
Gimana caranya supaya aku bisa tahu siapa Tiwi itu?!
Kupandangi Andri yang sedang duduk di meja kerjanya. Kuperhatikan setiap detail gerakan yang dibuatnya.
Dia membuka tutup gelas yang berisi teh yang aku buatkan tadi pagi.
Glek glek glek.
Dengan tiga tegukan teh itu langsung habis. Jakun Andri ikut turun naik seiring dia menenggak minuman itu.
Glek!
Eh?! Kenapa aku jadi ikutan nelen?!
Andri sedikit melonggarkan dasinya yang terlihat sangat mencekik lehernya itu.
"Sa?"
"Eh? Iya, apa?!" Aku gelagapan ketika tiba-tiba Andri menoleh ke arahku. Aku langsung membuang muka pura-pura sedang melihat ke arah lain.
"Tolong buatin aku teh lagi ya," pintanya.
"Oke!" Aku mengangguk dan beranjak dari kursi.
"Sa." Andri memanggilku lagi saat aku membuka pintu hendak keluar.
"Ya?" Aku menoleh menatapnya.
"Jangan lupa, gulanya sedikit ya!" ucap Andri.
"Siap!" Aku mengacungkan jempol ke Andri lalu bergegas pergi ke pantry.
Setelah selesai membuat teh, aku langsung kembali ke ruangan.
"Ini tehnya." Aku menaruh cangkir berisi teh di meja Andri.
"Minumlah!" ucap Andri.
Aku mengernyit bingung. "Hah?"
"Aku tahu dari tadi kamu merhatiin aku waktu minum teh kan?"
Apa?! Jadi Andri tahu kalau aku sedang memperhatikannya?!
"Kamu pasti haus. Aku sengaja minta buatin teh. Tapi teh ini untuk kamu!"
Dengan gesit Andri membuka tutup cangkir dan menyodorkannya padaku, menyuruhku untuk meminum teh itu.
"Terimakasih, nggak usah. Aku nggak haus kok," tolakku.
"Udah, cepetan minum!" tiba-tiba Andri langsung menempelkan cangkir itu ke mulutku. Mau tidak mau aku jadi meminum teh itu.
Aku sedikit menyatukan kedua alisku saat merasakan tidak enaknya teh itu karena gulanya memang sedikit.
Rasanya nggak enak! Kenapa sih dia suka minum teh dengan gula sedikit?!
"Kenapa?" tanya Andri saat dia menyadari raut wajahku.
"Nggak enak!" sahutku. "Nggak ada manis-manisnya!"
__ADS_1
"Ya iya lah nggak manis! Kamu salah cara minumnya!"
"Salah?" Aku menatap Andri bingung.
"Ada tata caranya supaya teh ini jadi manis waktu kamu minum!"
Lagi-lagi aku mengernyit menatap Andri bingung.
"Coba kamu ulangi minum lagi ya. Nih, kamu pegang cangkirnya."
Dengan perasaan yang masih bingung tak mengerti maksud Andri, aku tetap menerima cangkir itu.
"Kamu lihat wajah aku!"
Aku menurut dan menatap wajah Andri.
"Sekarang, kamu minum tehnya!"
Aku menurut dan meminum teh itu sambil menatap wajah Andri.
Kalau dari dekat gini.. Andri.. manis juga. Eh?!
"Gimana? Manis kan tehnya? Pasti manis dong. Kan minum tehnya sambil lihat wajah aku!" seru Andri.
"Uhuk uhuk uhuk!" Aku langsung tersedak mendengar perkataannya.
"Aduh, Sa. Pelan-pelan minumnya."
"Tehnya pahit gara-gara lihat kamu!" ucapku.
Andri mengernyit. "Hah? Masa sih? Perasaan setiap kali aku minum tehnya sambil lihat kamu, tehnya jadi manis kok!"
Blush!
"Aw aw! Sakit tahu Sa!"
"Biarin! Rasain!!" seruku lalu kembali ke meja kerjaku.
Secara tidak sengaja, mata kami bertemu. Kemudian Andri menyunggingkan senyumnya padaku.
Ting!
Andri mengerlingkan mata kirinya yang membuatku mencebik dan memutar bola mata.
Dia terkekeh saat aku membuang muka ke arah lain.
Jam terus bergulir, kami pun kembali ke kesibukan masing-masing.
Ekor mataku menangkap setiap gerakan yang dibuat Andri.
'Apa sih yang nggak buat Tiwiku?' kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di dalam kepalaku.
Heeghh! Sebenarnya Tiwi itu siapa sih?! Ketika di depanku, Andri selalu bersikap manis dan perhatian. Tapi saat di belakangku, dia bersikap manis ke orang lain. Apa Andri cuma mau mempermainkanku?!
________
"Andri mana ya?! Dari tadi kenapa dia belum balik-balik ke ruangan?" gumamku sambil melihat meja kerja Andri yang kosong.
Aku membalik lembar berkas yang ada di depanku untuk mempelajarinya.
__ADS_1
"Aku harus memfotokopi berkas ini," ucapku lalu bangkit dan berjalan mendekat ke mesin foto kopi yang ada di ruangan ini.
Tapi ternyata tintanya malah habis.
"Ck! Kenapa tintanya cepet habis sih?!"
Aku pun berjalan keluar ruangan dan memutuskan untuk mem-fotokopi di ruang fotokopi saja.
"Nggak nyangka ya. Ternyata Pak Andri udah punya istri. Udah mau punya anak pula!"
Langkahku langsung berhenti ketika mendengar ucapan barusan. Aku langsung menoleh ke sumber suara.
Terlihat dua karyawan perempuan sedang bergosip.
"Istrinya pun cantik!"
Kuikuti pandangan mereka yang tertuju pada seorang perempuan dengan perut yang sudah sedikit membesar alias hamil.
Seketika berkas di tanganku terjatuh melihat perempuan yang mengenakan dress warna putih dengan polkadot hitam berdiri sambil memegangi perutnya.
"Harusnya Bumil itu istirahat di rumah! Ngapain capek-capek datang ke kantor?!" tiba-tiba Andri datang dan mendekati perempuan itu. Tangannya terangkat dan mencubit hidung perempuan itu.
Aku langsung duduk jongkok dan mengambil berkas yang jatuh dari tanganku.
Aku juga sedikit menunduk, menyembunyikan wajahku dari pandangan Andri agar dia tak melihatku. Aku sedikit mengangkat wajahku untuk melihat mereka berdua.
"Kamu udah nggak pernah pulang. Aku kangen. Makanya aku ke sini!" jawab perempuan itu. "Aku juga bawain makanan kesukaan kamu!"
"Kenapa repot-repot bawain makanan segala sih?" ucap Andri tersenyum sambil meraih rantang yang ada di tangan perempuan itu.
Sepertinya Andri tak menyadari keberadaanku. Dia berjalan sambil menuntun perempuan itu. Aku langsung membalikkan badanku melihat pemandangan itu.
Ternyata Andri sudah punya istri! Bahkan sudah mau punya anak! Lalu kenapa dia mendekatiku?! Dan kenapa ada yang mengganjal di perasaanku sekarang?! Apa ini? Kenapa aku merasa seperti ini?!
________
Setelah selesai memfotokopi berkas tadi, aku bimbang untuk kembali ke ruangan atau tidak.
Aku nggak nyangka ternyata Andri sudah punya istri! Lantas, kenapa dia nembak aku?! Apa dia berniat selingkuh dari istrinya?! Dasar laki-laki brengs*k! Untung waktu itu aku nolak dia.
"Kira-kira perempuan itu udah pulang belum ya? Aku jadi nggak enak mau masuk ke ruangan."
Dengan ragu aku memegang gagang pintu dan kemudian membukanya.
Langkahku tercekat di ambang pintu. Terlihatlah Andri yang sedang duduk di meja kerjanya. Sedangkan istrinya duduk di kursi kebesarannya.
Tangan Andri memegang sendok hendak menyuapi perempuan itu.
Tangan itu terhenti ketika aku membuka pintu.
"Eh, Tisa!"
Tatapan wajahnya seakan tidak merasa bersalah. Padahal dia sudah berencana hendak selingkuh denganku.
"Oh, jadi kamu yang namanya Tisa! Asistennya Mas Andri. Dari dulu Mas Andri nggak pernah mau punya Asisten lho.. Apalagi cewek!" perempuan itu tersenyum ke arahku. "Aku bawa makanan banyak, yuk makan bar--"
"Ahaha, terimakasih. Maaf, tapi aku sudah janji makan di luar bareng temen," tolakku memotong ucapan perempuan itu.
Dengan cepat aku kembali menutup pintu itu. Aku urung masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Ada apa denganku?! Kenapa aku merasa tidak enak melihat kebersamaan mereka berdua?!
BERSAMBUNG