
Setelah makan bakso, Pipit langsung pulang. Sejak punya Adek, dia jadi jarang nginap.
Aku rebahan di kasur sambil baca Manga dari Pak Yosua tadi.
Tiba-tiba terdengar suara petikan gitar dari kamar sebelah, kamar Andri.
Aku kenal lagu ini! Ini lagu di Naruto! Sadness and Sorrow! Tapi ini kan lagu sedih! Kenapa dia mainin lagu sedih?!
Aku jadi tidak fokus membaca karena petikan gitar itu. Lagunya terlalu sedih.
Petikan gitar itu terus berlanjut. Membuatku yang awalnya biasa saja, kini menjadi sedikit sedih. Menurutku ini lagu tersedih yang ada di Naruto.
Andri kenapa sih?! Dia salah makan kali ya!
Lagu sedih itu terus terdengar.
Sudah cukup! Aku nggak tahan dengarnya! Bisa-bisa aku juga nangis nanti!
"Ndri, kamu kenapa sih?!" Aku memandang tembok kiriku yang mepet dengan kasur.
"Susah beol kamu ya?! Makanya jadi sedih gini!"
Tak ada sahutan darinya. Tapi dia menghentikan permainan gitarnya.
"Heran deh aku sama orang-orang. Kalau mereka sedang sedih, harusnya mereka dengerin musik yang gembira. Bukannya malah dengerin musik sedih! Udah tahu lagi sedih, malah dengerin lagu sedih. Ya jadi tambah sedih lah!"
Satu detik, dua detik..
"Kalau gitu, mainkan lagu yang gembira untukku!" sahut Andri pada akhirnya.
"Aku pikir kamu lagi puasa bicara, karena dari tadi nggak ada sahutan!"
"Mainkan lagu gembira dengan gitar ini untukku, mungkin nanti suasana hatiku sedikit membaik!"
"Aku nggak bisa main gitar!" jawabku.
"Kalau gitu, mau aku ajari?"
"Memangnya apa yang kudapat jika aku memainkan lagu gembira untukmu?"
"Aih? Kan aku yang ngajarin main gitar, kenapa jadi kamu yang minta imbalan?! Harusnya aku dong yang dapat imbalan!"
"Ya kan untuk mengubah suasana hati harus ada imbalannya dong!"
"Emm, apa ya? Gimana kalau aku traktir makan siang pas di kantor besok?" tawar Andri.
"Ok deal!" Asik!! Makan gratis besok!
Aku bangkit dari kasur dan menaruh Manga yang aku pegang.
Saat membuka pintu kamar, Andri sudah ada di luar dengan gitar hitamnya.
Kami sama-sama duduk di lantai. Andri memberikan gitarnya padaku.
"Jadi, kamu mau lagu apa?" tanyaku.
"Jiah!! Lagu apa, lagu apa, kuncinya aja kamu belum tahu kan?!"
"Kata siapa aku nggak tahu! Kunci engkol, kunci T--"
"Kamu pikir mau maling motor, pakek kunci T segala!"
Aku hanya memutar bola mataku. Ini pertama kalinya aku memegang gitar.
Memangnya kunci gitar ada berapa sih?!
__ADS_1
"Untuk main gitar, pertama-tama kamu harus menghafal kunci-kuncinya dulu." Andri mengambil kembali gitarnya. "Ini namanya kunci A Mayor." Jari-jari di tangan kirinya menekan beberapa senar.
Kemudian Andri memberikan gitarnya padaku lagi.
"Coba kamu tekan senar yang aku tekan tadi!"
Aku meraih gitar itu dan memperagakan tangan Andri tadi.
"Ini susah! Jari-jariku nggak nyampek!" Aku mencoba menaruh jariku di senar yang tadi Andri tekan.
"Bukan senar itu yang ditekan! Tapi ini!" tangan Andri terjulur, dia membetulkan letak jari-jariku.
"Jari kelingkingmu kecil sekali!" ucapnya saat membetulkan letak jari kelingkingku di senar nomor dua dari bawah.
"Ya kalau gede itu jempol!" sahutku. Dia terkekeh mendengar sahutanku.
"Muridnya galak amat sih!" ujarnya.
Saat letak jariku sudah benar, aku pun menggenjrengnya.
Jreeng!
Aku tersenyum saat berhasil menggenjrengnya. Kemudian aku menggenjrengnya lagi.
"Aww!" kali kedua aku menggenjrengnya, salah satu senar putus dan melukai jariku.
Kupencet jari yang terluka tadi. Terlihat cairan warna merah keluar.
Tiba-tiba Andri menarik jariku yang terluka dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia menghisap darahnya.
"Aku nggak nyangka Ndri, ternyata kamu vampir! Jangan coba-coba kau meminum darahku!!" selorohku.
Andri terkekeh, kemudian membuang darahku dari mulutnya. "Darahmu manis Nona!"
"Acieeeee udah baikaaann."
"Mmmm pegang-pegangan tangan segala lagi!"
Aku segera menarik tanganku dari Andri.
Nih Tante-tante kayaknya bukan orang deh! Tapi CCTV!
Aku menatap gitar di pangkuanku.
Belum juga main, udah mutusin senarnya!
"Nggak papa, nanti aku beli lagi senarnya," ujar Andri. "Kulit kamu tipis banget yak. Kena senar putus aja langsung berdarah!"
"Jadi iri deh! Aku jadi kangen masa-masa ketika masih muda dulu!"
Aku menoleh lagi mendengar suara itu.
Ya ampuun!
Tante Sarah masih berada di posisi yang tadi. Dia mengintip kami.
________
Jam makan siang sudah tiba.
Koridor jadi rame karena banyak karyawan yang lalu-lalang hendak keluar kantor untuk makan siang.
Seseorang menepuk bahuku. Aku pun menoleh, Pak Yosua berdiri di belakangku.
"Mau makan siang Tis?" tanyanya. Aku mengangguk.
__ADS_1
"Makan siang bareng yuk!"
"Oke!"
Kami pun berjalan beriringan menuju warteg yang biasanya.
Saat sampai di warung itu, suasana sangat ramai. Banyak pembeli di sana.
Tempat duduk yang panjang itu, sekarang jadi sempit. Aku duduk di dekat tembok, sementara Pak Yosua duduk di dekat pembeli yang lain.
"Gimana, udah dibaca Manganya?" tanya Pak Yosua.
"Satu aja belum selesai Pak! Kemarin ada temenku datang ke kosan."
Setelah itu, aku belajar main gitar sama Andri!
Pak Yosua hanya manggut-manggut mendengar tuturanku.
Aku merogoh hpku dari saku celana. Sepertinya waktu perjalanan ke sini tadi, hpku berbunyi.
Aku mengecek pesan. Ternyata pesan dari Andri.
[ Kamu makan dimana? Di warteg dekat kantor kah? ]
Kuketik balasan untuknya.
"Jari kamu kenapa?" Pak Yosua meraih tanganku, dia melihat jariku yang diplester karena gitar semalam.
Tiba-tiba seseorang menyerobot duduk di tengah antara aku dan Pak Yosua.
"Haduhhh, di luar cuacanya panas sekali!" Orang itu adalah Andri. "Tapi ternyata di dalam sini lebih panas!"
"Geseran dikit dong! Sempit nih!" Andri sedikit mendorong tubuh Pak Yosua dengan badannya.
"Lho? Pak Andri ngapain kesini?" tanya Pak Yosua yang terkejut melihat Andri.
"Ya makanlah! Emang mau ngapain lagi kalau ke warteg?! Nontonin orang makan?!" sahut Andri.
"Maksud saya, tumben Pak Direktur makan di tempat seperti ini?"
"Memangnya kenapa? Saya sering kok makan di tempat seperti ini! Tanya aja sama Tisa kalau nggak percaya!"
Aku hanya mengangguk ke Pak Yosua.
"Tapi saya kok nggak pernah lihat Bapak makan di tempat seperti ini ya?"
"Memangnya saya harus lapor ke kamu setiap kali makan dimana?!"
"Ya, nggak juga sih Pak."
"Bu, pesan Ad*m Sari ya!" ucap Andri pada Ibu warung. "Soalnya cuacanya panas, takutnya jadi panas dalam!"
"Aduh, maaf Mas. Di sini nggak jual Ad*m Sari," jawab si Ibu warung.
Aku terkekeh mendengar jawaban Ibu warung.
Lagian Andri ada-ada aja! Mana ada Ad*m Sari di warung ini!
"Kalau gitu, es teh aja deh Bu. Es-nya banyakin ya Bu. Panas banget soalnya ini!"
Ibu warung menatap bingung ke Andri yang sedang mengipas-ngipaskan tangannya. Lalu mendongak ke luar jendela, menatap langit di atas sana.
Aku kembali terkekeh. Ya iyalah Ibu warung bingung. Orang di luar cuacanya sedang mendung.
Andri kayaknya lagi ngelawak deh! Akhir-akhir ini kan sering hujan. Lagi pula, sekarang sedang mendung. Kenapa dia malah bilang cuacanya panas?!
__ADS_1
BERSAMBUNG