KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Terkuak


__ADS_3

Mataku terbelalak saat mengenali wajah orang yang ada di depanku ini.


"Andri?! Jadi selama ini..."


"Wah, kayaknya sihirku udah bekerja nih!" ujarnya dengan senyum menyeringai. "Udah aku bilang kan, kalau kamu bakalan jatuh cinta sama aku setelah kita tunangan!"


"Jadi, selama ini kamu--"


"Bohong?" tanya Andri menyela ucapanku. "Aku nggak bohong kok! Putra itu beneran nama aku. Andri Putra Wijaya! Kamu masih ingat kan?"


"Pantas aja selama ini kamu selalu tahu semua tentangku. Dari ukuran baju, cincin, sampai sepatu! Siapa yang kamu suruh untuk memata-mataiku? Jangan-jangan Faiz ya?!"


Andri mengerutkan keningnya.


"Faiz? Bukan. Aku aja nggak kenal sama dia dan baru kenal pas dia pindah ke kosan kita! Kamu pasti kaget ya karena aku tahu semua ukuran tubuhmu!" ucap Andri tersenyum simpul.


"Untuk ukuran baju dan cincin, aku tahu karena waktu itu aku pernah ngajak kamu ke toko perlengkapan pernikahan kan! Aku sengaja nyusun rencana agar kamu yang nyobain baju dan cincinya agar aku bisa tahu ukuran yang pas buat kamu! Untuk model bajunya, kamu sendiri yang bilang kan kalau kamu nggak terlalu suka dengan model yang terlalu terbuka!"


Astaga! Kenapa waktu itu aku nggak menyadarinya?!


"Lalu kalau ukuran sepatu? Seingatku, waktu itu aku nggak pernah nyobain sepatu di sana deh?"


"Oh, kalau itu sih, aku dapat informasi dari orang yang paling terpercaya!" ujar Andri sambil tersenyum, pandangannya mengarah pada meja dimana Bunda sedang duduk di sana sambil tersenyum padaku.


Apa? Jadi selama ini Bunda juga bersekongkol dengan Andri?


Kuusap wajahku dengan kasar. Kenapa aku jadi merasa bodoh banget karena nggak menyadari akting mereka.


Jadi selama ini orang tuaku bersekongkol dengan Andri.


"Sekedar ngasih tau, Pipit sebenarnya juga tahu tentang aku yang menyamar ini!"


Segera aku melihat ke arah Pipit mendengar ucapan Andri barusan. Sementara orang yang kulihat itu hanya cengengesan saja.


"Sa, sebenarnya aku masih mau ngobrol banyak sama kamu. Tapi sayangnya aku sudah dipanggil sama beberapa kolegaku," tunjuk Andri pada sebuah meja yang hanya terdapat bapak-bapak di sana. "Ngobrolnya di lanjut nanti ya!' setelah berpamitan Andri langsung berjalan menjauh dariku.


Kini kuayunkan kakiku ke arah meja dimana Pipit duduk di sana.


Bisa-bisanya aku nggak tahu kalau Pipit ternyata sudah tau drama ini.


"Pit, kamu itu sahabat aku atau sahabatnya Andri sih?!"


"Hehehe, maaf ya Tis. Kamu jangan marah ya!"


"Tau ah!" tega sekali dia. Kutinggalkan Pipit begitu saja.


"Eh Tis, kamu mau kemana?"


Tak kuhiraukan panggilan dari Pipit. Aku hanya berjalan keluar menuju ke taman. Duduk, sambil memandangi bunga-bunga yang sedang bermekaran di sana.


"Haaaah." Ini ketiga kalinya aku menghela nafas panjang.


Sebenarnya ada rasa senang dan bahagia mengetahui ternyata Andri adalah orang yang dijodohkan denganku.

__ADS_1


Tapi, di sini lain aku sedikit merasa kesal karena telah dipermainkan olehnya. Tidak bisakah dia langsung bilang padaku bahwa dia adalah jodohku?!


Apa jangan-jangan, pindahnya dia ke kosanku adalah bagian dari rencananya juga?


Ah, aku tidak tahu darimana itu semua berawal. Yang jelas, aku merasa bahagia dan kesal secara bersamaan.


"Sa, kok kamu malah sendirian di sini?" terasa pundakku ditepuk seseorang.


"Masuk kedalam yuk! Bunda nyariin kamu!" ujar Andri sambil mendudukkan dirinya di sampingku.


Aku bergeming tak menjawabnya. Kesal banget rasanya mengingat selama ini aku telah dibohongi olehnya.


"Yuk kedalam, masih banyak tamu-tamu yang belum pulang. Masa kita yang tunangan malah ninggalin mereka!" ajaknya lagi.


"Ndri, aku masih belum bilang menerima lamaranmu lho!"


"Tapi kau sudah memakai cincinnya Sa!" Andri terkekeh.


Tiba-tiba tangannya menggenggam jemariku.


"Aku seneng banget kita udah tunangan Sa!"


Ah, kenapa hatiku mudah luluh cuma karena digenggam dan mendengar kata-kata seperti itu sih?!


Nggak boleh gini! Setidaknya aku harus sedikit membalas perbuatannya dong! Masa iya aku langsung terima gitu aja tanpa ada pembalasan?! Enak banget dia!


Segera kutarik tanganku dari genggamannya.


"Kenapa kamu nggak jadi artis aja?!" tukasku kemudian.


"Maksudku, kamu begitu mahir dalam berakting. Harusnya kamu jadi artis saja, bukan jadi direktur!"


"Kamu marah Sa?"


"Kamu pikir aja sendiri! Yang kamu permainankan itu perasaan lho Ndri, perasaanku! Aku bahkan sampai merasa patah hati!" seruku yang memang merasa kesal.


"Aku senang saat kamu nembak aku. Dan tiba-tiba aja kamu mutusin aku. Gimana nggak patah hati coba! Eh tapi ternyata itu semua bagian dari akting kamu! Bahkan, pindahnya kamu ke kosanku mungkin bagian dari rencana kamu juga kan?!"


Andri terlihat terkejut mendapati responku. Diraihnya kembali tanganku. Tapi dengan segera aku menarik tanganku dari genggamannya.


"Aku minta maaf Sa. Aku nggak ada niatan untuk mainin perasaan kamu!"


Andri mengubah posisi duduknya menjadi miring menghadapku. Tapi aku masih bergeming menatap lurus ke depan.


"Ini semua rencana Ayah kamu. Dan soal datangnya aku ke kosan kamu, itu murni bukan akting Sa. Awal aku ngekos disana itu karena aku kabur dari Papa yang berusaha menjodohkan aku! Sumpah, beneran, aku nggak bohong! Aku baru tahu kalau orang yang dijodohkan denganku itu kamu, ketika Papaku datang ke kantor memergoki kita waktu itu. Kamu masih ingat kan?"


Kulirik Andri yang sedang menjelaskan panjang lebar itu. Ya, aku ingat kejadian waktu itu. Hari dimana Andri memutuskan hubungan secara sepihak.


"Hemh! Bisa aja sekarang kamu juga bohong kan! Siapa yang tahu? Kamu kan pinter akting!"


"Sa, aku benar-benar nggak bohong!" jawab Andri berusaha meyakinkan.


"Udahlah, capek aku!" Aku berdiri dan hendak melangkahkan kakiku.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Sa?" tanyanya menghentikan langkah kakiku.


"Aku mau kedalam, mau makan hidangan enak disana. Daripada dini terus, cuma makan hati!" tukasku seraya pergi meninggalkannya.


Aku tersenyum puas setelah mengatakan itu semua.


Rasain! Emang enak dikerjain!


Tapi tiba-tiba aku menghentikan langkahku.


"Eh, apa kata-kataku tadi terlalu kasar ya? Duh, harusnya tadi aku nggak ngomong kayak gitu! Gimana kalau Andri tersinggung?" Aku menoleh menatap ke belakang.


"Ah, bodo amat lah. Ini nggak seberapa. Lebih parah Andri malah!"


Kembali kulanjutkan langkahku masuk ke dalam rumah.


Tak terasa, acara sudah selesai. Para tamu juga sudah pada pulang.


"Ayah, Bunda, Tisa mau pamit pulang!"


"Pulang kemana? Kamu kan sudah di rumah?" tanya Ayah. "Jangan bilang, kamu mau balik ke kosan kamu?"


Aku mengangguk membenarkan ucapan Ayah.


"Sa, kamu kan udah tunangan. Dan di antara kita sudah tidak ada perselisihan lagi. Lalu kenapa kamu masih balik ke kosan lagi?"


"Sayang uangnya Yah, Tisa udah terlanjur bayar untuk beberapa bulan ke depan."


Saat Ayah hendak mengatakan sesuatu lagi, Bunda mencegah Ayah dan menganggukkan kepalanya agar Ayah menyetujui keputusanku saat ini.


"Bareng sama aku aja Sa!" seru Andri yang ikut menyusulku keluar.


"Nggak usah! Aku udah pesan ojek online!" jawabku sok ketus.


"Cancel aja Sa. Ayo kamu bareng aku aja!" Andri menarikku menuju ke tempat mobilnya terparkir.


Aku hanya mengikutinya dan tersenyum simpul.


"Apa ini?! Kenapa ban mobilku pada kempes?!"


Inilah maksud dari senyumanku tadi. Siapa lagi pelakunya kalau bukan aku?


Hahaha. Ya, aku yang mengempesi ban mobil Andri. Tiga ban mobilnya aku kempesi dan hanya menyisakan satu ban yang tidak aku kempesi.


"Duh, kenapa bisa gini ya? Perasaan pas berangkat tadi masih baik-baik aja," gumam Andri.


"Maaf Ndri, kayaknya aku nggak bisa bareng kamu. Tuh, ojek online aku udah datang. Aku duluan ya, daah.."


"Eh Sa, tunggu! Kita pulang bareng aja, tungguin aku! Sa!"


Tak kuhiraukan seruan Andri dan bergegas naik ke motor Abang ojek.


Hahaha! Maaf ya Ndri aku harus tertawa di atas penderitaamu!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2