
"Gimana kabar Virman? Dia nggak selingkuh lagi kan?!" tanyaku ke Pipit.
"Aman! Dia udah nggak selingkuh lagi." Pipit memberi jeda ucapannya, dia menelan cilok yang sedang ia kunyah.
"Tapi emang dasarnya tuh cewek gatel! Masa kemarin dia chat Virman ngajak ketemuan. Langsung aja aku blokir nomornya dari hp Virman." Pipit kembali menyuap cilok ke mulutnya.
Aku hanya menelan salivaku melihat cilok di tangan Pipit. Kelihatannya enak banget.
"Pit, kamu beli cilok kok cuma buat dimakan sendiri sih?! Cilok buat aku mana?! Bertamu ke kosan orang kok nggak bawa oleh-oleh!"
"Buset dah! Dimana-mana, tamu itu dijamu. Bukan malah menjamu!" sahut Pipit.
Aku hanya memutar bola mata mendengar ucapannya.
"Eh Tis! Kamu lupa ya. Kamu masih punya hutang sama aku!"
"Hah? Hutang? Perasaan aku nggak pinjam uang sama kamu!"
"Bukan hutang uang, tapi hutang penjelasan! Kamu belum jelasin ke aku tentang kamu dan Andri di kafe tadi. Kapan kamu jadian sama Andri?! Kenapa kamu nggak cerita ke aku?!"
Yaelah, kirain utang apa!
"Nggak ada yang perlu dijelasin! Aku dan Andri itu nggak pacaran! Aku dipecat dari kafe. Kemudian Andri menawariku kerja di perusahaan tempat dia kerja. Tadi itu kebetulan aku pulang bareng dia."
"Lalu kenapa kamu datang ke kafe yang sedang promosi untuk untuk pasangan kekasih?!"
"Waktu itu di lampu merah ada yang promosi tentang kafe itu. Ada kesempatan bagus makan es krim dengan bayar setengah harga, kenapa kita harus melewatkan? Kan lumayan."
"Yaaah, kirain kamu pacaran sama Andri." Wajah Pipit terlihat kecewa mendengar penjelasanku.
"Akhirnya setelah sekian lama kamu kerja di perkantoran lagi ya. Lalu gimana dengan Ayahmu? Karena kerja di perkantoran, tidak menutup kemungkinan kamu akan bertemu dengan Ayahmu kan?!"
Mendengar perkataan Pipit, aku jadi teringat kalau besok akan meeting dengan Ayah.
"Nah itu!! Malahan aku besok akan meeting dengan Ayah!! Gimana ini Pit?!!"
Harap-harap, dia bisa memberiku solusi.
"Kamu besok ijin nggak masuk aja. Pura-pura sakit."
"Nggak bisa! Sebelumnya aku sudah menggunakan alasan itu untuk nggak ketemu sama Ayah!!"
Ekspresi Pipit terlihat sedang berpikir keras.
"Gimana kalau kamu pakek masker? Kalau ditanya kenapa pakek masker, bilang aja sedang pilek."
Sepertinya itu ide yang bagus!
"Kalau perlu, pakek kacamata juga!"
"Ide kamu bagus Pit! Kalau gitu kita beli masker sekarang yuk!"
Aku pun mengajak Pipit pergi ke Indomaret untuk beli masker.
Baru juga keluar dari Indomaret, tiba-tiba seorang cewek menghampiri kami.
"Wah, nggak nyangka ya kita bisa bertemu di sini," ucap cewek itu.
Aku menatapnya dan mengernyit bingung.
__ADS_1
Siapa dia? Aku nggak kenal!
Aku memperhatikan tatapan cewek itu. Ternyata tatapan matanya mengarah ke Pipit.
"Hemh! Masih cantikan aku. Pantas aja Virman selingkuh sama aku!" ucapnya lagi yang membuatku darah tinggi.
Jadi dia, selingkuhannya Virman?!
"Hmh! Merebut pacar orang aja bangga! Kalau kamu memang merasa cantik, harusnya kamu bisa dong, cari cowok yang nggak punya pacar. Tapi kenapa kamu malah merebut pacar orang?!!" sahutku kesal.
"Makanya Mbak, kalau gatel itu digaruk! Biar nggak tambah kegatelan!!" ucapku lagi.
Aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang kesal.
"Kau!!" cewek itu menunjuk wajahku.
Pipit langsung maju di depanku, menghalanginya yang sedang menunjuk mukaku.
"Kau tahu, salah satu ciri wanita tidak laku adalah menjatuhkan pilihan terakhir pada pacar orang karena jika memang laku tentu akan ada pria single yang bisa mengambil hatinya," ucap Pipit dengan penuh penekanan.
Cewek itu terlihat semakin kesal.
"Heeghh!! Berani-beraninya kau mengatai aku tidak laku!!"
"Aaakhh!!!" Pipit berteriak saat cewek itu menjambak rambutnya.
"Heeghh!!!" Pipit balas menjambaknya.
"Aarrghh!!" cewek dengan kulit sawo matang itu berteriak kesakitan.
Kemudian mereka mulai saling jambak-jambakan.
Hmm, mulai deh!! Kenapa sih kalau cewek berantem selalu jambak-jambakan?! Mereka mau iklan shampo ya?!
Pipit terlihat tambah semangat dan terus menjambak rambut cewek itu.
Lagi-lagi cewek itu berteriak saat Pipit mencakar wajahnya.
Aku tertawa saat bulu mata palsu yang digunakan cewek itu sampai copot setelah Pipit mencakar wajahnya.
"Ahaha!! Lanjut terus Pit!!" teriakku.
"Stoop!! Hentikan!! Jangan buat keributan di sini!" tiba-tiba cowok penjaga Indomaret keluar dan menghampiri kami.
"Dia yang mulai duluan Mas!" cewek itu menunjuk Pipit
"Enak aja!! Kamu tuh yang mulai duluan!" teriak Pipit.
"Kamu!!" cewek itu berteriak.
"Kamu!" teriak Pipit lagi tak mau kalah.
"Kamu!!!"
"Stop! Stop!! Kenapa kalian malah bertengkar lagi?!!" teriak penjaga Indomaret menengahi.
"Kalau kalian masih tetap mau ribut, sebaiknya kalian pergi dari sini!!"
Kami pun hanya bisa bubar mendengar penjaga Indomaret mengusir kami.
__ADS_1
________
Hari ini aku pergi ke kantor dengan memakai masker.
Sebelum berangkat ke kantor tadi, Pipit sedikit merias wajah dan mataku agar Ayah tidak mengenali mataku.
"Kenapa kamu memakai masker?" tanya Andri yang baru masuk ke ruangan.
"Iya, aku pilek."
"Hah? Pilek?! Mulai kapan kamu pilek?! Kamu udah minum obat belum?!"
Aku memutar bola mata mendengar perkataannya.
Kenapa dia selalu menyuruhku untuk minum obat sih?!
________
Setelah meeting pertama selesai, akhirnya aku dan Andri pergi ke sebuah kafe, tempat untuk meeting dengan Ayah.
Aku deg-degan menuggu kedatangan Ayah.
Gimana kalau nanti ternyata Ayah mengenali aku?!
Aku merasa tidak tenang. Aku terus mengetukkan jari ke meja.
"Kamu kenapa Sa? Kok kayaknya kamu gelisah?" tanya Andri.
Sepertinya dia menyadari kegelisahanku karena aku terus-menerus mengetukkan jari ke meja.
"Ahaha. Aku nggak papa kok! Aku hanya sedikit gugup karena mau meeting. Bukankah kamu bilang dia CEO perusahaan terkemuka?"
Andri sedikit tertawa kecil mendengar ucapanku. "Kamu tenang aja Tisa. Jangan gugup, ada aku di sini."
Aku hanya mengangguk mendengar perkataan Andri.
"Oh iya Sa. Dokumen untuk meeting dengan Pak Darma mana? Aku mau cek lagi."
Aku pun membuka map yang kubawa untuk mengambil dokumen yang Andri maksud.
Aku sangat terkejut mendapati map yang kubawa kosong.
Gawat!! Gara-gara terlalu fokus dengan penyamaranku, aku sampai membawa map yang kosong!
"Ndri, aku membawa map yang salah. Ternyata map yang kubawa kosong! Aku akan kembali ke kantor dan segera mengambilnya. Mumpung Pak Darma masih belum datang!"
Untung letak kafe ini pas di depan kantor. Jadi aku hanya perlu menyeberang jalan untuk sampai ke kantor.
"Sa, biar aku aja yang ambil. Kamu tunggu di sini." Andri mencekal tanganku yang hendak pergi.
"Udah Ndri, nggak papa. Biar aku aja yang ngambil. Lagian dokumen itu ada di meja kerjaku."
Aku pun balik ke kantor untuk mengambil dokumen itu.
Setelah mengambil dokumen, aku bergegas kembali ke kafe.
Tepat setelah aku kembali, Ayah datang. Aku berkeringat dingin saat Ayah menyalami Andri, kemudian beralih menyalamiku.
Saat berjabat tangan denganku, Ayah tak kunjung melepaskan tangannya. Dia menatapku lekat-lekat.
__ADS_1
Kenapa Ayah menatapku seperti itu?! Apa dia mengenaliku?!!
BERSAMBUNG