
Untungnya sekarang sudah masuk jam makan siang. Jadinya aku nggak perlu masuk ke ruangan.
Setelah makan siang, aku memutuskan untuk tidak langsung kembali ke ruanganku.
Aku pergi ke tempat yang biasanya digunakan para karyawan untuk merokok.
Aku duduk di kursi panjang itu sendirian.
"Kira-kira istrinya Andri udah pulang belum ya?"
Andri jahat banget sih! Udah punya istri, lagi hamil juga, masih aja deketin cewek lain! Dasar nggak punya hati!
"Haaah!!" Aku menghela nafas panjang.
Kenapa rasanya jadi nyesek gini ya? Apa jangan-jangan.. Aku udah mulai suka sama Andri?! Nggak-nggak! Nggak mungkin!
Segera aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kuusap wajahku dengan frustasi. Lalu kusembunyikan wajahku di kedua telapak tanganku.
Nggak mungkin!! Sejak kapan aku mulai suka sama Andri?!! Aku nggak boleh suka sama laki-laki yang sudah punya istri!!
"Tisa? Kamu kenapa?" tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.
Aku langsung mendongak menatap orang itu. Pak Yosua berdiri di sampingku dengan tatapan ibanya.
Kenapa Pak Yosua menatapku seperti itu?!
"Aku boleh duduk di sini?" tanyanya sambil menunjuk kursi panjang yang sedang aku duduki.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung duduk di sampingku dengan agak berjarak.
"Kamu kenapa? Kok sedih gitu? Apa ini karena Pak Andri?" tanyanya.
Aku menoleh ke arahnya. Kenapa Pak Yosua bisa tahu?!
"Kenapa? Apa Pak Andri nggak mau tanggung jawab sama kamu?" tanyanya lagi.
Aku mengernyit menatapnya bingung karena tak mengerti dengan pertanyaannya yang ambigu.
Pak Yosua ngomong apa sih?!
"Untuk kondisi kamu yang seperti ini, kamu nggak boleh banyak pikiran. Apalagi sampai stres."
Kata-kata Pak Yosua semakin membuatku bingung.
"Kamu harus tetap semangat. Aku dukung kamu kok Tis!"
Hah? Semangat apanya? Dan juga, apa maksudnya dukung? Pak Yosua dukung aku untuk jadi pelakor kah?! Yang bener aja nih?!
Terdengar Pak Yosua menarik nafas dalam-dalam. Lalu dia melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kalau memang Pak Andri nggak mau tanggung jawab.." Aku kembali menoleh ke Pak Yosua.
Tanggung jawab apa sih?! Aku nggak ngerti Pak Yosua ngomong apa!
Dia menatap lurus ke depannya. Lalu menoleh menatapku lekat.
"Kalau memang dia nggak mau tanggung jawab.." dia mengulang kembali ucapannya yang tadi. "Aku mau kok gantiin dia untuk tanggung jawab sama kamu! Kamu udah berapa bulan Tis?"
Apanya yang berapa bulan?!
Aku mengernyit, menatap Pak Yosua dengan bingung.
"Aku ikhlas kok, nerima kamu apa adanya. Meskipun kamu sudah hamil dengan Pak Andri."
Mataku langsung terbelalak mendengar ucapannya yang terakhir.
"Apa?! Hamil?! Kata siapa aku hamil Pak?!" Dan juga, apa tadi katanya?! Aku hamil sama Andri?!!
Begitu aku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, aku langsung menepuk dahiku.
Oh iya! Aku kan memang belum jelasin ke dia! Jadinya Pak Yosua salah paham kan! Mana dia ngira aku hamil sama Andri lagi!
"Pak, Bapak salah paham! Aku nggak hamil! Dan juga, aku dan Pak Andri itu nggak ada hubungan apa-apa!"
Terlihat wajah Pak Yosua terkejut mendengar penjelasanku.
"Hah?! Terus yang waktu Pak Andri bilang mau tanggung jawab itu, maksudnya tanggung jawab apa?"
Aku pun mulai menjelaskan ke Pak Yosua dan meluruskan kesalahpahaman ini.
"Aduh, maaf ya Tis. Aku kira.." Pak Yosua menggaruk tengkuknya. "Untuk kata-kataku yang tadi itu, lupain aja," ucapnya dengan nyengir kuda malu.
________
Ketika jam makan siang sudah habis, mau tidak mau aku harus kembali ke ruangan.
Dari kejauhan, terlihat pintu ruangan terbuka dari dalam. Aku segera bersembunyi di balik tembok begitu melihat Andri dan perempuan tadi keluar bersamaan dari ruangan itu.
"Wi, aku anterin kamu pulang ya," ucap Andri pada Tiwi.
Aku mengintip mereka dari balik tembok.
"Nggak usah, kamu kan lagi kerja," tolak Tiwi.
"Ck, udah nggak papa. Lagian masa Bumil pulang sendirian."
Andri membatu Tiwi berjalan. Ekor mataku terus mengikuti langkah mereka.
Udah Tisa! Ngapain kamu masih liatin Andri! Kamu harus buang jauh-jauh perasaan kamu! Andri tuh udah berkeluarga!
__ADS_1
Langkah kakiku terus saja mengikuti mereka, hingga Andri berhenti di resepsionis.
Terlihat dia seperti membicarakan sesuatu pada resepsionis itu. Kemudian dia berjalan keluar dari kantor.
Andri juga membukakan pintu untuk Tiwi. Terlihat Tiwi juga tersenyum mendapati sikap perhatian dari Andri.
Setelah kepergian mereka, aku kembali masuk ke ruang kerja. Kujatuhkan bobot tubuhku ke kursi yang memiliki roda itu.
"Haaaahh.." Aku mengusap wajahku sambil menghela nafas panjang.
Kupandangi meja Andri yang sedang kosong itu. Aku merutuki diriku sendiri karena punya perasaan pada orang yang duduk di meja itu.
Bisa-bisanya aku punya perasaan pada orang itu!! Ayolah Tisa, dia udah punya istri! Jangan sampai kamu jadi pelakor!
"Mungkin dengan segelas teh bisa menjernihkan pikiranku." Aku beranjak meninggalkan ruang kerja dan menuju ke pantry.
"Eh, Mbak Tisa!" sapa Mbak Sinta resepsionis yang berbicara dengan Andri tadi. Aku tersenyum membalas sapaannya. "Tadi Pak Andri pesan sama saya untuk bilang ke Mbak Tisa, kalau Pak Andri sedang keluar mengantarkan--"
"Iya, saya tahu," potongku sebelum Mbak Ruri melanjutkan perkataannya. "Tadi Pak Andri juga udah bilang saya," ucapku berbohong. Kan nggak mungkin aku bilang sama dia kalau aku tadi mengikuti mereka.
"Oh, kirain Mbak Tisa nggak tahu. Kalau gitu aku duluan ya," pamitnya sambil membawa cangkirnya yang berisi teh.
Ngapain juga sih Andri pamit sama aku kalau sedang nganterin istrinya pulang. Kalau istrinya salah paham dan nuduh aku jadi pelakor gimana?! Ck. Aish! Bikin mood ilang aja!
Aku urung membuat teh dan kembali ke ruang kerja.
Beberapa menit berlalu, kupandangi pintu ruang kerja. Menunggu seseorang membuka pintu itu.
Menit berubah menjadi jam. Tiba-tiba seseorang membuka pintu itu. Segera aku pura-pura sedang fokus ke layar laptop di depanku.
Kulirik Andri yang masuk ke ruangan ini. Tangannya menenteng kresek berwarna hitam. Dia menghampiri meja kerjaku.
"Ini sempol kesukaan kamu," ucapnya sambil menaruh kresek hitam tadi di meja kerjaku.
"Aku rasa, kita harus jaga jarak," sahutku sambil menggeser kresek itu sedikit menjauh dariku.
"Kenapa?" tanya Andri. Dia kembali mendekatkan kresek itu kepadaku.
"Apanya yang kenapa?!" Aku kembali menjauhkan kresek itu dariku. "Kamu sudah punya istri, bahkan sudah mau punya anak! Lalu kenapa kamu selalu perhatian seperti ini ke aku?!" tunjukku ke sempol tadi. "Apa kamu tahu, sikap perhatianmu itu semakin membuatmu keren dan gentle?! Membuatku seperti pelakor saja! Aku tidak mau jadi pelakor! Aku tidak bis--"
"Dia adik sepupuku!"
"Terus kalau adik sepupumu hamil, memangnya-- Tunggu! Jadi perempuan hamil tadi sepupumu?!"
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" tanyanya dengan menyunggingkan senyum.
Aargh! Mamp*s aku! Ternyata perempuan tadi sepupunya! Mana aku udah terlanjur banyak ngomong lagi!
"Ahehe.. nggak.. Aku nggak nyangka aja. Ternyata kamu orangnya sangat perhatian ke saudara ya," dalihku berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Asal kamu tahu," tiba-tiba Andri memutar kursiku, kini aku duduk menghadap ke Andri yang tadinya berdiri di sampingku. Manik hitamnya menatapku lekat. "Aku akan lebih perhatian ke istri dan anakku serta memperlakukan mereka lebih lembut lagi dari pada yang tadi!" ucapnya dengan penuh karisma yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang.
BERSAMBUNG