KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Obat


__ADS_3

Duhh!! Gimana ini?!! Aku nggak mau ke rumah sakit!!


Aku membuka mataku perlahan. Ceritanya aku sudah sadar.


"Sssh!" Kupegang kepalaku.


"Tisa! Kamu sudah sadar?!"


Dengan lemas, aku menoleh ke Andri.


"Andri? Aku kenapa?" tanyaku dengan masih memegang kepala.


"Tadi kamu pingsan. Apa kepalamu masih pusing?"


"Masih.."


"Tunggu sebentar ya. Ini kita sudah mau sampai ke rumah sakit."


"Ndri, kita nggak usah ke rumah sakit ya. Setelah minum obat aku pasti sembuh. Kita ke apotek aja untuk beli obat."


"Kamu yakin kita nggak usah ke rumah sakit?!"


"Iya. Setelah minum obat aku pasti sembuh," ucapku meyakinkan Andri.


Andri pun mengantarku ke apotek untuk beli obat.


________


Aku menatap obat di tanganku.


Karena aku tidak ingin Andri merasa curiga, aku membeli tiga macam obat yang berkaitan dengan pusing.


Aku duduk di depan apotek, menunggu Andri yang sedang membeli air minum untukku.


Padahal aku sudah bilang, minum obatnya di rumah aja. Lagian, siapa coba yang mau minum obat. Orang aku nggak sakit kok. Tapi dia malah menyuruhku untuk langsung minum obat disini.


Dengan langkah setengah berlari, Andri menghampiriku dengan sebotol air di tangannya.


Aku mengambil air minum itu saat Andri menyodorkannya padaku.


Ketika aku ingin membuka tutup botol yang masih tersegel, tiba-tiba Andri meraih botol air itu dari tanganku.


"Biar aku bukakan," ucapnya.


Dia kira aku nggak bisa buka tutup botol apa!


Andri juga meraih obat yang ada di tanganku dan membukanya untukku.


Dia menyodorkan tiga biji obat dengan bentuk yang berbeda.


Ada yang bulat kecil, bulat besar, dan yang terakhir berbentuk lonjong dan ukurannya lebih besar daripada yang lain.


Aku menelan salivaku menatap obat-obat itu.


Obatnya besar banget.


Padahal aku nggak sakit. Tapi aku harus minum obat!


Aku meraih obat dan botol air dari tangan Andri.


Haduuuh... Mana obatnya besar banget lagi!! Gimana aku minumnya? Entar obatnya malah nyangkut di tenggorokanku lagi!


Aku mendongak menatap Andri. Harap-harap, dia tidak sedang melihatku. Aku akan membuang obat ini dan pura-pura sudah meminumnya.


Tapi ternyata Andri malah menatapku lekat-lekat. Menungguku untuk minum obat ini.


Aku menghela nafas karena Andri terus menatapku.


"Kok nggak diminum? Kenapa?" tanya Andri saat aku tak kunjung meminum obatnya.


Aku kembali menghela nafas. "Obatnya terlalu besar. Aku nggak bisa minum."

__ADS_1


Andri malah terkekeh mendengar ucapanku.


"Sini obatnya." Andri meraih dua biji obat yang berukuran besar dari tanganku.


Kemudian dia mematahkan obat itu menjadi dua bagian.


Kini dua obat tadi sudah menjadi empat.


"Ini obatnya." Andri menyodorkan obat itu. "Aku sudah membelahnya. Sekarang kamu sudah bisa minum obatnya kan?!"


Aku menerima obat itu. "Makasih ya Ndri."


Andri tersenyum dan mengangguk. "Iya, sama-sama."


Pahit. Obatnya sangat pahit. Lebih pahit dari obat alergi yang pernah aku minum.


Ini obat apa racun sih?! Kenapa pahit banget?!!


Aku meringis merasakan pahit obat di ujung pangkal lidahku.


"Makan ini, supaya rasa pahitnya hilang." Andri menyodorkan permen rasa mint.


"Makasih ya Ndri," ucapku sambil meraih permen itu.


Setelah itu Andri mengantarku langsung pulang ke kosan.


"Setelah ini kamu langsung tidur ya," ucap Andri.


Aku hanya membalasnya dengan anggukan.


"Kalau besok masih pusing, kamu libur dulu nggak papa," ucap Andri lagi.


Aku kembali mengangguk.


"Yaudah, kamu masuk ke kamar gih! Aku mau kembali ke kantor."


"Makasih ya Ndri. Maaf karena sudah ngerepotin kamu."


"Iya, sama-sama. Aku nggak repot kok. Ini kewajiban bos untuk memperhatikan kesehatan karyawannya," sahut Andri.


Saat aku masuk kamar, aku mengintip Andri dari balik korden. Terlihat jari Andri memencet-mencet layar hpnya. Kemudian dia menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo Pak. Apa Bapak sekarang masih ada di kafe?"


Andri terdiam menunggu jawaban dari seberang telfon.


"Oh, Bapak udah balik ke kantornya Bapak sendiri ya."


Andri berpikir sejenak, kemudian dia melanjutkan bicara. "Untuk meeting yang sempat tertunda tadi, gimana kalau kita meeting sekarang Pak?"


Andri kembali terdiam, menunggu jawaban dari seberang telfon.


"Baik Pak. Kalau gitu saya akan ke kantor Bapak sekarang."


Setelah itu Andri menutup telfon dan meninggalkan kosan.


Aku menghela nafas lega dan menghempaskan tubuhku ke kasur.


________


Tok tok tok!


Aku terbangun mendengar suara ketukan pintu.


Sebelum beranjak bangun, aku sedikit meregangkan otot-ototku.


Aku membuka pintu kamar dan menemukan Andri berdiri di depanku.


Dilihat dari pakaiannya yang masih lengkap dengan dasinya, sepertinya dia baru pulang dari kantor.


"Sa, gimana kepala kamu? Masih pusing?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Sedikit."


"Kamu udah makan?" tanyanya lagi.


Oh iya, aku belum makan! Ini sudah sore menjelang malam. Terakhir aku makan, waktu di kantor tadi siang!


"Belum," jawabku.


"Kalau gitu kita makan bareng yuk! Aku udah beli nasi goreng buat kamu!" Andri mengacungkan kantong plastik di tangannya.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Kamu duluan aja ke dapur. Aku mau ganti baju dulu."


Andri menyerahkan kantong plastiknya kepadaku. Aku pun bergegas menuju ke dapur.


Setelah Andri datang, kami pun makan bersama.


"Makasih ya Ndri udah beliin aku nasi goreng," ucapku sambil mengunyah.


"Sama-sama. Besok kamu nggak usah masuk kerja dulu aja. Setelah kamu pulih, baru masuk kerja nggak papa."


Aku hanya mengangguk.


Kemudian aku teringat akan uang untuk bayar kos.


Meskipun aku sudah bekerja, tapi kan aku nggak langsung dibayar.


Apa aku pinjam uang ke Andri aja ya?!


Aku menatap Andri yang sibuk mengunyah.


"Aku tahu kalau aku itu ganteng. Tapi jangan gitu juga dong ngeliatinnya!!" ucap Andri tiba-tiba.


Ternyata dia tahu kalau aku sedang menatapnya.


Aku hanya memutar bola mata mendengar ucapannya.


"Kamu mau ngomong apa?! Ngomong aja! Kayaknya dari tadi, sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu," ucapnya lagi.


"Ndri, aku boleh pinjam uang kamu nggak? Aku nggak punya uang untuk bayar uang kos. Nanti kalau aku sudah gajian, aku akan menggantinya."


"Uang kos kamu sudah aku bayar."


Aku terkejut mendengar perkataan Andri.


"Apa?!! Sudah kamu bayar?! Kapan?!!"


"Tadi siang, setelah mengantarmu aku langsung ke rumah Ibu kos dan membayar uang kos kamu."


"Aduh, makasih ya Ndri. Aku janji, setelah aku gajian aku akan mengembalikan uangmu!"


"Santai aja kali Sa. Nggak papa kok!" sahut Andri.


Setelah makan bersama, kami kembali ke kamar masing-masing.


Sebelum masuk ke kamar, Andri mengingatkanku untuk minum obat.


________


Karena aku tidak masuk kerja, aku memutuskan untuk tidur siang.


Enak banget ya. Baru masuk sehari udah libur kerja.


Aku kembali dibangunkan oleh suara ketukan pintu.


Saat aku membuka pintu, lagi-lagi aku menemukan Andri berdiri di depanku.


"Apa ini?!! Kenapa kamu membuangnya?!!"


Aku terbelalak melihat obat yang sudah aku buang ke tong sampah dapur, kini berada di tangan Andri.

__ADS_1


Gawat!! Kenapa tadi malam aku membuangnya ke tempat sampah di dapur?!! Gimana ini?!! Apa sekarang Andri tahu kalau aku sudah berbohong?!!


BERSAMBUNG


__ADS_2