
Saat aku membuka mata, yang kulihat pertama kali adalah langit-langit kamarku.
Aku segera terduduk begitu teringat mimpiku barusan. Mimpi di dalam mimpi. Benar-benar menakutkan.
"Oh iya, aku kan harus berangkat kerja! Sepertinya ini sudah siang! Aku akan terlambat ke kantor!" segera aku bangkit dari tidurku dan bergegas membuka pintu kamar.
"Eh?"
Aku terkejut kala melihat Andri keluar dari kamarnya.
Lho, kenapa Andri belum berangkat ke kantor? Apa dia juga bangun kesiangan?
Wajah Andri terlihat begitu muram. Sepertinya dia habis mimpi buruk.
"Ndri, kamu juga bangun kesiangan ya?" tanyaku menyapanya.
Tapi ia malah mengabaikanku dan berlalu ke dapur.
"Ndri! Oi!" Andri tetap mencuekiku.
Dia kenapa sih? Apa dia marah sama aku? Tapi kan, bukannya aku ya yang dalam rangka pura-pura marah sama dia? Ini kok dia jadi ikutan marah sih?!
Segera kuikuti Andri yang masuk ke dapur.
"Ndri, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?" Andri tetap tak menjawab.
"Ndri, harusnya kan aku yang marah sama kamu! Kenapa kamu malah ikutan marah sih?!"
Andri yang cuek mengambil gelas, lalu mengambil air.
"Ndri!" kuraih lengannya yang hendak minum.
Mataku terbelalak saat tanganku menembusnya.
Ada ini? Kenapa tanganku...
Segera kuraih Andri kembali dan lagi-lagi hanya angin yang kusentuh. Berkali-kali kucoba hasilnya tetap sama.
"Ahaha. Sepertinya ini aku sedang bermimpi! Duuh, sebenarnya kapan aku bangunnya sih?!"
Tapi kenapa ini terasa sangat nyata?!
Tiba-tiba hp Andri berbunyi. Ia segera mengangkatnya.
"Halo Pit?" ternyata Pipit yang sedang menelfonnya.
"Maaf, aku tidak sempat mengabarimu," jawab Andri lagi. "Tisa masih belum sadar, ... iya "
Tunggu! Aku kenapa memangnya? Kenapa dia mengatakan aku belum sadar?!
Tiba-tiba kejadian malam hari di gang sepi waktu itu teringat kembali olehku.
"Nggak, nggak mungkin! Itu pasti cuma mimpi! Nggak!" air mataku tiba-tiba luruh ke pipiku.
Terlihat Andri juga menangis, ia terduduk lemas di kursi.
"Ndri, kenapa kamu menangis? Aku di sini Ndri!" Aku berusaha menggapai tubuh Andri. Tapi hanya angin yang kugapai.
__ADS_1
Seketika Andri bangun dan berjalan keluar dari dapur.
"Ndri, kamu mau kemana?! Jangan tinggalkan aku Ndri! Andri!"
Aku terus mengikuti Andri yang masuk kedalam mobilnya. Ia terus menangis sambil menyetir mobil.
Kini kami tiba di sebuah rumah sakit. Aku terus mengikuti Andri yang masuk kedalam sebuah ruangan.
Aku terhenyak mendapati tubuhku terbujur di ranjang dengan sebuah infus di tanganku.
Air mataku jatuh membasahi pipi.
Tidak! Kalau di sana itu adalah ragaku. Lalu, kenapa aku ada di sini? Kenapa jiwaku tidak ada di sana? Apa aku akan mati?
Andri duduk di sampingku. Dia menangis sambil terus memegang tanganku.
"Bangun Sa... Kamu pasti kuat! Ayo bangun. Bukankah kita akan menikah?!" ucapnya di sela-sela tangisan.
Kuusap punggung Andri untuk menenangkannya. Tapi yang kuusap hanya angin.
Tak lama, Ayah dan Bunda masuk ke ruangan ini. Mereka juga menangis, sama seperti Andri.
"Kau bilang, kau mencintaiku. Jadi kau harus segera bangun agar kita bisa menikah!" ucap Andri dengan sesenggukan.
Aku hanya bisa ikut menangis melihatnya. Bunda terlihat mengusap punggung Andri.
"Maafkan Ayah Sa. Jika saja Ayah tak merencanakan drama bodoh itu, mungkin sekarang kamu sudah menikah dan ini semua tak kan terjadi," ucap Ayah yang terlihat juga menangis.
Jika raga dan jiwaku terpisah, apa artinya aku akan mati?! Tidak! Aku bahkan baru bertunangan dengan Andri! Aku belum sempat merasakan kebahagiaan. Kenapa harus secepat ini!
Aku ingin segera bangun dan mengusap Air mata Andri!
"Mohon maaf, jam besuk habis. Kami akan memeriksa kondisi pasien," ucapnya memberitahu.
Andri bangkit dari duduk dan berjalan keluar ruangan.
Di ruang tunggu, ternyata ada Pipit dan Virman. Juga ada orang tua Andri.
Pipit terlihat menangis sesenggukan di pelukan Virman. Matanya terlihat bengkak.
"Sudah, jangan menangis. Tisa pasti akan bangun, jangan menangis terus. Kau kan sahabatnya, kau yang tahu kalau Tisa itu perempuan yang kuat. Dia pasti akan segera bangun," ucap Virman sambil mengusap punggung Pipit.
Semua orang menangis. Air mataku juga tak berhenti mengalir.
Kulihat Bunda juga sesenggukan menangis di dekapan Ayah. Mata wanita yang melahirkanku itu juga terlihat bengkak.
"Bunda..." Aku berusaha memeluknya. Tapi lagi-lagi hanya angin yang kupeluk.
Waktu terasa begitu cepat. Saat ini matahari telah digantikan oleh bulan. Kini di rumah sakit tinggalah Andri, Ayah dan Bunda.
Andri tertidur sampingku dengan posisi duduk dan membungkuk. Kepalanya direbahkan di samping tanganku yang ada di genggamannya.
Sudut matanya mengeluarkan air mata. Ingin sekali aku menghapus air mata itu.
Aku berjalan ke arah Bunda yang tertidur di sofa dalam keadaan duduk. Punggungnya menyender di sandaran sofa.
"Maafkan Tisa Bunda. Tisa belum bisa jadi anak yang baik."
__ADS_1
Kusenderkan kepalaku di pundaknya, meskipun pada akhirnya aku tak bisa benar-benar bersender karena aku hanya menembusnya.
Aku terkejut saat tanganku berubah menjadi sedikit transparan.
"Ada apa ini?! Kenapa tanganku menjadi transparan?!" Aku panik sambil menatap tanganku.
"Apa aku akan menghilang dan mati? Tidak! Aku ingin bangun! Bunda! Ayah! Andri! Tolong aku! Andri!" kuraih Andri dengan tanganku yang semakin transparan.
Aku menangis sejadi-jadinya karena tak ada yang bisa mendengarku.
Segera aku merebahkan diri di ragaku. Aku berusaha untuk menyatu lagi dengan ragaku. Tapi tetap saja tidak bisa.
Aku menangis dan meraung. Apalagi kini tubuhku semakin tak terlihat.
"Andriii!!"
Tiba-tiba saja aku berpindah ke suatu tempat. Semuanya putih di sini. Entah kenapa perasaanku jadi lebih tenang setelah berpindah ke sini.
Aku terus berjalan tak tentu arah. Entah sudah berapa lama aku berjalan. Sejauh kakiku melangkah, hanya putih yang terlihat.
Aku juga tak merasa lelah meski sudah sangat lama berjalan. Sampai pada akhirnya, aku melihat pintu yang bercahaya.
Aku yang penasaran perlahan berjalan ke pintu itu.
"Tisa!"
Aku menoleh ke belakang kala mendengar suara Andri memanggilku.
Ternyata benar, terlihat Andri berlari ke arahku.
"Tisa! Kamu mau kemana?!" tanyanya.
"Aku mau ke sana!" tunjukku pada pintu tadi.
"Tidak boleh!" tegas Andri.
Aku mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Kau bilang, kau mencintaiku?" tanya Andri.
"Iya! Aku mencintaimu Ndri! Tapi aku ingin kesana!"
"Tidak Sa! Kau tidak boleh pergi! Kau harus ikut denganku! Kita akan menikah!" ucap Andri lagi.
Aku tersenyum menatapnya. "Benarkah?"
"Iya," Andri mengangguk. "Makanya, kau harus ikut denganku!" ucapnya seraya mengulurkan tangannya padaku.
Saat aku ingin meraih tangannya, aku merasa ragu dan kembali menoleh pada pintu tadi.
"Ndri, aku mencintaimu! Tapi aku akan ke sana!" Aku tersenyum dan berbalik. Berjalan menuju pintu tadi.
"Tidak Sa! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" teriak Andri.
Tapi entah kenapa, saat aku semakin mendekat ke pintu itu aku semakin merasa damai.
"Jangan tinggalkan aku Sa! Tisaaa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG