
Tak jauh dariku, berdiri laki-laki dengan kemeja berwarna hitam.
Suaranya begitu mirip dengan orang yang sangat kukenal, tapi begitu aku menatap wajahnya, mereka orang yang berbeda.
"Ternyata kita jodoh ya! Padahal nggak janjian, tapi warna baju kita samaan," dia terkekeh memperlihatkan gigi rapinya.
Padahal kupikir tadi itu dia. Orang yang kukenal memiliki satu gigi gingsul. Sementara dia giginya rapi.
Brewok tipis di wajahnya itu menambahkan kesan sangar, bertolak belakang dengan tahi lalat di bawah mata kirinya yang memberikan kesan manis.
Rambutnya juga sedikit panjang berbeda dengan punya An--
"Meskipun kita sering bertukar kabar, kau tidak tahu namaku bukan?" ucapnya membuyarkan lamunanku.
Apa? Kapan aku bertukar kabar dengannya?
"Kenalkan, namaku Putra!" ia menjulurkan tangannya padaku.
Aku bergeming menatap tangannya. Spontan ia langsung menarik tanganku untuk berjabat tangan.
"Aku tahu aku ganteng, sampai-sampai membuatmu terpaku seperti itu!" lirihnya yang hanya bisa didengar olehku.
"Apa?!" segera kutarik tanganku dari genggamannya. Ia hanya menyunggingkan senyum melihatku mendelik ke arahnya.
"Karena semuanya sudah lengkap, sebaiknya ayo kita mulai makan malamnya!" ucap Ayah yang membuat kami semua melangkah ke meja makan.
Aku melirik Putra yang duduk di sebelahku. Aku pun segera beranjak dan duduk di kursi yang berjarak dua kursi dari Putra.
Tapi ia segera pindah dan kembali duduk di sebelahku.
"Kamu ngapain deket-deket aku sih?!" tanyaku sinis.
"Kita harus berdekatan agar kamu lebih mengenalku!" jawabnya sambil tersenyum simpul.
"Memangnya untuk apa aku mengenalmu?!"
"Tisa, begitukah caramu berbicara pada cakon suamimu?!" tegur Ayah yang baru bergabung ke meja makan.
Mulutku bungkam. Bisa kulihat senyum kemenangan di wajah Putra. Aku hanya menatapnya jengkel.
"Sampai kapan kau akan memakai topimu itu?!" Ayah menatap tajam. "Ini di dalam rumah, buka topimu!" titah Ayah.
Segera kulepas topiku yang menutupi ikat rambut dari gelang karet bekas nasi goreng.
Hahaha! Lihatlah tatanan rambutku yang aesthetic ini!
Kini mencuatlah rambut yang kuikat asal-asalan tanpa kusisir dan dalam keadaan basah karena tadi habis keramas.
Kita lihat, apa dia mulai ilfeel?
Aku menoleh demi ingin melihat ekspresi wajah Putra.
Seet!
Tiba-tiba tangannya terulur, ia menyentuh ikatan pada rambutku.
"Kalau masih basah gini, jangan diikat. Nggak baik buat rambut kamu!" Putra melepas ikatan pada rambutku.
Setelah itu, terlihat ia dengan sengaja memutuskan gelang karet itu.
Putra juga menyisir rambutku dengan tangannya. Segera kutepis tangannya dari rambutku.
"Singkirkan tanganmu dari rambutku!" hardikku dengan gerakan bibir tanpa suara.
Terlihat Ayah dan Bunda tersenyum melihat perlakuan Andri padaku.
Gagal sudah untuk membuatnya ilfill dengan penampilanku.
Hemh! Tapi aku masih punya cara lain.
__ADS_1
Dengan rakus aku memakan semua makanan di piringku. Sengaja aku menempelkan nasi di sekitar mulutku agar terkesan belepotan. Pasti dia jijik melihat cara makanku ini.
"Apa ini Tisa! Kenapa cara makanmu seperti itu?!"
Aku langsung mendongak ke Ayah yang sedang menatapku tajam.
"Hehehe, maaf. Aku lapar Ayah."
"Memangnya sudah berapa hari kau tidak makan?!"
"Sepertinya karena ada aku nafsu makan Tisa jadi bagus Yah!"
Apa?! Ternyata tidak mempan. Dan apa tadi?! Dia memanggil Ayahku dengan sebutan Ayah juga?!
Aku menatap wajahnya dengan tatapan amat sangat tak suka.
"Duh, lihat ini! Sampai belepotan kayak gini," Putra mengambil sisa makanan di sudut bibirku yang sengaja kutaruh di sana untuk membuatnya jijik.
"Stop!" Segera kucegah tangannya dan kuambil nasi di sudut bibirku.
Kulihat Putra menarik sudut bibirnya. Lalu sedikit mendekat ke arahku.
"Apa ini? Jadi kau sengaja menempelkan nasi itu agar aku yang mengambilnya kan?" bisiknya yang membuatku mendelik kearahnya.
"Ehem!"
Deheman Ayah membuatku tak bisa menyanggah tuduhan Putra barusan.
"Ada yang ingin Ayah sampaikan."
Ayah dan Bunda tersenyum dan mengangguk satu sama lain.
Ada apa ini? Firasatku mengatakan akan ada kabar buruk yang kudengar.
"Kita akan mengadakan pertunangan kalian secepatnya!"
"Uhuk uhuk uhuk!"
Kuhiraukan sodoran gelas darinya karena nasi itu sudah turun setelah aku memukul-mukul dadaku.
"Ada apa ini Ayah? Kenapa tiba-tiba?!"
"Lebih cepat lebih baik! Bukan begitu Bunda?" Bunda mengangguk membenarkan ucapan Ayah.
"Tapi Yah, aku masih belum terlalu mengenalnya! Beri aku waktu untuk lebih mengenalnya dulu!"
"Jangan bohong Tisa!" Ayah tersenyum simpul padaku lalu berganti tersenyum ke Putra. "Putra bilang kalian sering telfonan dan saling mengirim pesan! Bukankah itu tandanya kalian sudah dekat?"
Aku langsung menoleh menatap Putra.
"Kenapa kau membual?"
"Kapan aku membual?" sanggah Putra. "Bukankah kita memang sering telfonan dan mengirim pesan?"
"Tapi kan--"
"Sudahlah Tisa, percaya sama Ayah. Ini yang terbaik untukmu!"
Ayo Tisa! Putar otakmu!
Setelah Ayah mengatakan tanggal pertunangannya, langsung muncul sebuah ide di benakku.
"Maaf Yah, sepertinya pertunangannya harus diundur. Di hari itu aku ada meeting penting di kantor. Aku rasa aku tidak akan mendapatkan izin cuti--"
"Jangan khawatir, Ayah sudah meminta izin cutimu ke Andri!"
"Apa?!"
_________
__ADS_1
Setelah selesai makan malam dan berbincang-bincang tentang pertunangan, aku pamit pulang ke kosan.
"Aku akan mengantarmu!" tawar Putra.
"Tidak perlu, aku akan naik ojek saja!" tolakku ketus.
"Tidak usah naik ojek. Ayo aku antar saja!" Putra menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya.
Tak ada perbincangan selama perjalanan pulang. Berkali-kali aku hanya menghela nafas.
Apa yang harus kulakukan?
Tak terasa mobil yang kutumpangi sudah sampai di depan kosan.
Putra bahkan hafal jalan menuju kosanku tanpa kuberitahu.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, aku membuka pintu mobil.
"Tunggu Sa!" terasa sebuah tangan mencekal lenganku.
"Ini untukmu. Pakailah pas hari pertunangan kita!" Putra menyodorkan sebuah paper bag kepadaku.
"Ayolah, jangan cemberut seperti itu. Setelah kita bertunangan nanti, kau pasti akan jatuh cinta padaku!" ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.
Kuputar bola mataku menatapnya jengah.
"Ambillah! Kenapa kau hanya diam? Oh, jadi kau ingin aku mengantarmu sampai ke pintu kamarmu?"
Putra terlihat buru-buru mematikan mesin mobilnya.
"Tidak perlu!" buru-buru kusambar paper bag dari tangannya dan keluar dari mobilnya.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya Say. By by!"
"Say say say, emangnya syaiton?!" Putra terkekeh mendengar ucapanku.
Setelah itu mobil Putra pergi meninggalkan kosanku.
Kurebahkan tubuhku di kasur setelah masuk ke dalam kamar.
Aku terdiam beberapa saat sambil menatap langit-langit. Kemudian aku menoleh ke paper bag yang diberikan oleh Putra tadi.
Saat kubuka paper bag itu ternyata isinya adalah dress berwarna putih.
Aku hanya mendengus sembari memasukkan dress itu kembali ke dalam paper bag.
_________
Malam harinya kosan terasa sangat sepi. Sepertinya Andri juga belum pulang.
Kuseruput mie kuah yang barusan kumasak.
Tak berapa lama, terdengar suara motor matic.
Kemudian terdengar siulan seorang pria yang berjalan memasuki dapur.
Siulan itu semakin terdengar jelas saat Andri masuk ke dalam dapur sambil memainkan kunci motornya. Sudut bibirnya juga melengkung membentuk senyuman.
Apa yang membuatnya terlihat begitu senang?
"Cieee yang sebentar lagi mau tunangan!"
Kulirik wajahnya yang tak terlihat cemburu sama sekali.
"Oh iya Sa, tolong sampaikan ke Ayahmu kalau aku nggak bisa datang ke acara pertunanganmu. Soalnya pada hari itu aku juga akan tunangan!"
Deg!
Kepalaku spontan langsung menoleh menatap Andri.
__ADS_1
Jadi dia juga mau tunangan sama Indah?!
BERSAMBUNG