
Setelah puas menggendong Adek Pipit, kami akhirnya pulang dan baru sampai jam 7 malam di kosan.
Ctak!
Aku menyalakan lampu kamarku tapi lampunya tidak menyala. Aku mengernyit dan kembali menekan saklar lampu.
Ctak! Ctak!
Berkali-kali aku menekan saklar lampu, tapi tetap tidak menyala.
Masa mati lampu sih?! Tapi perasaan lampu di teras nyala deh!
Aku keluar kamar, mengecek lampu-lampu di kamar lain. Semuanya pada nyala. Kemudian aku mengetuk pintu kamar Andri.
Pintu kamar Andri terbuka. Muncul badan hanya dengan menggunakan celana kolor dan telanjang dada.
Aku langsung memalingkan wajah melihat perut kotak-kotak Andri.
"Pakek baju dong woi!!" pekikku.
Buset si Andri, nggak pakek baju malah buka pintu. Berapa kotak tadi perutnya ya?! Aish! Sadar Tisa! Ini bukan saatnya main hitung-hitungan!!
"Sorry! Ini aku udah pakek baju!"
Aku menoleh mendengar suara Andri. Dia sudah memakai baju warna hitam dengan inisial huruf A.
Lampu kamar Andri terang benderang.
"Ada apa?" tanya Andri.
"Lampu kamarku mati. Kok punya kamu nyala ya?" tanyaku. "Sepertinya bohlamnya yang mati!"
Aku merogoh hp di saku celana. Setelah mengetikkan nomor Ibu kos, aku menempelkan benda pipih itu ke telinga. Lima detik kemudian, telfonku langsung diangkat.
"Halo Bu!"
[ Iya, halo. Ada apa Tis? ]
"Lampu kamar saya sudah menemui ajalnya Bu! Alias koid!" sahutku.
[ Hah? Maksudnya?! ]
"Maksudnya, bohlam lampu kamar saya mati Bu!"
[ Aduh, maaf Tisa. Ibu sekarang lagi di luar kota. Ada acara sunatan anak keponakan Ibu. Jadi nggak bisa benerin sekarang! Ibu baru bisa pulang besok sore ]
Waduh! Terus gimana nasibku malam ini?
[ Atau nggak, kamu beli sendiri aja bohlam lampunya. Nanti uangnya Ibu ganti. Terus minta penghuni cowok untuk pasangin. ]
Setelah mengatakan itu Ibu kos mematikan sambungan telfon. Aku menghela nafas panjang.
"Ibu kos lagi di luar kota, besok sore pulangnya," ucapku ke Andri.
"Ya udah, kamu tunggu aja Ibu kos pulang!" sahut Andri.
"Nggak bisa! Aku nggak bisa tidur kalau lampunya mati!"
__ADS_1
"Kamu ini, lampu mati aja nggak bisa tidur. Nggak bisa gelap-gelapan dong pas di malam pertama kamu nanti!"
Aku mendelik ke Andri mendengar ucapannya.
"Dasar mesum! Kenapa malah bahas malam pertama?!" Aku melayangkan pukulan ke lengan Andri. "Lagian kamu sendiri kan juga nggak bisa tidur kalau lampunya mati!"
Andri malah terkekeh meskipun mendapat pukulan dariku.
"Mumpung masih jam tujuh, mending kita cari toko yang jual bohlam lampu! Kalau kemalaman, entar tokonya malah tutup!" usul Andri.
"Iya juga sih. Tapi ngomong-ngomong, toko yang jual bohlam lampu dimana ya?"
"Kenapa malah nanya ke aku. Aku kan baru di sini! Harusnya kamu yang lebih tahu. Kan kamu udah lama di sini."
"Ck. Meskipun aku udah lama di sini, tapi aku nggak tahu!"
"Ya udah, kita cari bareng-bareng aja toko yang jual bohlam lampu!"
Kami pun akhirnya pergi mencari toko yang jual bohlam lampu.
________
Setelah lama berkeliling, kami akhirnya menemukan tulisan 'Toko Elektronik' yang terpampang besar di depan sebuah toko.
Aku membunyikan lonceng yang tersedia di sana, yang menurutku berfungsi untuk memanggil penjaga toko.
Dan benar saja. Setelah tiga kali aku membunyikan lonceng, pria paruh baya dengan kacamata muncul. Dari matanya yang sipit dan kulitnya yang putih, sudah jelas kalau dia orang Cina.
Ngomong-ngomong, kenapa orang Cina selalu punya toko ya?!
"Cari lampu Koh!" jawabku.
"Wah, kebetulan sekali. Sekarang lampu lagi promo!" ucapnya dengan tersenyum sambil membetulkan posisi kacamatanya.
Wah, rejeki anak soleh nih!
"Saya ada lampu bagus! Lampunya juga bisa buat diskotik. Tinggal dikontrol pakek remote aja!" Engkoh Cina itu menunjukkan sebuah remote kecil.
Dia menunjukkan dua tombol di remote itu, warna merah dan hijau.
"Pencet hijau untuk normal, dan pencet merah untuk lampu diskotik," ucapnya menjelaskan. Aku hanya manggut-manggut saja.
"Harganya, satu juta!"
Mataku membulat mendengar harga lampu itu.
Buset! Lampu doang mahal banget! Duit sebanyak itu mending dibuat bayar utang ke Andri, sisanya bisa buat beli cilok sama makanan yang lain!
"Maaf Koh, lampu yang biasa aja ada nggak?"
Engkoh Cina menurunkan kacamatanya untuk melihat wajahku.
"Jadi kamu nggak mau lampu bagus ini?!" tanyanya.
"Lampunya kebagusan Koh! Orang cuma buat kamar doang kok!" sahutku.
"Oohh, jadi buat kamar tidur?"
__ADS_1
Aku mengangguk.
Sebenernya kamarku multi fungsi sih! Bisa buat kamar tidur, ruang makan, ruang tamu. Cuma buang air aja yang nggak di kamar. Hahaha!
"Ini, saya juga ada lampu bagus yang lain. Cocok buat kamar tidur!" dia mengeluarkan lampu dengan ukuran lebih kecil dari yang tadi.
"Istimewanya lampu ini, warnanya temaram. Menambah kesan romantis!" ucap Engkoh Cina itu dengan memperagakan tangannya seolah sedang membaca puisi.
"Saat pasangan kita ada di bawah lampu ini.."
Lah lah! Kok pembahasannya malah nyampek ke pasangan segala?!
"Warna temaramnya membuat pasangan kita jadi terlihat makin cantik atau genteng. Membuat kita jadi lebih bergairah untuk melakukan 'itu'!"
"Hah? Melakukan apa Koh?" tanyaku bingung.
"Aish! Masa begituan masih harus diperjelas sih?!" ucap Engkoh sambil tersenyum malu. "Memangnya apa lagi yang akan dilakukan sepasang suami istri di dalam kamar dengan lampu yang temaram, kalau bukan gini-gini?!"
Engkoh itu memperagakan orang yang berhubungan badan dengan kedua tangannya.
Mataku membulat setelah aku mengerti ucapannya.
Astaga?! Apa yang dia pikirkan?!! Dia pasti mengira aku dan Andri adalah pasangan!
Aku menoleh ke Andri. Ekspresi wajah Andri membuatku tepuk jidat.
Ya ampun!! Kenapa wajah Andri begitu serius menyimak penjelasan yang nyeleneh ini?! Lagian, mana ada lampu yang bikin kayak gitu?! Jelas sekali Engkoh ini cuma melebih-lebihkan! Dan satu lagi, aku dan Andri bukan pasangan!
"Maaf Koh, tap--"
"Saya beli Koh" Andri memotong ucapanku dan langsung meraih lampu itu.
Ia mengamati lampu itu lekat-lekat. "Ini beneran bisa buat suasana makin romantis Koh?" tanya Andri yang membuatku melongo.
Jadi dia percaya omongan Engkoh Cina ini?! Gampang banget dia dibohongin. Udah jelas-jelas lampu yang seperti itu nggak ada!
"Beneran! Kalau nggak percaya, nanti malam kalian coba aja!" ucap Engkoh Cina dengan nada yang sangat meyakinkan.
Ayolah Ndri, kamu itu direktur! Masa kamu percaya omongan yang nggak masuk akal gini?!
"Oke Koh, saya jadi beli!"
Mataku mendelik mendengar keputusan Andri.
Dia polos atau gimana sih?!
"Saya beli dua lampu Koh. Yang satunya lampu biasa, yang standar," ucap Andri lagi, yang pastinya lampu yang biasa itu adalah untukku.
"Ndri, untuk apa kamu beli lampu itu?!" bisikku.
"Ya buat kamar kamu lah!"
"Bukan lampu yang itu, tapi lampu yang satunya!"
"Oh, lampu itu akan kupasang di kamarku ketika aku sudah punya istri nanti!" jawab Andri dengan wajah penuh senyuman.
BERSAMBUNG
__ADS_1