KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Rumah Andri


__ADS_3

Pikiranku sedikit kacau setelah kejadian tadi. Bahkan dadaku masih terasa sesak jika teringat ucapan Andri yang meminta putus denganku.


Tapi aku berusaha bersikap profesional karena ini masih jam kerja.


"Sa, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu itu anaknya Pak Darma?" tanya Andri tanpa menoleh padaku sewaktu kami berjalan ke parkiran.


Aku memandangi punggungnya karena memang aku berjalan di belakangnya sambil membawa berkas untuk meeting.


"Kamu kan nggak nanya!" jawabku malas.


Apa itu pertanyaan yang penting setelah dia memutuskan hubungan denganku?!


"Lagi pula buat apa aku memberitahumu?!"


Seketika langkah Andri terhenti setelah ucapanku barusan. Langkahku pun juga ikut terhenti.


Andri menoleh ke belakang. Satu alisnya terangkat sambil menatapku. Aku mengernyit menatapnya.


"Iya juga sih, nggak penting juga!" ucapnya lalu melanjutkan langkahnya.


Secepat itukah sifatnya berubah? Kenapa Andri kelihatan nggak ada galau-galaunya sih?! Apa perasaan laki-laki langsung berubah setelah mereka putus? Haaaahh!


Kugelengkan kepalaku dengan cepat.


Sudahi galaumu Tisa! Mari fokus kerja dulu!


Kupercepat langkahku menyusul Andri. Aku mengernyit saat Andri menghampiri sebuah sepeda motor.


Nggak biasanya Andri bawa motor. Biasanya dia bawa mobil kalau mau meeting.


Tapi setelah kuingat-ingat lagi, hari ini tidak ada jadwal meeting.


"Ndri, bukannya meeting dengan Pak Herman itu besok ya?"


Andri terdiam sejenak menatapku.


"Tidak. Tadi pagi Pak Herman menelfonku dan mengubah jadwalnya," jawab Andri.


"Kenapa Pak Herman nggak nelfon aku? Biasanya dia kan menghubungiku dulu kalau dia ingin mengubah jadwal meeting."


"Apakah itu pertanyaan penting yang harus ditanyakan sekarang?" Andri malah balik bertanya. "Sudahlah, ayo cepat naik. Nanti kita terlambat. Lagi pula, Pak Herman sempat menelfonmu, tapi katanya hpmu tidak aktif."


Masa sih? Perasaan aku nggak matiin hp deh.


"Kenapa malah bengong? Buruan naik!"


Aku tersentak kaget dan langsung naik ke motor Andri sambil memeluk berkas yang dibutuhkan untuk meeting. Sengaja aku tidak membawa tas, karena tempat meetingnya hanya lima belas menit dari sini.


Baru sembilan menit menempuh perjalanan, tiba-tiba Andri menghentikan laju motor. Cuaca pun mulai gerimis.


"Kenapa berhenti?" tanyaku.


"Ada telfon," sahut Andri sambil mengeluarkan benda pipih dari saku celananya.


Perasaan aku nggak denger ada suara telfon.


Rintikan gerimis berubah menjadi hujan. Aku tolah toleh mencari tempat berteduh.


Persis di sebelah kiriku, ada ruko dengan tulisan 'Di Sewakan' terpampang besar.


Tanpa dikomando lagi, aku langsung berlari ke sana untuk berteduh. Meninggalkan Andri yang sedang mengangkat telfon.


Aku memeluk berkas dengan erat agar tak kehujanan.


Tahu gitu tadi aku bawa tas--


"Aakhh!!" kakiku terpeleset saat baru menginjak ubin keramik yang basah.


Hup!


Sebuah tangan menangkapku dari belakang.


Seketika waktu terasa berhenti ketika mataku bertemu dengan mata Andri saat dia menangkapku.

__ADS_1


Deg deg!


Tiba-tiba aku langsung teringat ucapannya ketika mengakhiri hubungan kami tadi membuatku langsung menegakkan tubuh dan menjauh darinya.


"Ehem!" Andri sedikit berdehem sambil membetulkan posisi jasnya. "Makanya, kalau jalan tuh hati-hati! Untung sempet ketangkap."


Aku hanya menjawab Andri dengan helaan nafas saja.


Tak ada perbincangan di antara kami. Hanya terdengar suara hujan yang semakin deras.


Andri membiarkan motornya diguyur oleh hujan.


"Gimana nih, hujannya makin deras aja," ucapku sambil menoleh ke Andri. "Sepertinya kita harus menghubungi Pak Herman, kalau kita akan sedikit terlambat datang ke kantornya." Aku mengeluarkan hpku dari saku.


"Nggak perlu," cegah Andri.


Alisku bertaut mendengar ucapan Andri. "Kenapa?"


"Meetingnya nggak jadi," sahutnya.


"Lho kok bisa?"


"Iya, yang barusan nelfon aku itu Pak Herman. Dia mengundur jadwal meetingnya."


"Padahal enam menit dari sini kita udah sampai ke kantornya lho. Kenapa kamu nggak bilang kalau kita udah dekat dan mau sampai ke kantornya?" protesku.


"Memangnya kamu mau menerobos hujan yang deras ini?" tanya Andri.


Aku kicep mendengar pertanyaannya. "Ya nggak juga sih. Tapi kan Pak Herman nggak bisa seenaknya maju mundurin jadwal--


BLEDARRR!!!


Suara petir menggelegar membuatku refleks menutup telinga. Bersamaan dengan itu sepasang tangan merengkuhku.


Tririring!!!


Andri langsung melepaskan pelukannya begitu hpnya berbunyi.


Aku masih mematung akibat kaget atas apa yang Andri lakukan barusan.


Kamu enak bilang maaf Ndri. Jantungku nih, udah mau loncat karena kamu permainkan!


"Halo?" jawab Andri sambil menempelkan benda pipih warna hitam itu ke telinganya. Dia sedikit menjauh dariku setelah membaca nama si penelepon.


"Iya, ini sedang berteduh karena hujannya deras."


Andri lagi telfonan sama siapa sih? Kenapa sampai menjauh segala?


Kupasang telingaku lebar-lebar, berusaha menguping pembicaraan Andri.


"Apa? Udah siap? ... Iya, sebentar lagi. Hujannya masih deras banget. Mama juga udah diceritain kan, tentang--" Andri memotong ucapannya dan menoleh kepadaku. "Kamu nguping ya?!" tuduhnya.


Aku gelagapan mendengar tuduhannya. "Apa kamu bilang? Aku? Nguping?" Aku tertawa sinis menyangkal tuduhannya. Berakting sebagus mungkin agar tidak kentara bahwa aku memang menguping pembicaraannya.


"Emangnya buat apa aku nguping? GR benget!" sahutku sambil membuang muka.


"Bagus deh kalau gitu!" Andri sedikit menjauh lagi dari posisiku berdiri dan melanjutkan pembicaraannya di telfon.


Hujan yang deras disertai angin membuat air hujannya menyiprat meskipun kami sudah berteduh. Kupeluk erat berkas agar tak basah.


"Percuma kita neduh! Kalau di sini terus, bakalan basah kuyup kita!"


Aku setuju dengan ucapan Andri barusan. Sepertinya dia sudah selesai berbicara di telfon.


"Tapi mau gimana lagi? Masa kita harus hujan-hujanan?! Basah dong, berkasnya!" sahutku sambil menunjuk berkas yang sedang aku dekap.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya!" ucap Andri yang langsung berlari menembus hujan.


"Kamu mau kemana Ndri?!" pekikku.


Terlihat Andri menghampiri sepeda motornya yang sedari tadi diguyur hujan.


Kemudian dia berlari lagi ke arahku sambil membawa sesuatu yang tadi dia ambil dari jok motornya.

__ADS_1


Andri menyerahkan benda itu kepadaku.


"Ini, pakailah!" ucapnya.


"Apa ini?" tanyaku.


"Udah tau ini jas hujan, masih pakek nanya. Udah buruan pakek, nanti hujannya makin deras. Kita nggak bisa di sini terus. Percuma, hujannya nyiprat. Bisa basah kuyup nanti kita."


"Kenapa nggak kamu aja yang pakek? Kan jas hujannya punya kamu. Kenapa harus aku yang pakek?!" tanyaku sambil menelisik wajah Andri.


Aku ingin tahu apa jawabannya. Kenapa Andri masih perhatian kepadaku?


"Kamu jangan GR ya! Aku nyuruh kamu yang pakek jas hujannya bukan karena aku perhatian sama kamu. Itu semua demi berkas yang ada di tanganmu itu. Supaya berkasnya nggak basah!"


Jadi cuma demi berkas?!


Jawaban yang sangat tidak kuharapkan!


"Lagian percuma juga kalau aku yang pakek jas hujannya. Bajuku juga udah basah gara-gara ngambil jas hujannya tadi!" ungkap Andri sambil menunjukan bajunya yang memang sudah agak basah.


"Lagian salah kamu sendiri. Kenapa tadi nggak nyuruh aku aja buat ngambil jas--"


"Sstt!!" Andri menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. "Nggak usah bawel. Buruan pakek!"


Segera aku menepis jari Andri dari bibirku. Gegas aku langsung memakai jas hujan itu dan menyelipkan berkas ke dalam jas hujan.


"Iket yang bener, biar airnya nggak masuk!" tangan Andri memakaikan penutup kepala jas hujan ke kepalaku.


"Aku bisa sendiri!" cegahku.


"Udah, diem. Hampir selesai nih!" ucap Andri yang membantuku mengikat tali yang ada di penutup kepala jas hujan.


Aku berusaha bersikap senormal mungkin agar Andri tak menyadari kegugupanku karena jarak kami yang begitu dekat.


Gimana mau move on kalau dia perhatian terus kayak gini?!


"Nggak usah salting gitu! Ini semua demi berkasnya supaya nggak basah!" ucap Andri kembali menyadarkanku.


"Siapa juga yang salting?!" sahutku membantah ucapan Andri. Ya kali aku ngaku.


"Lha itu, buktinya pipi kamu merah!"


Spontan aku langsung menggosok kedua pipiku.


"Mana ada?! Ini tuh karena aku pakai blash on!" sanggahku membuat Andri terkekeh kecil.


"Iya deh, iya. Terserah kamu," ucap Andri di sela-sela tawanya.


Aku hanya mencebik melihatnya menertawaiku.


"Inget ya Sa. Kita memang putus, tapi bukan berarti putus hubungan. Kita masih bisa berteman," ucap Andri sambil mengedipkan satu matanya.


"Yuk kita pergi dari sini!" ajak Andri dan langsung berlari ke sepeda motornya.


Aku pun ikut berlari menyusul Andri.


Kemudian motor melaju dengan kencang meninggalkan ruko tadi. Kami menerobos hujan yang masih saja deras.


Tak ada perbincangan di antara kami. Aku memandangi punggung Andri yang diguyur hujan. Badannya sudah basah kuyup.


Beberapa menit kemudian sepeda motor Andri mulai melambat dan akhirnya berhenti. Pertanda kami sudah sampai di tempat tujuan.


Tunggu! Ini bukan di kantor apalagi kos-kosan! Di mana ini?!


Di sepanjang perjalanan tadi aku banyak ngelamun. Jadi aku tak sadar kalau ternyata kami tidak kembali ke kantor.


Kupandangi lekat rumah megah yang ada di depanku. Seorang satpam membukakan pagar tinggi yang berdiri kokoh.


"Ndri, kok kita kesini?! Ini kan bukan kantor!" tanyaku pada Andri yang mengucapkan terima kasih kepada satpam karena telah membukakan pagar untuknya.


"Lah, ini memang bukan kantor. Ini rumahku!"


"Apa?! Rumahmu?!!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2