
Aku segera keluar dari kamar dan mengejar Faiz.
"Faiz!" segera kutahan tangannya yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Ada apa Sa?"
Kutatap wajah Faiz yang terlihat sedikit bingung.
Nggak. Aku nggak boleh menanyakan langsung. Pasti dia akan beralasan lagi. Lebih baik aku selidiki sendiri saja!
"Ehem!"
Aku sontak langsung menoleh mendengar deheman keras barusan.
Seketika aku langsung melepaskan tanganku yang sedang memegang tangan Faiz ketika Andri berdiri di belakang kami.
"Kami nggak ngapa-ngapain kok!" seruku langsung.
Apa ini? Kenapa rasanya aku seperti sedang kepergok selingkuh? Padahal kan aku bukan pacarnya!
________
Dan entah kenapa, aku malah mengikuti Andri yang berjalan ke arah dapur.
Setelah adegan kepergok tadi, membuat kecanggungan antara aku dan Andri.
Aku nggak ngerti kenapa kecanggungan ini harus tercipta. Padahal kan di antara kami sudah tidak ada apa apa lagi.
Sikap Andri yang dari tadi diam saja juga membuatku jadi sedikit merasa bersalah.
Di dapur yang tak besar ini, hanya ada kesunyian yang terasa. Aku hanya memerhatikan dia yang sedang memasak mie instan.
Duhhh kok kesannya kayak aku yang salah sih?! Padahal kan aku nggak ngapa-ngapain!
"Ndri, tadi itu aku beneran nggak ngapa-ngapain kok sama Faiz!" akhirnya keluar juga kata-kata penjelasan dari mulutku.
Andri terlihat menatapku sebentar. "Emangnya aku nanya ya?"
What?!!
Ucapan Andri barusan benar-benar membuatku gondok.
Aku langsung merasa menyesal karena sudah menjelaskan sesuatu yang ternyata tidak dihiraukan oleh Andri.
Duhhh apa yang kamu lakukan sih Tis! Rasanya aku seperti melempari kotoran di wajahku sendiri. Malu!!
Aku yang dari tadi mati-matian mikir buat nyusun kata-kata penjelasan, tapi ternyata nggak ada gunanya woy!
"Tis, dress yang tadi itu kenapa kamu geletakin di kasur gitu aja sih?" tanya Pipit yang baru masuk ke dapur.
Aku melirik Pipit yang masih saja membahas dress itu, membuatku kesal karena harus teringat dengan Orang Sinting itu.
"Udah lah Pit, jangan bahas dress itu lagi!"
"Kenapa? Kamu nggak suka sama dressnya?"
Iya, aku nggak suka! Nggak suka dia yang tiba-tiba beliin sesuatu untukku!
"Kalau kamu nggak suka, buat aku aja ya?"
"Terserah!" jawabku singkat.
"Kok kamu gitu sih?!"
Aku terkejut mendengar suara protesan dari Andri.
Ketika aku menoleh menatapnya, rupanya dia sedang berbicara di telfon.
Huh, kukira dia berbicara denganku.
__ADS_1
"Itu namanya kamu nggak menghargai apa yang aku kasih!" lanjut Andri yang masih berbicara di telfon.
Entah berbicara dengan siapa. Yang pasti, dia terlihat sangat kesal. Setelah itu dia keluar dari dapur.
________
"Pit, kamu liat namagashi di sini nggak?" Namagashi yang tadi kutaruh di atas lemari, hilang entah kemana.
"Nama-- apa? Apaan tuh?"
"Itu lho.. bentuknya kayak bunga. Warnanya maroon. Tadi aku taruh di sini!" Aku menunjuk lemari baju.
"Ooh itu. Udah aku makan!"
"Apa?!" Aku langsung menoleh menatap tajam Pipit. "Sudah kau makan?!"
"Iya, hehehe," jawab Pipit sambil nyengir. "Tadi aku penasaran apa itu. Ketika aku buka, kok wangi banget. Eh pas aku cicipi ternyata rasanya manis. Eh, nggak tahunya malah kepleset sampai ke perut! Hehehe."
"Duh Pipit! Kok dimakan sih? Kamu tahu nggak sih kalau aku udah nahan-nahan banget buat nggak makan itu!"
"Ya maaf. Lagian kenapa kamu cuma beli satu sih?!"
"Aku nggak beli! Tadi dikasih sama Faiz."
"Yaudah, kita minta lagi aja. Aku juga pengen nih!"
________
Dan di sinilah kami berada, di dalam kamar Faiz.
Setelah Pipit memaksaku untuk meminta namagashi lagi, Faiz akhirnya menyuruh kami masuk ke kamarnya untuk memilih namagashi yang kami sukai.
Mataku menyapu semua sudut di dalam kamar ini.
Rupanya Faiz sudah menata barang-barangnya.
"Iz, kamu bisa main gitar?" tanya Pipit yang ternyata juga melihat gitar itu.
"Iya."
"Wah, mainin lagu dong! Itung-itung buat hiburan. Boleh kan?" tanya Pipit.
"Boleh. Tapi jangan di dalam kamarku ya. Nanti kita malah dikira lagi ngapain lagi. Masa satu kamar ada cewek cowok!" seloroh Faiz sambil tertawa.
Aku dan Pipit pun juga ikut tertawa mendengar ucapannya.
Kini, Faiz sudah siap dengan gitarnya. Kami bertiga duduk di depan pintu kamarku.
"Mau lagu apa?" tanya Faiz sambil menyetel senar gitarnya.
"Terserah," jawabku dan Pipit yang hampir bersamaan.
"Oke!"
Setelah itu, petikan gitar mulai terdengar. Memainkan sebuah lagu.
Aku terhenyak begitu mulai tahu lagu ini. Despair, ini adalah lagu sedih yang ada di Naruto.
Kami semua terdiam mendengarkan petikan gitar.
Faiz terlihat sangat menjiwai lagu yang sedang dia mainkan.
Suasana yang tadinya ceria, kini berubah sedih. Tak terasa sudut mataku mengeluarkan air.
Ah, kenapa jadi keinget diputusin Andri sih?!
"Stop Iz!" Pipit tiba-tiba menghentikan permainan gitar Faiz. "Aku nggak tahu ini lagu apa. Tapi ini terdengar sangat sedih. Ganti yang ceria-ceria aja ya?"
Segera kuusap sudut mataku, menyeka sesuatu yang sedikit keluar tadi.
__ADS_1
Faiz pun mulai memainkan lagu lain.
Mataku berbinar begitu tahu lagu ini. Aku tahu lagu ini! 'Kanashimi wo Yasashisa ni' lagu yang ada di Naruto.
Aku pun langsung ikut bernyanyi.
"Sou sa kanashimi wo yasashisa ni
Jibun rashisa wo chikara ni
Mayoi nagara demo ii aruki dashite
Mou ikkai mou ikkai.."
"Stop stop!" seru Pipit tiba-tiba. "Lagu yang lain dong!"
Aku hanya menghela nafas panjang sambil meliriknya. Padahal aku tadi udah menjiwai banget.
Faiz tak protes sama sekali. Kini ia kembali memetik senar gitar dengan nada yang berbeda.
Senyum di bibirku kembali mengembang, karena lagi-lagi aku tahu lagu apa yang sedang dimainkan Faiz.
Silhouette - Kana Boon. Lagi-lagi Faiz memainkan lagu yang ada di Naruto.
Dengan sumringah aku mulai bernyanyi.
"Isse no se de fumikomu gourain bokura wa
Nanimo nanimo--"
"Stop stop! Ganti lagunya Iz!"
Aku hanya bisa melirik Pipit dengan kesal.
Tapi senyumku kembali terukir kala Faiz mulai memainkan lagu yang sangat aku hafal.
Kuambil nafas dalam-dalam sebelum mulai bernyanyi.
"Sha la la itsu--"
"Stooop!! Kalian dari tadi nyanyi lagu apa sih?! Aku nggak ngerti tahu! Pada wibu semua! Dari tadi jejepangan mulu! Nyanyi lagu normal kenapa sih?!"
Aku dan Faiz hanya terdiam dan menatap Pipit, mendengar protesannya.
Triririring!
Suara hp Pipit dari dalam kamar terdengar begitu nyaring.
"Sebentar ya, aku angkat telfon dulu!" Pipit pamit masuk ke dalam kamar.
Aku dan Faiz bertatapan. Seketika tawa tersembur dari mulut kami.
Kami terbahak-bahak karena dari tadi selalu sepemikiran menyanyikan lagu.
Seet
Tiba-tiba tangan Faiz terjulur ke wajahku. Ia mengusap sudut mataku.
"Kau mengangis," ujarnya lirih.
"Ah, i-ini karena lagu yang pertama tadi. Sedih banget, sampai kebawa perasaan."
Ketika aku berusaha menyingkirkan tangan Faiz. Mataku malah menangkap Andri yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Dia menatapku dengan menautkan kedua alisnya.
Apa? Kenapa dia menatapku seperti itu?
BERSAMBUNG
__ADS_1