KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Obrolan Berkuah


__ADS_3

Aku harus menjelaskan kepada mereka agar tidak salah paham!


Terlihat wajah Pak Yosua seperti merasa bersalah.


"Ada apa nih?! Kenapa pada berhenti di depan pintu gini?!"


Aku langsung menoleh mendengar suara Andri.


Segerombolan karyawan yang tadi berbisik-bisik seketika langsung bubar.


Haaah, untung Andri datang!


"Tisa, kamu telat!" tukas Andri.


"Hah? Telat?" Aku langsung menunduk melihat jam dari hp. "Nggak kok, aku nggak telat. Di hpku masih kurang satu menit lagi!"


"Tapi di hpku kamu telat satu menit! Dan sebagai hukumannya--"


"Tolong jangan potong gajiku!" potongku sebelum Andri melanjutkan perkataannya.


"Nanti akan aku pikirkan hukuman yang tepat untukmu. Sekarang ayo kita berangkat ke hotel yang mau kita survei!"


Semoga gajiku tidak dipotong!!


Segera aku mengikuti Andri yang berjalan ke parkiran mobil.


________


Kami sampai di sebuah hotel mewah bintang lima.


Ketika sampai di sana, kami langsung disambut oleh pria berjas dengan rambut yang sudah tinggal separuh kepalanya.


Tadi Andri berbisik kepadaku kalau dia adalah Direktur hotel ini.


"Perkenalkan, saya Andri. Dan ini asisten saya," ucap Andri sambil menunjukku.


"Tisa," ucapku sambil tersenyum mengangguk ke pria berjas abu-abu di depanku.


Pria itu tersenyum dan menunjuk dirinya sendiri. "Aku Sam."


Crat!


Bersamaan dengan huruf S yang ia ucapkan, air ludahnya juga ikut tersembur.


Aku terkesiap melihat pemandangan barusan.


Aku mendekat ke Andri. "Kau lihat itu?" tanyaku berbisik.


"Mm!" Andri mengangguk kecil.


"SAMSON!" ucapnya lagi.


Crat! Crat!


Sekali lagi, air ludah Pak Sam muncrat bersamaan dengan ia yang menyebutkan namanya.


Aku dan Andri bergidik melihat air yang terjun bebas dari goa milik Pak Sam.


"Nama lengkapku adalah Samson.." Crat! "Sudirja.." Crat! "Surahmat!" Crat!!


Terlihat air ludahnya muncrat-muncrat karena nama Pak Sam mengandung banyak huruf S. Aku berusaha memaksakan senyum.


Andri yang berdiri pas di depan Pak Sam menjadi sasaran air yang terjun bebas dari mulut Pak Sam. Dia sedikit mengusapi wajahnya.


"Kalian bisa memanggilku Sam atau Samson."


Crat!

__ADS_1


Kali ini Andri sedikit memundurkan wajahnya agar terhindar dari muncratan air ludah.


"Terserah kalian mau memanggil saya dengan sebutan apa. Enaknya kalian aja!" lanjut Pak Sam lagi.


Aku dan Andri hanya mengangguk sambil memaksakan senyum.


"Oh ya, mari masuk ke ruangan saya. Kita lanjutkan obrolannya di dalam," ucap Pak Sam sambil memandu kami ke ruangannya.


Obrolan pun kembali berlanjut ketika kami sudah masuk ke ruangan Pak Sam.


Aku dan Andri duduk di depan Pak Sam dan hanya terhalang sebuah meja kaca.


"Hotel kami memiliki kamar yang seperti ini. Superior standar, tiga ratus kamar."


Crat!


Air ludah itu muncrat ke meja kaca di depan kami.


"Deluxe spesial, dua ratus kamar."


Crat!


Kembali air ludah itu memuncrat ke meja.


Aku dan Andri memandangi air ludah yang mendarat ke meja di depan kami.


"Dan yang paling laris.." Pak Sam memberi jeda ucapannya dan sedikit menarik nafas sebelum melanjutkan bicara.


Aku dan Andri ikut menarik nafas dan saling memundurkan badan sebelum terkena muncratan.


"Kamar suite eksekutif! Seratus kamar!"


Crat! Crat! Crat!


Aku terpaku melihat air ludah yang sudah memenuhi meja di depan kami.


CRAT!!


"Ugh!" Aku menatap ludah yang sedikit berukuran besar mengenai mouse di depan Pak Sam.


Aku yakin Andri juga melihat pemandangan itu. Aku mendekatkan wajahku ke Andri tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa pelindung percikannya rusak?" tanyaku berbisik ke Andri.


"Stt!!" Andri menyenggol lenganku.


"Kita bisa bicara sambil minum. Silahkan!"


Crat! Pluk!


"Egh!" Aku dan Andri saling pandang ketika ludah Pak Sam muncrat ke cangkir kopi yang ada di depan kami.


Aku dan Andri saling menghela nafas melihat cangkir kopi di depan kami.


"Kopi kalian akan dingin. Minumlah!"


Pluk!


Lagi. Ludah Pak Sam muncrat ke cangkir kopi lagi.


"Ugh!" Andri menghela nafas panjang. "Kami bukan pecinta kopi," tolak Andri.


"Benar!" imbuhku.


Secara bersamaan, aku dan Andri mendorong kopi itu minggir dari hadapan kami.


"Bagaimana kalau dengan jus jeruk?!"

__ADS_1


Plukk!


"Ugh!!" ludah Pak Sam muncrat pas ke tangan Andri. Ia langsung menatapku.


"Mm bagaimana kalau--"


"Pak Sam!" Andri mengangkat tangannya memotong ucapan Pak Sam. "Sepertinya kami mau teh saja!"


"Mm, oke. Kalau gitu aku akan menyuruh OB untuk membuatkannya!" Pak Sam bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan hendak memanggil OB.


"Dia harus dikarantina!" bisikku ke Andri.


"Apa kau punya tisu?!!" tanya Andri yang juga berbisik kepadaku.


Segera aku mengacak-acak isi tasku.


Oh iya! Aku kan nggak punya tisu!


"Aku nggak punya tisu!"


"Apa?!"


Aku mengacak isi tasku lagi dan melihat bedak yang diberi Pipit waktu ulang tahun kemarin. Dia selalu menyuruhku untuk membawanya kemana-mana. Tapi aku tak pernah memakainya walaupun membawanya kemanapun.


"Kita gunakan ini saja!" ucapku sambil mengelap tangan Andri yang terkena ludah Pak Sam mengenakan benda bulat yang biasanya digunakan untuk memakai bedak. Aku tak tahu apa namanya.


"Ini tehnya!" tiba-tiba Pak Sam kembali dengan membawa dua cangkir teh. Segera aku menurunkan tanganku ke bawah meja, menyembunyikan alat bedak yang aku pegang.


"Silahkan diminum Pak.."


Sepertinya Pak Sam lupa dengan nama Andri.


"Andri, Pak," ucapku memberitahunya sambil menunjuk Andri.


"Ah, ya. Silahkan diminum Pak Andri. Ahaha, aku sangat pelupa."


Seketika pandangan Pak Sam mengarah ke tanganku. Melihat alat bedak yang ikut terangkat gara-gara menunjuk Andri.


Sial! Aku lupa!!


Pak Sam menatap bingung alat bedak di tanganku.


"Ahaha.." Aku segera menepuk-nepukkan alat bedak tadi ke pipiku agar Pak Sam tidak curiga.


"Jangan!!" ucap Andri lirih melihatku menepukkan alat bedak itu ke pipi.


"Arghh!!" Aku segera menjauhkan alat bedak tadi dari pipiku karena ternyata alat bedak tadi sedikit basah.


"Hargh!!" Pak Sam ikut kaget juga karena aku berteriak. "Ada apa?!" tanyanya.


"Aku lupa tidak memberi makan kucingku pagi ini!" jawabku berbohong.


"Oh, begitu rupanya."


"Ahaha. Aku sangat pelupa." Aku segera mengusapi pipiku.


"Ahaha, sama. Aku juga pelupa, ahaha," ucap Pak Sam dengan tertawa.


"Ahahaha." Aku dan Andri berusaha memaksakan tertawa.


"Eh?" Tiba-tiba Pak Sam berhenti tertawa ketika melihat ke atas meja.


Dia terlihat bingung menatap muncratan air ludahnya sendiri.


Kemudian Pak Sam memandang ke atas. "Oh, sepertinya AC-nya bocor. Akan kupanggil tukang AC untuk membetulkannya."


Aku dan Andri hanya saling pandang mendengar perkataan Pak Sam yang mengira AC-nya bocor. Padahal kan itu ludahnya sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2