
"Ndri, aku mencintaimu! Tapi aku harus ke sana!" Aku tersenyum dan berbalik. Berjalan menuju pintu tadi.
"Jangan pergi Sa!" teriak Andri.
Tapi entah kenapa, saat aku semakin mendekat ke pintu itu aku semakin merasa damai.
"Jangan tinggalkan aku Sa! Tidak! Jangan pergi!! Tisaaa!!"
Aku terus mengabaikan teriakannya dan semakin berjalan mendekat ke pintu yang sudah tak jauh dari hadapanku.
Ketika aku sudah sampai di depan pintu itu dan mulai melangkahkan kaki kananku masuk kesana...
Grep!
Andri meraih tanganku tepat sebelum kakiku masuk ke pintu itu.
Tangannya menggenggam erat tanganku. Genggaman eratnya membuat tubuhku mendadak tak bertenaga.
Seketika mataku terasa berat. Tubuhku seperti ditarik ke suatu tempat entah kemana. Karena saat itu aku sudah menutup mata.
__________
Genggaman erat seperti remasan di tangan membangunkanku.
Mataku menyipit kala matahari dari jendela mengenai wajahku. Kutatap sekelilingku.
Dimana ini? Ini bukan kamarku!
Remasan di tangan kananku semakin terasa kuat. Saat aku menoleh, ternyata Andri tertidur sambil memegang tanganku.
Kedua alisnya menyatu. Apakah dia sedang mimpi buruk sampai menggenggam erat tanganku?
Dengan perlahan, kulepas tanganku yang berada di genggamannya. Tapi aku malah membuatnya terbangun.
"Tisa! Kamu sudah sadar!" Andri langsung memelukku erat. "Syukurlah Sa! Syukurlah!" serunya. Punggungnya terasa bergetar, menandakan dia sedang menangis.
Pelukan eratnya membuatku sedikit kesulitan bernafas.
"Ah, maaf Sa!" ucapnya langsung melepaskan pelukannya. Sepertinya ia sadar kalau pelukannya terlalu erat.
"Aku terlalu bahagia karena kamu sudah siuman!" ucapnya sambil mengusap sisa air matanya.
Siuman? Aku kenapa?
"Aku--"
"Oh iya! Aku harus segera memanggil dokter!" seru Andri saat aku ingin bertanya apa yang sedang terjadi.
Andri langsung berlari ke arah pintu. Tapi, baru dia membuka pintu itu, dia kembali menoleh padaku. Lalu berbalik arah dan berlari memelukku lagi.
"Syukurlah Sa, kamu sudah bangun! Aku sangat bersyukur dan saangat bahagia! Setelah tiga hari lamanya, akhirnya kamu bangun juga! Jangan pernah meninggalkanku lagi!" bisiknya.
Setelah itu Andri langsung bergegas keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang Dokter perempuan datang diikuti seorang suster di belakangnya.
Melihat kedatangan Dokter dan suster, berarti aku sedang ada di rumah sakit.
Seketika aku teringat kejadian di gang sepi malam itu. Segera aku meraba perutku.
"Aww!!" karena tidak hati-hati, aku malah menekannya yang menimbulkan rasa sakit.
Terasa perutku diperban di balik baju yang kuraba barusan. Dokter pun mulai memeriksaku.
Setelah Dokter selesai memeriksa dan keluar dari ruangan ini, Andri langsung masuk dan segera memelukku lagi. Seakan ia tak pernah puas memelukku.
"Syukurlah Sa! Syukurlah! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku malam itu! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku! Akal sehatku bisa hilang!" bahuku terasa basah. Sepertinya dia menangis lagi.
"Jika sampai ini terjadi lagi, bisa gila aku Sa! Pokoknya setelah ini, aku akan meminta Ayahmu untuk mempercepat pernikahan kita! Agar aku selalu ada di sisimu untuk menjagamu!"
Apa? Menikah?
Senyum kecil terukir di bibirku. Tapi segera kusembunyikan ketika Andri melepas pelukannya dan menatapku.
"Ingat! Jangan pernah bertindak sok seperti pahlawan lagi! Aku tahu kau itu pemberani. Tapi, apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh kecilmu ini?! Kau harus memikirkan dirimu dulu, baru memikirkan orang lain! Kau pikir kau itu kucing yang mempunyai sembilan nyawa hah?!" cerocos Andri dengan sekali tarikan nafas.
"Kau harus lihat dirimu dulu sebelum maju! Pikirkan kau akan menang atau tidak melawan orang itu! Jika dirasa kau tidak akan menang melawannya, maka carilah bantuan! Bukan malah dengan konyol langsung maju!"
Apa ini?! Barusan dia menangisiku, tapi sekarang dia malah memarahiku?!
Saat Andri hendak nyerocos lagi, aku langsung merubah ekspresi wajahku sedatar mungkin, dan mulai membuka suara.
Wajah bahagianya seketika lenyap mendengar pertanyaannyaku.
"Sa, kamu jangan bercanda!" tanyanya serius.
Tapi sedetik kemudian senyuman kembali merekah di bibirnya.
"Kau pikir aku bisa tertipu dengan akting buruk itu hah?! Ayo lah Sa! Yang terluka itu perutmu! Bukan kepalamu! Lalu bagaimana bisa kau amnesia!" serunya seraya tertawa.
Sontak, aku langsung menyemburkan tawa.
"Aakh!" Aku langsung berhenti tertawa ketika rasa sakit menyerang perutku.
"Tisa! Kau jangan terlalu banyak tertawa! Karena perutmu juga ikut bergerak saat tertawa!" ujar Andri yang raut wajahnya kini berubah khawatir.
Aku mendongak menatapnya. Sedetik kemudian aku kembali tersenyum mengingat aktingku barusan. Andri pun kembali tertawa lagi.
"Aktingmu buruk sekali!" ujar Andri tertawa seraya memelukku lagi.
"iya, iya! Aku tahu kalau aktingmu lebih bagus daripada aktingku!" sahutku yang ingin tertawa tapi tak bisa.
Karena jika tertawa, maka perutku akan sakit.
"Ayahmu sedang perjalanan kemari. Setelah dia datang, aku akan langsung membicarakan tentang pernikahan kita!"
"Tapi Ndri, aku masih marah padamu! Kau tidak ingat, kau menipuku beberapa hari!"
__ADS_1
"Tidak Sa! Kau tidak benar-benar marah padaku! Kau sendiri yang mengatakannya ketika aku menggendongmu!" sahut Andri.
Andri melepas pelukannya dan menatap wajahku.
"Malam itu, kau bahkan juga mengatakan mencintaiku!" ucapnya yang membuat wajahku mungkin sudah merah saat ini.
Lama Andri menatap wajahku, membuatku tak kuat dan akhirnya memilih memalingkan wajahku ke arah lain.
Tapi Andri segera meraih wajahku agar kembali menatapnya lagi.
"Aku mencintaimu Sa!"
"Aku juga mencintaimu Ndri!"
Andri tersenyum mendengar jawabanku. Setelah itu, ia mendekatkan wajahnya kepadaku.
Dadaku seperti mau meledak rasanya, seiring dengan wajah Andri yang semakin mendekat.
Aku bahkan hanya bisa mendengar dentuman jantungku sendiri. Semakin dekat... semakin dekat...
Segera kupejamkan mataku. Kini aku bisa merasakan sapuan nafasnya di wajahku.
Deg deg deg!
"Andri! Stop!" teriakan itu membuatku langsung terbelalak dan segera menjauh dari Andri. Pun begitu juga dengan Andri.
"Apa yang mau kau lakukan pada putriku?!" teriak Ayah di ambang pintu. "Kalian belum menikah!" wajahnya terlihat datar.
"Kau boleh mencium putriku sepuasnya. Setelah kalian menikah besok!" imbuh Ayah yang berubah tersenyum.
"Apa?!" seruku dan Andri berbarengan. Aku dan Andri saling pandang.
"Ya. Ayah ingin, besok kalian menikah!" jawab Ayah.
"Tapi Ayah, aku bahkan belum sembuh!"
"Tak apa! Kita akan melangsungkan pernikahannya di rumah sakit ini!" ucap Ayah mantab.
"Resepsinya akan menyusul setelah kau sembuh nanti!" imbuhnya lagi.
_________
Keesokan harinya, ijab kabul benar-benar dilakukan di rumah sakit.
"Sah!" serentak semua mengucapkan.
Kucium punggung tangan Andri. Setelah itu, Andri mencium keningku.
Sedetik kemudian Andri meraih buku nikah dan langsung membukanya. Ia meraih tengkukku dan menempelkan bibirnya di bibirku. Dan buku nikah tadi ia gunakan sebagai penghalang agar orang-orang tak melihat bibir kami yang menyatu.
Sontak, semua orang langsung berteriak riuh.
TAMAT
__ADS_1