KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Pawang


__ADS_3

"Uhuk uhuk. Aku ngambil air sendiri aja!" ucapku menolak air dari Andri dan Pak Yosua.


Tapi mereka tetap tidak menurunkan gelas mereka padaku begitu mengetahui teko tempat air tidak keluar air ketika aku menuangnya. Airnya habis.


"Aduh, maaf Tisa. Airnya habis. Tunggu sebentar ya, Tante ambilin di dapur!" Tante Ima bangkit dari duduknya.


"Uhuk uhuk, iya Tante. Uhuk uhuk!"


"Udah, cepetan minum ini. Ketimbang batuk-batuk gitu!" Andri tiba-tiba meraih daguku dan menempelkan gelasnya di bibirku.


"Mm!" Aku mendelik ke arahnya sambil meminum air yang diberikan Andri.


Aku sudah seperti anak kecil saja yang dibantu minum oleh orang tuanya.


Tak ingin Andri membantuku minum, aku segera meraih gelas dari tangan Andri dan meminum air sendiri tanpa bantuannya.


Terlihat Pak Yosua menurunkan gelas yang tadi dia sodorkan padaku.


"Wah, tuh mata sipit kalah cepat!" gumam Yosi mengejek Kakaknya. "Makanya, lebarin tuh mata! Biar bisa sat-set sat-set!"


"Emang yang bicara itu udah ngerasa matanya belo ya! Perasaan sama-sama sipit deh! Orang satu keturunan kok!" sahut Pak Yosua ketus.


"Dih! Kok ngegas lho.. Aku kan aku cuma bercanda," timpal Yosi.


Setelah terasa tidak batuk lagi, aku berhenti minum dan menaruh gelas yang airnya sudah tinggal separuh di meja.


Tiba-tiba Andri meraih gelas itu dan hendak meminumnya.


"Kamu mau ngapain?!" Aku memegang gelas itu, menahannya supaya Andri tidak meminumnya.


"Ya, aku mau minum lah!" sahutnya sambil kembali mengangkat gelas itu lagi.


"Jangan!" Aku kembali menahan gelas itu.


"Lah! Kenapa? Orang mau minum kok dilarang. Lagian kan ini aku tadi yang nuang airnya!" Andri mengangkat gelasnya lagi tapi aku tetap menahannya.


"Jangan! Ini kan bekas aku minum!"


"Memangnya kenapa kalau gelasnya bekas kamu?! Nggak bakalan mati kok meskipun aku minum bekas kamu! Kecuali kalau kamu itu ular cobra yang banyak bisanya!" Andri tetap bersikukuh mengangkat gelas yang sedang kupegang erat.


"Jangan Ndri!" Aku mempererat gelas di tanganku.


"Lepasin nggak gelasnya! Aku mau minum nih!"


"Nggak!" dengan sekuat tenaga aku menarik gelas dari tangan Andri.


Byuur!


Karena aku terlalu kuat menarik gelasnya, airnya malah tumpah ke bajuku.


"Aduh! Maaf Tisa!"


"Hmhg!!" Aku melirik kesal ke Andri.


"Yaah..baju kamu jadi basah deh! Lagian kamu juga sih! Orang mau minum malah dilarang. Coba kalau kamu tadi lepasin gelasnya, pasti nggak bakalan jadi gini kan!"

__ADS_1


Aku langsung melempari Andri dengan tatapan tajam.


"Ahaha. Oke-oke, aku nggak ngomong lagi!" ujar Andri karena aku menatapnya tajam.


"Maaf ya, Tante lama ngambil airnya." Tante Ima kembali dari dapur dengan teko berisi air di tangannya.


Ini lagi! Mungkin Tante Ima ngambil airnya di Arab Saudi! Ngambil air dari tadi baru balik!


"Lho, baju kamu kenapa basah gitu Tis?!" tanya Tante Ima ketika melihat baju atasku basah.


"Ketumpahan air Tante."


"Aduh, nanti kamu bisa masuk angin. Kamu ganti baju punya Yosi ya, biar nggak masuk angin!" tawar Tante Ima.


"Tapi Ma, bajuku kan ada di kos-kosan semua!" timpal Yosi.


"Oh, iya-ya. Mama lupa!" tatapan Tante Ima beralih ke putranya. "Yosua, kamu ada baju nggak yang muat sama Tisa?" tanyanya ke Pak Yosua.


Pak Yosua menoleh ke arahku. Dia terlihat sedang melihat ukuran tubuhku. "Mm.. ada nggak ya? Kayak sih ada, meskipun sedikit kebesaran. Tunggu sebentar ya, aku ambilin!" Pak Yosua bangkit dari duduknya.


"Tisa, kamu ikut Yosua aja. Biar dia bisa milihin baju yang pas buat kamu!" ucap Tante Ima.


Aku pun mengangguk dan menyusul Pak Yosua.


Aku berhenti di ambang pintu kamar Pak Yosua, tidak ikut masuk ke dalam.


"Masuk aja. Nggak papa kok!" ucap Pak Yosua dari dalam.


"Permisi ya Pak." Aku melangkahkan kakiku masuk ke kamar Pak Yosua.


"Ini kebesaran nggak ya?" Pak Yosua memperlihatkan sweater warna putih padaku.


"Jangan putih Pak, nanti cepet kotor kalau aku yang pakek!" ucapku memberitahu. Aku memang kurang suka memakai baju warna putih karena biasanya kalau aku yang pakek, nanti cepat kotor.


"Oke, sebentar ya." Pak Yosua kembali mengubek-ngubek isi lemarinya.


"Nah, ini dia!" ucap Pak Yosua sambil menunjukkan sweater warna hitam berinisial Y padaku.


Aku meraih sweater itu dari tangan Pak Yosua. "Sweaternya aku pinjam dulu ya Pak."


"Iya, itu kamar mandinya kalau mau ganti baju," ucap Pak Yosua menunjukkan kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Aku mengangguk menjawabnya.


"Aku duluan ke meja makan ya."


"Iya, duluan aja nggak papa Pak."


Setelah selesai ganti baju, aku bergegas kembali ke meja makan.


"Wah, karena sweaternya sedikit kebesaran jadinya Kak Tisa keliatan imut ya!" ucap Yosi begitu melihatku.


Ucapan Yosi membuat semua mata tertuju padaku.


"Uda ah, jangan pada liatin aku! Malu tahu!" ucapku sambil bergegas duduk.

__ADS_1


"Tante lihat-lihat, kayaknya Andri seumuran dengan Yosua ya? Kalau boleh tahu, umur kamu berapa?" tanya Tante Ima ke Andri.


"Saya umur 23 Tante," jawab Andri.


"Wah, bener. Sama kayak Yosua. Udah punya pacar belum? Atau bahkan udah punya calon?"


"Kalau kandidatnya sih ada Tante. Tapi sayangnya orangnya menolak untuk mencalonkan diri," sahut Andri sambil menyenggol kakiku dengan kakinya.


Apaan sih Andri ini, pakek nyenggol-nyenggol kaki segala!


Kulirik wajah Andri yang juga sedang melirikku. Kemudian aku menendang kakinya yang terus saja menyenggol kakiku.


"Kalau Yosua mah, boro-boro ada kandidat. Orang dianya aja nggak pernah ada usaha buat nyari. Cewek yang pernah dia ajak ke rumah itu ya cuma Tisa aja!" ujar Tante Ima sambil melirik anaknya.


"Kalau Tisa gimana? Punya pacar? Atau jangan-jangan malah udah punya calon lagi?!"


"EHEM!" Andri berdehem keras.


Apaan sih nih orang?!


"Ahaha. Nggak ada dua-duanya Tante."


"Wah, kalau gitu berarti si kunyuknya Tante ini nggak terlambat ya?!"


Aku mengernyit mendengar perkataan Tante Ima.


Kunyuk? Siapa?


Aku mengikuti tatapan Tante Ima yang tertuju pada Pak Yosua.


"Ck. Mama nih apa-apaan sih?! Nggak usah gitu lah, bikin malu aja!" ucap Pak Yosua.


"Memangnya kenapa? Toh Tisanya nggak ada yang punya kok!" timpal Tante Ima.


"EHEM!" lagi-lagi Andri berdehem keras.


"Keselek sendok Pak?" selorohku. "Atau jangan-jangan keselek piring lagi!"


"Tante," panggil Andri.


"Ya?"


"Tante pingin tahu pawangnya Tisa siapa?" ujar Andri.


"Wah, udah kayak hujan aja pakek pawang segala!" timpal Yosi dengan mulut penuh nasi.


"Siapa? Orang mana? Kerja satu kantor juga kah?" tanya Tante Ima penasaran.


Andri terkekeh kecil mendengar rentetan pertanyaan Tante Ima.


"Pawangnya sekarang ada di depan kalian juga!"


"Apa?!!" Tante Ima terkejut mendengar ucapan Andri. Begitu pula denganku, aku langsung menoleh ke Andri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2