KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Gaun Pengantin


__ADS_3

Dengan sekuat tenaga aku berusaha menarik cincin ini dari jariku tapi tetap tak bisa lepas.


"Ndri, gimana dong?" aduku panik.


"Coba sini!" kuulurkan tanganku ke Andri. Andri pun mulai berusaha melepas cincinnya.


"Adu-duh! Sakit Ndri! Pelan-pelan dong!" Aku meringis kala Andri terlalu menarik paksa cincinnya dengan kasar.


"Andai saja aku mendengar percakapan ini saat kalian ada di dalam kamar atau ruangan, aku pasti akan mengira kalau kalian sedang main kuda-kudaan," pegawai laki-laki itu malah terkekeh.


"Itu otak kayaknya harus difilter deh, supaya nggak omes!" kesalku. "Orang kesusahan bukannya ditolongin!"


"Kayaknya ini pertanda deh Sa!" bisik Andri serius.


"Hah? Pertanda apaan Ndri?!" ucapan Andri sedikit membuatku tambah panik.


"Pertanda kalau kamu akan jadi istri keduaku!"


"Ish Andri! Yang serius dong!" dengan keras kupukul lengan Andri. "Lagi genting gini malah bercanda!"


"Aku nggak lagi bercanda Sa, aku serius. Siapa tahu kalau kamu jadi istri keduaku Papa setuju."


"Ndri, sekali lagi kamu ngomong ide gila itu aku tinju ya!"


Bukannya takut Andri malah terkekeh. "Tangan kecil gitu mana sakit kalau ninju?'


"Oh, ngeremehin ya!" niatnya aku ingin meninju Andri. Tapi setelah dipikir-pikir, jika aku meladeninya nggak bakalan selesai-selesai.


"Udah ya Ndri, aku lagi nggak mau bercanda nih! Cepet pikirin solusinya, sebelum Indah datang kesini!"


Triririring!


Bunyi hp Andri mengejutkan kami.


"Indah Sa!" ujar Andri memberitahuku setelah ia membaca nama orang yang menelfon.


Segera kepala ini tolah toleh mencari keberadaannya.


Bukannya dia ada di sini?! Terus ngapain dia pakek nelfon Andri segala?


"Halo Ndah?" ucap Andri setelah mengangkat telfon.


Andri mengerutkan dahinya setelah mendengar sesuatu dari seberang sana.


"Jadi ini kamu sekarang ada dimana? Terus ini baju pengantinnya gimana? Kita pending dulu kah?" tanya Andri yang membuat alisku menyatu.


"Kenapa?" tanyaku pada Andri tanpa mengeluarkan suara, tapi Andri malah menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

__ADS_1


"Iya iya, sebentar," Andri menyodorkan hpnya kepadaku.


Aku mengernyit menatapnya bingung.


"Indah mau ngomong sama kamu!"


Aku pun segera menerima hp yang disodorkan oleh Andri.


"Halo Ndah, kenapa?"


Dahiku berkerut saat mendengar isak tangis di seberang sana.


[ Sa, barusan pembantuku nelfon. Katanya mulut kucingku keluar busa. Jadi sekarang aku di perjalanan pulang ke rumah. Maaf ya, aku tadi nggak sempet pamit ] jelas Indah terbata-bata karena sesekali dia menarik ingus.


Terus hubungannya mulut kucing berbusa sama aku apa?


[ Aku mau minta tolong sama kamu. Tolong kamu pilihkan gaunnya buat aku ya? ]


Astaghfirullah.. Cobaan apa lagi ini?! Aku yang milih gaun tapi bukan aku yang nikah.


"Tapi kan aku nggak tau ukuran tubuh kamu Ndah," sahutku mencoba beralasan.


[ Kalau soal itu kamu tenang aja. Kamu tinggal coba gaunnya. Ukuran tubuh kita itu sama. Kalau di badan kamu pas, berarti di aku juga pas. ] jelasnya lagi yang membuatku sulit untuk mencari alasan apa lagi.


Kok gini banget sih hidupku. Yang mau nikah siapa, yang nyoba bajunya siapa.


[ Aku minta tolong sama kamu. Mau ya Sa, plissss.. ]


"Kamu tanyain aja sendiri!"


Aku pun mengetuk-ngetukan jari di etalase kaca sembari menunggu Andri mengobrol dengan Indah.


Tak lama setelah itu terlihat Andri memasukkan benda pipih itu ke dalam saku.


"Gimana Sa? Kamu mau kan bantu kita?"


Kutatap Andri dengan dahi berkerut. Tak habis pikir aku dengan jalan pikiran Andri. Tak bisakah dia mengerti perasaanku?


"Nggak."


Andri sedikit terkejut dengan jawabanku.


"Aku nggak mau bantu kalian. Yang mau nikah itu kalian, kenapa harus aku yang repot? Tak bisakah kalian cari bajunya besok aja pas Indah udah nggak sibuk?!"


Terlihat Andri sedikit bingung menjawab pertanyaanku.


"Hari ini tuh ada promosi potongan harga! Makanya Ayah nyuruh aku milih baju pengantinnya di sini. Dan ini hari terakhir promosi. Kalau nggak percaya, lihat tuh di belakang kamu!"

__ADS_1


Aku segera menoleh ke arah yang ditunjuk Andri. Di tembok di belakangku tertempel selebaran yang sedang mempromosikan gaun pengantin dengan harga yang Andri maksud tadi.


Eh, tapi kan tetap saja itu bukan urusanku. Lagi pula, harga sepasang gaun pengantin tidak akan menghabiskan uang seorang direktur bukan?


"Maaf Ndri, itu bukan urusanku," aku pun berbalik hendak meninggalkan Andri.


"Aku bakal kasih kamu bonus bulanan dua kali lipat!" ujar Andri yang membuatku urung melangkah.


Kuputar badanku dan menatap Andri yang sedang tersenyum kepadaku.


"Maaf Ndri. Tapi ini bukan soal uang!" Ini soal perasaan!


Aku kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Andri.


Uang bukanlah segalanya!


"Aku naikin jadi tiga kali lipat!"


Langkahku langsung terhenti. Sejenak aku menghitung dalam hati uang yang akan aku dapat.


Tapi segalanya butuh uang! Mari kita kesampingkan perasaan dulu!


Segera kuputar langkahku mendekat ke Andri.


"Okeh deh. Aku mau bantu karena hatiku baik, tak sejahat hatimu!"


"Cih! Baik hati apanya?!" sungut Andri sambil mencebik.


"Ayo! Mau kubantu atau kubanting?!" tanyaku kepada Andri yang tak kunjung berjalan.


"Eh Mbak, Bang! Cincinya itu gimana?! Kan belum dibayar!"


Seketika langkahku dan Andri terhenti mendengar teriakan pegawai laki-laki yang sempat terlupakan tadi.


Pandangan kami langsung terarah pada cincin yang masih setia melingkar di jari manisku. Dan sedetik kemudian mulut kami sama-sama menyemburkan tawa.


"Gimana nih Mas?" tanyaku kepadanya. "Gimana kalau aku ke kamar mandi dulu, siapa tahu kalau dikasih sabun cincinnya bakal lepas."


"Ya nggak bisa gitu dong Mbak. Ini tuh cincin mahal. Masa habis dicuci dibalikin lagi!"


"Ya kan ini salahnya Mas sendiri. Tiba-tiba Mas langsung pakein cincinnya tanpa aku minta!" ucapku tak terima.


"Tapi Mbak--"


"Udah lah Sa. Nggak usah diperpanjang," ujar Andri menengahi. "Berapa harganya Mas?"


Setelah drama cincin selesai, ya meskipun belum sepenuhnya selesai karena cincin tadi masih melekat di jariku.

__ADS_1


Rencananya nanti setelah sampai di kos akan kukasih sabun dan akan kukembalikan ke Andri setelah cincinnya lepas.


Kami pun berjalan ke bagian gaun pengantin.


__ADS_2