
"Faiz?!"
Aku sangat terkejut saat laki-laki itu adalah Faiz.
"Kenapa kau ada di rumahku?!"
"Jawabannya sudah jelas kan!" sahutnya sambil tersenyum simpul.
"Jadi, kau adalah orang yang dijodohkan sama aku?!"
Lagi-lagi Faiz hanya tersenyum. Kualihkan pandanganku ke Ayah dan Ayah mengangguk sambil tersenyum padaku.
Kerongkonganku tercekat mengetahui kebenaran ini.
"Kemarilah Tisa, kenapa kau terus berdiri seperti itu? Duduklah di sini!" ujar Faiz, senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya itu.
Aku hanya bergeming karena masih mencerna semua kenyataan ini.
"Ayo Tisa, jangan berdiri terus!" Faiz berjalan kearahku dan meraih tanganku untuk mendekat kearahnya.
Aku segera melepaskan genggaman tangannya.
"Ada apa Tisa?" tanyanya kembali meraih tanganku. Tapi aku masih bergeming.
"Tisa? Tisa!"
Tiba-tiba tangannya terasa sedikit mengguncang lenganku.
"Tisa!"
"Eh?!" Aku tersentak kaget mendengar namaku yang diteriakkan.
Kutatap sekelilingku. "Dimana ini?" tanyaku yang mendapati aku berada di dalam sebuah mobil.
Terdengar kekehan dari sampingku. Ternyata Andri yang sedang tertawa.
"Kenapa kamu mendadak amnesia? Tentu saja kita masih di dalam mobil!" ucapnya setelah tak lagi tertawa.
"Waktu pulang dari wahana tadi, kamu ketiduran. Mungkin gara-gara kamu habis muntah, makanya kamu pulas banget tadi. Tapi tiba-tiba saja kamu ngigau-ngigau nama Faiz!"
Ah, rupanya tadi itu cuma mimpi!
Aku sedikit menghela nafas panjang dan mengusap wajah untuk menghilangkan kantuk.
Saat menatap keluar kaca mobil, rupanya kami sudah berada di parkiran kantor Andri.
"Kamu tadi mimpi apa sampai ngigau nama Faiz?" selidik Andri.
"Harus banget ya aku jawab?"
"Ya, nggak kamu jawab juga nggak papa sih. Siapa tahu kamu malu mengatakan kalau kamu sedang memimpikan Faiz dalam hal yang mesum!"
"Apa?!" Aku langsung menoleh ke Andri, tak terima dengan tuduhannya itu. "Aku nggak mimpi yang mesum-mesum ya!" terangku tak terima.
Aku pun menceritakan kepada Andri tentang mimpiku.
"Kenapa kamu bisa mimpi Faiz adalah jodohmu?" tanya Andri.
"Ya mana aku tahu? Emang mimpi bisa diatur? Kalau seandainya bisa, aku mau mengaturnya agar aku selalu mimpi berduaan sama Naruto!"
Ting!
__ADS_1
Hpku berbunyi. Suara notifikasi pesan masuk.
[ Jangan lupa nanti malam ya. Jangan telat! ]
Aku benar-benar kesal membaca pesan dari orang sinting itu.
Baiklah Tisa, nanti malam kita akan tahu rupa orang itu!
________
Ternyata Pipit sudah menyambut kedatanganku di depan pintu kamarku.
Aku sumringah menatapnya. Tadi siang dia menelfonku dan mengatakan punya rencana bagus terkait makan malam bersama nanti.
"Gimana Pit? Kamu ada ide apa?!" tanyaku antusias.
"Sabar dulu, lebih baik kamu mandi dulu!"
Aku pun hanya menuruti perkataan Pipit.
Setelah selesai mandi, Pipit tak juga mengatakan apa yang sedang direncanakannya.
"Pit, sebenarnya kamu punya rencana apa?"
"Ais, makan dulu lah Tis! Aku lapar nih! Kayaknya nasi goreng enak nih!"
Aish! Itu adalah kode-kode dari Pipit agar aku membelikannya nasi goreng sebagai imbalannya.
Aku pun langsung meluncur membeli nasi goreng.
"Wah, ajaib! Nasi gorengnya langsung muncul disaat aku ingin makan nasi goreng!" seru Pipit girang.
"Ajaib gundulmu! Emangnya nih nasi goreng bisa terbang sendiri tanpa ada yang membelinya?!" gerutuku kesal.
Sampai menjelang waktu makan malam bersama hampir tiba, Pipit tak kunjung mengatakan apa rencananya.
"Pit, gimana ini?! Ini aku udah mau berangkat. Sebenarnya apa rencanamu? Apa yang harus aku lakukan?!"
Pipit menatapku yang hendak bersiap-siap.
"Tidak ada yang perlu kau lakukan!"
"Hah? Apa maksudmu?!" Aku terhenyak mendengar jawaban santainya.
"Apa maksud ucapanmu barusan? Jadi aku harus pasrah aja gitu?!"
"Bukan itu maksudku Tis," jawab Pipit dengan santainya.
"Maksudku adalah, kau cukup berpenampilan apa adanya. Bahkan kau tidak perlu menyisir rambutmu. Kalau perlu kau harus berpenampilan sedikit berantakan agar dia ilfeel sama kamu! Laki-laki mana yang suka dengan cewek amburadul? Ya kan?" ucap Pipit sambil menaik-turunkan alisnya.
Ada benarnya juga ucapan Pipit. Tidak ada salahnya dicoba kan?
_________
Kini aku berdiri menatap rumah yang sudah lama aku tinggalkan.
Aku sedikit terkekeh dengan penampilanku saat ini.
Aku tidak menggunakan dress pemberian orang sinting itu.
Ya. Aku sengaja memakai hoodie hitam, celana training hitam, dan juga topi hitam untuk menutupi rambut yang aku ikat asal-asalan dengan karet bekas nasi goreng tadi.
__ADS_1
Ini semua atas saran Pipit. Semoga saja berhasil.
Aku mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu di depanku.
"Eh? Ini kan rumahku. Ngapain aku harus ngetuk pintu segala?" Aku terkekeh dengan apa yang aku lakukan barusan.
Aku membuka pintu secara perlahan. Sepi. Tak ada seorang pun di ruang tamu.
"Kenapa sepi? Kemana semua orang? Apa aku salah rumah?" ucapku sambil sedikit terkekeh.
Tapi tidak mungkin aku salah rumah. Karena ada foto keluarga yang terpajang di dinding, dimana aku juga ada di dalam foto itu.
"Tisa!"
Aku segera menoleh mendengar suara yang begitu familiar.
"Bunda!"
Bunda langsung menghambur memelukku.
"Bunda kangen banget sama kamu! Akhirnya kamu pulang Nak!"
"Iya, Bunda. Tisa juga kangen banget sama Bunda!"
Bunda melepaskan pelukannya, dan menatapku.
"Karena kita akan makan malam bersama dengan calonmu, Bunda akan mendandanimu sendikit, yuk!" ajak Bunda menari tanganku.
"Nggak usah Bunda, Tisa lebih nyaman begini kok!" tolakku halus.
Mana mungkin aku akan berdandan. Aku kan emang sengaja berpenampilan seperti ini.
"Ngomong-ngomong, Ayah dimana Bund?"
"Tisa! Kamu sudah datang?"
Aku menoleh ke sumber suara yang berasal dari tangga. Terlihat Ayah turun dari sana.
Wajahnya tersenyum melihat kedatanganku. Rasanya penghalang di antara kami benar-benar sudah menghilang. Ayah tersenyum ramah padaku.
Tapi senyumnya tiba-tiba menghilang saat ia tepat berada di depanku.
"Kenapa bajumu seperti ini? Bukankah Ayah sudah mengatakan jika kita akan makan malam bersama dengan jodohmu?" tanya Ayah.
Ekspresi wajahnya tak dapat menyembunyikan gurat ketidaksukaan melihat penampilanku.
"Apa yang salah dengan bajuku Ayah?" tanyaku pura-pura tak tahu. "Bukankah baju ini terlihat sopan?"
"Tentu saja salah! Mana ada perempuan yang memakai pakaian seperti ini saat akan makan malam bersama dengan calon suaminya?!"
Mulai lagi! Ternyata Ayah tidak berubah!
"Cepat ganti paka--"
"Ayah, sudahlah. Tidak apa-apa jika Tisa lebih nyaman seperti ini," potong Bunda lembut. Bunda memberi kode Ayah agar Ayah kembali bersikap tenang.
Aku tersenyum melihat Bunda membelaku.
"Tidak papa Ayah, aku juga suka yang apa adanya kok!" ucap seorang laki-laki yang tak asing bagiku.
Suara ini!
__ADS_1
Aku langsung menoleh ke sumber suara. Menatap laki-laki yang berdiri tak jauh dariku.
BERSAMBUNG