
Aku menggunakan meja dapur sebagai pijakan untuk memasang lampu. Tapi rupanya kaki meja itu tidak sama tinggi. Alhasil saat dinaiki menjadi goyang-goyang.
Aku memegang meja itu agar tidak goyang saat dinaiki oleh Andri.
Andri mulai naik ke atas meja. Saat dia hendak berdiri, aku terpikirkan sesuatu.
Dengan senyum jahil aku sedikit menggoyang mejanya.
"Eh, Sa Sa!! Jangan digoyangin, nanti aku jatuh!!" Andri kembali duduk jongkok karena mejanya bergoyang.
"Ahaha! Santai aja kali Ndri. Ini di bumi, kalau jatuh pasti kebawah!" Aku terkekeh melihat Andri berpegangan pada pinggiran meja.
"Aish! Yang serius dong Sa! Ini lampunya mau dipasang atau nggak?!!"
"Ahaha, iya-iya maaf."
Andri kembali hendak berdiri. Dan aku kembali menggoyang mejanya.
"Tisa!!" Andri kembali duduk jongkok.
Aku terkekeh melihat wajahnya yang panik dan kembali duduk jongkok sambil berpegangan pada pinggiran meja.
"Ya udah deh, aku nggak mau masangin lampunya!" ucapnya dengan turun dari meja.
"Eh Ndri! Jangan gitu dong. Ayo naik lagi! Aku janji nggak akan goyangin lagi deh!"
Kalau Andri nggak pasang lampunya, gimana aku tidurnya?!
"Ayo lah Ndri, masa gitu aja ngambek. Naik lagi ya, pliss!!" Aku berusaha membujuk Andri.
"Tapi janji ya, jangan digoyangin!"
"Iya, janji!" sahutku sambil mengangguk.
Andri mulai naik ke atas meja lagi. Saat dia hendak berdiri, mejanya sedikit bergoyang karena memang kaki mejanya tidak sama tingginya. Andri urung berdiri.
"Nggak bisa berdiri!" ucapnya sambil berpegangan pada pada pinggiran meja. "Pegang dong, biar bisa berdiri!"
"Iya-iya, ini aku pegangin!" Aku memegang meja itu agar tidak bergoyang. Tapi Andri malah tak kunjung berdiri.
"Kok nggak berdiri sih?!" Aku mendongak ke Andri.
"Wajahmu itu tidak meyakinkan! Gimana nanti kalau kamu goyang-goyangin?!!"
"Ck. Ya ampun Andri! Aku janji, beneran! Aku nggak akan goyangin lagi!!"
"Beneran ya, awas kalau nanti kamu goyangin!"
"Iya, beneran! Ayo cepat berdiri. Aku udah ngantuk nih!"
Akhirnya Andri mau berdiri juga. Dia mulai memasang bohlamnya.
"Ck, lubangnya mana sih?! Nggak masuk Sa, gelap!" ujar Andri.
Aku segera menyorotkan lampu senter dari hpku ke fiting agar Andri bisa memasang lampunya.
"ASTAGA! KALIAN BERDUA NGAP-"
__ADS_1
Aku langsung menoleh terkejut mendengar teriakan yang terhenti itu.
Di ambang pintu, Tante Sarah menyorotkan senternya ke kami. Di sampingnya berdiri suaminya.
"Loh, kok Andri berdiri di atas meja? Kalian ngapain?!"
Aku bingung mendengar pertanyaan Tante Sarah.
Dia sendiri yang tiba-tiba buka pintu kamarku, dia juga yang teriak. Terus kenapa sekarang malah dia yang bingung?! Harusnya kan aku yang nanya, kenapa dia buka pintu kamarku sambil teriak-teriak?!
"Bukannya kalian itu sedang.."
"Kami sedang mengganti lampu. Bohlam lampu kamarku mati!" sahutku memotong ucapannya.
Terlihat Om Hendra mengusap kasar wajahnya.
"Ya ampun Sarah!! Mereka itu sedang mengganti lampu! Bisa-bisanya kamu nuduh mereka sedang wik-wik! Bahkan kamu sampai membangunkan aku yang sedang tidur!"
Mataku membulat mendengar ucapan Om Hendra.
Apa?!! Wik-wik? Aku sama Andri?!!
"Ya, maaf Mas. Aku nggak tahu. Habisnya, waktu lewat depan kamar ini tadi aku mendengar percakapan yang menurutku aneh."
Aku menatap Tante Sarah dengan mengernyit.
Hah?! Percakapan aneh apa?!
"Tadi aku denger, Andri nggak mau naik karena Tisa udah goyangin. Aku yang mendengar itu dari luar, jadi negatif thinking dong! Aku pikir mereka sedang gituan!"
"Aku pun lanjut nguping. Dan setelah itu aku mendengar, Tisa nanya 'kok nggak berdiri sih?!' Aku yang hanya nguping dan tidak melihat apa yang terjadi di dalam, jadinya aku malah berpikir punya Andri belum berdiri!" ucap Tante Sarah, matanya mengarah ke tengah selangkang*n Andri.
"Aku pun jadi tambah negatif thinking! Lalu aku mendengar Andri mengatakan, kalau dia nggak bisa berdiri. Dan dia meminta bantuan Tisa untuk memegangnya agar bisa berdiri!"
Ya ampun!! Bisa-bisanya Tante Sarah mikir kayak gitu!
"Aku pikir Andri meminta bantuan Tisa untuk memegang miliknya agar bisa berdiri!"
Aku mengusap kasar wajahku mendengar cerita konyol dari Tante Sarah.
"Lampu kamar mati, dan di dalam kamar ada dua orang, cewek sama cowok lagi. Percakapannya juga kayak gitu. Sudah pasti dong, aku jadi negatif thinking!"
"Udah ah! Kamu ini bikin malu aja! Ayo kita balik ke kamar!!" Om Hendra menarik lengan istrinya. "Maaf ya, lagi-lagi istriku menuduh sembarangan," ucap Om Hendra sebelum berlalu meninggalkanku dan Andri.
________
Aku terus tersenyum sambil memandangi amplop cokelat berisi uang.
Sesuai yang dikatakan Andri kemarin, pagi ini dia benar-benar memberiku uang gaji plus dengan bonus seperti yang ia sudah janjikan.
Aakhh! Akhirnya gajian juga!!
"Sa," panggilan Andri membuyarkan lamunanku.
"Ya?" Aku segera memasukkan amplop coklat itu ke dalam tasku.
"Tuh amplop ngggak usah dipelototin! Nggak bakalan nambah isinya!" ucapnya dengan terkekeh.
__ADS_1
Aku menutup resleting tasku dengan kuat. Seakan-akan uang itu akan terbang jika aku tidak menutupnya rapat.
"Tolong kamu foto kopi dokumen-dokumen ini ya. Masing-masing dua lembar," ucap Andri sambil menyerahkan beberapa dokumen.
Aku segera mengambil dokumen itu dan membawanya ke dalam ruang fotokopi.
Aku menatap mesin foto dengan bingung. Sudah dari tadi aku memencet-mencet tombol di mesin foto kopi, tapi tidak ada foto kopian yang keluar.
Ini mesinnya rusak atau gimana sih?!
Aku menghela nafas panjang dan kembali memencet tombolnya. Tetapi tetap tidak keluar kertas foto kopian.
"Ya ampun!! Ternyata kertasnya nggak ada!!" Aku menepuk jidatku begitu aku membuka mesin foto kopi di bagian menaruh kertas kosong.
Aku tolah toleh, mataku menyapu setiap sudut ruangan di sini.
Dimana mereka menyimpan kertasnya ya?
Aku tersenyum ketika mataku menemukan kertas di atas lemari.
Karena lemarinya tinggi, aku harus memakai kursi untuk mengambil kertas yang ada di atas lemari.
Aku naik ke atas kursi itu. Dengan susah payah, akhirnya aku mendapatkan kertasnya.
Tapi begitu aku hendak turun, tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan.
"Aaaakhh!!"
Aku terjatuh dari kursi.
Hup!
Seseorang menangkap tubuhku sehingga aku tidak terjatuh ke lantai.
"Hati-hati dong Tis!" pesannya.
Aku yang tadi sudah menutup mata karena siap-siap jatuh ke lantai, kembali membuka mata.
"Pak Yosua!"
Ternyata dia yang menangkapku.
"Lain kali hati-hati ya! Kalau kamu nggak nyampek, jangan maksa. Minta bantuan orang lain aja," ucapnya dengan tersenyum.
Aku mengangguk. "Iya Pak!"
Satu detik, dua detik, Pak Yosua tidak kunjung menurunkanku.
Pak Yosua kok nggak nurunin aku sih?!
"Pak, turunin sa--"
"KALIAN BERDUA LAGI NGAPAIN?!!"
Aku dan Pak Yosua langsung menoleh ke ambang pintu mendengar teriakan itu. Andri berdiri di sana.
BERSAMBUNG
__ADS_1