
Sepeninggal Abang tukang bakso, sudah ada lima orang yang beli bakso dariku termasuk Andri.
Aku tersenyum menenteng bakso gratisku dan kembali ke kosan setelah Abang bakso kembali.
Aku langsung ke dapur untuk menuang bakso ke mangkuk.
"Bunga dari siapa nih?!"
Mataku langsung melotot melihat Pipit yang menyusulku ke dapur sambil membawa bunga dari Andri.
Gawat! Jangan sampai Pipit tahu kalau bunga itu dari Andri!
"Nggak mungkin banget kalau kamu yang beli bunga ini. Ayo ngaku! Bunga dari siapa ini?!" tanya Pipit mengintrogasiku.
Seketika membuatku memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat dan benar agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
"Kamu bukan tipe orang yang akan membeli bunga. Aku tahu kamu Tis! Kamu akan lebih membeli sesuatu yang bisa dimakan ketimbang yang beginian!" ucap Pipit sambil mengacungkan bunga itu kepadaku.
Glek!
Seketika pikiranku buntu tak bisa menemukan jawaban.
"A-aku memang lebih suka cilok daripada bunga. Tapi tadi pas di lampu merah ada anak kecil yang jual nih bunga. Karena kasihan, makanya beli!"
Kulihat ekspresi wajah Pipit yang masih tampak ragu dengan jawabanku. Matanya menyipit, seolah-olah dia sedang membaca kejujuranku.
Aku nggak bohong kan. Bunga itu memang dibeli pas di lampu merah tadi. Hanya saja aku tidak menyebut kalau Andri yang membelinya.
Mata Pipit masih terus saja menyipit.
"K-kalau kamu mau, ambil aja!"
ALLAHUAKBAR!!
Kaget kali aku melihat Andri yang tiba-tiba nongol di ambang pintu dapur. Dia menatap bunga yang ada di tangan Pipit dengan ekspresi sedih.
Sepertinya dia mendengar ucapanku yang menyuruh Pipit untuk mengambil bunga itu.
Aish! Andri kenapa pakek masang ekspresi sedih segala sih?! Lagian kan tadi aku udah nolak dikasih bunga. Harusnya dia nggak sedih dong kalau aku ngasih bunga itu ke orang lain.
Andri terus menatapku dengan ekspresi sedihnya.
Haihs! Gara-gara wajah sedihnya itu aku jadi merasa bersalah!
Aku segera meraih bunga mawar itu dari tangan Pipit. "Nggak jadi deh Pit. Jangan diambil bunganya!"
Sontak, wajah Andri langsung berubah tersenyum.
"Ck. Gimana sih Tis?! Tadi dikasih, sekarang nggak jadi!" cibir Pipit dengan cemberut.
"Yaudah sih, cuma bunga doang. Nih bakso kamu! Kita makan di kamar aja ya," ucapku sambil menyodorkan mangkuk ke Pipit.
Pipit meraih mangkuk dariku dan berbalik badan hendak keluar dari dapur.
"Eh, Andri! Ngapain berdiri di situ sambil senyum-senyum sendiri?" tanya Pipit setelah mengetahui keberadaan Andri.
"Ahaha. Senyum kan ibadah!" Andri melangkah masuk ke dapur.
__ADS_1
Aku menarik Pipit untuk berjalan keluar. "Ayo Pit, kita makan baksonya. Nanti kuahnya keburu dingin."
"Oh iya, yuk!" akhirnya Pipit keluar dari dapur.
Saat aku ingin keluar juga, Andri mencekal tanganku. "Tunggu Sa!"
"Ada apa?"
"Tunggu sebentar ya!"
Andri meraih botol minuman yang ada di meja dapur. Dia membuang airnya yang masih tinggal seperempat botol. Kemudian dia menggunting botol itu menjadi setengah bagian.
"Sini bunganya."
Aku memberikan bunga itu ke Andri.
Andri mengisi botol itu dengan air, kemudian ia memasukkan bunga mawar itu kesana.
"Dengan begini, bunga yang kuncup ini akan mekar. Ini!" Andri memberikan bunga itu kepadaku.
"Kenapa dikasih ke aku? Kau sendiri bisa merawat bunga itu. Jadi bunga itu untukmu saja!"
"Tisa! Kenapa kau lama sekali di dapur?!" tiba-tiba Pipit nongol di ambang pintu.
"Ah, rupanya Andri sedang membuatkan tempat untuk bungamu ya. Makasih ya Ndri. Sini aku bantu membawanya ke kamar!" Pipit meraih bunga yang sedari tadi Andri sodorkan padaku.
"Makasih ya Pit," ucap Andri.
"Kebalik, Tisa tuh yang harusnya ngomong terimakasih sama kamu!"
"Ayo Tis, ngapain bengong?! Ntar keburu dingin baksonya!" Pipit menarikku pergi dari dapur. Meninggalkan Andri yang tersenyum penuh kemenangan.
________
Di pagi hari, aku terbangun dengan mencium semerbak bunga mawar.
Awalnya aku ketakutan dan tidak berani membuka mata. Kata orang-orang kan kalau kita mencium bau bunga, konon katanya ada hantu di sekitar kita.
Eh? Tapi kan biasanya kalau hantu wangi bunga kantil. Sedangkan ini wangi bunga mawar!
Aku membuka mataku lebar-lebar. Netraku menyapu ruangan persegi ini dan tidak menemukan keberadaan hantu yang aku pikirkan tadi.
Aku menepuk dahiku saat menemukan bunga mawar yang telah mekar di sudut jendela kamarku.
Yaelah! Aku lupa kalau punya bunga mawar!
Aku mendekat ke bunga mawar itu. Bunga yang kemarin masih kuncup, sekarang sudah mekar.
Ternyata wangi juga ya!
Aku mendekatkan hidungku ke bunga itu. Menghirup dalam-dalam wangi bunga mawar yang telah mekar mekar ini.
Wangi!
Sedetik kemudian sesuatu masuk ke hidungku. Sontak aku langsung menjauhkan hidungku dari bunga itu.
"Hfg! Hfg!" Aku berusaha mengeluarkan sesuatu yang masuk ke hidungku tadi. "Hfg!!!" Serangga kecil tersembur keluar dari hidungku.
__ADS_1
Heeeghh! Dasar! Baru juga aku memuji wangi. Eh malah ada serangganya!
Byuur!
Ketika aku hendak berdiri, aku malah menyenggol botol yang berisi bunga mawar itu. Alhasil, airnya malah tumpah ke lantai.
Heeeghh! Aku memang tidak cocok merawat bunga!
Aku meraih dua tangkai bunga itu dan keluar dari kamar hendak melemparnya ke tong sampah yang ada di luar.
"Mau diapakan bunganya Sa?"
Aku langsung menghentikan langkahku ketika mendengar suara Andri. Ketika aku menoleh, ada Andri yang baru keluar dari kamar mandi.
Bunga yang tadi aku angkat tinggi-tinggi, dan hendak melemparnya ke tong sampah yang hanya berjarak tiga meter, kembali aku turunkan.
Jangan sampai Andri tahu kalau aku ingin membuang bunga ini! Bisa-bisa dia kecewa! Eh? Kenapa juga aku peduli dengan perasaannya?!
"Sa?" Andri kembali memanggilku.
"Ahaha. Enggak, ini lho.. Aku hanya mengagumi keindahan bunga mawar ini. Aku baru tahu kalau bunga lebih indah dari cilok!" ucapku ngawur sambil memandangi bunga yang ada di tanganku.
Andri terlihat bingung mendengar ucapanku.
"Kan, bunga mawar sama cilok bentuknya emang beda Sa," ucap Andri bingung.
"Ahaha. Iya, aku tahu!" Ayo otak, cepetan mikir! Cepet cari topik untuk mengalihkan pembicaraan! "Oh iya Ndri! Hari ini kan kita ada janji untuk survey ke hotel yang hendak kita ajak kerja sama!! Karena janjiannya pagi, aku harus cepet-cepet mandi! Udah dulu ya, by!" Aku segera masuk ke kamar meninggalkan Andri.
Aku mengintip Andri dari balik korden kamarku.
"Oh iya-ya. Janjinya kan pagi ini. Aku juga harus siap-siap nih!" terlihat Andri buru-buru masuk ke kamarnya.
Haahh, syukurlah aku bisa mengalihkan pembicaraan.
________
Dengan buru-buru aku masuk ke kantor. Aku melihat jam dari hpku.
Hmh.. Kalau aku tahu angkotnya bakalan lama, tahu gitu tadi aku nggak nolak waktu diajak bareng Andri berangkat ke kantor! Untung aku nggak telat!
"Tis!" panggilan seseorang mencegat langkahku.
Pak Yosua berlari menghampiriku. Tangannya menenteng paper bag.
Aku mengernyit saat dia menyodorkan paper bag itu kepadaku.
"Ini, baju kamu kemarin ketinggalan di rumah."
Sontak semua karyawan yang sedang lalu lalang hendak masuk ke kantor langsung berhenti dan menoleh ke arahku dan Pak Yosua. Mereka langsung berbisik-bisik.
"Sudah kuduga kalau mereka pacaran! Buktinya Mbak Tisa nginap di rumah Pak Yosua!" terdengar bisik-bisik itu dari belakangku.
"Iya, kamu benar!"
Aduh! Salah paham lagi deh!
BERSAMBUNG
__ADS_1