
Setelah lama melihat-lihat gaun pengantin yang ada di manekin, akhirnya aku memilih satu gaun dan langsung mencobanya di kamar ganti.
Dan ternyata bagian dadanya terlalu lebar menurutku.
Aku yang sehari-hari terbiasa memakai jaket hoodie jadi merasa kurang nyaman jika harus memakai baju yang bagian dadanya terbuka lebar seperti ini.
Apa harusnya aku pilih gaun yang lehernya tertutup aja ya? Eh tapi kan yang mau pakek gaunnya bukan aku. Mana tahu Indah suka model yang seperti ini.
Dengan satu tangan yang menutupi bagian dada, aku keluar dari kamar ganti.
Andri yang tadinya sedang duduk sembari bermain hp mendongak saat aku keluar.
"Ndri, coba kamu telfon Indah. Aku mau nunjukin gaunnya. Takutnya model yang aku pilih nggak cocok sama dia."
Andri bergeming menatapku.
"Woy!"
"Eh. I-iya, apa?"
"Ck. Malah bengong. Cepetan telfon Indah, aku mau nunjukin gaunnya nih!"
"Iya, sebentar."
Terlihat Andri mulai memencet tombol di hpnya. Tapi kemudian pandangannya beralih menatapku lagi. Dahinya juga berkerut saat menatapku.
"Tapi Sa, ngomong-ngomong, dadamu kenapa ditutupin gitu?"
"Ya suka-suka aku lah!" jawabku ketus.
"Jangan bilang, kamu punya tompel besar di dada ya!" tebak Andri yang membuatku melotot kesal.
"Ngawur! Aku nggak punya tompel ya!"
"Ya terus, kenapa dong dadamu ditutupin mulu dari tadi?!"
"Aku nggak biasa pakek baju yang dadanya keliatan kayak gini!"
Andri pun manggut-manggut mendengar penjelasanku.
[ Halo Ndri, kenapa? ] terdengar suara dari hp Andri. Rupanya Indah sudah mengangkat telfon dari kami.
Aku pun segera mendekat ke Andri untuk berbicara dengan Indah.
"Ndah, aku udah milih bajunya!"
Terlihat di seberang sana Indah sedang berada di ruangan bersama dengan laki-laki yang memakai jas putih. Terlihat juga bahwa laki-laki itu sedang memegangi seekor kucing berwarna putih. Rupanya Indah sedang berada di rumah sakit hewan.
"Coba lihat aku Sa!"
__ADS_1
Andri memencet tombol kamera belakang dan mengarahkan hpnya kepadaku.
Karena Indah menyukai model gaunnya, akhirnya kami langsung memutuskan untuk membelinya.
"Kamu tunggu di luar aja, aku mau bayar ini dulu," ujar Andri setelah dia selesai memilih baju pengantin pria.
Aku hanya mengangguk dan menunggunya di luar.
Tak lama kemudian, Andri keluar dengan membawa paper bag.
"Mau mampir makan dulu nggak?" tanya Andri ketika baru masuk ke mobil.
"Kan kita udah makan," sahutku.
"Ya, mana tahu kamu mau mampir jajan dulu atau apa gitu."
"Nggak deh. Langsung pulang ke kos aja, aku capek," capek lahir batin.
Kubuang pandanganku keluar kaca mobil. Di luar mulai turun rintik-rintik hujan lagi.
Sepertinya semesta sedang linglung. lni sudah mulai masuk musim kemarau, tapi kenapa hujan masih saja turun?
Hawa dingin mulai menghampiri diri ini, ditambah AC mobil yang memang dihidupkan.
Sesekali kugosok-gosok lenganku yang mulai terasa dingin. Terlihat tangan Andri terjulur mematikan AC mobil.
Aku menoleh menatap Andri. "Untuk apa aku cerita?"
Andri balas menatapku, sepertinya dia juga bingung mau menjawab apa.
Aku menghela nafas panjang.
"Nyatanya kamu juga dijodohin kan! Kamu juga nggak pernah cerita sama aku," kulempar kembali pandangan ke luar kaca mobil.
"Kan kamu nggak pernah nanya!"
"Ya udah, berarti sama! Lagian kenapa kamu bahas ini lagi sih Ndri?!"
"Terus kamu setelah ini mau gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana. Kan tadi kamu juga udah dengar, aku mau fokus dulu sama impian aku!"
"Emangnya kamu nggak penasaran sama orang yang dijodohin sama kamu?"
"Nggak. Lagian aku juga udah pernah ketemu dan ngobrol sama orangnya kok!" sahutku malas yang dijawab helaan nafas berat oleh Andri.
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi di antara kami.
Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di kosan.
__ADS_1
"Aku mau pulang dulu, ambil motor," pamit Andri tanpa kutanya.
"Kenapa tadi nggak mampir aja kesana biar nggak bolak-balik?"
"Kamu kan pakek dress. Mana mungkin kita pulang naik motor."
"Emangnya kenapa?"
"Aku nggak mau kamu kedinginan," jawab Andri lirih hampir tak terdengar.
"Apa Ndri?!" kayaknya barusan aku salah dengar deh.
"Ya suka-suka aku dong! Mau aku pakek motor kek, mobil kek. Terserah aku! Kok jadi kamu yang ribet. Buruan turun! Atau kamu mau ikut aku lagi ke rumah?!"
Aku mengerutkan dahi karena Andri yang tiba-tiba sewot.
"Ck. Iya-iya sebentar! Nggak sabaran banget sih!" gegas aku langsung turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras.
"Pergi yang jauh! Nggak usah balik sekalian kalau cuma bikin sakit hati!" umpatku saat mobil Andri mulai melaju.
Saat membuka pagar kos, aku dikejutkan dengan Pipit yang berdiri manyun di depan pintu kamarku.
"Kamu dari mana aja sih Tis?! Ditelfon nggak bisa. Udah dari tadi aku nungguin kamu nih!"
"Ha? Kapan kamu nelfon? Perasaan dari tadi aku nggak denger suara telfon deh!"
"Aku nelfon kamu berkali-kali. Coba cek hp kamu!
Aku pun mencoba menyalakan hp yang rasanya sedari tadi tidak berbunyi. Tapi layar hpku tetap hitam tak menyala.
"Maaf Pit, hpku mat--"
"Tunggu Tis!" seru Pipit. "Sejak kapan kamu jadi perempuan gini?!" timpalnya heboh sambil melihatku dari atas sampai bawah.
"Kamu gimana sih Pit?! Aku kan emang perempuan dari lahir! Pikun atau hilang ingatan kamu?!"
"Ck Tisa! Maksudku bukan itu! Tapi Ini!" Pipit memutar-mutar tubuhku. "Maksudku adalah, baju feminim yang kamu pakek ini!"
"Oh ini, ini tadi ada orang yang lagi bagi-bagi baju gratis. Yaudah aku pakek aja!" jawabku pura-pura cuek sambil membuka kunci pintu kamarku.
"Kau pikir aku akan percaya itu?" ucap Pipit sambil masuk ke kamar mengikutiku. "Habis darimana kamu tadi?"
Aku menghela nafas menjawabnya. "Tanya-jawabnya ditunda dulu ya Pit. Aku capek mau istirahat."
Saat aku ingin membuka lemari untuk mengambil baju ganti, tiba-tiba Pipit meraih tangan kananku.
"Tunggu Tis! Ini cincin apa di jarimu?!"
BERSAMBUNG
__ADS_1