KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Bertemu Mantan Calon Mertua


__ADS_3

Aku sangat terkejut mendengar jawaban dari Andri.


"Apa?! Rumahmu?!"


"Iya, ini rumahku," jelas Andri lagi. Kini motor yang kami tumpangi sudah terparkir di pelataran rumah mewah ini.


"Terus, ngapain kita kesini?!" tanyaku yang turun dari motor.


"Ngapain lagi?!" Andri malah balik nanya. "Kamu nggak lihat bajuku basah kuyup gini?!" Andri menunjuk bajunya yang memang basah kuyup.


"Ya kali aku ke kantor dengan baju yang basah kayak gini?! Aku mau ganti baju dulu." ucapnya sambil mengusap wajah yang kehujanan tadi.


Terus, kenapa harus pulang ke rumah? Kan kita bisa pulang ke kosan. Ganti baju di sana.


"Kalau balik ke kosan jaraknya kejauhan, makanya aku milih untuk ganti baju di rumah aja, karena lebih deket," terang Andri yang seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.


Aku bergeming mendengar penjelasan dari Andri. Dia berbicara sambil terus mengeringkan rambut basahnya dengan tangan.


Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang sudah agak panjang. Membuatku tak bisa mengalihkan pandangan darinya.


Ah, kenapa kalau rambutnya basah gini jadi kelihatan tambah keren?


"Kok malah bengong?!"


Aku tersentak kaget dan langsung membuang muka. Bisa-bisanya aku malah terpesona.


Sadar Tisa! Hatinya bukan lagi milikmu. Segera buang rasa cinta ini sebelum tambah merasa sakit!


"Buruan lepas jas hujannya. Memangnya kamu mau pakek jas hujan masuk ke rumah?!" ujar Andri yang masih memeras baju basahnya.


Cepat-cepat aku langsung melepas jas hujan yang kupakai.


"Yuk masuk," ajak Andri sambil membuka pintu setelah aku selesai melepas jas hujan.


Suasana di dalam terasa asing bagiku. Ya iyalah terasa asing, kan ini bukan rumahku.


Andri mengucapkan salam tepat ketika kaki ini menginjak ruang tengah.


Telat banget sih ngucap salamnya. Harusnya kan tadi sebelum masuk ke dalam!


Setelah beberapa kali mengucapkan salam, muncul warnita paruh baya sambil menjawab salam dari Andri.


Matanya berbinar begitu melihat kemunculan Andri.


"Andri! Mama kangen banget sama kamu!!" wanita itu langsung memeluk erat Andri.


Siapa dia?! Ibunya Andri kah?! Duuh.. Kok aku jadi gugup gini ya? Mana penampilanku acak-acakan gini lagi!


"Selama ini kamu tinggal dima--"


"Mama!" panggil Andri pelan memotong ucapan wanita itu.


Mata Andri seperti mengkodekan sesuatu.


Sontak wanita itu langsung melepas pelukannya begitu mendapat kode dari Andri. Matanya langsung menangkap keberadaanku.


"Dia.." tanyanya menggantung.


"Dia Tisa, asistenku di kantor Ma," ucap Andri cepat memperkenalkan diriku.


Cepat-cepat aku mencium tangannya sebagai tanda perkenalan.


Aku menangkap ekspresi aneh di wajah wanita paruh baya ini. Tatapan matanya melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Cantik," bisiknya ke Andri yang membuatku tertunduk malu. "Berarti nggak sal--" ucapannya langsung terhenti begitu mendapat bahasa isyarat berupa senggolan lengan dari Andri.


"Aish! Jangan nyenggol-nyenggol dong! Bajumu itu basah, ntar nular ke Mama! Ganti baju sana!" ucapnya galak ke Andri.


Sedetik kemudian ekspresi wajahnya langsung berubah tersenyum ramah begitu menatapku.


"Baju kamu nggak basah kan Sa?" tanya Mama padaku. Eh?! Kok aku manggil Mama?!


"Nggak kok Tan, soalnya tadi aku pakek jas hu--"


"Kok Tante sih?! Panggil Mama aja! Biar lebih akrab!"


Alisku menyatu mendengar ucapannya.


"Ah, kebanyakan orang-orang sini manggil saya Mama Ira. Jadi kamu manggil Mama aja," terangnya seolah mengerti kebingunganku.


Tak sengaja aku melihat ekspresi lega di wajah Andri usai Mama menjelaskan. Eh, kok aku udah terbiasa aja manggil Mama sih?!


Kulirik Andri yang berlalu masuk ke dalam.


"Kamu sudah makan?" pertanyaan Mama Ira membuatku mengalihkan pandangan dari Andri.


"Sudah Ma," jawabku sambil mengangguk.


"Ah, bukan. Maksud Mama, makan malam. Kalau makan malam pasti belum kan?"


Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.


Ya jelas belum lah. Lawong ini aja masih jam dua siang lewat tiga puluh menit.


Aneh-aneh aja pertanyaannya Mama Ira ini.


Sepertinya sifat Andri yang sedikit nyeleneh itu turunan dari Mamanya.


Tiba-tiba Mama memegang lenganku. Lebih tepatnya memegang lengan baju yang kukenakan.


"Baju kamu basah gini, kenapa bilang nggak basah?" ucapnya mengejutkanku.


"Ng.. nggak terlalu basah kok Ma," sahutku sambil merasai kadar basah bajuku.


Lagi-lagi dia tersenyum mendengarku menyebutnya Mama.


"Ini cuma kena gerimis aja tadi," imbuhku.


"Jangan. Kamu harus ganti baju. Takutnya nanti malah masuk angin."


Tapi kan aku nggak ada baju ganti!


"Kayaknya Mama ada baju yang pas buat kamu deh! Baju Mama waktu masih muda dulu!" Mama menarik tanganku agar mengikutinya.


Aku pun menurut dan mengekori Mama masuk kedalam sebuah kamar.


Terlihat Mama mengambil sebuah baju warna navi dari dalam lemari.


Ternyata baju itu adalah dress lengan pendek ketika Mama membuka lipatannya.


"Mudah-mudahan pas di badan kamu!" ucapnya sambil menempelkan dress itu ke badanku.


"Cepat ganti baju kamu. Nanti keburu masuk angin!" ucapnya lagi sambil tersenyum hangat.


Mendapat perlakuan hangat seperti ini membuatku sedikit melupakan patah hati yang disebabkan oleh anaknya.


Aku berlalu ke kamar mandi untuk ganti baju.

__ADS_1


Saat aku pakai, dressnya benar-benar pas di tubuhku.


Kupandangi dress yang panjangnya di bawah lutut ini.


Yakin nih kalau ini dressnya Mama waktu muda dulu? Kok kelihatannya dress baru beli ya?! Dari baunya juga!


Tok tok tok!


"Tisa.." tiba-tiba Mama mengetuk pintu. "Gimana? dressnya muat kan?"


"Muat kok Ma!" seruku. "Malahan pas lagi."


Tapi aku malu untuk keluar dari kamar mandi.


Pasalnya, ini pertama kalinya aku memakai baju yang feminim seperti ini. Gimana kalau ternyata nggak cocok?!


"Syukurlah kalau muat. Cepetan keluar, Mama penasaran. Mau lihat juga!"


Dengan ragu, aku membuka pintu kamar mandi perlahan.


Begitu pintu terbuka lebar, Mama menatapku dengan mata berbinar.


"Cantik!"


Satu kata itu berhasil membuatku tersipu malu.


Ah, andai saja Andri tak punya calon. Mungkin aku akan menjadi perempuan paling bahagia karena mempunyai calon mertua seperti Mama.


"Tapi aku nggak pede Ma. Soalnya aku nggak pernah pakek dress."


"Orang cantik gini kok nggak pede sih?! Sini ayo ngaca kalau nggak percaya!"


Mama menarikku ke depan sebuah cermin.


Tampaklah bayanganku yang malu-malu di cermin itu.


"Kamu itu cantik, jadi nggak perlu malu!"


Perkataan Mama berhasil menciptakan lengkungan kecil di bibirku.


"Eh, tapi ada yang kurang!"


"Apa Ma?" tanyaku bingung.


Tiba-tiba Mama menarik tali rambutku dan membuatnya tergerai. Ia juga merapikan rambutku yang sedikit berantakan.


Menurut Mama, aku tambah cantik dengan rambut digerai.


Tapi aku merasa tak nyaman karena tak terbiasa.


"Tapi Ma, kok kayaknya ini dress baru? Masih bagus banget! Apalagi dari baunya."


"Mmm.."


Mama terlihat bingung mau menjawab apa. Terlihat dari matanya yang seperti sedang merangkai kata.


"Kenapa kalian lama sekali?!" keluh Andri yang membuatku refleks menoleh ke arah pintu.


Andri menatapku terperangah, mulutnya sedikit terbuka.


"Tisa, kamu.."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2