KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Istri Kedua


__ADS_3

Aku mendongak menatap Om Heru.


"Kamu pasti penasaran kan kenapa saya bisa tahu?" tanya Om Heru seolah membaca isi kepalaku.


"Ayahmu itu rekan kerja saya. Tentu saja saya tahu. Bahkan kami teman dekat!"


Wah, gawat! Gimana kalau Om Heru cerita ke Papa tentang aku?!


Om Heru tiba-tiba tertawa. "Jangan tegang gitu. Saya nggak akan kasih tahu Ayahmu. Karena saya nggak mau mencampuri urusan orang lain."


Aku sedikit bernafas lega mendengar ucapannya.


"Tapi Sa, kalau menurut Om, nggak baik kalau kamu lari dari masalah. Akan lebih baik kalau kamu ngobrol sama Ayahmu, bicarain baik-baik."


Ngobrol itu dua arah. Kalau sama Ayah bukan ngobrol namanya, cuma dia sendiri yang nyerocos. Sendirinya nggak mau dengerin pendapat orang lain!


"Orang tua itu hanya ingin yang terbaik buat anaknya, mereka hanya ingin anaknya bahagia," tutur Om Heru lagi.


Bahagia itu jika ada kepercayaan. Ayah aja nggak percaya sama aku. Gimana bisa tercipta kebahagiaan?


Aku hanya menghela nafas mendengar nasihat Om Heru.


"Oh ya Ndri, mumpung Indah lagi kesini, gimana kalau kalian cari baju pengantin sama cincinnya sekalian."


Andri mendongak menatap Papanya setelah itu berganti menatap Indah "Kalau Andri sih iya-iya aja Pa. Tapi Indahnya gimana? Mana tahu setelah ini dia ada acara?"


Om Heru berganti menatap Indah.


"Nggak kok Pa. Setelah ini Indah nggak ada acara," ujar Indah yang membuat bibir Om Heru tersenyum.


"Bagus deh kalau gitu!"


Setelah selesai makan malam, Andri dan Indah berpamitan untuk langsung mencari baju pengantin dan persiapan pernikahan lainnya.


Bersamaan dengan itu, aku pun juga pamit pulang. Ya kali aku tetap di sana.


Saat aku hendak berlalu mencegat taksi, Andri segera mencekal lenganku.


"Apaan sih Ndri?! Lepasin! Nanti kalau Indah lihat gimana?!" protesku.


Untungnya aku tepat waktu melepas tangan Andri karena tepat setelah itu Indah keluar dari rumah.


"Ndah, aku pulang duluan ya," pamitku ke Indah.


"Ndah, gimana kalau kita anterin Tisa dulu aja. Setelah itu baru cari bajunya."


Aku melotot ke Andri yang memberikan ide gila itu.


Udah gila dia ya! Nanti kalau Indah salah paham beneran gimana?!


"Nggak usah Ndri. Aku bisa naik taksi kok! Aku nggak mau ngerepotin kalian."


"Nggak ngerepotin kok. Nggak papa kan Ndah?" tanya Andri ke Indah yang tampak memikirkan sesuatu.


"Emmm, gimana kalau Tisa ikut kita pilih baju pernikahannya?"


Mataku membulat.


Hah? Apa?! Ini sih lebih gila dari pada ide Andri! Nggak. Aku nggak mau ikut. Hati cewek mana yang nggak sakit ngeliat dengan mata kepala sendiri cowok yang dicintainya milih gaun pengantin dengan orang lain?!


Saat aku hendak menolak, tiba-tiba Indah mendekat dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Sa, aku mohon sama kamu. Kamu ikut ya," bisik Indah. "Aku masih canggung sama Andri. Nggak enak kalau berduaan."


Apa?! Canggung? Perasaan waktu masak di dapur tadi mereka udah bercanda sama ketawa bareng deh. Lalu di bagian manakah yang disebut canggung?!


"Pliss.. temenin ya Sa," bisik Indah lagi.


Kutatap Andri yang terdiam. Semoga dia menolak ide gila Indah.


"Boleh juga ide kamu Ndah."


Aku membulatkan mata mendengarnya. Sudah kuduga tak ada yang bisa kuharapkan dari Andri.


"Sekalian biar Tisa juga bantuin buat nyari gaun pengantinnya."


Kamu nggak peka atau gimana sih Ndri?! Mana ada mantan pacar yang bantuin nyari gaun pernikahan?!


Mulut ini tak bisa menolak lagi karena Indah sudah keburu menarikku masuk ke mobil.


Hening beberapa saat di dalam mobil. Aku juga tak ada niatan untuk memecah keheningan ini. Biarlah seperti ini, lebih bagus.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?" akhirnya Indah yang memecah keheningan ini.


Andri menoleh. "Tanya aja. Mau tanya apa?"


"Ndri, sebelum hubungan kita menuju ke yang lebih serius, aku memutuskan untuk bertanya tentang ini. Apakah kamu dan Tisa pacaran?"


Mataku membulat mendengar pertanyaannya.


"Ahaha. Tentu saja tidak!" jawabku cepat. "Informasi gila darimana itu?"


"Aku hanya bertanya saja. Biasanya kan antara Bos dan asisten di kebanyakan kantor selalu punya hubungan spesial. Mana tahu ternyata kalian juga seperti itu."


Ya kali aku menjawab ada sesuatu antara aku dan Andri. Bisa perang dunia ketiga nanti.


"Syukurlah kalau gitu. Soalnya aku nggak mau jadi perusak hubungan orang. Aku jadi lega mendengar jawabanmu."


Setelah itu keheningan kembali melanda. Aku pun memutuskan untuk larut dalam pikiranku sendiri.


Dan dalam sekejap, mobil yang kutumpangi sudah terparkir di depan toko mewah.


Ketika ingin masuk ke toko, Indah meraih tanganku dan menggandengnya.


Sementara Andri berjalan di belakang kami.


Ahaha. Rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri. Ini pasti sejarah pertama dimana seorang mantan ikut membantu memilih baju pengantin.


"Selamat datang.." sambut pegawai toko ramah.


Baru kali ini aku liat ada pegawai laki-laki yang bekerja di toko yang menjual gaun pengantin.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


"Kami sedang mencari gaun pernikahan," jawab Andri.


"Wah, Abang hebat banget ya. Masih muda udah punya dua istri!" puji pegawai laki-laki itu.


Aku mengernyit mendengar pujian itu.


"Yang mana nih istri pertamanya?" tanyanya antusias.


Belum juga kami menjawab, dia kembali nyerocos.

__ADS_1


"Ah, saya tahu! Sesuai warna baju yang mereka pakai. Yang pakai dress biru tua ini pasti istri pertama," dia menunjukku. "Sementara yang pakai dress biru muda pasti istri kedua," ucapnya lagi sambil menunjuk Indah.


"Bukan-bukan! Mas-nya salah pa--"


"Oh jadi salah ya?" dia memotong ucapanku. "Kalau begitu yang biru muda istri pertama," dia menunjuk Indah. "Dan yang biru tua istri kedua," imbuhnya sambil menunjukku.


Andri hendak menjawabnya, tapi dia kembali nyerocos.


"Bagi tipsnya dong Bang. Supaya bisa punya istri dua," pegawai itu menaik-turunkan alisnya menatap Andri.


"Maaf atas ketidak nyamanannya," seorang pegawai perempuan membungkam mulut pegawai laki-laki yang terlihat hendak nyerocos lagi. "Jangan bikin onar ya!" bisiknya sambil melotot.


"Dia anak magang di sini, jadi mohon dimaklumi. Sekali lagi kami minta maaf," dia sedikit membungkuk kepada kami.


"Iya nggak papa kok Mbak," sahutku yang hampir berbarengan dengan Andri.


Selanjutnya kami dipandu oleh pegawai perempuan yang lain.


"Di sini nggak hanya gaun pengantin, ada juga cincin, sepatu dan perlengkapan pernikahan lainnya."


"Gimana kalau kita coba cincin dulu?" ajak Indah yang mendapat anggukan dari Andri.


"Untuk cincin, ada di sebelah sini. Mari," pegawai toko berjalan di depan kami menunjukkan arah.


Belum juga kami sampai di tempat cincin, Indah malah berhenti.


"Maaf Mbak, toilet ada di sebelah mana ya?" tanyanya yang sudah seperti kebelet.


"Mari saya antar Mbak," ujar pegawai toko.


"Ndri, kamu pilih cincinnya duluan aja ya. Aku ke toilet dulu." Indah pun berlalu meninggalkan kami.


"Wah, kita ketemu lagi Bang!" dan ternyata yang menjaga bagian cincinnya adalah pegawai laki-laki tadi. "Lho, istri yang satunya mana Bang?"


"Ke toilet," sahut Andri cuek. "Sa, bantuin milih. Menurut kamu mana yang bagus?"


Oalah Ndri, Ndri. Dari tadi kok nggak peka banget sih?! Kok bisa gitu lho minta tolong ke orang yang baru kamu putusin buat milihin cincin kawinnya?!


Meskipun enggan, aku tetap memilih cincin.


"Kayaknya yang itu bagus deh Ndri!" tunjukku pada cincin warna silver dengan berlian putih di atasnya.


"Kayaknya iya deh. Saya mau coba yang itu Mas!"


Pegawai laki-laki itu dengan sigap mengeluarkan cincin couple dari etalase kaca. Andri pun langsung mencobanya.


"Wah, langsung pas Sa!" ujarnya senang.


Aku merasa senang sekaligus sedih melihatnya tersenyum.


Senang karena dia bahagia. Sedih karena bukan aku yang membuatnya tersenyum.


"Lho, Mbaknya kok nggak ikut nyoba? Dicoba aja Mbak, nggak papa!" pegawai laki-laki tadi tiba-tiba menyambar tanganku yang berada di atas etalase dan memakaikan cincin satunya.


Dan akhirnya cincin itu melingkar di jari manisku.


Detik berikutnya aku kembali terkejut karena cincin itu tidak bisa lepas dari jariku.


"Ndri! Cincinya nggak bisa lepas!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2