
"Cepat minta maaf! Kamu nggak tahu di itu siapa?! Dia itu selebgram!!"
Bodo amat!! Aku nggak peduli!
"Tapi aku nggak salah Pak!"
"Meskipun kamu nggak salah, kamu tetap harus minta maaf sama dia! Pengaruh dia itu besar banget tahu di sosial media. Bisa-bisa kafe ini bangkrut gara-gara dia!!" bisik atasanku.
Aku terus berdebat dan menolak untuk minta maaf.
"KAU DIPECAT!!"
Aku terbelalak mendengar kata-kata itu.
Pelanggan tadi tersenyum penuh kemenangan.
"Tolong jangan pecat Tisa Pak! Tisa nggak salah! Dia cuma--"
"Diam kamu!! Atau kamu juga mau saya pecat?!" ucap atasanku pada Rini yang membuatnya langsung terdiam.
Hahaha! Bagus sekali. Belum sehari kerja udah dipecat.
Untungnya atasanku masih berbaik hati. Dia memberiku uang lima belas ribu. Katanya untuk ongkos pulang.
Tapi karena lapar, aku menggunakan uang itu untuk makan bakso di pinggir jalan.
Urusan pulang? Gampang lah, jalan kaki aja. Lagi pula kosanku tidak terlalu jauh. Yang penting perut senang. Hahaha.
Tring!
Sebuah pesan masuk di hpku.
Aku membuka pesan itu. Ternyata dari Ibu kos. Isinya tentang mengingatkan bahwa lusa adalah waktu pembayaran uang kos.
Ini sudah kebiasaan dari Ibu kos. Setiap kurang dari dua hari, dia memang selalu mengingatkan kepada semua penghuni kosan.
Aku menghela nafas berat membaca pesan itu. Membuat selera makanku jadi berkurang.
Tapi mungkin cuma berkurang sedikit kali ya. Buktinya, aku masih lahap memakan bakso itu sampai habis.
Setelah bakso habis, aku kembali menghela nafas.
Gimana ini?! Aku tidak punya uang untuk bayar kos!
Dengan lesu aku berdiri dan hendak beranjak pergi.
"Eh Neng! Baksonya belum bayar!!" teriak pedagang bakso sambil mengejarku.
Oh iya! Aku belum bayar!
"Maaf ya Pak, lupa!" ucapku dengan nyengir dan menyerahkan uang.
Setelah itu, aku tidak langsung pulang ke kos. Melainkan ke rumah sakit untuk menjenguk Mbak Lina.
Dia mengucapkan terimakasih padaku karena sudah menolongnya.
Dia juga mengatakan akan mengganti uangku dengan cara mencicilnya.
Kemudian aku mulai mengutarakan keinginanku, alasan sebenarnya aku ke sini.
"Mbak, sebelumnya aku minta maaf. Kalau Mbak Lina mencicil enam ratus ribu sekarang gimana?" dengan sungkan, akhirnya aku mengatakan itu.
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk meminta uangnya. Tapi aku benar-benar nggak ada pilihan lagi Mbak."
Kutatap wajah Mbak Lina. Aku benar-benar merasa tidak enak meminta uang pada orang yang masih sakit.
"Aku dipecat Mbak. Dan sekarang aku sudah nggak punya uang lagi. Dua hari lagi aku harus bayar kosan."
Kutatap lagi wajah Mbak Lina.
"Aku minta maaf Tisa. Gara-gara aku kamu jadi kesusahan," sahut Mbak Lina.
__ADS_1
"Tapi saat ini aku sedang tidak punya uang. Karena sudah lama tidak bekerja. Aku juga sepi pelanggan."
Aku mengernyit mendengar kata-kata Mbak Lina.
Pelanggan?! Perasaan Mbak Lina nggak jualan deh!
"Sebenarnya aku benci dengan pekerjaan kotor ini!" ucap Mbak Lina mulai curhat.
Sementara aku masih bingung dengan arah pembicaraan ini.
Pasalnya, aku tidak pernah tahu Mbak Lina itu kerja apa.
Pekerjaan kotor apa yang Mbak Lina maksud?! Apa dia tukang sedot WC?
"Aku jadi perempuan bayaran sejak berpacaran dengan Restu."
Kini aku mulai mengerti pekerjaan Mbak Lina setelah mendengar kata perempuan bayaran.
"Kami sudah lama pacaran. Karena tak punya biaya untuk menikah, Restu menyuruhku untuk melakukan pekerjaan ini." Mbak Lina berhenti bercerita saat air matanya mulai menetes. Dia mengusapnya dengan punggung tangan.
"Restu bilang aku harus sedikit berkorban. Karena aku sangat mencintai Restu, aku pun menurut. Aku ingin mengumpulkan uang dan segera menikah dengan Restu."
Sedikit?!! Menjual kehormatan itu adalah pengorbanan yang sangat besar! Bisa-bisanya Mbak Lina mau menikah dengan orang yang menyuruhnya untuk menjual kehormatannya!
Mbak Lina kembali menangis. Dengan sesenggukan dia kembali bercerita.
"Tapi anak yang aku kandung itu adalah anak dia! Karena semua pelangganku menggunakan alat pengaman. Hanya Restu lah yang berhubungan denganku tanpa alat pengaman dan juga keluar di dalam!!" ucapnya dengan sesenggukan.
"Tapi dia malah tidak mengakui anaknya dan mengancam untuk putus denganku kalau aku tidak menggugurkan anak ini. Tapi aku menolaknya."
Mbak Lina terus saja bercerita sambil menangis.
"Setelah bertengkar malam itu, aku mengejarnya. Dan akhirnya kami balikan. Aku yang waktu itu ngidam susu kedelai menyuruhnya untuk membelinya."
Mbak Lina mengusap ingus di hidungnya dengan tisu yang kusodorkan.
"Tapi dia malah membelikan aku jus buah. Aku pun ngambek dan pulang ke kos. Tapi aku tetap membawa jus itu bersamaku. Ketika aku meminumnya, aku malah merasakan sakit yang teramat di perutku. Kemudian aku tak sadarkan diri. Dan saat bangun aku sudah di rumah sakit. Dan dokter mengatakan aku sudah keguguran. Dan itu pasti ulah Restu yang telah mencampurkan obat ke dalam jus itu!"
Tega sekali pacar Mbak Lina melakukan ini!
________
Gimana ini? Dua hari lagi aku harus bayar kos. Dapat uang darimana aku?!
Aku teringat dengan Pipit dan langsung menelfonnya.
[ Halo? Hiks hiks ]
Aku mengernyit saat suara Pipit terdengar menangis.
"Pit, kenapa kamu nangis?!"
[ Ibuku lahiran Tis! Tapi karena air ketubannya keburu habis, jadinya harus operasi! Kondisi Ibu sekarang kritis. Uang tabunganku nggak cukup untuk bayar operasi, jadinya sekarang Ayah lagi cari pinjaman. ]
Aku merasa sedih karena tidak bisa membantu Pipit.
Dengan kondisi keluarga Pipit yang sekarang, aku nggak mungkin pinjam uang ke dia!
Akhirnya aku urung meminjam uang ke Pipit.
Tiba-tiba, cuaca mendadak berubah. Gerimis mulai turun
Aku lari-lari kecil mencari tempat berteduh.
Kenapa tiba-tiba gerimis sih?! Apa sekarang sudah mulai musim hujan?!
Sebuah mobil hitam melambat di sampingku.
Kemudian orang di dalamnya melongokkan kepalanya keluar kaca. Orang itu adalah Andri.
"Tisa, ayo masuk!!"
__ADS_1
Aku langsung bergegas masuk karena gerimis tadi berubah menjadi hujan lebat.
Kulirik Andri yang masih lengkap menggunakan setelan jas rapi.
"Bukannya hari ini kamu mulai masuk kerja ya? Kok ada di sini?!"
"Aku dipecat!" jawabku.
"Hah? Dipecat?"
Aku mengangguk. "Iya. Mana dua hari lagi aku harus bayar uang kos. Haahh.."
"Kantor tempat aku kerja lagi buka lowongan. Gimana kalau kamu ngelamar di sana?"
Aku menoleh ke Andri yang sedang fokus ke jalan raya di depannya.
"Disana lagi buka lowongan bagian apa?! Ah, tidak-tidak! Aku udah nggak peduli itu bagian apa. Mau itu office girl atau sejenisnya, aku nggak peduli. Yang penting sekarang aku kerja dan dapat uang!"
"Kamu langsung aja kirim surat lamaran kerjamu besok!" ucap Andri.
"Iya, kamu benar! Lebih cepat, lebih baik!"
________
Aku menatap bangunan tinggi di depanku dari dalam mobil Andri.
Kantornya besar! Sama persis seperti kantor Ayah!
Saat hendak berangkat kesini tadi, Andri mengajakku berangkat bareng.
Tentu saja aku tidak menolak. Lumayan, bisa hemat uang untuk transportasi.
"Sa, ayo turun," ucapan Andri membuyarkan lamunanku.
Mendadak, perutku jadi mules. Kebiasaan, kalau gugup rasanya pingin beol.
"Duh, Ndri. Perutku mules, jadi pingin beol!"
Andri terkekeh mendengar ucapanku. "Gugup ya?"
"Iya. Deg-degan banget aku! Gimana kalau nanti nggak diterima?!"
"Optimis dong! Masa belum apa-apa udah pesimis."
Yang Andri katakan memang benar. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menghilangkan rasa gugup ini.
"Udah, tenang aja! Yang penting sekarang kamu masuk dulu. Lalu serahkan surat lamaran kerjamu. Diterima atau nggak, itu urusan belakang!" ucap Andri berusaha menyemangatiku.
Kami pun turun dari mobil.
"Maaf, aku nggak bisa nemenin kamu," ujar Andri.
"Iya, nggak papa. Kamu udah ngasih tahu lowongan ini aja, aku udah bersyukur banget!"
Kami berdua berpisah di parkiran. Andri masuk duluan ke kantor.
Dengan pelan, aku melangkahkan kakiku masuk ke kantor.
"Permisi Mbak, saya mau melamar kerja di sini," ucapku pada resepsionis sambil menyerahkan surat lamaran kerja milikku.
"Selamat Mbak! Mbak diterima kerja disini!"
"Hah? Diterima?!!" ucapku kaget.
Belum juga wawancara kerja. Bahkan surat lamaran kerjaku pun belum dibaca! Tapi aku sudah diterima?!!
"Saya diterima kerja di bagian apa Mbak?" tanyaku lagi.
"Assisten direktur. Dan sekarang Mbak sudah ditunggu beliau di ruangannya."
Aku terbelalak mendengar jawaban itu.
__ADS_1
Nggak mungkin! Surat lamaranku bahkan belum dibaca. Dan aku sudah diterima jadi assisten direktur tanpa wawancara sedikit pun?!!
BERSAMBUNG