KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Kepo


__ADS_3

Siapa Tiwi? Kenapa Andri romantis gitu ngomongnya?


"Tis!!" teriakan Pipit menyadarkanku.


"Eh, iya. Apa?!"


"Ck! Jadi dari tadi kamu nggak dengerin aku ngomong."


"Ehehe. Maaf Pit, tadi aku lagi nggak fokus."


"Ck! Kamu lagi mikirin apa sih Tis?!"


"Ehehe. Nggak kok. Aku nggak mikirin apa-apa."


"Jadi gini Tis." Pipit mulai serius bercerita lagi. "Tadi Ayah kamu datang ke rumah aku. Dia bilang kamu tidur sama cowok Tis!"


"Itu, Ayah salah paham."


"Gimana ceritanya sampai salah paham kayak gitu?!"


"Jadi gini ceritanya.." Aku menceritakan semuanya ke Pipit. Tapi tentu saja aku tidak menceritakan ke Pipit kalau Andri menggombaliku.


"Buahahha!!" tawa Pipit meledak mendengar ceritaku. "Itu sih salah kamu! Lagian sih kamu pakek acara pura-pura tidur segala!"


"Terus tadi waktu aku mau cas hp, chargernya malah nggak bisa! Dan ternyata itu charger punya kamu! Kemarin kamu salah bawa pulang charger kan?!"


Pipit hanya nyengir menanggapiku. "Ehehe, iya maaf. Ini, sekarang aku bawain charger kamu kok!" ucap Pipit sambil menepuk tas kecilnya. "Bukan cuma kamu doang yang nggak bisa ngecas kali. Aku juga!" Pipit menunjukkan hpnya yang sudah mati.


"Ya kan salah kamu sendiri!" sahutku kesal. "Yuk pulang ke kosan! Aku mau ngecas hp lalu jelasin semuanya ke Ayah!" Aku bangkit dari dudukku.


"Neng-neng mau kemana?! Bayar dulu dong!" Ibu warung menahan lengan Pipit.


"Lah, kami kan cuma numpang duduk doang Bu. Sejak kapan numpang duduk bayar?"


"Duduk doang apanya?! Orang temen Neng yang ini sudah habis lima gorengan dari tadi!" tunjuk Ibu warung ke Pipit.


"Hah?! Kapan?!!"


"Hehehe. Waktu kamu lagi sibuk cerita dengan tidak melihatku, aku dengerin kamu sambil makan gorengan," ucap Pipit dengan cengengesan.


Aku menepuk dahiku mendengar tuturannya.


________


Aku menyalakan hpku setelah selesai mengecasnya.


Aku terbelalak melihat ada empat puluh sembilan panggilan tak terjawab dari Ayah.


Tririring!!


Aku terlonjak kaget ketika hpku tiba-tiba berdering.


Baru juga aku menyalakan hp, Ayah langsung menelfonku. Kutekan tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Halo?"


[ HALO!! AKHIRNYA HP KAMU AKTIF JUGA!! ]


Aku refleks menjauhkan hpku dari telinga saat mendengar teriakan Ayah dari seberang telfon.


[ Apakah ini yang kamu maksud dari hidup mandiri hah?!! Ayah tahu kamu menolak untuk Ayah jodohkan, tapi bukan berarti kamu harus tidur deng-- ]


"Stop Ayah!!" pekikku menghentikan ucapan Ayah. "Ayah salah paham!! Dengarkan dulu penjelasanku!" dari seberang telfon, Ayah terdiam mendengar teriakanku.


Aku menceritakan ke Ayah bahwa aku ketiduran di mobil dan Bosku lah yang mengangkat telfon dari Ayah.


"Dengan Ayah menyimpulkan bahwa aku tidur dengan laki-laki, itu sama saja dengan Ayah menganggap putri Ayah sendiri murahan!!"


Klik!


Aku langsung menutup sambungan telfon setelah mengatakan kalimat yang terakhir barusan.

__ADS_1


Aku yakin kata-kata itu sangat ampuh untuk membuat Ayah percaya dengan penjelasanku.


Tririring!


Ayah kembali menelfonku.


"Ada apa lagi Yah?!"


[ Ayah minta maaf. Ayah nggak bermaksud seperti itu. ]


Aku hanya menghela nafas panjang mendengar permintaan maaf dari Ayah.


Kata-katanya sih memang minta maaf. Tapi nada bicaranya itu lho. Sangat-sangat tidak mencerminkan bahwa Ayah sedang minta maaf.


[ Barusan kamu bilang kalau kamu bekerja sebagai Asisten Direktur. Di perusahaan mana kamu bekerja sekarang? ]


Aku memutar bola mata mendengar pertanyaan Ayah. Pasti ujung-ujungnya Ayah cuma mau membanding-bandingkan.


"Untuk apa Ayah tahu di perusahaan mana aku bekerja?!"


[ Tentu saja Ayah perlu tahu! Ayah mau tahu sebesar dan sebagus apa perusahaan itu sampai-sampai membuat putri Ayah berpaling dari perusahaan milik orang tuanya sendiri! ]


"Sangat besar! Lebih besar dari perusahaan Ayah! Dan yang paling penting, di sana aku tidak dipandang remeh. Karena di sana statusku bukan anak dari Direktur sekaligus pemilik perusahaan!" jawabku mantap dan langsung mematikan sambungan telfon.


"Melainkan menjadi kekasih dari Direktur perusahaan!!" cetus Pipit tak kalah mantap.


Aku mendelik mendengar ucapannya dan langsung melayangkan pukulan bantal ke wajahnya.


"Aish! Tisa!!" Pipit menangkis bantal yang aku layangkan ke wajahnya. "Aku kan cuma bercanda! Dari tadi aku tegang tahu dengerin percakapan kalian!"


"Sayangnya candaan kamu nggak lucu tahu!!" sahutku kesal.


Kemudian terdengar suara motor ninja berhenti di teras depan.


"Tuh Sasuke kamu udah datang!" ucapku sambil mengintip dari jendela kamar dan melihat Virman.


"Daaa Naruto.. Sakura mau pergi ngebucin dulu ya!" ucap Pipit sambil sedikit merapikan rambutnya.


Aku mengernyit mendengar ucapan Pipit. "Kok aku jadi Naruto? Aku kan cewek!"


Aku terdiam menatap Pipit.


Jangan sampai Pipit tahu kalau Andri pernah nembak aku!


"Jangan sok tahu kamu! Udah sana pergi! Sasuke kamu udan nungguin tuh!" ucapku sambil mendorong Pipit keluar dari kamarku.


________


Sudah yang kesekian kalinya aku membalikkan badan mencari posisi nyaman agar terlelap tidur.


Kuraih hpku untuk melihat jam dari sana. Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, tapi mataku masih belum mengantuk juga.


Kira-kira Andri tadi ngobrol sama siapa ya? Kenapa tadi nadanya romantis banget? Apa jangan-jangan itu pacarnya Andri? Lalu aku?! Kenapa dia nembak aku kalau ternyata dia sudah punya pacar?!


Kepalaku pusing dengan spekulasiku sendiri.


Kruyuuuuk!


Aku lapar. Aku tak akan bisa tidur sebelum aku merasa kenyang.


"Hmmh.. kira-kira mie instanku masih ada nggak ya?"


Aku bangkit dan memutar kunci pintu kamar lalu pergi ke dapur.


"Harusnya sih mie instanku masih ada banyak. Kan waktu itu Pipit beliin aku mie satu kardus," ucapku berbicara sendiri sambil memutar kunci pintu dapur.


Setelah itu aku langsung menyalakan lampu dapur.


Kubuka lemari dapur untuk mengambil mie instan. Aku terhenyak saat melihat lemari bagian tempatku menyimpan persediaan mie instan kosong. Tak ada satupun mie instan di sana. Yang tersisa hanya kertas bertuliskan namaku di sana.


"Kemana mie instan milikku?!" Kuambil kertas yang bertuliskan namaku.

__ADS_1


Aku mengernyit saat membalik kertas itu dan mendapati sebuah pesan.


"Tisa, Tante minta mie instan punya kamu ya. Tapi tenang, Tante nggak ngabisin semuanya. Di kardus atas lemari masih ada mienya kok!"


Aku hanya bisa menghela nafas panjang membaca pesan itu.


Aku mendongak menatap kardus mie milikku yang aku taruh di atas lemari.


Bahkan Tante Sarah juga tahu kalau aku menaruh kardus mie di sana!


Kugeser kursi dapur untuk menggapai kardus itu. Kubuka kardus itu. Aku terhenyak saat hanya mendapati satu bungkus mie.


Ya Allah.. Gini amat jadi anak kos!


Kegunaan dari kertas yang bertuliskan namaku di mie instan di lemari ini adalah supaya penghuni lain tidak salah ambil. Tapi sepertinya kertas itu sudah tidak berguna lagi.


Aku menggeletakkan kertas dan kardus itu di meja dapur dan beralih memasak mie terakhir yang tersisa.


Begitu airnya mendidih, aku langsung memasukkan mienya.


Saat mienya sudah matang, aku mematikan kompor dan mengangkat gagang panci yang sudah hampir copot dari pancinya.


Kumiringkan panci itu di wastafel dapur untuk membuang air rebusannya dengan sendok sebagai penahan mie agar mienya tidak ikut terbuang.


Pertama kali aku datang ke kosan ini, panci ini memang sudah seperti ini keadaannya.


Aku sering meminta ke Ibu kos untuk menggantinya. Tapi Ibu kos tak pernah menggantinya. Bagaimana kalau nanti pancinya malah cop--


Klek! Klontang!!


Tidakkkk!!


Pancinya beneran copot. Dan mieku jatuh ke wastafel.


Arrrgghh! Padahal ini mieku yang terakhir!


"Ahahaha!!"


Tiba-tiba seseorang tertawa. Aku langsung menoleh.


Sejak kapan Andri duduk di sana?!


Andri terus saja tertawa melihat mieku yang jatuh.


Aku segera membuang mie itu ke tempat sampah. Kuputuskan diriku untuk kembali ke kamar saja.


"Sa," panggilan Andri mencegah langkahku keluar dari dapur.


Apa?! Kenapa dia memanggilku? Apa dia mau memberikan mie instan miliknya padaku?


"Hm?"


"Gimana Ayah kamu? Kamu udah jelasin salah paham yang tadi siang ke Ayah kamu belum?"


Ah! Kirain mau ngasih mie. Ternyata cuma mau nanya itu doang!


"Memangnya kamu perlu tahu?!"


"Tentu saja aku harus tahu! Aku nggak mau Ayah kamu beranggapan kalau aku laki-laki yang bres*ng!"


Aku tak menghiraukan ucapan Andri dan pergi meninggalkannya.


"Sa!" Andri mencekal lenganku. "Kamu masih marah sama aku?"


"Apaan sih Ndri?!" Kulepaskan lenganku dari tangan Andri.


Kalau Andri memang punya pacar, lalu kenapa dia nembak aku?!


"Ngobrolnya besok aja ya. Ini udah malam. Aku mau tidur," ucapku lalu pergi meninggalkan Andri dan masuk ke kamar.


Untuk sementara aku harus jaga jarak dulu dengan Andri. Aku juga harus cari tahu siapa cewek itu.

__ADS_1


Eh? Kok aku jadi kepo gini sih?! Atau jangan-jangan aku.. Nggak-nggak! Nggak mungkin! Aku cuma penasaran! Bukan karena hal yang lainnya!!


BERSAMBUNG


__ADS_2