
Pak Yosua segera menurunkan aku.
"Tadi Tisa mau ambil sesuatu di atas lemari. Karena nggak nyampek, dia naik kursi. Aku yang melihatnya akan jatuh, segera menangkapnya," ucap Pak Yosua memberi penjelasan.
Andri melempar tatapannya kepadaku. Aku mengangguk membenarkan penjelasan Pak Yosua.
Aku segera mem-fotokopi dokumen yang Andri berikan tadi dan kembali ke ruanganku.
________
Aku mengirim pesan ke Pipit mengatakan kalau aku sudah dapat gaji. Dia adalah sahabatku, jadi dia juga harus mendengar kabar baik ini.
"Tumben kamu ke kafe?"
Aku mendongak mendapat pertanyaan itu. Pak Yosua berdiri di sampingku.
"Iya, warung yang biasanya tutup! Jadi nggak ada pilihan lagi deh. Ketimbang aku kelaparan," jawabku.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Pak Yosua. Aku mengangguk menjawabnya.
Dia pun duduk dan memesan makanan.
Tak selang berapa lama, makanan yang aku pesan datang. Kemudian disusul pesanan milik Pak Yosua.
Tring!
Hp yang aku taruh di atas meja berbunyi. Aku segera meraih hpku. Ternyata pesan dari Pipit.
[ Wah, kok cepet banget Tis? Perasaan kamu belum ada sebulan deh kerja di sana! ] Aku tersenyum membaca pesan itu.
[ Iya dong, aku kan karyawan yang rajin dan berprestasi. Makanya langsung cepet dapat gaji! ] Aku mengirimkan pesan itu.
[ Heemm.. traktir dong! ] balasnya.
[ Siappp! Nanti aku traktir cilok!! ] balasku.
Sedetik kemudian langsung masuk balasan dari Pipit.
[ Lah! Kok cuma cilok sih?! Kalau cilok mah cuma buat ganjel di perut! ] Aku terkekeh membaca balasannya.
[ Oke-oke! Nanti sore ke kosanku ya! ] balasku lagi.
[ Wiihh! Bau-baunya nanti ada makan-makan nih ] Aku hanya membaca pesan itu dan tidak membalasnya.
Aku beralih ke makanan di depanku.
"Tadi itu Vanitas kan?"
"Hah? Apa?" Aku mengangkat wajahku menatap Pak Yosua.
"Itu, wallpaper hp kamu. Itu Vanitas kan?" tanyanya lagi.
Baru kali ini ada orang yang melihat wallpaper hpku, dan dia tidak menyebutnya kartun! Pipit aja menyebut wallpaper hpku kartun!
"Kok Pak Yosua bisa tahu?"
"Ya iyalah aku tahu! Orang aku nonton animenya kok!" sahut Pak Yosua. "Endingnya masih gantung kan?! Ini aku udah nggak sabar nunggu season duanya tahu!!"
"Lah! Jadi Pak Yosua suka anime juga?!" tanyaku antusias.
"Suka!! Aku juga koleksi banyak Manga!"
"Wah, beneran Pak?!"
__ADS_1
"Iya, beneran!!" ucapnya dengan penuh penekanan. "Dan anime yang paling aku suka dan nggak bisa move on, itu..."
Seolah-olah rasanya aku bisa menebak anime apa itu. Aku tersenyum dan mengucapkan judul anime itu.
"NARUTO!!" ucapku bersamaan dengan Pak Yosua.
Karena suara kami agak keras, pelanggan yang lain jadi melihat ke arah kami.
Aku dan Pak Yosua sama-sama tertawa karena mengucapkan kata yang sama bersamaan.
"Ahaha! Kok kamu bisa tahu sih?!" tanyanya dengan masih terkekeh.
"Bukan kok bisa tahu! Tapi Naruto itu emang anime kesukaanku!! Sampai kapanpun, aku nggak akan bisa move on dari Naruto!"
"Aku sedih banget tau nggak pas Kurama mati." Pak Yosua menghela nafas panjang.
"Iya, aku juga sedih! Aku paling suka pas scene Naruto ngibasin rambutnya yang basah akibat jatuh ke sungai!"
"Scene itu cuma ada di Naruto The Movie kan?!" potong Pak Yosua.
"Iya, bener!!" sahutku dengan bersemangat. "Jarang-jarang tahu Naruto ngibasin rambut! Keren dan ganteng banget tahu nggak sih!"
Pak Yosua terkekeh mendengar aku memuji Naruto.
"Boruto kamu juga nonton nggak?"
Aku menggeleng. "Nggak. Aku nggak suka Boruto. Aku cuman suka Naruto!!"
"Sama! Aku juga nggak suka Boruto!"
Rasanya seneng banget ada orang yang nyambung dengan obrolan kita!
"Aku punya koleksi banyak Manga. Kalau kamu mau, kamu boleh kok minjam koleksi Manga-ku!"
"Serius? Beneran boleh?!"
Pak Yosua mengangguk menjawabku. Aku tersenyum lebar melihatnya.
"Wah, kalau gitu aku pinjam dua aja deh!"
"Lima juga boleh kok!!" sahut Pak Yosua.
"Beneran Pak?!!"
Pak Yosua mengangguk. "Besok aku bawain deh!"
"Oke Pak! Makasih ya Pak."
Setelah makan siang selesai, kami bergegas kembali ke kantor.
Aku mengetuk-ngetukkan kakiku ke pinggiran jalan. Menunggu redanya kendaraan yang sedang rame berlalu-lalang. Di seberang jalan adalah kantor kami bekerja.
Saat sudah mulai sepi, aku melangkahkan kakiku untuk menyebrang.
TIIINN!!
"TISA! AWAS!!"
Sebuah motor melaju kencang ke arahku.
Pak Yosua segera menarik lenganku. Dia menyelamatkanku dari motor itu.
Karena tarikan tadi, tubuhku sempat berada di pelukannya. Terasa tangannya begitu erat memegang lenganku. Begitu tersadar, aku langsung menjauhkan diriku darinya.
__ADS_1
"Tis, kalau nyebrang itu hati-hati dong! Iya kali ini ada aku, besok-besok pas kamu sendirian gimana coba?"
"Iya Pak, lain kali aku akan lebih hati-hati. Makasih ya Pak." Jantungku masih deg-degan karena motor yang tadi.
"Sama-sama. Sekarang, kemarikan tangan kirimu!"
"Hah? Tangan kiri? Buat apa Pak?" tanyaku bingung.
"Udah, jangan banyak tanya. Kemarikan tangan kirimu!!" Aku pun mengulurkan tangan kiriku.
Aku langsung terkejut saat Pak Yosua menggenggam erat tanganku. Kita berpegangan tangan.
Aku langsung melepas genggaman tangannya.
"Pak, mau ngapain ini?! Kenapa pegangan tangan segala?!"
Pak Yosua mengeratkan pegangan tangannya. "Udah, sementara kita gini dulu. Baru setelah menyebrang aku akan melepaskannya. Kamu itu kayak anak kecil tahu nggak. Nyebrang sembarangan."
"Nggak usah pegangan tangan juga kali Pak. Memangnya aku anak kecil?!"
Pak Yosua tidak menanggapi ucapanku dan malah mulai melangkahkan kakinya, membuatku mau tak mau juga ikut melangkah. Kami mulai menyebrang dengan berpegangan tangan.
"Tangan kamu kecil banget ya," ucapnya dengan terkekeh kecil sambil memperhatikan tanganku yang berada di genggamannya.
Begitu sampai di seberang, aku langsung menarik tanganku darinya. Tapi dia malah menahan tanganku dan membandingkan tanganku dengan tangannya.
"Lihat ini!" Pak Yosua memperlihatkan tangannya sendiri.
Tangannya yang begitu putih itu membuat urat-urat dibalik kulitnya jadi terlihat begitu jelas.
"Iya, mentang-mentang putih, jadi mau nyombongin diri nih ceritanya?!" cibirku.
"Kok malah nyombongin diri sih?!" dia terkekeh kecil. "Aku tuh cuma mau bandingin tangan kita! Tangan kamu itu lucu Tis! Kecil, imut!"
"Kenapa tangan Tisa?!" tiba-tiba seseorang menarik tanganku dari tangan Pak Yosua. Aku langsung menoleh ke arahnya. Ternyata Andri.
"Nggak kenapa-napa kok Pak!" jawab Pak Yosua. "Kami hanya membandingkan tangan saja."
"Jam makan siang sudah hampir habis, jadi sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu!" titahnya ke Pak Yosua. "Dan kamu Tisa, ayo kita kembali ke ruangan sekarang!"
Aku mengikuti langkah kakinya yang kembali masuk ke ruangan.
Alisku bertaut menjadi satu. Ketika masuk ruangan, ada dua orang laki-laki dengan sebuah mesin foto kopi.
"Ini apa?"
"Mesin foto kopi."
"Iya, aku tahu. Maksudku, kenapa ada mesin foto kopi di sini?"
"Aku membeli mesin foto kopi yang baru! Enaknya ditaruh di sebelah mana ya?"
"Beli baru?" Andri mengangguk. "Memangnya mesin foto kopi yang lama kemana?!"
"Ya ada, di ruangan foto kopi!"
"Lalu kenapa kamu beli mesin foto kopi?!"
"Aku beli mesin foto kopi ini, khusus untuk ditaruh di ruangan kita. Jadi kita nggak perlu keluar ruangan lagi kalau mau foto kopi sesuatu!"
Aku melongo mendengar alasannya membeli mesin foto kopi yang baru.
Padahal jarak ruangan ini dengan ruangan foto kopi nggak sampek lima puluh meter! Kenapa dia malah buang-buang uang untuk membeli mesin foto kopi yang baru?! Tapi ya, terserah dia sih! Toh ini juga uangnya dia sendiri!
__ADS_1
BERSAMBUNG