menutup sambungan telfon dan memasukkan kembali hpnya ke saku.
"Yuk kita pulang!" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku hanya bisa melongo menatapnya.
BERSAMBUNG