
"Pak Yosua kelihatan serasi banget ya sama asisten barunya Pak Andri!" sayup-sayup aku mendengar suara itu ketika sedang di dalam toilet kantor.
Siapa yang sedang mereka gosipin?!
Aku kembali menguping pembicaraan di luar.
Apakah setiap ke toilet, para perempuan akan selalu bergosip sambil ngaca?!
"Iya. Baru kali ini aku lihat Pak Yosua senyum sama cewek! Biasanya dia selalu dingin kalau sama cewek!" sahut seseorang yang lainnya.
"Kayaknya Pak Yosua suka deh sama asistennya Pak Andri!" sahut yang lainnya lagi.
Apakah yang mereka maksud adalah aku?! Kenapa aku jadi digosipin sama Pak Yosua?!!
Setelah itu, tidak ada suara lagi. Sepertinya mereka sudah keluar. Saat aku membuka pintu toilet, sudah tidak ada siapa-siapa.
Aku mencuci tanganku di wastafel sambil mengaca.
Saat hendak kembali ke ruanganku, aku melewati ruangan foto kopi.
"Kira-kira ada hubungan apa ya antara Pak Yosua sama asistennya Pak Andri? Mereka kayaknya deket banget!"
Aku langsung berhenti melangkah ketika mendengar perkataan itu.
Dengan perlahan, aku mengendap-endap berjalan ke pintu ruangan foto kopi yang setengah tertutup. Aku ingin menguping pembicaraan barusan.
Sejak kapan aku jadi bahan gosip di kantor ini?!
"Sudah pasti pacaran lah! Setiap jam makan siang, mereka selalu keluar bareng!" seseorang menyahuti pertanyaan yang tadi.
"Iya, bener! Aku juga lihat mereka selalu makan siang bareng!"
Waduh, mereka ini ngala-ngalahin CCTV ya! Selalu tahu setiap gerak-gerikku!
"So sweet banget tau nggak sih! Mereka bahkan nggak makan di kafe mewah. Mereka lebih memilih makan di warteg yang sempit supaya bisa duduk berdekatan!!" pekik teman yang satunya.
Gosip macam apa yang mereka sebarkan ini?!
"Ngapain berdiri di sini?" seseorang berbisik di belakangku. Sontak aku langsung menoleh. Pak Yosua berdiri tepat di belakangku.
Masa sih Pak Yosua suka sama aku?!
"Tisa, kok malah bengong?! Halo.." Pak Yosua melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.
"Eh. Aku nggak ngapa-ngapain kok! Aku kembali ke ruanganku dulu ya!" Aku segera meninggalkan Pak Yosua di sana.
"Kamu ke toilet yang ada di Arab kah?! Lama amat baliknya!" seloroh Andri saat aku baru masuk ruangan.
Aku hanya melemparinya dengan cengiran saja.
Aku mengernyit mendapati kue di meja kerjaku.
Kue dari siapa ini?!
"Tadi aku beli kue kebanyakan. Katanya kan kamu suka kue, jadi aku kasih ke kamu!" ujar Andri dari meja kerjanya.
Oh, ternyata dari Andri. "Makasih ya Ndri!"
"Iya, sama-sama. Sa, tolong buatin aku teh ya."
"Oke, siap!" Aku bangkit dari dudukku.
"Gulanya dikit ya!" pesan Andri.
"Oke!"
Aku keluar dari ruangan dan bergegas ke pantry.
"Nggak nyangka ya, ternyata Pak Manager bisa senyum juga!"
Aku menghentikan langkahku masuk ke pantry dan menguping pembicaraan itu di bibir pintu.
"Hah? Manager yang mana?"
__ADS_1
"Memangnya Manager yang mana lagi?! Manager kulkas kan cuma Pak Yosua! Manager ganteng tapi selalu dingin sama cewek!!"
"Serius kamu lihat dia senyum?!"
"Iya! Beneran! Kamu tahu kan asistennya Pak Andri?!"
"Mbak Tisa?"
"Iya! Pak Yosua kalau ngobrol sama Mbak Tisa, wajahnya selalu tersenyum ramah! Kek beda banget kalau lagi sama kita tahu nggak!"
Masa sih Pak Yosua gitu?!
"Mungkin karena Pak Yosua suka sama Mbak Tisa!" cetus seseorang.
"Udah selesai gosipnya?!" ketus seseorang dengan suara agak keras.
Sontak orang-orang yang sedang bergosip tadi langsung menoleh ke arah pintu, tempatku menguping pembicaraan mereka. Aku juga ikut menoleh ke suara keras tadi.
Andri berdiri di sampingku dengan wajah kakunya.
"Sekarang itu lagi jam kerja! Bukan jamnya gosip!"
"M-maaf Pak! Kami minta maaf!"
Secara beruntun, tiga orang yang bergosip tadi keluar dari pantry.
"Kalau digosipin sama orang tuh tegur! Jangan cuma nguping!" ucap Andri lalu pergi meninggalkanku.
Aku bergegas membuat teh Andri dan langsung kembali ke ruangan.
Dengan hati-hati, aku menaruh tehnya di atas meja Andri.
"Makasih ya," ucap Andri dengan tatapan fokus ke laptop di depannya.
"Sama-sama. Kamu nggak suka manis ya?" tanyaku saat mengingat pesan Andri untuk memberi sedikit gula ke tehnya tadi.
"Ngapain minum yang manis-manis, aku kan udah manis! Entar kemanisan lagi!"
Jiah! PD banget nih orang! Tapi dia memang manis sih. Eh!
________
"Udah jam makan siang nih! Yuk makan bareng!" ajak Andri sambil menutup laptopnya.
"Kamu duluan aja Ndri! Aku masih belum selesai nyusun laporan, tinggal dikit lagi!"
"Aku tungguin ya!"
"Nggak usah, kamu duluan aja! Ntar aku nyusul!"
"Oke deh. Aku duluan ya!"
Aku hanya mengangguk dan fokus ke layar laptop. Andri pun keluar dari ruangan.
Tunggu! Aku kan nggak tahu Andri makan dimana! Terus kenapa tadi aku bilang mau nyusul? Emang mau nyusul kemana?
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk pintu ruangan.
"Masuk!" ucapku.
Pintu terbuka, muncul Pak Yosua dari sana.
"Karena aku nggak lihat kamu lewat-lewat pas jam makan siang, jadinya aku kesini!" ujarnya. "Kok belum makan siang?"
"Iya, ini tinggal dikit lagi, bentar lagi selesai. Nanggung!"
"Aku kesini karena mau bilang, kalau warteg yang biasanya tutup!"
"Waduh, padahal aku mau makan pecel!"
"Aku mau makan di kafe depan kantor. Mau bareng nggak?"
__ADS_1
"Iya, tunggu sebentar ya!" Aku langsung membereskan berkas-berkas di mejaku.
Kami langsung bergegas menuju kafe depan kantor.
Begitu masuk kafe, semua mata langsung tertuju pada kami. Terlihat mereka langsung berbisik-bisik.
Aku memilih duduk di meja pojokan kafe. Setelah memesan makanan, Pak Yosua pamit ke toilet.
"Tuh kan, apa aku bilang?! Mereka pasti pacaran!"
"Kayaknya iya deh! Mereka selalu makan siang bareng!"
Aku langsung menoleh mendengar percakapan itu.
Dua cewek di belakangku langsung berhenti berbicara.
"Jangan kencang-kencang, nanti orang dengar!" bisik si rambut pendek.
"Emangnya kenapa?! Mereka serasi kok!" sahut yang berambut panjang.
Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru kafe. Ternyata semua mata tertuju padaku sambil berbisik-bisik.
Apa semua orang di sini sedang menggosipi aku?!
_________
Sudah lima belas menit aku menunggu hujan yang tak kunjung reda.
Suasana kantor sudah sepi sekarang. Semua karyawan pada pulang lima belas menit yang lalu. Mereka nekat menerobos hujan.
Pingin nebeng ke Andri, tapi waktu balik ke ruangan barusan cuma ada tasnya doang. Orangnya nggak tahu ada dimana.
"Tisa? Belum pulang?"
Aku menoleh mendengar suara itu.
Pak Yosua berjalan menghampiriku.
"Iya, dari tadi hujannya nggak berhenti!"
"Nunggu di dalam aja, di luar dingin!"
"Nggak papa. Nggak dingin kok!"
Tiba-tiba Pak Yosua membuka jaketnya dan memakaikannya padaku.
"N-Ngak usah Pak!" tolakku.
"Nggak papa, pakek aja!" Pak Yosua mencegahku melepas jaketnya.
Lima detik hening tak ada pembicaraan.
"Tis!"
"Hm?"
"Kamu adalah cewek pertama yang aku ajak ke rumah dan Mama langsung suka sama kamu!"
Kenapa tiba-tiba jadi bahas topik ini?
"Aku ingin lebih dekat denganmu, Tisa!"
"Hah?! Pak Yosua ngomong apa sih?! Kita kan sekarang sudah dekat Pak!" Aku menunjuk jarak antara aku dan Pak Yosua berdiri.
"Bukan itu maksudku! Aku ingin lebih dekat denganmu dalam hal hubungan! Aku ingin kita lebih dari teman Tisa!"
Apa ini?! Jadi benar apa yang mereka gosipkan tentang Pak Yosua! Tapi sejak kapan Pak Yosua suka sama aku?! Apa aku yang terlalu bodoh karena tidak peka selama ini?!
"A-aku sama sekali nggak nyangka.."
"Kamu mau nggak jadi pacarku?"
A-aku harus jawab apa ini?!
__ADS_1
BERSAMBUNG