
Deg-deg deg-deg deg-deg!
Jantungku berdetak lebih kencang dibandingkan saat Andri menyelipkan rambutku ke telinga tadi.
Mungkin Andri pun bisa mendengar detak jantungku.
Kami berdua sama-sama mematung dalam posisi seperti ini.
Aku pun bisa merasakan detak jantung Andri yang sama-sama cepat.
"Tisa! Andri! Suara apa itu? Apa yang jatuh?!" terdengar suara Mama dan derap langkah kaki menuju ke dapur ini.
Segera kudorong tubuh Andri menjauh dariku dan langsung berdiri.
Andri terlihat seperti orang linglung. Ia berdiri dan mengambil camilan yang jatuh ke lantai.
Lalu ia pura-pura sedang sibuk membuka bungkus camilan itu dan menuangkannya ke piring.
Sedangkan aku bergegas meraih teko, pura-pura sedang menuang minuman.
"Apa yang jatuh barusan?" tanya Mama lagi setelah sampai ke dapur.
"Ng.. I-ini Ma. C-camilan," jawab Andri gugup. "B-barusan Andri ngambil camilan dari lemari. Tapi camilannya malah jatuh!"
"Masa sih camilan jatuh suaranya sampai keras kayak gitu? Kedengeran sampai ruang tamu lho.. Iya kan Ndah?"
Indah mengangguk membenarkan ucapan Mama.
"Bener kok Ma! Barusan itu camilan yang jatuh ke lantai," ucapku memperkuat kebohongan Andri.
Tapi Mama masih tampak ragu dengan jawaban kami.
Aku mulai panik ketika Mama meneliti wajah kami secara detail.
Jantungku belum juga berdetak normal, sekarang malah ditambah ketegangannya.
Susah payah aku menelan saliva.
"Tunggu!"
Aku terjingkat kaget mendengar Mama berbicara. Tatapannya tajam melihat wajah ini. Lalu berganti menatap Andri.
"Wajah kalian kenapa merah gini?"
Aku mendongak menatap Mama mendengar pertanyaannya.
"Apa kalian sakit karena kehujanan tadi?" Mama berjalan mendekat ke arahku dan menempelkan punggung tangannya ke dahi ini.
Segera aku menurunkan tangan Mama.
"Tisa nggak sakit kok Ma. Tisa kan tadi pakek jas hujan, jadi nggak kehujanan," jawabku sambil tersenyum meyakinkan Mama.
Kemudian tangan Mama beralih ke dahi Andri.
Belum juga menyentuh dahinya, Andri sudah duluan mencegah tangan Mama.
__ADS_1
"Andri juga nggak sakit kok Ma. Mama nggak perlu khawatir. Mending Mama ke depan aja sama Indah. Bentar lagi kami akan nyusul setelah semuanya siap."
Mama diam beberapa saat, ia tampak ragu.
"Ya udah deh kalau gitu. Mama ke depan dulu sama Indah ya."
Kami berdua kompak mengangguk ke Mama.
"Fyuuhhh.." Aku bernafas lega setelah Mama keluar dari dapur.
Aku menyentuh hidungku yang membuat kejadian beberapa saat yang lalu kembali terlintas di kepalaku.
Aaargh!! Tidak! Jangan membayangkan kejadian itu lagi!
Segera kukipas-kipaskan tangan ke atas kepalaku untuk mengusir bayangan kejadian tadi.
Setelah selesai menuangkan minuman, aku membuka lemari yang ditunjuk Andri tadi untuk mengambil baki.
Aku menghela nafas kesal saat aku sudah berjinjit-jinjit tapi tetap tak bisa mengambil baki di lemari yang lumayan tinggi.
"Sini, biar aku bantu am--"
Zzzzt!!!
Segera kutarik tanganku yang seperti terkena aliran listrik saat bersentuhan dengan tangan Andri.
Sepertinya Andri juga merasakan hal yang sama karena dia juga menarik tangannya.
Seketika kejadian tadi kembali muncul ketika tak sengaja mata ini bersitatap dengan mata Andri. Segera aku membuang muka ke arah lain.
"Makasih," ucapku sambil menerima baki yang disodorkan Andri tanpa menatap kearahnya.
Tak ingin berlama-lama berduaan dengan Andri di dapur, aku segera menyusun minuman dan camilan ke baki lalu bergegas ke ruang tamu.
"Kamu beneran nggak papa kan Sa?" tanya Mama lagi ketika aku menaruh minuman ke atas meja. "Wajahmu beneran merah lho."
"Iya Ma, beneran."
Tak selang berapa lama, Andri muncul dengan telinga yang masih terlihat merah. Dia juga menghindari bersitatap denganku.
Aku pun juga sebisa mungkin menghindari bertatapan dengan Andri.
________
Entah sudah berapa lama kami bercakap-cakap.
Yang jelas, sepertinya di sini aku cuma numpang duduk saja. Sepertinya keberadaanku di sini tak terlalu penting.
Dari tadi aku cuma berhaha-hihi saja. Aku tak tahu harus ikut nimbrung bicara apa.
Ditambah, Andri dan Indah yang sejak tadi terus melempar pandangan membuat hati ini jadi panas.
Hareudang ey!
"Makanya, nurut sama orang tua. Rugi sendiri kan!" ucap Mama di sela-sela tawa.
__ADS_1
"Bukannya datang ke acara kencannya, eh malah nyuruh temen sendiri buat gantiin kesana. Dasar koplak! Mana disuruh buat ilfil juga lagi!"
"Ma, udalah jangan bahas itu lagi. Yang penting kan sekarang Andri setuju sama perjodohan ini."
"Ya iyalah kamu nerima perjodohannya. Orang cantik gini kok calonnya!" sungut Mama yang membuatku rasanya ingin segera menghilang dari ruang tamu ini.
Ah, rasanya aku ingin menghilang saja dari sini. Andai saja aku bisa teleportasi.
"Coba waktu itu kamu datang kesana. Pasti sekarang kalian udah jadi suami istri," lagi-lagi ucapan Mama membuatku serasa ingin menguap jadi asap dan menghilang tanpa jejak.
Tak tahukah dia bahwa di sini ada mantan pacar anaknya?!
Ah, tentu saja Mama tak tahu. Pacaran belum ada sejam aja udah putus. Gimana Mama bisa tahu?
"Iya, Mama benar. Rugi sekali aku tak segera menyetujui perjodohan ini dari dulu!" ucap Andri sambil melirikku.
Apa?! Rugi?! Gampang kali nampaknya dia jatuh hati pada perempuan lain meskipun pertama kali jumpa. Semudah itukah dia melupakanku?! Mudah sekali dia berpaling dari satu perempuan ke perempuan lain!
Sakit kali hati ini mendengar ucapannya.
Sebelum hati ini tambah panas dan terbakar, lebih baik aku segera pergi dari sini.
"Maaf Tante. Karena hujannya sudah reda, Tisa mau pamit pulang dulu," pamitku sambil berdiri.
"Mau kemana kamu?"
Serempak kami menoleh ke suara berat yang berasal dari pintu.
Susah payah aku menelan saliva melihat Papanya Andri berdiri di sana sambil menatapku lekat, mengingat tentang pertemuan pertama kami di kantor tadi yang sepertinya tidak terlalu bagus.
"Duduk dulu. Di luar masih gerimis," ucapnya yang seperti mantra yang membuat bobot ini jadi berat dan akhirnya kembali duduk.
"Sekalian nanti kita makan malam bersama," sambungnya yang membuat diri ini mendongak terkejut.
Apa?! Makan malam bersama?! Bisa kebakaran jenggot aku jika terus-terusan melihat Andri yang semakin dekat dengan Indah!
"Ide bagus Pa!" seru Mama. "Tisa dan Indah bantu Mama buat nyiapin makan malam ya!"
Indah tersenyum mengangguk sambil berjalan mengikuti Mama, begitu juga dengan Andri.
Sementara aku masih mematung di kursi ini.
"Ada apa? Kenapa kamu tak mengikuti Mama?"
Aku menoleh ke Papanya Andri yang ternyata masih berdiri di ruang tamu ini.
Ia mendekat ke arahku. "Kamu nggak mungkin menolak makan malam ini kan?!"
Aku menunduk ragu. "Anu.. Maaf Pa-- Eh. Maksud saya Om. Saya ada janji, jadi saya nggak bisa ik--"
"Ya, itu terserah kamu sih," potong Papanya Andri. "Boleh-boleh saja kamu tidak ikut makan malam. Tapi begitu kakimu melangkah keluar dari rumah ini, di saat itu juga Ayahmu akan tahu di mana alamat kos-kosanmu!"
Deg!
Aku urung berdiri mendengar ucapannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG