KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Dipecat


__ADS_3

Dan Tuhan tidak mengabulkan doaku.


Ya. Aku dipecat!


"Maaf Tisa. Kamu kan sudah tahu, kalau di sini tidak ada toleransi sedikit pun," ucap Ibu HRD di depanku.


"Karyawan yang sakit pun, kalau tidak masuk lebih dari satu hari dan tidak ada surat keterangan dari dokter, maka kami juga tidak bisa menoleransinya. Itu sudah keputusan dari atasan."


"Kalau begitu, saya akan melamar kerja di sini lagi! Saya akan memperbarui kontrak kerja saya!"


"Maaf Tisa, tapi kuota penerimaan karyawan untuk bulan ini sudah penuh. Kalau kamu ingin kerja di sini lagi, kami baru buka lowongan di akhir tahun."


Aku hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasan tersebut.


Kalau akhir tahun, berarti masih empat bulan lagi. Lalu bagaimana dengan kebutuhanku sehari-hari?! Uang tabunganku sudah habis. Aku juga harus membayar kosan.


________


Aku berjalan dengan lesu meninggalkan pabrik.


Padahal aku sangat mencintai pekerjaan ini.


Aku juga menabung untuk membangun butik impianku. Tapi uang tabunganku juga sudah habis.


Aku harus mencari pekerjaan baru. Dan mulai menabung lagi. Memulai semuanya dari awal.


Haaah! Rasanya butik impianku kembali menjauh.


Aku mengingat uang di dompetku tinggal lima ratus ribu. Aku harus menggunakan uang itu sebaik mungkin.


Aku harus hemat, sampai aku mendapat pekerjaan baru lagi.


Tiba-tiba sebuah sepeda motor dengan dua orang berhenti tepat di sampingku.


Aku terbelalak saat dia mengambil paksa tasku.


"JAMBRET!!!!!" teriakku dengan berusaha mempertahankan tasku.


"Lepasin nggak?!!" ancam jambret itu dengan mata melotot. "Pilih nyawa atau tas?!!"


Aku sayang nyawaku, tapi aku juga nggak rela tasku diambil. Mengingat uang terakhirku ada di tas ini.


"Aku pilih 'atau'!" ucapku memutuskan.


"Eh, buset! Nih orang! 'Atau' itu bukan pilihan! Pilihannya itu cuma nyawa sama tas!!" sahut jambret itu. "Ayo cepet jalan!!" teriaknya pada temannya yang menyetir sepeda.


"Eits! Mau kemana lu?!!" Aku meraih rambut jambret yang menyetir sepeda dengan tangan kiri. Sementara tangan kananku masih mempertahankan tasku.


"AAAKHH!! Adu-duh!!" teriaknya kesakitan.


Dia langsung menarik pedal gas.


Untungnya aku berhasil menarik temannya yang dibonceng.


BRUG!!


Dia terjatuh. Tapi temannya tidak tahu kalau dia terjatuh dari sepeda. Temannya pun menarik gas dengan kencang, meninggalkan dia yang terjatuh.


"Woyyy!!! Gue jatuh, tol*l!! Jangan tinggalin gue!!" teriaknya, tapi temannya sudah keburu jauh.


"Hahaha!! Syukurin lu!! Rasain!!" teriakku sambil meraih tasku yang jatuh di jalan.


Tapi dengan sigap dia meraih tasku duluan dan berlari.


Aku terbelalak. "Sial*n!!! Balikin tas gue!!!" Aku berlari mengejarnya.


"JAMBRET!!! Toloooong!!!" Aku berteriak.

__ADS_1


Karena ini masih area pabrik, jadi suasana sepi tak ada orang karena masih jam kerja.


Kemudian aku melihat sebuah mobil pick up yang mengangkut air galon sedang berhenti di pinggir jalan.


"Bang, tolong saya!! Tas saya dijambret!!" ucapku meminta tolong pada laki-laki yang ada dibalik kemudi.


"Kamu nggak lihat saya lagi sibuk?! Kejar aja sendiri sana!!" ucapnya dengan nada sinis.


Aku hanya berdecak kesal dan kembali mengejar jambret tadi.


Aku mengejarnya sampai di keramaian pasar.


Nafasku ngos-ngosan karena terus berlari.


Di sini terlalu banyak orang. Aku kehilangan jejak jambret tadi.


"Aaargh!! Sial! Sial! Sial!!!" Aku mengumpat di tengah keramaian pasar. Membuat orang yang hilir mudik jadi menatapku.


Aku kehilangan uangku. Padahal itu adalah simpananku yang terakhir.


Tanganku merogoh saku celanaku. Ada hpku di sana.


Aku bersyukur tadi tidak menaruh hpku di dalam tas. Hpku masih selamat.


Aku beralih merogoh saku celanaku yang kiri. Ada uang dua lembar, lima puluh ribu dan dua ribu.


Lima puluh dua ribu, itu adalah sisa uang yang aku punya.


Aaaa!!! Gimana sekarang?!! Huwaaa!! Rasanya aku pingin nangis!!! Berapa hari aku bisa bertahan dengan uang segini?!!


Aku jongkok di tengah-tengah kerumunan orang di pasar. Menyembunyikan wajahku di lengan.


________


Aku memutuskan untuk pulang ke kosan dengan jalan kaki


Jangankan naik angkot, aku bahkan tidak beli air minum meskipun merasa haus.


Jalan raya yang sedikit menanjak menambah rasa hausku.


"TOLONG HENTIKAN GALONNYA!!!" teriak seseorang sambil mengejar galon yang menggelinding.


Sebuah galon berisi air meluncur ke arahku.


"HENTIKAN GALONNYA!!" teriaknya lagi.


Aku mengernyit mengingat wajah orang yang berteriak itu.


Ya. Aku ingat sekarang. Dia adalah orang yang aku mintai tolong untuk membantuku menangkap jambret tadi. Tapi dia menolaknya.


Tadi dia menolak membantuku. Jangan harap aku akan membantunya sekarang!


Aku segera menyingkir ketika galon itu sampai di depanku. Membiarkan galon itu melewatiku, meluncur bebas ke bawah sana.


Untung jalanan sedang sepi sekarang. Jadinya galon itu tidak akan mengenai siapapun.


"Wooyy!! Kenapa galonnya nggak kamu hentikan?!!" teriaknya kepadaku.


Aku tersenyum sinis. Sepertinya dia sudah lupa denganku.


"Aku juga punya pertanyaan untuk Abang! Kenapa tadi Abang nggak bantuin saya buat nangkap jambret?!!" Aku balas berteriak.


Dari air mukanya, sepertinya dia sudah ingat denganku.


Terlihat ia ingin protes, tapi urung begitu mengingat galonnya sudah menggelinding jauh.


Dia kembali berlari mengejar galon itu.

__ADS_1


"Ya Allah, gini amat hidupku. Udah dipecat, dijambret, lapar, haus, habis itu apa lagi?!!"


BLEDAARRR!!!


Aku refleks menutup telinga mendengar suara petir itu.


Kemudian disusul dengan hujan deras.


"Hmmh! Komplit sudah!!"


Aku lari-lari kecil di jalan yang sedikit menanjak itu.


Melihat ada sebuah toko, aku bergegas untuk meneduh kesana.


Terlihat banyak juga orang yang sedang meneduh di sana.


Aku melangkahkan kakiku untuk meneduh di depan toko itu.


"AAAKHH!!"


BUGHH!!


Aku terpeleset karena lantainya licin akibat air hujan. Aku terjatuh di depan banyak orang.


Aaargh! Bikin malu aja! Kenapa pakek acara jatuh segala sih?!!


Sakitnya sih nggak seberapa, tapi malunya itu lho!


Orang-orang yang meneduh di sana terlihat menahan tawanya melihat aku terjatuh.


Hiks! Apes bener hari ini!


Tak ingin lebih malu lagi, aku segera bangkit dan lari dari toko itu.


Mana mungkin aku akan tetap berteduh di sana setelah aku jatuh seperti tadi?!


Aku berlari menembus hujan.


Di pinggir jalan, aku menemukan sebuah plastik. Aku memungut plastik itu dan menggunakannya untuk membungkus hpku agar tidak basah.


Ini adalah satu-satunya hartaku yang tersisa. Jadi tidak boleh sampai rusak!


________


Akhirnya aku sampai di kosan juga.


Dengan tubuh yang basah kuyup, aku mendudukkan diriku di teras kosan. Meluruskan kaki-kaki yang rasanya sudah pegal.


Kruyuuuuk!


Perutku berbunyi karena lapar.


Aku merogoh saku celanaku yang kiri. Mengeluarkan lembar uang yang telah basah karena kehujanan.


Aku lupa tadi tidak memasukkan uang itu ke dalam plastik juga.


"Sepertinya persediaan mie instan punyaku sudah habis. Uangku tinggal segini. Sebaiknya aku beli mie instan satu bungkus aja deh!"


Aku berusaha memisahkan lembar uang yang terlipat karena basah.


"Yaaah!! Sobek!"


Karena tidak hati-hati, aku malah merobek uang berwarna biru itu.


Uangku yang terakhir! Sudah sobek!!


Apa di sini ada yang punya isolasi?!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2