KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Pengakuan


__ADS_3

Ini hari kedua Andri menjadi lebih pendiam.


"Jam makan siang sudah habis dari tadi! Kenapa kamu baru balik?!" ketus Andri ketika aku membuka pintu ruangan.


Aku melirik jam yang tergantung di dinding.


"Maaf Ndri, tapi aku nggak telat kok! Jam makan siang habis pas bareng ketika aku masuk ruangan!"


Andri melirikku sekilas. "Cepat duduk dan selesaikan laporan meeting kemarin!"


Aku bergegas ke meja kerjaku dan mengerjakan titahnya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruangan.


"Masuk!" ucap Andri mempersilahkan.


Seorang OB masuk membawa secangkir teh ke meja Andri.


Aku mengernyit menatap OB itu.


Kenapa Andri nyuruh OB untuk buatin tehnya? Biasanya kan aku yang disuruh?!


Setelah selesai membuat laporan, aku menyerahkan laporan itu Andri.


"Ini Ndri laporannya."


"Hm. Taruh aja di situ!" ucapnya dingin. "Ini, tolong berkasnya difotokopi ya!"


Aku menerima berkas itu dan berjalan ke mesin foto kopi. Tapi ternyata tintanya habis. Aku pun bergegas keluar untuk mengambil tinta dari ruangan foto kopi.


"Cari apa Tis?" tanya seseorang ketika aku mencari tinta di ruangan foto kopi.


Aku pun menoleh dan melihat siapa yang bertanya. Ada Pak Yosua yang baru masuk ke ruangan.


"Cari tinta Pak!" sahutku.


"Biasanya ada di lemari paling atas," ujar Pak Yosua. "Sebentar aku ambilin."


Pak Yosua membuka lemari bagian atas dan mengambil tinta.


"Makasih ya Pak!" ucapku sambil meraih tinta yang disodorkan oleh Pak Yosua.


"Iya, sama-sama."


"Ehem!" seseorang berdehem keras di ambang pintu. Dan aku menemukan Andri berdiri di sana ketika menoleh.


"Ini masih jam kerja! Kalau mau pacaran, nanti pas pulang kerja!" tegasnya yang membuatku bingung.


"Maaf Pak, tapi ka--" ucapan Pak Yosua terpotong tatkala Andri mengangkat tangannya yang berarti menyuruhnya untuk diam.


"Tisa, kembali ke ruangan! Bukankah aku menyuruhmu untuk foto kopi?!"


"Tapi aku kesini untuk ngambil tinta karena tintanya habis!"


"Udah. Jangan alasan lagi!" setelah itu Andri berlalu meninggalkan kami.

__ADS_1


Aku pun segera bergegas mengejarnya sampai ke ruangan.


"Maksud kamu apa ngomong kayak tadi itu?!" tanyaku begitu masuk ke ruangan.


"Apalagi? Aku hanya memberi tahu kalau ini tuh masih jam kerja! Jadi bukan waktunya untuk pacaran!" sahutnya dingin.


"Yang pacaran itu siapa?!" tanyaku bingung.


"Ya kamu sama Pak Yosua!"


"Kata siapa aku pacaran sama Pak Yosua?!"


"Bukan kata siapa-siapa! Aku melihat sendiri kamu dipeluk sama Pak Yosua di hari kamu mengembalikan jaketnya! Bukankah itu berarti kamu menerima cintanya?!"


Ya ampun! Jadi dia salah paham!


"Kalau nggak tahu apa-apa itu jangan sembarangan nyimpulin!" ucapku sambil sedikit terkekeh.


Andri mengernyitkan alisnya mendengar perkataanku.


"Waktu itu aku nolak dia! Dia bilang dia ingin memelukku. Belum juga aku mengiyakan, dia udah main peluk aja. Dan pada saat itu lah kamu melihat kami!"


Wajah Andri terlihat bingung mencerna perkataanku.


"Jadi kamu nolak dia?!" tanyanya.


"Iya! Makanya kalau orang mau jelasin tuh dengerin! Biar nggak salah paham!!" sahutku sedikit gemes mengingat tadi dia yang main tuduh aja bahkan dengan sedikit nada marah.


"Jadi kamu beneran nggak pacaran sama Pak Yosua?!"


"Syukur deh kalau gitu!" gumamnya yang hampir tak terdengar.


"Hah? Apa?" Apa aku salah dengar? Dia tadi bilang syukur kan?"


"Ah, nggak. Bukan apa-apa!" sahut Andri.


Mungkin tadi aku cuma salah dengar.


________


Keesokan harinya Andri sudah tidak sesuram hari kemarin. Dia sudah kembali seperti hari biasanya.


"Yuk Sa, makan siang bareng!" ajaknya ketika jam makan siang tiba. "Aku yang traktir!"


"Waduh, kalau ditraktir sih nggak nolak!" Aku bergegas membereskan berkas-berkas yang ada di mejaku. "Ada acara apa nih, kok tiba-tiba mentraktir aku?"


"Ya, nggak ada acara apa-apa. Kalau kamu nggak mau ditraktir yaudah.." Andri berlalu meninggalkanku.


"E-eh! Mau-mau, aku mau kok!" Aku bergegas menyusul Andri.


Kami makan di kafe yang ada di depan kantor.


"Kok akhir-akhir ini mbak Tisa jarang makan bareng Pak Yosua ya? Apa mereka berantem?" Aku mendengar suara itu dari perempuan yang duduk di meja belakangku.


"Iya, aku juga udah jarang ngeliat mereka makan bareng lagi! Jangan-jangan mereka putus lagi!" sahut yang lainnya.


"Woy! Kalau nggak tahu apa-apa itu, jangan gosip deh!" ujar Andri menimpali mereka. "Tisa sama Pak Yosua itu nggak ada hubungan apa-apa tahu!"

__ADS_1


Mereka berdua jadi diam seribu bahasa mendapati sahutan dari Andri. Aku terkekeh kecil mendengar ucapan Andri.


Sendirinya kemarin dia juga nuduh aku pacaran sama Pak Yosua. Padahal dia juga nggak tahu apa-apa!


"Kamu juga Sa, jangan diem aja dong kalau digosipin!"


Aku hanya mengangkat bahuku menjawab perkataan Andri.


Setelah selesai makan siang, kami langsung kembali ke kantor. Dan ketika hendak kembali ke ruangan, saat kami melewati pantry, lagi-lagi kami mendengar karyawan yang bergosip tentangku dan Pak Yosua.


"Pak Yosua kayaknya putus deh sama Mbak Tisa! Mereka udah jarang makan siang bareng!"


"Emangnya mereka pacaran?!"


"Yaelah! Ketinggalan berita lu!"


"Setiap hari mereka makan siang bareng! Apalagi namanya kalau bukan pacaran?!"


"Sering makan bareng bukan berarti pacaran!" sahut Andri yang ikut nimbrung. Seketika mereka langsung terdiam.


"Aku tekankan ya, Tisa sama Pak Yosua itu nggak ada hubungan apa-apa! Kalau nggak tahu apa-apa jangan nyebar gosip yang aneh-aneh di kantor ini!" ucap Andri lagi.


Aku hanya terkekeh melihat apa yang dilakukannya.


"Kenapa kamu hanya terkekeh?! Harusnya kamu jelasin dong ke mereka!" ujar Andri sambil membuka pintu ruangan.


"Apa aku harus nyamperin satu-satu karyawan di sini buat jelasin semuanya?!" sahutku. "Percuma Ndri! Lagian cuma gosip kayak gitu, palingan dapat sebulan gosipnya juga bakalan kadaluarsa dan dilupain!" ucapku tidak ambil pusing.


Karena di kantor Ayah sebelumnya aku juga jadi bahan gosipan. Bahkan di sana lebih parah, kalau ini sih masih mending.


Andri menghela nafas panjang mendengar tuturanku.


"Tapi aku yang keberatan Sa!"


Aku terkejut mendengar ucapan Andri.


Aku nggak salah dengar kan?!


"Hah?! Apa Ndri?!"


"Aku yang keberatan kalau kamu digosipkan dengan Pak Yosua!" ucap Andri memperjelas perkataannya yang tadi.


Aku sangat terkejut dan mematung menatapnya mendengar pengakuannya itu.


Andri berjalan mendekat ke arahku yang berdiri di samping meja kerjaku. Tangannya meraih tanganku.


"Aku keberatan mendengar orang lain mengira kamu pacaran sama Pak Yosua! Aku juga cemburu ketika kamu dekat dengan Pak Yosua!"


Aku tak bisa berkata-kata mendengar perkataannya ini.


Jadi inikah alasan dia bersikap dingin padaku setelah aku mendapat pengakuan cinta dari Pak Yosua?!


Aku bisa merasakan kalau tanganku yang dipegang Andri mulai berkeringat.


"Tisa, aku menyukaimu!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2