
Ini nggak masuk akal! Bagaimana bisa aku langsung diterima kerja jadi assisten direktur di hari aku baru menaruh surat lamaran kerja?!!
Resepsionis mengantarkanku ke ruangan tempat direktur berada.
Kini aku berdiri tepat di depan pintu. Aku hanya perlu mengetuknya dan masuk ke dalam.
Tapi tanganku rasanya sangat berat untuk mengetuk pintu di depanku.
Tok tok tok!
Akhirnya aku mengetuk pintu itu.
"Masuk," terdengar suara mempersilahkan dari dalam.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu itu.
Terlihat di dalam, seseorang duduk membelakangiku. Dari suaranya, dia adalah laki-laki.
Apa yang harus kulakukan?!! Kurasa aku harus memperkenalkan diri!
Aku menelan salivaku untuk membasahi kerongkonganku yang mendadak seperti tercekik.
Aku kembali menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai memperkenalkan diri.
Pak direktur masih di posisi yang sama, ia tetap duduk membelakangiku.
"Selamat siang Pak--"
"Ini masih pagi. Apa kau sangat gugup sampai tidak melihat jam?!" ucap direktur memotong ucapanku.
Nada bicaranya sih biasa, tapi itu sudah membuatku tegang.
"M-maaf Pak. Selamat Pagi Pak. Perkenalkan, saya nama Tisa." Aku membulatkan mata mendengar ucapanku sendiri.
Waduuh!! Kata-kataku kebalik!!
"Hahaha!!" tawa direktur itu pecah. "Sepertinya kamu memang sangat gugup. Kata-katamu sampai terbalik!"
Tiba-tiba kursi direktur berputar menghadapku.
Aku terbelalak melihat orang yang duduk di depanku.
"Andri?!!"
Yang aku sebut namanya itu malah tersenyum.
"Jadi direktur perusahaan ini kamu?!!"
Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mulai hari ini, kamu akan menjadi assistenku," ucapannya.
________
Saat jam makan siang, aku pergi ke sebuah warung dekat kantor.
Tak seperti karyawan lain yang makan siang di kafe.
Aku memesan nasi pecel dengan lauk minim. Itu semua demi menghemat uangku.
Saat ingin membayar, aku merogoh uang di kantong celana.
Kutatap uang warna biru dengan isolasi di tengah-tengahnya.
Aku melipat uang itu hingga kecil sampai isolasi tadi tidak terlihat.
Semoga nggak kelihatan!
Aku menyerahkan uang itu kepada Ibu penjaga warung.
Aku tersenyum puas saat dia tidak mengetahui isolasi di uang itu.
Setelah makan siang aku langsung kembali ke ruanganku yang satu ruangan dengan Pak direktur.
"Kamu darimana?" tanya Andri saat aku baru masuk ruangan.
__ADS_1
"Dari makan Pak."
"Apa?! Pak?! Kenapa kamu memanggil aku Bapak?!"
Aku mengernyit mendengar pertanyaannya. "Ya karena kamu atasanku!"
"Jangan panggil aku Bapak! Aku masih muda! Panggil Andri aja, kayak biasanya."
"Tapi kamu kan atasanku. Masa bawahan manggil bosnya dengan namanya langsung."
"Kalau gitu panggil aku 'Mas' aja!"
"Andri aja deh!" ucapku. "Rasanya aneh kalau manggil kamu 'Mas'."
Kruyuuuuk!
Tiba-tiba perut Andri berbunyi, membuatku harus menahan tawa. Dia terlihat malu.
"Ke kafe yuk!"
"Hah? Ngapain? Kan aku sudah bilang kalau aku sudah makan."
"Temani aku makan. Sekalian nanti kita ada meeting di kafe itu."
Setelah mengatakan itu, Andri mengajakku ke kafe yang tak jauh dari kantor.
________
"Halo Pak Darma. Kita jadi meeting di kafe dekat kantor saya kan?"
Aku langsung mendongak menatap Andri yang sedang berbicara dengan seseorang di telfon.
Pak Darma?!! Jangan-jangan Andri akan meeting dengan Ayah!
"Ndri, kita mau meeting dengan siapa di sini?" tanyaku memastikan.
"Dengan Pak Dharma. Itu lho, orang yang ngobrol sama aku waktu di lampu merah."
AAKH!! Gawat! Gimana ini?!! Apa yang harus kulakukan agar tidak bertemu dengan Ayah?!!
Apa aku pura-pura sakit aja ya?!
Aku memegang kepalaku dengan memasang mimik wajah merasa sakit.
"Tisa, kamu kenapa?" tanya Andri.
"Aku merasa sedikit pusing Ndri," jawabku dengan nada sok lemas.
Ahaha! Suka sekali aku akting seperti ini. Sepertinya aku berbakat jadi artis.
"Aku boleh izin pulang nggak?"
"Aduh Tisa, maaf. Kamu tahan sakitnya sampai meeting selesai ya?! Soalnya ini meeting penting. Aku ingin kamu juga ikut andil dalam meeting ini! Aku beliin kamu obat ya!"
Aku langsung mencegah Andri yang berdiri hendak membeli obat.
"Ndri, nggak usah deh! Nanti aku beli sendiri obatnya. Aku masih tahan kok!"
Andri kembali duduk. "Beneran kamu masih tahan?!"
Aku mengangguk menjawabnya.
Heeeghh!! Rencanaku gagal! Harusnya tadi aku mengatakan sangat pusing! Bukan sedikit pusing!!
Aku masih belum menyerah. Otakku terus berputar memikirkan cara yang lain.
Buntu. Aku tidak kepikiran cara apapun.
Aarrghh! Nggak tahu deh! Apa aku sembunyi di toilet aja kali ya?!
Aku berdiri dari kursi.
"Kamu mau kemana?" tanya Andri.
"Aku mau ke toilet sebentar."
__ADS_1
Saat aku hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba muncul sebuah ide.
Gimana kalau aku pura-pura pingsan aja?!
Kemudian aku mulai berakting lagi. Kupegang kepalaku dengan tangan kanan.
Aku pura-pura terhuyung dan meraih sandaran kursi.
"Tisa! Kamu kenapa?!!"
Aku tidak menjawab pertanyaan Andri dan langsung memejamkan mata.
Aku melemaskan badanku dan bersiap menjatuhkan diri ke lantai.
Semoga jatuhnya nggak sakit!
Hup!
Andri menangkap tubuhku sehingga aku tidak jatuh ke lantai.
"Tisa! Kamu kenapa?!!" Andri menepuk-nepuk pipiku. "Tisa!!"
Aku pingsan tahu! Masih aja nanya!! Makanya, kalau karyawan izin pulang tuh diizinin. Pingsan kan jadinya sekarang! Hahaha! E-eh!!
Tiba-tiba Andri mengangkat tubuhku. Dia menggendongku.
Aduh!! Mau dibawa kemana aku?!
Andri membawaku masuk ke dalam mobilnya.
Dengan buru-buru dia memasang sabuk pengaman untukku. Saking buru-burunya, sabuk pengaman itu ikut menekan gunung kembarku yang sebelah kanan.
Buset! Kalau masang sabuk pengaman lihat-lihat dong! Bisa penyok nih gunung Fuji milikku!!
Aku segera membuka mata ketika Andri menutup pintu mobil.
Dia berjalan hendak masuk ke mobil bagian kemudi.
Segera aku memindahkan posisi sabuk pengaman tadi dan kembali menutup mata.
Kemudian aku merasakan Andri masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai berjalan.
Beberapa menit kemudian, mobil yang aku tumpangi berhenti. Dari suara klakson yang aku dengar, sepertinya kita sedang terjebak macet.
TIN TIN TIIINN
Dengan tidak sabar Andri terus membunyikan klakson mobil.
Aku sedikit membuka mata untuk mengintip Andri.
"Sial!!" Andri memukul stir mobil. "Kenapa harus macet segala sih?!!"
Tiba-tiba dia menoleh menatapku. Aku langsung memejamkan mata.
E-eh?! Apa nih?!!
Aku merasakan tangan Andri menyentuh pipiku.
"Maafkan aku Sa. Harusnya tadi aku mengizinkanmu pulang. Maaf.."
Tririring!
Hp Andri berdering.
"Halo Pak!" dia mengangkatnya.
"Apa?! Bapak udah sampai di kafe?!"
Sepertinya itu telfon dari Ayah.
"Aduh, saya minta maaf banget ya Pak! Saya nggak bisa datang untuk meeting hari ini. Assisten saya tiba-tiba pingsan," tutur Andri.
"Iya Pak. Saya benar-benar minta maaf Pak. Saya akan mengatur ulang jadwal meeting kita. Saya tutup dulu telfonnya ya Pak. Ini saya lagi menuju ke rumah sakit."
Apa?!! Andri akan membawaku ke rumah sakit?!! Gawat!! Kalau ke rumah sakit, aku bisa ketahuan kalau cuma pura-pura pingsan!
__ADS_1
BERSAMBUNG