KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Sumpelan


__ADS_3

Terlihat mobil di belakang kami juga melaju kencang. Sepertinya mobil kami beneran diikuti.


"Ck! Itu pasti anak buah Papa!" Andri menggerutu kecil, tapi aku masih bisa mendengarnya.


Kenapa Andri dikejar-kejar anak buah Papanya?!


Andri menambah kecepatan mobilnya.


Waduh! Jangan-jangan dia menggelapkan uang kantor, makanya sekarang dia dikejar sama anak buah Papanya!


Mobil di belakang kami juga ikut menambah kecepatan.


Andri kembali menambah kecepatan.


Agar terhindar dari mobil di belakang kami, Andri membelokkan mobil ke sebuah perumahan.


Satu belokan, dua belokan, sampai tiga belokan, Andri lalu berhenti dan memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran milik orang yang pagarnya sedang terbuka


Bruumm!


Mobil yang mengikuti kami terus lewat, dia tidak tahu kalau kami bersembunyi.


"Siapa mereka?" tanyaku ke Andri.


"Woy!! Siapa ini?!! Kenapa parkir di parkiran orang?!!" tiba-tiba ada Bapak-bapak dengan kumis tebal mengetuk kaca mobil.


Andri membuka kaca mobil. "Ehehe. Maaf Pak. Numpang parkir sebentar."


"Enak aja! Dipikir ini tempat parkir umum apa!! Cepet pergi dari sini!!" usir Pak Kumis itu.


"Iya Pak, maaf."


Setelah tiga kata itu Andri menancap gas meninggalkan rumah Pak Kumis. Untungnya mobil yang tadi sudah nggak ngikutin lagi.


Setelah kejadian diikuti barusan, Andri jadi diam tak bersuara. Kemudian mobilnya melambat dan berhenti.


Aku mengernyit menatap sekitar. Tidak ada rumah ataupun bangunan di sini. Hanya jalanan kosong.


"Ngapain kita berhenti di sini?" Aku menoleh ke Andri. "Kamu mau buang air kecil?"


Andri menatapku terkejut. "Ngawur!! Aku mau telfon sebentar!" ucapnya lalu keluar dari mobil.


Andri berjalan ke depan mobil. Dia mengeluarkan benda pipih persegi panjang dari sakunya.


Memangnya dia mau telfonan sama siapa, sampai keluar segala! Apa dia mau membicarakan hal yang sangat rahasia sampai aku tidak boleh mendengarnnya?!!


Terlihat Andri menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


Aku segera membuka sedikit kaca mobil.


Nguping sedikit nggak papa kali ya! Hehehe!


"Halo Pa!" Andri mulai berbicara.


"Bukankah aku sudah bilang, aku setuju mengurus kantor. Dengan syarat, Papa jangan pernah cari tahu tempat tinggalku yang baru! Jadi tolong Pa, berhenti menyuruh anak buah Papa untuk mengikutiku!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Andri menutup sambungan telfonnya. Terlihat dia kembali memasukkan hpnya ke dalam saku.


Aku segera menutup kaca mobil dan bersikap seolah tidak mendengar apa-apa.


Ternyata dia anak yang kabur dari rumah juga!


________


Akhirnya kami sampai di rumah Pipit.


Aku menyalami Tante Rini yang sedang menggendong anaknya, bergantian dengan Andri.


"Aduh, Tisa! Udah lama nggak main kesini. Eh, sekarang datang-datang udah bawa calon aja!" ucap Ibu Pipit.


Mataku membulat mendengar ucapannya.


"Eh! Bukan Tante! Dia bukan calon saya! Cuma temen Tante!" sanggahku.


"Mmm, masa? Iya sekarang masih teman!" ucap Tante Rini dengan tertawa kecil.


"Ini Tante, bisa dipakai untuk Dedek bayi nanti," ucap Andri sambil menyerahkan semua barang-barang tadi.


"Waduh, kenapa repot-repot!" ucap Tante Rini sambil menerima barang dari Andri.


"Halah! Ibu ini! Bilangnya kenapa repot-repot, tapi barangnya tetep diterima! Aslinya seneng kan?!" ucap Pipit yang akhirnya mendapatkan jitakan dari Ibunya.


"Aduh! Sakit Bu!" Pipit menggosok kepala yang dijitak Ibunya.


"Eh, Tis! Nunggu apalagi?! Ini udah ada yang mapan, sikat langsung aja!" bisik Tante Rini kepadaku yang aku yakin Andri pasti juga mendengarnya. "Apalagi orangnya pakek jas gini! Udah mapan banget pasti!!"


Aku melirik Andri yang memang memakai jas lengkap dengan dasinya.


"Permisi Jeng Rini."


Kami serempak menoleh arah pintu. Ada dua wanita yang berdiri di sana.


Yang satu wanita paruh baya. Yang satunya lagi mungkin seumuran denganku.


Kalau tidak salah, mereka itu tetangga di sebelah rumah Pipit.


"Silahkan masuk jeng," Tante Rini mempersilahkan.


"Buset! Tuh alis atau ulat bulu?" ucap Pipit menunjuk perempuan yang lebih muda dengan dagunya. "Gede amat!"


"Stt! Nanti orangnya dengar!" Aku mencolek pinggang Pipit.


"Biarin aja! Asal kamu tahu ya Tis, kalau pas Virman main kesini, dia sering kegatelan sama Virman!" bibir tipis Pipit mulai menjulid.


"OEEEEE!!!" Adek bayi di gendongan Tante Rini tiba-tiba menangis.


"Ulu ulu! Sayang.., cup cup cup." Tante Rini menimang-nimang anaknya yang menangis. Tapi bayi itu tetap saja menangis.


"Aduh, kamu haus ya. Maaf ya Jeng, tak tinggal masuk dulu," pamit Tante Rini yang ingin menyusui anaknya.


Yang dipamiti hanya mengangguk.

__ADS_1


"Pit, buatin minuman buat mereka ya!" titah Tante Rini sebelum berlalu masuk ke kamar.


"Bantuin yuk!" ucap Pipit mengajakku.


"Lah! Kenapa juga aku harus bantuin kamu?! Aku kan juga tamu di sini!" mulutku protes, tapi kakiku berjalan mengikuti Pipit ke dapur.


Kami kembali dari dapur dengan membawa minuman.


Dua perempuan tadi duduk satu kursi dengan Andri.


"Silahkan diminum," ucap Pipit dengan senyum kaku sambil menaruh gelas berisi minuman di meja.


Di kursi yang panjang itu, perempuan dengan alis hitam tebal malah duduk menempel ke Andri. Seolah-olah kursi yang mereka duduki begitu sempit.


Andri sedikit bergeser untuk memberi jarak. Tapi perempuan itu malah ikut bergeser, menempelkan benda kenyal di dadanya ke lengan Andri.


Aku menahan senyum melihat wajah Andri yang terlihat risih.


"Dia kenapa sih?!" bisik Pipit yang duduk di sampingku. "Kalau dadanya gatel tuh ngomong sama aku! Biar aku bantu garukin pakek garpu padi sekalian! Jangan malah digesekin ke lengan Andri!!"


Aku terkekeh kecil mendengar ucapan Pipit.


Andri kembali bergeser. Perempuan itu juga ikut bergeser, kembali menempelkan dada besarnya ke lengan Andri.


Andri bergeser lagi, dan perempuan itu juga ikut bergeser lagi.


Aku menahan tawa melihat Andri yang tidak bisa bergeser lagi karena dia sudah mentok di pinggir kursi.


Perempuan itu kembali menempelkan benda kenyal miliknya. Pipiku sampai pegal karena terus menahan tawa.


Karena tidak tahan, Andri akhirnya bangkit dan pindah duduk di sampingku.


"Kenapa pindah kesini? Di sana kan lebih empuk!" bisikku menggodanya. "Aku yakin dada itu empuk, melihat dari ukurannya yang besar."


"Empuk apaan?! Orang cuma sumpelan kok!"


Mataku membulat mendengar sahutan dari Andri.


"Darimana kamu tahu kalau itu sumpelan?!" aku kembali berbisik ke Andri.


"Keras bro! Kayak baju diuntel-untel!" sahut Andri yang hampir membuatku menyemburkan tawa.


"Kenapa? Kamu cemburu ya aku duduk sama dia?" Andri menyikut lenganku dengan sikunya.


"GR!! Memangnya kapan aku bilang cemburu?!"


"Perkataanmu itu udah mencerminkan tahu!" sahut Andri.


"GR-mu itu udah melebihi batas Pak!"


"Mas, punya pacar nggak?" tanya perempuan itu tiba-tiba. Membuat kegiatan bisik-berbisik kami terhenti.


Andri menatapku, alisnya berkerut mendengar pertanyaan itu.


"Minta nomor hpnya dong!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2