KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Ditelfon


__ADS_3

"Ma, lihat! Kakak itu lagi ngapain?"


Teriak seorang anak kecil yang berhasil membuat kami bisa bergerak lagi.


Segera aku dan Andri sama-sama menjauh dan duduk di bagian ujung bangku.


"Ehem. Oh ya Tisa, ini ada cilok buat kamu. Tadi aku beli cilok kebanyakan, aku nggak habis," ujar Andri dengan nada yang tiba-tiba canggung.


"Makasih Ndri," aku menerima cilok itu dan langsung memakannya demi menghindari kecanggungan yang sedang melanda.


Hening beberapa saat. Aku pun sibuk mengunyah cilok. Andri juga lebih memilih diam dan menatap lurus ke depan.


Andri terus terdiam sampai cilok di tanganku kandas, akhirnya ia bersuara.


"Jadi akhirnya kamu menerima perjodohan itu?"


Aku menoleh menatap Andri. "Jadi kamu nguping?!"


"N-nggak! Aku nggak nguping!" sanggahnya. "Lebih tepatnya aku nggak sengaja denger saat menyusul kamu ke ruang rawat ayahmu."


"Sama aja!" cibirku.


"Jadi, terus kelanjutannya gimana?" tanya Andri lagi.


"Ya nggak gimana-gimana," sahutku malas. "Tadi Ayah juga cerita sama aku kalau yang datang ke kencan yang pernah direncanain Ayah dulu itu yang datang bukan jodohku. Melainkan temannya," tuturku tanpa diminta.


Kulirik Andri yang terlihat masih setia mendengarkan ceritaku.


"Itu adalah kabar yang bagus untukku."


"Kenapa jadi kabar bagus?" tanya Andri heran.


"Iya lah. Itu tandanya dia juga tak menyetujui perjodohan ini. Aku bisa kerja sama dengannya, menyusun rencana baru. Kalau penolakan datang dari pihak laki-laki, tidak menutup kemungkinan perjodohan ini akan batal!" ucapku yang memikirkan sebuah rencana.


Andri mengerutkan dahinya. "Itu kan sebelum dia mengenalmu!"


Giliran alisku yang menyatu. "Maksudmu?"


"Maksudku, gimana kalau setelah dia mengenalmu dia malah suka sama kamu dan malah ingin melanjutkan perjodohan ini?!"


Aku benar-benar tak kepikiran dengan apa yang Andri ucapkan barusan. Gimana kalau itu benar-benar terjadi? Gimana kalau... Ah nggak mungkin. Aku langsung menepis pernyataan Andri barusan.


"Nggak mungkin lah! Mana ada orang baru kenal langsung jatuh cinta? Itu cuma ada di sinetron!" ucapku sambil mengibaskan tangan.


"Ya kan nggak ada yang tahu!" timpal Andri sambil mengedikkan bahunya yang membuatku kembali memikirkan ucapannya.


________


Aku tiduran di kasur kosan sambil menonton anime Vanitas dengan dua kaki naik ke atas yang kusenderkan lurus ke tembok.


Saat banyak pikiran enaknya emang nonton anime.


Tring!


Sebuah pesan masuk ke hpku. Sedikit mengganggu aktivitas menontonku.


Kulihat notifikasinya, dari nomor yang tak terdaftar. Kuabaikan pesan itu dan kembali lanjut menonton. Tak lama kemudian..


Tring


Tring


Tring


Rentetan pesan dari nomor tak dikenal tadi kembali masuk. Dengan kesal kubuka pesan itu yang isinya cuma..

__ADS_1


[ P ]


[ P ]


[ P ]


"Ck. Siapa sih?!" [ Q ] kukirim huruf itu sebagai balasannya.


"Kenapa sih orang kalau kirim pesan itu harus menyapa dengan huruf P kenapa nggak huruf A?!" gerutuku kesal.


Tak lama kemudian balasan darinya masuk.


[ R ]


[ S ] kubalas pesan itu dengan huruf S.


[ T ]


[ U ]


[ V ]


[ W ]


Kami terus sama bertukar pesan huruf abjad.


[ Ini ceritanya lagi ngafalin huruf abjad ya? ] tanyanya dengan emoticon tertawa.


[ Kan kamu tadi yang mulai duluan! ] balasku yang sepertinya level kekesalanku meningkat menjadi level dua.


[ Masa sih?! ] balasnya lagi.


"Ini siapa sih?!" gerutuku sambil memencet gambar provil yang hanya menampilkan gambar kucing putih. "Iseng banget malam-malam!"


"Jangan-jangan ini Pipit lagi! Biasanya kan dia suka iseng kalau lagi ganti nomor!"


Lama tak ada balasan hingga aku memutuskan pergi ke dapur karena merasa tenggorokanku haus.


Saat masuk ke dapur, ternyata ada Andri di sana yang sedang duduk sambil memainkan benda pipih di kedua tangannya.


Entah apa yang sedang ia lakukan dengan benda pipih itu sambil terus senyum-senyum nggak jelas sampai tak menyadari aku yang masuk ke dapur.


Andri baru menyadari keberadaanku setelah aku melewatinya karena letak dispenser yang memang ada di dekatnya.


"Eh Tisa!" sapanya.


Aku hanya tersenyum menyapanya dan kembali ke kamar setelah mengisi botol airku lalu kembali ke kamar.


Kubuka aplikasi hijau di hpku setelah melihat ada notifikasi balasan pesan dari nomor tadi.


[ Bukan ] balasnya.


[ Udah lah Pit, ngaku aja. Aku lagi nggak mood bercanda! ] kukirimkan pesan yang kuyakini dari Pipit itu.


Tring!


Hpku kembali berbunyi saat balasan pesan masuk.


[ Lah, emang bukan kok! Kok maksa sih?! ]


[ Terus ini siapa?! ] kubalas pesan itu dengan kesal.


Tring!


[ Tebak dong! ]

__ADS_1


"Ah, biarin aja lah!" kuabaikan pesan itu dan tak membalasnya.


Aku pun menaruh hpku dan berniat tidur.


Triririring!


Tiba-tiba hpku berdering tanda ada seseorang yang menelfon. Dan ternyata nomor tak dikenal tadi.


Semula kuabaikan telfon darinya. Tapi akhirnya aku mengangkatnya karena terus saja berdering.


[ Halo? Kok nggak dibalas sih ? ] tanyanya dari ujung telepon.


Suaranya laki-laki, berarti ini bukan Pipit seperti yang aku duga.


"Ini siapa?" tanyaku.


[ Coba tebak! ] jawabnya.


"Kalau nggak penting aku tutup!"


[ Eh jangan ditutup! ] cegahnya. [ Kamu inget nggak sama cowok tompel yang kamu temui di kafe dulu? ]


Aku pun mencoba mengingat-ingat. Lalu terlintas di benakku saat aku dulu pergi ke kafe dan bertemu dengan jodohku alias temannya jodohku.


"Jadi kamu cowok itu?!" tanyaku menyimpulkan. "Ngapain kamu nelfon aku?!"


[ Ahaha, bukan. Lebih tepatnya aku temannya cowok yang kamu temui di kafe dulu ]


"Tunggu, kalau kamu temannya cowok yang aku temui, berarti kamu.. "


[ Iya. Aku cowok yang dijodohkan sama kamu! ] timpalnya menyela ucapanku.


Dia dapat nomorku dari mana? Ah nggak penting dia dapat nomorku dari mana. Malah Ini bagus! Aku akan mengajaknya kerja sama untuk membatalkan perjodohan ini.


"Awalnya aku ingin menghubungimu duluan. Tapi ternyata kamu duluan yang menghubungiku," ucapku setelah beberapa saat. "Mau kah kau bekerja sama denganku? Aku punya sebuah rencana!"


[ Rencana? Rencana apa? ]


"Rencana untuk membatalkan perjodohan ini!"


Hening beberapa saat, tak ada jawaban.


Memang sih terdengar agak konyol. Baru kenal, bahkan aku belum tahu namanya. Udah main ngajak kerja sama aja.


Tapi terserah lah dia mau mikir apa. Yang penting tujuanku tercapai.


[ Kenapa harus dibatalkan? ] tanyanya kemudian yang membuat alisku menyatu karena bingung.


"Bukankah kamu tak menyetujui perjodohan ini? Itu kan, alasan kamu menyuruh temanmu untuk menggantikanmu saat disuruh menemuiku dulu?! Jadi kita sama-sama tak menyetujui perjodohan ini!"


[ Itu dulu! ]


Aku terkejut mendengar jawabannya yang disertai dengan tawa.


"Maksud kamu apa?!"


[ Setelah aku pikir-pikir, tak ada ruginya juga bila aku menyetujui perjodohan ini. Dengan perusahaan Ayahmu yang besar itu, bisnisku akan semakin lancar! ] jawabnya dengan disertai tawa yang terdengar amat menjengkelkan di telinga yang membuatku sedikit geram.


"Jadi kau mau menikah hanya karena bisnis?" tanyaku geram.


[ Tentu saja. Kenapa tidak? ]


"Aku nggak mau! Aku hanya mau menikah berlandaskan cinta!"


[ Ahahaha! ] lagi-lagi dia tertawa, tawa yang terdengar sangat menjengkelkan.

__ADS_1


[ Cinta? Apa itu Cinta?! Jangan konyol! Kau pikir kau bisa hidup hanya dengan makan cinta? Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi segalanya butuh uang! Menikahlah denganku! ]


BERSAMBUNG


__ADS_2