KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Hadiah Untuk Tante Ima


__ADS_3

Setelah selesai makan, kami bertiga beriringan kembali ke kantor.


Aku berjalan di tengah-tengah antara Andri dan Pak Yosua.


Saat ingin menyebrang jalan, tiba-tiba tali sepatuku lepas. Aku berhenti dan jongkok untuk membetulkan tali sepatuku.


Andri dan Pak Yosua tidak menyadari aku tengah berhenti membetulkan tali sepatu. Mereka terus berjalan.


Saat mendongak, aku terbelalak melihat mereka berdua. Mereka menyebrang jalan dengan bergandengan tangan. Tawaku pecah seketika.


"Ahahahaha!!"


Mereka berdua saling menoleh ke belakang karena mendengar tawaku.


"Loh! Tisa! Kok kamu ada di situ?!" ucap mereka serentak. "Lalu tangan siapa yang aku-- agh!!" mereka terkejut dan langsung melepaskan tautan tangan mereka.


"Kenapa Pak Andri gandeng tangan saya?!" tanya Pak Yosua. "Saya kan mau gandeng tangan Tisa, biar dia nggak sembrono waktu nyebrang!"


"Harusnya itu saya yang nanya!! Kenapa kamu gandeng tangan saya?! Jelas-jelas tadi kamu duluan yang gandeng saya! Saya pikir tadi Tisa yang gandeng!" sahut Andri.


Aku terus ngakak melihat perdebatan mereka.


_________


"Tisa!"


Aku menoleh mendengar namaku dipanggil. Pak Yosua berlari ke arahku yang hendak keluar dari kantor untuk pulang.


"Aku boleh minta bantuan kamu nggak?" tanyanya.


"Boleh. Memangnya apa yang harus aku bantu?"


"Mamaku ulang tahun! Kamu bantu aku nyari hadiah untuk Mama ya?"


"Oke!"


"Kalau gitu kamu tunggu di sini ya, aku mau ambil motorku dulu di parkiran."


Tak berapa lama kemudian, Pak Yosua datang dengan motornya.


Dia menyerahkan helm padaku. Setelah memakai helm, aku segera naik ke motor.


Motor terus melaju dan berhenti di sebuah mall.


"Menurut kamu, hadiah apa yang cocok buat Mama ya Tis?"


Mataku beredar menatap sekeliling mall ini.


"Gimana kalau kita beli kosmetik buat Mama kamu?"


Pak Yosua terdiam menatapku. "Ide bagus! Mama pasti suka! Bantu aku milih kosmetiknya ya!"


Sedetik kemudian, aku menyesal telah menyarankan ide itu.


Dasar bodoh! Tahu apa kamu soal makeup Tisa?! Kamu aja nggak pernah pakek riasan wajah, kenapa malah sok-sokan nyaranin kosmetik?!


Kami pun berjalan ke bagian make up.


"Silakan lipstiknya dicoba Mbak, lagi promo!" ujar Mbak SPG.


"Tis, kamu coba ya. Biar kita tahu warna yang bagus dan cocok!" ucap Pak Yosua.

__ADS_1


"Lah, kok aku?! Kulitku sama kulit Mama kamu kan beda. Mending kamu aja! Kan kulit kamu sama kayak punya Mama kamu!"


"Aih? Bercanda kamu ya?! Mana ada cowok pakek lipstik!"


"Ada! Oppa-oppa Korea aja pakek, jadi tambah ganteng lagi!"


"Ya kan dasarnya beda Tisa. Mereka itu putih, mulus, ganteng. Dasarnya udah ganteng, jadi mau diapain aja ya tetep ganteng! Udah, kamu aja yang coba! Nanti aku lihat mana yang cocok!"


Pak Yosua mengambil sebuah lipstik dan menyodorkannya padaku. Dengan ragu aku meraih lipstik itu.


Aku menghela nafas panjang dan menghadap ke kaca yang memang sudah disediakan di sana. Aku menatap pantulan diriku dari sana.


Aku nggak pernah pakek lipstik!


Lama aku memandang diriku sendiri di depan cermin itu.


"Ah, tinggal pakek doang lama amat sih?!" Pak Yosua mengambil lipstik dari tanganku dan meraih wajahku agar menghadapnya.


"Eh buset! Main tarik-tarik aja. Dikira aku boneka?!" ucapku protes.


"Kamu diem dulu ya, aku pakein lipstiknya." Pak Yosua membuka lipstik itu.


"Eits! Pak Yosua mau ngapain?!" Aku mencegah tangan Pak Yosua yang hendak mengaplikasikan lipstik ke bibirku.


"Udah, kamu diem aja. Jangan gerak!" tangan Pak Yosua mulai mengaplikasikan lipstik ke bibirku.


Aku memandang ke cermin, dia benar-benar bisa memakaikan lipstik.


"Gimana?" tanyanya padaku. "Kayaknya kurang cocok ya?"


Setelah mengatakan itu, dia mengambil tisu yang memang sudah disediakan dan mengusapkan tisu itu ke bibirku. Menghilangkan lipstik tadi.


Kemudian tangan Pak Yosua meraih lipstik yang lain.


Alisnya bertaut, menandakan dia tak suka. Kemudian dia kembali menghapus lipstik itu dan kembali memilih warna lipstik yang lain.


"Kenapa kamu mengajakku kesini kalau ternyata kamu bisa memilih sendiri?"


Tangannya berhenti bergerak setelah mendengar ucapanku.


"Aku tidak bisa memilihnya tanpa dicoba! Aku juga tidak bisa mencobanya di wajahku!" tangannya mulai mengaplikasikan lipstik kembali. "Nah, ini cocok!"


Aku menatap pantulan cermin. Aku yang biasanya tidak pakai lipstik, hari ini memakai lipstik.


"Gimana bagus kan?!" tanya Pak Yosua.


Aku nggak pernah pakek beginian. Jadi nggak tahu cocok atau nggak.


"Mbak, saya beli yang ini ya!" ucap Andri sambil menunjukan lipstik yang dipegangnya.


Mbak SPG meraih lipstik itu dan mencarikan lipstik yang masih baru yang sama dengan yang aku pakek barusan.


Aku meraih tisu dan menatap ke cermin. Kugosokkan tisu itu ke bibirku. Aku mengernyit menatap cermin.


Lho?! Kok nggak hilang?!!


Aku kembali menggosok bibirku. Tapi lipstik itu tetap tidak hilang.


"Mbak, ini kok nggak hilang ya?" tanyaku pada SPG.


"Yang Mbak pakai adalah lipstik waterproof, jadi susah hilang!"

__ADS_1


"Apa?!!"


Pak Yosua hanya nyengir menatapku. "Tenang aja, ntar dibuat makan-makan yang berminyak juga hilang!"


"Awas kalau nggak hilang ya!" ancamku. "Aku pakein lipstik juga ke bibir kamu!!"


________


Akhirnya kami pulang setelah lama memilih kosmetik.


Aku pulang dalam keadaan seperti badut.


Pak Yosua memakaikan sesuatu di bulu mataku dan kelopak mataku.


Kata Mbak SPG sih aku cocok memakai makeup. Tapi aku merasa tidak nyaman sekali.


Setelah sampai di kosan, aku langsung turun dari motor.


"Makasih udah bantu aku nyari hadiah buat Mama ya Tis," ujar Pak Yosua.


"Iya, sama-sama. Aku masuk dulu ya!" Aku berbalik badan hendak membuka pagar kosan.


"Eh Tis! Helmnya!"


Aku memegang helm di kepalaku. "Oh iya, lupa!" Aku kembali berbalik menghadap Pak Yosua dan melepas helmnya. Tapi helm itu susah dilepaskan.


Aku terus berusaha melepaskan.


"Sini aku bukain, ini memang sering macet." Pak Yosua menjulurkan tangannya ke bawah daguku.


"Sinian, aku nggak nyampek!" pintanya.


Aku pun sedikit mendekat ke Pak Yosua yang berada di atas motornya.


"Maaf ya agak lama, soalnya macet!"


Akhirnya terlepas juga!


"Makasih ya Pak. Tolong bilangin juga ke Tante Ima, selamat ulang tahun ya!"


"Kenapa nggak bilang langsung aja?"


"Ehehe.. nggak deh, udah malam soalnya ini."


"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya."


Setelah Pak Yosua melajukan motornya, aku pun membuka pagar dan masuk. Ada Andri yang berdiri di depan kamarnya.


"Habis jalan-jalan darimana?" tanyanya.


"Habis nemenin Pak Yosua beli hadiah buat Mamanya."


Andri mengernyit menatapku. "Kamu pakek lipstik ya?"


"Iya. Kenapa? Nggak cocok ya?!"


"Nggak, bagus kok! Tapi aku lebih suka kamu yang biasanya!"


Hah? Lebih suka? Sadar Tisa! Jangan GR dulu! Pasti sebenarnya aku tuh nggak cocok pakek lipstik, tapi Andri nggak mau bilang. Jadi dia ngomong kayak gitu!


"Tisa!" Aku mendongak ke Andri. "Sebenarnya aku.."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2