
"Tisa, sebenarnya aku--"
"Enak ya, jadi anak muda!" tiba-tiba Tante Sarah keluar dari kamarnya, memotong ucapan Andri. Dia berjalan melewati kami, menuju ke dapur.
Aku kembali menatap Andri, ingin mendengar apa yang mau dia bicarakan barusan.
"Sebenarnya aku itu suk--"
"Hahhh! Senangnya bisa jadi anak muda, bisa mesra-mesraan terus!" kembali Tante Sarah memotong ucapan Andri. Dia keluar dari dapur dan berjalan masuk ke kamarnya.
Setelah melihat Tante Sarah menutup pintu, aku kembali menatap Andri. Ia menghela nafas panjang.
Sudah lewat beberapa detik, tapi dia tak kunjung melanjutkan perkataannya dan malah menatapku.
Haish! Ingin kucolok rasanya matanya itu. Gemes kali aku, udah dari tadi berdiri tapi nggak ngomong apa-apa. Memangnya aku ini peramal, yang bisa tahu apa yang ingin dia ucapkan lewat tatapan mata?!!
"Kalau nggak mau ngomong, aku masuk aja ya. Aku mau istirahat." Aku meraih gagang pintu.
"Tunggu Sa!" Andri mencekal pergelangan tanganku. "Aku suk--"
"SIOMAY SIOMAY!! TULIT TULIT!!" tukang siomay lewat dengan suara cemprengnya.
Andri berusaha sabar dan kembali mengulang perkataannya. "Aku su--"
"Wah, pas sekali!!"
Aku menoleh mendengar suara itu. Ibu kos datang dengan membawa tas kresek. Sepertinya kresek itu berisi nasi kotak.
"Ibu kesini mau ngasih ini. Dimakan ya," Ibu kos menyodorkanku nasi kotak. Kemudian dia juga memberi Andri nasi kotak.
Ibu kos berlalu ke kamar yang lain untuk membagikan nasi kotak.
Aku tersenyum menatap nasi kotak di tanganku. "Makasih ya Bu," pekikku saat dia hendak membuka pagar kosan.
"Iya, sama-sama," sahutnya sambil keluar dari pagar.
Aku kembali menoleh ke Andri. "Kamu tadi mau bilang apa Ndri?"
"Aku tadi mau bilang, sebenarnya aku itu su--"
"Oh iya Ndri! Jangan lupa ya!"
Aku menoleh ke arah pagar mendengar teriakan itu. Ternyata Ibu kos balik lagi.
"Dua hari lagi bayar kos ya!" teriak Ibu kos lagi. Kemudian dia pergi.
"Apa tadi Ndri? Lanjutin!" Aku membuka nasi kotaknya ingin mengintip lauk di dalamnya.
"Aku su--"
"Yaaahh, ada udang lagi," gumamku kecil.
"Ka udang!"
Aku mendongak ke Andri mendengar ucapannya.
"Aku suka udang! Jadi, kamu bisa kasih udangnya ke aku!" lanjutnya.
Jadi dari tadi dia cuma mau ngomong itu?! Aku pikir tadi 'su' apa! Untung aku nggak GR duluan!
________
Tok tok tok!
"Tis! Tisa!!"
Aku menaikkan selimutku sampai ke atas kepala mendengar ada orang mengetuk pintu kamarku.
__ADS_1
Tok tok tok!!
"Tisa! Bukannya pintunya Tis!"
Heeghh! Siapa sih?! Ganggu tidur aja! Ini itu hari libur, aku mau tidur sampai siang!!
Aku menutupkan bantal ke atas kepalaku.
"Aku tahu kamu ada di dalam! Karena hari ini libur! Buka Tis!!" dia sudah setengah menggedor pintu itu.
"Aish!!" Aku membuang bantal dan selimutku. "Iya-iya!! Aku buka pintunya! Pintu itu tipis, jangan menggedornya seperti itu! Nanti rusak!!"
Aku bangkit berdiri dan membuka pintu. Pipit berdiri di depan pintu kamarku.
"Ya ampun Tisa! Jadi kamu belum bangun?!!" ucap Pipit yang melihat rambutku awut-awutan.
"Kalau aku belum bangun, mana bisa aku buka pintu?!!"
Aku masuk ke kamar dan kembali merebahkan tubuhku di kasur.
"Tisa, jangan tidur lagi! Ini tuh udah siang!"
Aku meraih hp dan melihat jam.
Pukul 5.31
"Ini tuh masih setengah enam pagi Pit! Udah ah, aku mau tidur lagi. Mumpung hari libur!"
"Anak cewek nggak boleh bangun siang-siang! Ntar jodohnya dipatok ayam!!"
"Setahu aku yang dipatok ayam itu jagung, bekatul, sama beras yang jatuh ke tanah deh!" sahutku sambil dengan memejamkan mata.
"Aduh Tisa! Ini tuh perumpamaan! Pantesan jomblo terus, bangunnya siang mulu sih!"
"Ck. Apa hubungannya jodoh dengan bangun siang?! Lagi pula yang dipatok ayam tuh rejeki, bukan jodoh!!"
"Nggak berubah Maimunah! Emang dari dulu yang dipatok itu rejeki!! Udah deh ya, aku mau tidur. Masih ngantuk!" Aku menarik selimut sampai ke atas kepala.
"Eh, Tis! Jangan tidur lagi dong!" Pipit menarik selimutku. "Aku kesini mau ngajakin kamu jogging! Kita keliling di alun-alun!"
"Ck. Males aku Pit! Mendingan aku tidur!"
"Ayolah Tis. Plisss!"
"Nggak!!"
"Ayolah, kita jogging sambil cuci mata!"
"Ngapain cuci mata di alun-alun?! Di kamar mandi banyak air tuh! Cuci aja mata kamu di kamar mandi sana!"
"Aish Tisa! Maksudku bukan cuci mata yang itu! Sekarang tuh hari libur! Jadi pastinya banyak cowok-cowok ganteng lagi jogging di alun-alun!"
"Haduh, aku nggak minat sama yang begituan! Lagian kan kamu punya Virman, ngapain kamu lihat-lihat cowok lain?!"
"Ck. Biarin aja! Aku lagi berantem sama dia! Nanti aku akan foto cowok yang ada di sana dan akan aku buat status! Biar Virman panas dan minta maaf sama aku!"
"Kamu pergi sendiri aja deh Pit! Aku ngantuk!"
"Ayolah Tis, hari libur gini biasanya banyak jajanan di sana."
Aku melirik Pipit. "Jajanan doang nggak bikin kenyang!"
"Aku beliin nasi kuning deh nanti!"
Aku tersenyum. "Oke. Aku siap-siap dulu ya!"
"Aish!! Kalau makanan aja, baru cepet!"
__ADS_1
________
Aku berdecak kesal ke Pipit. Ujung-ujungnya Virman juga datang ke alun-alun dan Pipit malah menerima ajakan Virman untuk jalan bareng.
Untungnya dia sudah membelikanku nasi kuning dua porsi plus dengan cilok.
Dan akhirnya aku pulang ke kosan sendirian.
Aku mengernyit menatap sosok cowok yang berdiri di depan pintu kamarku.
Kayaknya aku kenal orang itu deh!
Dan benar saja, saat aku mendekat ternyata itu Pak Yosua.
"Pantesan aja aku ketuk-ketuk kamu nggak keluar. Kamu dari jogging ya Tis?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Iya." Tapi boong! Aku dari isi perut!
Aku menatap ke tangan Pak Yosua yang menenteng sesuatu.
"Ada apa kesini pagi-pagi ya Pak?"
"Oh, ini. Karena kamu nggak datang pas ulang tahunnya, Mama buatin kamu kue!"
"Aduh, kenapa repot-repot. Tolong bilang terima kasih ke Tante Ima ya." Aku menerima kue itu.
"Ini kuenya gede banget! Nggak habis kalau aku memakannya sendiri! Aku bagiin ke penghuni kos ya?"
"Iya, nggak papa. Aku bantu potong ya!"
Aku mengangguk, kami pun berlalu masuk ke dapur.
Dengan cekatan Pak Yosua memotong kue itu menjadi beberapa bagian.
"Pak Yosua tunggu di sini dulu ya. Aku mau bagiin kuenya ke yang lain." Aku berlalu keluar dari dapur.
Aku mengetuk pintu kamar Andri. "Ndri."
Tak ada sahutan. Sepertinya dia tidak ada di dalam.
Semua kamar aku ketuk tapi tidak ada yang membuka pintunya. Sepertinya mereka semua sedang keluar.
Aku pun kembali ke dapur.
"Lho, kok kuenya dibawa balik lagi?"
"Iya, kayaknya orang-orang pada keluar."
Aku meletakkan kue itu di meja dapur.
"Ya udah, kamu makan dulu aja kuenya. Aaa.." Pak Yosua menyodorkan sendok berisi kue ke mulutku.
"Aku makan sendiri aja." Aku mengambil sendok itu darinya dan memasukkannya ke mulutku.
"Enak?"
"Iya, enak!" Aku menyendok kuenya lagi dan memakannya.
"Sebentar Tis!"
"Ya?" Aku mendongak dari kue yang aku makan.
Tiba-tiba tangan Pak Yosua terjulur ke wajahku. Wajahnya juga ikut mendekat.
A-apa ini?! Pak Yosua mau ngapain?!!
BERSAMBUNG
__ADS_1