
"Nggak nyangka ya, ternyata hari tunangan kita barengan!" ucap Andri dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Sepertinya dia terlihat sangat bahagia.
"Ndri, apa kamu bahagia?" ucapku dalam hati yang ternyata malah keceplosan kutanyakan secara langsung.
"Ya, aku bahagia. Meskipun aku awalnya menolak dijodohkan, pada akhirnya aku sangat bersyukur dengan perjodohan ini," jawabnya mantap.
"Aku harap kamu juga sepertiku. Mulailah bersyukur dan menerima keadaan, dengan begitu kamu akan merasakan kebahagiaan," imbuhnya lagi.
Setelah mengatakan itu Andri berjalan keluar dari dapur.
Mudah bagimu untuk mengatakan itu Ndri, karena kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi sulit bagiku, karena aku masih mencintaimu.
Aku pun kembali ke kamar, berusaha memejamkan mata meskipun tidak mengantuk.
Tring!
Sebuah pesan masuk ke hpku.
[ Apa kau sudah tidur? ]
Aku hanya membaca pesan dari Putra tanpa ada niatan untuk membalasnya. Tak lama kemudian pesan darinya kembali masuk.
[ Karena tanda centangnya berubah menjadi biru, itu artinya kau membaca pesan ini. Yang berarti kau belum tidur. ]
[ ada apa? ] kukirim balasan itu pada akhirnya.
Selang dua detik kemudian, balasan dari Putra kembali masuk.
Cepet banget balesnya!
[ Apa kau sudah mencoba dressnya? Ukurannya pas kan? ]
[ Belum. Aku capek, jadi tak sempat mencobanya. ] Kukirimkan balasan itu kepadanya.
[ Tidak usah dicoba pun aku yakin dressnya pas. Jangan begadang dan cepatlah tidur agar kau terlihat fresh di acara pertunangan kita besok! ]
Aku hanya menghela nafas membaca pesan darinya.
Ya. Besok adalah hari pertunanganku. Saat berbincang-bincang dengan Ayah tadi, Ayah malah mempercepat pertunangannya lagi.
Tring!
Pesan dari Putra kembali masuk.
[ Selamat tidur dan mimpiin aku ya! ]
Segera kukirimkan emoticon muntah sebagai balasannya. Aku pun mematikan data seluler agar pesan darinya tak kembali masuk ke hpku.
_________
Tok tok tok!
Aku terbangun saat mendengar suara ketukan di pintu kamarku.
Kuraih hpku untuk melihat jam.
"Baru jam 6 pagi, siapa sih?!"
Tok tok tok tok!
Kini ketukan itu sudah berubah menjadi gedoran.
"Tisa! Buka pintunya!" rupanya itu Pipit.
"Iya, sabar dikit kenapa sih! Kalau pintunya rusak kamu mau ganti?!"
Begitu pintu terbuka, kutemukan wajah Pipit yang ditekuk.
__ADS_1
"Ada apa sih Pit pagi-pagi kesini?" protesku sambil menguap.
"Ada apa, ada apa. Ck, kamu itu sebenarnya nganggap aku apa sih Tis?!"
Alisku menyatu mendengar pertanyaannya. "Kamu kenapa sih Pit, pagi-pagi kok udah ngegas aja?"
"Kamu yang kenapa! Kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau hari ini kamu mau tunangan hah?"
Rasa kantukku seketika hilang mendengar perkataan Pipit.
Kok Pipit bisa tahu?
"Kenapa diem? Kaget karena aku tahu? Aku sahabat kamu atau bukan sih Tis?!"
"Maaf Pit, tapi semuanya terjadi secara mendadak. Jadi aku nggak sempat ngasih tahu kamu."
"Haah, kali ini aku maafin karena ini adalah kabar baik. Untung aja Ayah kamu ngabarin aku. Kalau nggak, aku pasti nggak akan tahu kalau kamu mau tunangan! Yaudah, ayok!"
Aku mengernyit bingung. "Ayok kemana?"
"Ya ampun Tisa, ke rumah kamu lah! Ayahmu yang nyuruh aku untuk jemput kamu!"
"Tapi Pit, ini masih pagi. Acaranya kan mulai jam 10!"
"Tisa sayang, kamu kan masih harus makeup! Jadi cepetan mandi sekarang!"
"Hah? Makeup? Ini kan cuma tunangan, ngapain harus pakek makeup segala?"
"Heeegh! Anak yang satu ini! Udah nggak usah banyak tanya. Cepetan mandi sana!"
__________
Setelah sampai di rumah, aku langsung dituntun ke kamarku yang dulu.
Di sana sudah ada MUA dan beberapa asistennya.
"Nona, sebelum makeup silahkan ganti baju dulu," ucap MUA yang kuketahui bernama Neni saat berkenalan tadi.
Dress yang dibelikan Putra benar-benar pas. Dress panjang warna putih dengan lengan sepanjang siku.
"Tis, dressnya cantik banget! Aku baru tahu kalau kamu pintar pilih baju ternyata!" puji Pipit saat aku keluar dari kamar mandi.
"Bukan aku yang beli, tapi Putra!"
"Siapa Putra?" tanya Pipit dengan alis menyatu.
"Nama orang yang dijodohkan denganku!"
Pipit manggut-manggut.
"Kamu nggak akan nyesel kalau nikah sama dia Tis! Dia benar-benar laki-laki idaman! Ayah kamu memang top banget milih jodoh buat kamu!" ucap Pipit.
"Kalau gitu kenapa nggak kamu aja yang nikah sama dia dan gantiin aku?!" jawabku jengkel.
"Eh, tentu nggak bisa dong! Kan perempuan yang dicintainya itu kamu bukan aku!"
"Hah? Emang tau darimana kamu kalau dia cinta sama aku? Ketemu orangnya aja kamu nggak pernah!"
Pipit hanya nyengir sambil mengangkat kedua bahunya.
__________
"Sudah selesai Nona!"
Setelah mendengar suara Mbak Neni barusan, aku dengan perlahan membuka mataku.
Kutatap diriku di pantulan cermin. Apa itu aku?
Tidak terlalu menor, malah lebih ke natural dan tampak elegan. Rambutku juga ditata dan menyisakan sedikit poni di depan.
__ADS_1
"Tisa, kamu cantik banget!" seru Pipit heboh.
"Jadi kalau hari-hari biasa aku jelek nih?"
"Ehehe, ya nggak juga Tis! Maksudku, kan kamu nggak pernah makeup nih, jadi sekalinya makeup jadi beda banget!! Sayang banget kamu nggak mau pakek softlens!"
"Nggak, aku nggak mau pakek yang begituan!"
Tadi Pipit sempat memaksaku untuk memakai softlens. Tapi susah banget pakainya. Udah buka mata lebar-lebar, eh kata Pipit aku malah merem.
Acara pertunangan pun dimulai. Tak terasa acaranya mengalir begitu saja. Hingga, tibalah memakaikan cincin ke jari.
Aku hanya bisa pasrah. Berbeda dengan Putra yang dari tadi selalu tersenyum menatapku.
Sepertinya dia sangat bahagia karena setelah ini perusahaannya dengan perusahaan Ayah akan bersatu dan menjadi perusahaan yang lebih besar.
Mataku mengedar dan menangkap sosok Bunda. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar aku tersenyum. Kupaksakan senyuman di wajahku.
"Jangan khawatir Sa!" tiba-tiba Putra berbisik padaku. "Setelah cincin ini tersemat di jarimu, aku yakin kamu akan mencintaiku!"
"Kenapa kamu begitu yakin?" cibirku sambil meliriknya.
"Tentu saja!" Putra tersenyum simpul.
"Sepertinya itu tidak akan terjadi!" jawabku tak mau kalah.
"Kita lihat saja nanti!" ucap Putra dengan melebarkan senyumannya.
Kini, putra mulai memakaikan cincin ke jari manisku.
Aku terbelalak saat melihat cincin itu. Cincinya sama dengan cincin yang aku pilihkan untuk Andri dan Indah. Terlebih lagi saat cincin itu sangat pas di jari manisku.
Terlihat Putra tersenyum bangga setelah cincin itu sudah tersemat di jariku dan sangat pas.
Kini, giliranku yang memakaikan cincin di jari Putra.
Semua orang bertepuk tangan setelah aku memakaikan cincin di jari Putra.
"Tisa, apa kau sudah merasa jatuh cinta padaku?" tanya Putra dengan menyeringai.
"Maaf karena mengecewakanmu, sepertinya sihirmu tidak mempan padaku!"
"Belum, sihirnya belum bekerja. Tapi sebentar lagi pasti akan bekerja!"
Aku mengernyit bingung saat Putra meraba-raba keningnya seperti mencari sesuatu.
Putra sedikit menundukkan wajahnya. Tiba-tiba saja, secara perlahan rambut panjangnya dapat ditarik.
Apa? Rambut pasangan?! Apa dia botak?!
Ternyata tidak. Dibalik rambut panjangnya ada rambut asli yang lebih pendek.
Aku benar-benar terkejut melihat ini semua. Kenapa dia memakai rambut pasangan segala?
Tak berhenti di sana, dia mulai melakukan sesuatu pada pipinya.
Putra meraba-raba pipinya. Secara perlahan, ditariknya lapisan seperti kulit yang membuat brewok tipisnya juga ikut terlepas.
Astaga! Jadi brewoknya juga palsu?! Eh?
Saat brewoknya terlepas semua termasuk dengan tahi lalatnya, wajahnya terlihat begitu familiar.
Putra sedikit memalingkan wajahnya ke samping dan mulai melakukan sesuatu pada giginya.
Astaga! Ternyata dia juga memakai gigi palsu!
Kini terlihatlah gigi aslinya yang gingsul satu. Yang membuatku jadi mengenali wajah itu.
"Andri?!"
__ADS_1
BERSAMBUNG