KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Terjalin Dan Terputus


__ADS_3

Aku menahan nafas menatap manik hitam itu.


Oi jantung! Tolong kamu tenang sedikit di dalam sana! Jangan loncat-loncat nggak karuan!!


"Dengan sikap kamu yang barusan, itu menunjukkan kalau kamu cemburu. Yang berarti, kamu suka sama aku!" jelas Andri yang membuat pipiku terasa panas.


Duhh.. kenapa tambah diperjelas sih?! Aku kan jadi tambah malu!


Tak kuat dengan tatapan manik hitam itu, aku segera bangkit dari kursiku.


"Em.. Maaf Ndri, aku harus ke toilet dul-"


"Jangan alasan!" Andri menekan pundakku agar aku kembali duduk. "Jawab dulu pertanyaanku!" posisinya berdiri benar-benar membuatku merasa tersudut. Bibirnya menyunggingkan senyum menatapku.


Aaakhh! Andri kenapa jadi gini sih?! Aku kan jadi tambah malu!!


"Oke, sepertinya kamu malu mengakuinya!" ujar Andri sedikit terkekeh yang membuatku semakin malu. "Gini aja deh, kalau memang kamu malu mengakuinya, kamu cukup ngangguk aja sebagai jawaban iya."


Sorot manik hitam Andri seolah menghipnotisku untuk menganggukkan kepala. Dan, ya. Aku benar-benar mengangguk!


"Yes!" seru Andri girang dengan tangan terkepal.


Aakhh! Malu banget!!


"Kalau gitu, berarti kita sekarang.."


"ANDRI!!" teriak seseorang bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan memotong ucapan Andri.


Sontak membuatku dan Andri menoleh ke ambang pintu.


"Papa!" ujar Andri terkejut.


Papa?!


Pria yang memakai jas hitam berkacamata itu langsung masuk ke dalam ruangan mendekati kami.


Aku mengernyit menatap pria itu.


Sepertinya aku pernah melihat Om ini. Tapi dimana?!


"Ngapain Papa kesini?!"


"Harusnya Papa yang melontarkan pertanyaan! Siapa perempuan ini?!" tanya Om itu dengan menunjukku. "Papa itu sudah menjodohkan kamu!"


Deg!


Jadi Andri sudah dijodohkan?!


Kulirirk wajah Andri. Dia mengusap kasar wajahnya.


"Sudah berapa kali Andri bilang sama Papa. Andri itu nggak setuju dengan perjodohan itu Pa!" sahut Andri dengan penuh penekanan.


Bisa kurasakan ketegangan di dalam ruangan ini.


"Asal Papa tahu ya," Andri menarik tanganku, mendekatkan diriku dengannya. "Andri udah punya perempuan pilihan Andri sendiri Pa!"


"Papa nggak setuju!"

__ADS_1


"Papa harus setuju! Karena Andri mencintai Tisa Pa!"


Terlihat wajah Papanya Andri menunjukkan raut wajah yang.. entahlah. Aku tak bisa mendeskripsikannya.


"Tisa?!" tanyanya sambil menatapku. "Tisandra Putri Kusuma?"


Aku mengerutkan alis ketika dia menyebutkan nama lengkapku. Tapi tak urung, aku juga mengangguk menjawabnya.


Bagaimana dia bisa tahu nama lengkapku?


Dia terlihat terkejut saat aku mengangguk.


"Apa kau Tisa anaknya Darma?!" tanyanya lagi yang membuatku kembali terkejut karena dia tahu nama Ayahku.


Kini gantian Om itu yang terkejut saat aku kembali mengangguk. Kemudian tatapannya beralih ke Andri.


"Ndri, kita perlu bicara sebentar," ucapnya pada Andri.


"Apa lagi yang mau dibicarakan Pa?!"


"Maaf, saya mau bicara empat mata dengan anak saya," ucap Om itu padaku, yang berarti menyuruhku untuk keluar dari ruangan ini.


Aku pun segera keluar dari ruangan dengan perasaan yang masih bertanya-tanya.


Kenapa Papanya Andri bisa tahu nama lengkapku dan nama Ayah?! Apa jangan-jangan, Ayah adalah musuh bisnis Papanya Andri? Tapi kayaknya nggak mungkin deh. Andri kan kerja sama dengan Ayah.


Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat ini. Rasa-rasanya seperti ada kabar buruk yang menanti.


Apa sih yang mereka bicarakan?! Kenapa lama sekali?!


Karena begitu penasaran, aku pun akhirnya menempelkan telingaku ke pintu untuk menguping pembicaraan mereka.


Aku kembali mengingat wajah Papanya Andri yang rasanya tidak asing bagiku. Entah kenapa, rasanya aku pernah melihat Papanya Andri di suatu tempat.


Nih pintu kenapa nggak kayak di kos-kosan sih?! Kalau di kos-kosan mah nggak perlu nempelin telinga kayak gini udah denger!


Ceklek!


Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.


"E-eh?!"


Brugh!


Aku langsung jatuh tersungkur ke lantai begitu pintunya terbuka.


Aku mendongak melihat Papanya Andri yang masih memegang gagang pintu. Kulihat juga wajah Andri yang sepertinya ingin tertawa tapi ia tahan.


Duuh.. jadi nambah kesan buruk aja!


Aku segera bangkit berdiri. "Sa-saya nggak nguping kok! Saya cuma.." Aku menggantung kalimatku begitu Papanya Andri menyunggingkan senyum. Yang menurutku seperti tersenyum sinis.


Dia berlalu keluar dari ruangan sebelum aku melanjutkan ucapanku.


"Ndri, aku.."


"Sa, aku minta maaf banget sama kamu," ucap Andri memotong ucapanku.

__ADS_1


"Kenapa kamu minta maaf?" Aku mengerutkan alis mendengar permintaan maaf dari Andri.


"Aku udah nggak bisa lagi sama kamu," jelas Andri.


"Maksud kamu?!"


"Aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita!"


"Kamu bercanda kan Ndri?"


"Nggak Sa, aku nggak bercanda!"


Deg!


Hatiku rasanya mencelos mendengar perkataan Andri.


"Hubungan kita sampai di sini saja," lanjut Andri lagi.


"Tapi kenapa Ndri?" lirihku dengan menatap manik hitam yang beberapa saat tadi menatapku. Tapi manik hitam itu malah membuang pandangannya ke arah lain.


"Kamu dengar kan tadi Papaku bilang kalau dia telah menjodohkanku?"


"Iya! Dan tadi aku juga dengar kalau kamu mengatakan tidak setuju dengan perjodohan itu!"


"Aku minta maaf Sa. Tapi aku benar-benar nggak bisa menolak perjodohan itu. Karena kalau sampai aku menolak, perusahaan kami akan bangkrut!" ungkap Andri yang membuatku tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku harap, berakhirnya hubungan kita tak mempengaruhi tentang pekerjaan," lanjut Andri sambil berjalan melewatiku. Kuraih tangannya menahannya pergi.


"Tapi Ndri.." Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang jelas, aku tak ingin hubungan yang baru terjalin ini harus berakhir.


"Maaf Sa." Andri melepaskan pegangan tanganku. "Aku benar-benar nggak bisa," sahutnya lalu keluar dari ruangan meninggalkanku.


Aku hanya bisa menatap punggungnya menghilang di balik pintu.


Dengan lunglai aku berjalan ke meja kerjaku, lalu kujatuhkan bobotku di kursi.


Apakah ini mimpi? Jika iya, aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini!


Tapi sepertinya ini bukan mimpi. Karena lututku masih terasa sakit akibat jatuh barusan.


Belum juga ada sehari hubunganku dan Andri sudah harus berakhir. Jangankan sehari, satu jam aja belum.


Andri duluan yang mengatakan suka kepadaku. Dan sekarang, Andri juga yang mengakhiri hubungan ini.


Hubungan yang baru terjalin hari ini, dan berakhir hari ini juga.


Andai waktu itu aku tak memilih jatuh cinta, mungkin saat ini aku tak kan merasakan sesakit ini. Semuanya terjadi terlalu cepat. Bahkan menangis pun rasanya tak sanggup.


Kutatap meja kerja Andri yang sedang kosong.


Bagaimana aku bisa melewati kesedihan ini, sementara aku masih satu ruangan dengannya?!


Ceklek!


Aku langsung menoleh ke pintu begitu mendengar suara pintu terbuka. Andri berdiri di sana sambil menatapku.


"Tolong persiapkan dirimu, sebentar lagi kita akan ada meeting," ucapnya sambil berjalan ke meja kerjanya.

__ADS_1


Aku menghela nafas dan segera menyusun berkas-berkas yang dibutuhkan dalam meeting.


BERSAMBUNG


__ADS_2