
Dengan panik aku mendekati Mbak Lina. Jari telunjukku terjulur ke hidung Mbak Lina.
Aku merasa lega ketika merasakan Mbak Lina masih bernafas.
"Mbak! Bangun Mbak!"
Mbak Lina bergeming tak bergerak.
Apa yang sebenarnya terjadi?!
Karena saat ini Mbak Lina memakai daster tidur selutut, jadinya aku bisa mengetahui kalau darah itu berasal dari pangkal pahanya.
"Mbak Lina!!" Aku menggoyangkan tubuh Mbak Lina. Tapi dia masih bergeming.
"Gimana ini?!! Aku harus membawa Mbak Lina ke rumah sakit!"
Aku keluar mencari pertolongan penghuni yang lain.
Semua pintu kamar di sini tertutup.
Aku berlari ke kamar Andri dan mengetuk pintunya.
"Ndri! Andri!!"
Tak ada sahutan.
"Sial!! Sudah jelas Andri nggak ada! Dia kan kerja!"
Aku pun beralih ke kamar Om Hendra.
"Om!! Tante!!" Aku sudah bukan mengetuk pintu lagi, tapi menggedornya.
Tapi tidak ada sahutan. Sepertinya mereka sedang keluar.
Tidak ada seorang pun di kosan ini.
Aku mengetik nomor Ibu kos dan menelfonnya.
[ Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif-- ]
"Ck! Ibu kos kemana sih?!! Gimana ini?!!"
Aku yang panik kembali masuk ke kamar Mbak Lina.
Aku pun memutuskan untuk membawa Mbak Lina ke rumah sakit sendirian.
Aku mengalungkan tangan Mbak Lina ke leherku.
Karena tubuh Mbak Lina yang lebih besar dariku, aku kesulitan berdiri.
Dengan susah payah, aku berhasil berdiri.
"AAKHH!!"
BRUG!!
Baru juga satu langkah, aku terpeleset genangan darah tadi dan terjatuh.
Aku terjatuh di genangan darah dan tertimpa tubuh Mbak Lina.
Seragam kerjaku yang awalnya berwarna putih, kini sudah ternodai warna merah.
Aku sedikit membersihkan lenganku yang terkena darah.
"Aku nggak kuat membawa Mbak Lina sendirian."
Aku berlari keluar mencari pertolongan. Kebetulan di jalan ada tukang becak yang sedang lewat.
__ADS_1
"Pak tolong saya Pak!!" Aku berlari menghampirinya.
Dia terlihat sedikit terkejut melihat bajuku yang penuh dengan darah.
"Ya Allah Neng! Ada apa kok darah-darah gini?!!" tanyanya sedikit panik.
"Tolongin teman saya Pak!!"
"Kenapa temannya?!!" tanyanya lagi.
"Saya nggak tahu Pak! Dia nggak sadarkan diri! Ayo ke kosan saya! Tolong anterin kami ke rumah sakit Pak!!"
Kami pun berlari masuk ke kamar Mbak Lina.
________
Aku sedikit merasa tidak sabar karena becak yang aku tumpangi terasa begitu lambat.
Kalau seperti ini terus, kapan sampai ke rumah sakitnya?!!
"Pak, cepetan!" ucapku pada tukang becak yang sedang mengayuh becaknya.
"Nggak bisa Neng! Ini udah batas kecepatan saya. Soalnya ini bukan becak motor," tutur si Bapak.
"Neng naik taksi aja ya, biar cepet! Kasian temannya!" ucapnya lagi. "Saya akan carikan taksi!"
Aku pun mengangguk. "Iya Pak! Makasih ya Pak!"
Becak yang aku tumpangi berhenti di pinggir jalan. Sementara Bapak tukang becak, berusaha mencari taksi.
"Ayo Neng, itu taksinya!"
Aku mengangguk. Kami pun membopong Mbak Lina naik ke taksi.
"Ke rumah sakit Pak! Cepetan ya Pak!" ucapku pada supir taksi setelah memberi ongkos pada tukang becak tadi.
Ada nada tersambung, tapi tidak diangkat.
"Ck! Pipit kemana sih?!!"
Aku kembali menelfonnya, dan akhirnya diangkat.
"Halo Pit?"
[ Tisa, maaf ya. Nanti aku telfon lagi. Soalnya aku lagi mewarnai rambut pelanggan di salon! ]
Setelah mengucapkan itu, Pipit langsung memutus sambungan telfonnya.
"Duh! Aku harus menghubungi siapa lagi?!" Aku men-scroll layar hp, mencari nomor kontak yang lain.
Aku kembali menelfon Ibu kos. Tapi hpnya tetap tidak aktif.
Karena tidak ada pilihan kontak lagi, aku menelfon Andri.
[ Halo Sa, ada apa? ] Andri langsung mengangkat telfon dariku.
Dengan buru-buru aku langsung menjawab.
"Halo Ndri. Maaf aku ganggu waktu kerjamu. Aku nggak tahu mau minta tolong siapa lagi! Tolong datang ke rumah sakit ya Ndri! Plisss!!"
Hanya Andri pilihan terakhirku. Semoga dia bisa.
[ Ha? Rumah sakit?! Kamu kenapa Sa?! Kok ke rumah sakit?!! ] dari seberang telfon, nada bicaranya terdengar khawatir.
"Nanti aku jelasin semuanya! Yang penting kamu ke rumah sakit ya!!"
[ Oke oke! Kamu kirimin alamat rumah sakitnya ya! ]
__ADS_1
"Oke!" Aku segera menutup sambungan telfon dan mengirimkan alamat rumah sakit yang hendak aku tuju.
________
"Gimana keadaan teman saya sus?" Aku langsung bertanya kepada suster yang keluar dari ruangan yang barusan Mbak Lina dibawa masuk.
"Pasien mengalami keguguran. Sepertinya ini akibat dari obat yang diminumnya," tutur suster.
Astaga! Apa Mbak Lina sengaja minum obat itu untuk menggugurkan kandungannya?! Dari pertengkaran yang aku dengar semalam, sepertinya pacarnya menolak tanggung jawab.
"Apa keluarganya pasien ada di sini?" tanya suster.
"Nggak ada sus! Memangnya kenapa?!"
"Mbaknya harus membayar biaya administrasinya dulu, setelah itu kami akan melakukan penanganan lebih lanjut."
Karena tidak ada waktu lagi, aku langsung membayar biaya administrasinya. Akibatnya, aku menguras habis isi tabunganku.
Tak lama setelah itu, Andri datang. Dia terkejut melihat darah yang sudah kering di bajuku.
"Tisa! Kamu kenapa?!! Kenapa ada darah di bajumu?!!"
"Ini bukan darahku, tapi darah Mbak Lina."
"Mbak Lina?! Kenapa dengan dia?!"
"Tadi aku menemukannya terkapar di lantai kamarnya. Jadi aku membawanya ke rumah sakit. Dan ternyata katanya dia keguguran!"
Sebelum melanjutkan bicara, aku sedikit memijit keningku. "Tapi, mendengar apa yang dikatakan suster tadi, sepertinya dia sengaja mengugurkan kandungannya."
"Ya ampun Mbak Lina. Tega sekali dia membunuh bayi yang tidak bersalah!" ucap Andri.
________
Keesokan harinya, Mbak Lina masih belum siuman.
Andri tidak bisa menemaniku ke rumah sakit karena katanya ada meeting penting di kantornya.
Sepertinya dia orang penting di kantor itu. Tapi, nggak tahu lah.
Hari ini katanya Ibu kos akan datang ke rumah sakit. Kemarin malam aku sudah menghubunginya lagi dan memberitahu keadaan Mbak Lina.
Mendengar suara pintu terbuka, aku menoleh. Ternyata Ibu kos yang datang.
"Tisa, gimana keadaan Lina?"
"Mbak Lina masih belum siuman Bu."
"Dasar Lina! Ada-ada aja kelakuannya! Lalu siapa Ayah dari bayinya?!!"
Aku menggeleng. "Saya nggak tahu Bu!"
"Ck! Dasar! Entah siapa Ayah dari bayi itu! Karena tidak jelas, makanya dia menggugurkannya," Ibu kos menggerutu, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Oh iya, Tisa! Lebih baik, kamu sekarang pulang. Biar Ibu yang akan menjaga Lina. Kamu kan juga harus kerja!"
Aku membulatkan mata mendengar kata 'kerja'.
Astaga!! Iya, aku lupa! Kemarin aku nggak masuk kerja tanpa izin. Sekarang pun juga! Entah gimana nasibku nanti. Tempat kerjaku kan ketat dan tidak ada toleransi. Semoga saja aku tidak dipecat!
"Bu, terimakasih ya karena sudah mengingatkan. Saya pamit pulang dulu Bu."
Aku bergegas pergi dari rumah sakit.
Aku tidak pulang ke kosan dulu, tapi langsung pergi ke pabrik, tempat kerjaku.
BERSAMBUNG
__ADS_1