
Apa? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia marah?
Terbersit rasa senang kalau Andri benar-benar marah. Itu artinya dia cemburu.
Tapi senyumku langsung menghilang saat Andri ternyata malah acuh dan berjalan menuju dapur.
Hahaha. Apa yang kau harapkan Tisa!
________
"Sa?"
"Ya?" Aku mendongak dari laptop dan menatap Andri.
"Gimana kalau kita membuka bisnis wahana permainan. Sepertinya omsetnya lumayan!" ucap Andri sembari terlihat mempertimbangkan sesuatu.
"Emm, boleh juga. Tapi sebelum memulai bisnis itu, kita harus survei ke wahana permainan dulu!"
"Bagaimana dengan jadwalku hari ini?" tanya Andri.
"Hari ini... jadwalmu kosong," ucapku memberitahu setelah membaca schedule harian Andri.
"Kalau begitu, setelah makan siang kita survei ke wahana permainan terdekat!"
"Baiklah!" jawabku sembari mengangguk.
________
Dan setelah makan siang, kami langsung meluncur ke wahana permainan terdekat.
Banyak pengunjung yang datang kesini. Sepertinya ide untuk membuka wahana permainan akan sangat menguntungkan.
Saat melihat sebuah stand makanan berjejer, mataku langsung menangkap stand yang menjual sosis bakar.
"Gimana kalau kita jajan dulu, untuk mengganjal perut!" usul Andri yang tentu saja aku sangat setuju.
"Ndri, sebaiknya nanti kita juga harus menambahkan stand-stand makanan yang banyak! Sepertinya itu juga menarik banyak pengunjung. Lihat, banyak anak-anak yang mengantri sedang beli makanan!" ucapku yang melihat banyak anak kecil yang mengantri untuk membeli sosis.
Andri hanya mengangguk mendengar usulanku.
"Kita juga harus menambahkan kafe. Untuk tempat bersantai para remaja yang datang kesini," imbuhku.
"Sepertinya itu ide yang bagus!" ucap Andri sambil manggut-manggut.
Setelah selesai beli jajanan, kami melipir ke sebuah gazebo yang tak jauh dari sini.
"Sa, ini sih bukan ganjal perut namanya. Tapi lapar!" seru Andri yang melihat jajanan yang kutaruh ke atas meja.
Tak hanya sosis bakar yang kubeli. Tapi ada sempol, cilok, dan kawan-kawan lainnya.
Aku hanya nyengir menimpali ucapan Andri. Maklum, aku tak kuat menahan godaan yang satu ini.
Sedangkan Andri hanya membeli sosis bakar saja.
Andri terus saja memperhatikanku makan.
"Apa? Kamu mau sempolnya juga?" dia hanya tersenyum tak menjawab.
"Maaf ya, aku nggak ada niatan untuk berbagi makanan. Beli aja sendiri! Masa direktur mau minta jajan sama karyawannya!"
Andri malah tertawa mendengar ucapanku.
"Kamu itu kecil-kecil makannya banyak juga ya!"
"Hem!" Aku tak menjawab perkataan Andri dan hanya fokus memakan sempol.
Setelah selesai makan jajanan, Andri mengajakku untuk naik Roll coaster.
"Wah, ternyata antriannya sangat panjang!" kami memperhatikan banyaknya pengunjung yang mengantri untuk naik Roller coaster.
"Gimana kalau kita naik bianglala dulu. Siapa tahu setelah selesai naik bianglala, antriannya sudah berkurang!" usul Andri.
Aku menoleh ke wahana bianglala yang memang antriannya terlihat sedikit.
Kami pun berputar haluan menuju bianglala. Ini kedua kalinya aku naik bianglala bersama dengan Andri.
"Bagaimana kalau kita menambahkan sebuah taman bunga di tengah-tengah wahananya nanti? Akan terlihat sangat bagus dilihat dari ketinggian seperti ini!" usulku saat kami tepat berada di puncak bianglala yang berhenti sejenak.
Aku mengernyit saat Andri malah menyatukan alisnya setelah aku mengutarakan ideku.
"Kenapa? Kamu tidak suka ideku?"
"Ah, bukan. Idemu bagus kok! Nanti kita akan membangun taman seperti usulanmu barusan!"
Setelah beberapa menit berputar, akhirnya bianglala pun berhenti.
Andri mengulurkan tangannya saat aku hendak turun dari kotak biang.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri," tolakku mengabaikan uluran tangannya.
Ternyata benar dugaan Andri. Antrian di Roller coaster sudah tinggal sedikit saat kami turun dari bianglala.
Kami pun mulai mengantri untuk naik Roller coaster.
"Aaakh!!!"
Terdengar teriakan kencang para pengunjung yang sedang naik Roller coaster.
Mendengar teriakan mereka, rasanya benar-benar menegangkan.
Aku tidak takut ketinggian, tapi ini pertama kalinya aku naik Roller coaster. Jadinya sedikit tegang.
Terlihat Roller coaster di depan kami mulai melambat dan akhirnya berhenti.
Kini giliran kami untuk menaikinya. Aku dan Andri duduk di bagian tengah.
"Kamu nggak takut kan?" tanya Andri menatapku.
"Nggak kok! Tenang aja!" ucapku mantap meskipun jantung terasa senam di dalam.
Dan Rollercoaster pun mulai berjalan pelan.
Awalnya kami semua tenang, sampai kemudian wahana ini mulai bergerak kencang. Suara teriakan dari pengunjung lain pun mulai terdengar.
"AAAAKKHH!" Aku berteriak kencang bersama dengan mereka.
Aku hanya berpegangan erat ketika wahana ini bergerak begitu kencang.
"AWAS NDRIII!" teriakku saat melihat sebuah benda aneh meluncur dari depan ke arah kami dengan cepat.
Aku dan Andri dengan cepat segera menghindar.
Plek!
Spontan aku dan Andri langsung menoleh ke belakang.
Mataku terbelalak melihat benda aneh tadi mengenai tepat di wajah pengunjung yang duduk di belakang kami.
"HOEEEK!" pengunjung itu langsung mual melihat sesuatu mengenai wajahnya.
Ya. Benda aneh tadi adalah muntah*an dari pengunjung yang ada di depan kami.
'HAHAHAHAH!" Aku dan Andri tertawa sekaligus ngeri melihat itu.
Untung bukan kami yang terkena muntahan itu. Hahaha.
Entah berapa lama Roller coaster ini terus bergerak cepat. Lama-kelamaan kepalaku jadi terasa pusing.
Aku tak lagi berteriak kencang saat merasakan perutku seperti diaduk-aduk. Apalagi aku kekenyangan setelah makan jajanan tadi.
Ah, andai tadi aku tidak makan terlalu banyak.
Aku hanya terus berpegangan erat sampai permainan selesai.
Setelah turun dari Rollercoaster, kepalaku benar-benar puyeng. Aku langsung duduk di bangku yang tak jauh dari sana.
"Kamu nggak papa?" tanya Andri yang ikutan duduk di sampingku.
"Iya, nggak papa," jawabku sambil mengatur nafas. "Sebaiknya untuk wahana rollercoaster kita nanti, durasinya jangan terlalu lama. Biar nggak ada efek pusing dan mual!" ujarku.
"Kamu mual?" tanya Andri. Aku hanya mengangguk lemas menjawabnya.
"Tunggu di sini sebentar ya, aku belikan kamu minum dulu!" Andri bergegas pergi meninggalkanku.
"Hmph!" refleks aku segera menutup mulutku yang seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perut.
Beruntung tak jauh dariku, ada tempat sampah. Aku langsung berlari ke sana dan mengeluarkan semua isi perutku.
"Ya ampun, kenapa Mbak?" tanya seorang Tante-tante yang sedang lewat.
Aku tak bisa menjawabnya karena belum selesai mengeluarkan semua isi perutku.
Aku menyesal sudah makan jajanan tadi.
Terasa tengkukku seperti dipijat seseorang. Rupanya Tante yang tadi.
Setelah semua isi perutku keluar, Tante tadi menuntunku duduk di bangku.
Ia memberiku tisu dan minyak kayu putih. "Hirup minyak kayu putihnya biar lebih rileks," ucapnya.
Aku hanya menurut dan mulai menghirup minyak kayu putih.
"Makasih Tante," ucapku. Terasa olehku ia juga mengoleskan minyak kayu putih di sekitar leherku.
"Harusnya kalau kondisi sedang seperti ini, Mbak jangan keluar rumah dulu," ucapnya memberi nasihat.
__ADS_1
Aku yang tak mengerti ucapannya hanya diam saja.
"Tapi, Mbaknya yang sabar ya. Biasanya setelah empat bulan keatas mualnya bakal hilang kok!"
Hah?! Kok lama banget?!
Aku menatap Tante itu dengan bingung.
Tapi Tante itu malah menatapku tersenyum.
"Mbaknya pasti bingung karena ini yang pertama ya Mbak? Tenang aja Mbak, untuk awal bulan emang pasti mual banget. Konsumsi buah-buahan untuk mengurangi mual," nasehatnya sambil tersenyum.
Tante ini ngomong apa sih?! Aku jadi tambah bingung!
Melihatku yang kebingungan, dia malah melebarkan senyumannya.
"Mbaknya pasti masih hamil dua bulan kan?"
"Apa? Hamil?!" aku terkejut mendengar pertanyaannya. "Aku nggak hamil Tante. Ini itu gara-gara naik--"
"Apa?! Jadi Mbaknya nggak tahu kalau lagi hamil?!"
Eh, kenapa malah jadi dia yang kaget?! Aku balik menatapnya melongo.
"Jadi Mbaknya belum pernah periksa?!" tanyanya lagi dengan intonasi yang sedikit tinggi.
Aku hanya diam karena perutku kembali terasa mual.
"Ya ampun.. Padahal udah muntah-muntah kayak tadi, tapi belum pernah periksa," ucapnya lagi.
Aku nggak hamil! Gimana bisa hamil, nikah aja belum!
Ingin aku teriak begitu, tapi kondisi tubuh tidak mendukung.
"Te, aku itu nggak hamil. Ini gara-gara naik--"
"Tisa, kamu kenapa?!" terdengar suara laki-laki yang tadi pamit beli air minum ke Arab Saudi, makanya lama.
"Masnya gimana sih! Istrinya lagi hamil masa ditinggal-tinggal!" semprot Tante itu.
"Apa?! Hamil?!" tanya Andri bingung.
"Aish! Ini pasti karena Masnya kurang perhatian, makanya nggak ada yang tahu kalau lagi hamil!" ucapnya lagi memarahi Andri.
"Waktu bercocok tanam aja seneng! Giliran kayak gini nggak ada peka-pekanya!" semprotnya lagi.
Andri terlihat menahan tawanya mendengar kata bercocok tanam.
"Mama!"
Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki menghambur memeluk Tante tadi.
"Eh, udah selesai main kuda-kudaannya?"
"Udah Ma. Beli eskrim yuk!"
"Iya, sebentar ya!"
Tante tadi bergantian menatapku dan Andri.
"Mbak, saya tinggal ya," ucapnya berpamitan padaku, lalu berganti menatap Andri. "Ingat, Masnya harus lebih perhatian! Kasian istrinya tadi muntah-muntah sendirian!"
"Siap Tante!" Andri mengangguk. Kentara sekali jika ia sedang berusaha menahan tawanya.
Sepeninggal Tante tadi, Andri langsung menyemburkan tawanya.
"BUAHAHAHA! Apa tadi katanya, hamil? Bercocok tanam?" Andri sampai tertawa sambil memegangi perutnya.
Sementara aku? Aku yang masih menahan mual hanya pasrah melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Kapan bercocok tanamnya, kok udah hamil aja? Gimana mau bercocok tanam, nikah aja belum!" serunya di sela-sela tawa.
Hilang sudah image coolnya melihat dia terbahak-bahak seperti ini.
________
Aku menghembuskan nafas panjang sebelum membuka pintu rumah yang sudah lama aku tinggal ini.
Beberapa detik lagi aku akan tahu sosok orang sinting itu.
"Tisa? Kok lama banget?" tanya Ayah yang menyambut kedatanganku.
Di depannya duduk sosok laki-laki yang membelakangiku.
"Kami sudah menunggumu dari tadi!" ucap Ayah lagi.
Tiba-tiba laki-laki tadi menoleh kearahku. Mataku membulat lebar melihat siapa dia.
__ADS_1
"Faiz?!"
BERSAMBUNG