
[ Ahahaha! ] lagi-lagi dia tertawa, tawa yang terdengar sangat menjengkelkan.
[ Cinta? Apa itu Cinta?! Jangan konyol! Kau pikir kau bisa hidup hanya dengan makan cinta? Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi segalanya butuh uang! Menikahlah denganku! Dengan begitu perusahaan kita akan menjadi perusahaan terbesar! ]
"Kau yang konyol! Aku tak mau menikah denganmu!"
Klik!
Kumatikan telfon secara sepihak.
"Dasar sinting!" umpatku menatap provil kucing putih itu.
Tring!
Sebuah pesan masuk, dari orang sinting tadi.
[ Temui aku di kafe yang dulu. Mungkin aku bisa mempertimbangkan permintaanmu untuk membatalkan perjodohan ini! Mungkin! Kalau kamu nggak datang, aku anggap kamu menyetujui perjodohan ini! ]
"Aish!! Siapa dia seenaknya mengaturku!" Kutendang-tendang selimutku dengan kesal. "Heegh! Dasar orang sinting! Awas aja besok pas ketemu!"
Rupanya menghadapi orang sinting juga bisa menguras banyak tenaga.
Aku yang lapar memutuskan untuk pergi ke dapur lagi, dimana Andri masih setia duduk di kursi dapur sambil senyum-senyum nggak jelas, persis seperti tadi.
Gegas aku memasak air untuk membuat mie instan.
"Hihihihi.."
Aku menoleh ke Andri yang tiba-tiba terkikik nggak jelas sambil menatap benda pipih di tangannya.
Dia pun berhenti terkikik saat aku menoleh menatapnya.
Entah kenapa saat kesal gini mendengar orang tertawa jadi terasa tambah kesal.
"Hihihihi.." lagi-lagi Andri terkikik.
"Apanya sih yang lucu?!" tiba-tiba aku keceplosan protes karena saking kesalnya mendengar dia cekikikan nggak jelas. Mengingatkanku pada tawa menjengkelkan orang sinting tadi.
"Dih, kok marah lho.. Orang aku ketawa sendiri!" timpal Andri heran. "Situ yang kenapa? Baru masuk tiba-tiba marah. Lagi pms ya?"
"Tau ah!" Aku tak menjawabnya dan memilih fokus pada mie instanku.
"Tuh kan! Kek nya beneran lagi pms deh!" seru Andri. "Aku masuk ke kamar aja deh, ketimbang nanti malah kena semprot lagi!" Andri berlalu keluar meninggalkanku sambil kembali cekikikan tak jelas.
________
Entah jam berapa sekarang. Suara nyaring dari hpku yang terus berdering membuatku terbangun.
Karena lama tak langsung kuangkat, akhirnya nada dering itu berhenti. Aku pun kembali terlelap tidur.
Triririring!
Nada dering hpku kembali berbunyi membuatku menghela nafas panjang.
Dengan mata yang masih terpejam kuraba letak hp dan menaruhnya di telinga.
"Halo?" ucapku dengan serak khas orang bangun tidur.
[ Kau masih tidur?! ] tanya seseorang dari seberang sana.
"Siapa ini?" tanyaku.
[ Hmh! ] terdengar dia menghela nafas kesal. [ Rupanya kau tak menyimpan nomor ya?! ] serunya dengan nada mengintimidasi.
Seketika aku langsung terduduk bangun menatap layar hp.
"Rupanya orang sinting itu!" gerutuku.
__ADS_1
[ Apa?! Kau menyebutku apa?! ]
"Ah, tidak. Aku tak bilang apa-apa!" sanggahku bohong.
[ Kamu nggak lupa kan nanti kita ketemuan di kafe?! ]
"Iya, tenang aja. Aku nggak lupa kok!"
[ Oke! ]
Klik!
Telepon dimatikan sepihak olehnya.
"Hah?! Dia meneleponku cuma untuk menanyakan itu?! Ini bahkan masih jam setengah empat pagi!" kesalku yang menyadari jam berapa sekarang. "Nggak jelas banget!" Aku pun mencoba untuk kembali tidur.
"Aish! Dasar sinting!! Kantukku jadi hilang gara-gara dia!! Aku jadi nggak bisa tidur!! Aarrgg!!" aku berguling-guling kesal di kasur.
________
Tring
Tring
Tring
Rentetan pesan terdengar masuk ke hpku namun aku tetap mengabaikannya karena sibuk mengatur jadwal meeting untuk Andri.
Nada dering pesan kembali berentetan masuk. Agaknya itu mengganggu Andri karena detik berikutnya aku mendengar protesnya.
"Ada apa dengan hpmu hari ini?! Berisik sekali!"
"Ah, maaf kalau itu mengganggumu. Aku akan menggantinya menjadi mode hening."
"Mendengar hpmu yang terus berisik, sepertinya kau sudah punya penggantiku!" seru Andri yang membuatku seketika mendongak menatapnya.
"Apa maksudmu?!" tanyaku tak terima karena aku bahkan masih belum move on darinya.
"Nggak usah pura-pura, kau pasti tahu maksudku bukan?" ujar Andri sambil keluar dari ruangan.
Aku pun mengabaikannya dan memilih fokus dengan kerjaanku.
Tak lama kemudian hpku kembali berdering.
Saat kulihat layar hp, tertulis 'Orang Sinting' di sana.
Ya. Aku menyimpan nomornya dengan nama itu. Nggak salah kan? Aku memang tak tahu namanya.
Aku pun menekan tombol hijau untuk menerimanya.
[ Temui aku siang ini! ]
Tanpa kata sapaan dia langsung mengatakan itu. Benar-benar orang yang kaku.
"Nggak bisa sekarang, nanti sore aja," tolakku. "Aku sekarang lagi kerja!"
[ Itu urusanmu, bukan urusanku! Yang jelas, jika kamu nggak datang berarti.. ]
"Aish! Aku nggak bohong! Aku beneran lagi kerja!" ujarku yang hampir saja berteriak saking kesalnya.
Kentara sekali kalau dia tipe orang yang pemaksa. Nggak kebayang kalau aku nikah sama dia.
Hening beberapa saat sampai dia kemudian kembali bersuara.
[ Ya udah, temui aku di kafe dekat kantormu siang ini pas jam istirahat! ] ucapnya yang seolah mendikteku. Otoriter banget!
"Memangnya kamu tahu alamat kantorku?"
__ADS_1
[ Tentu saja aku tahu! Aku tahu semua hal tentangmu. Aku bahkan juga tahu kalau kamu baru putus. ]
Aku terkejut mendengar jawabannya.
[ Nggak usah terkejut gitu! ] serunya yang seolah tahu kalau aku sedang terkejut.
[ Jangan sampai terlambat. Aku tak suka menunggu! ]
Klik!
Aku mendelik menata layar hp.
Sepertinya mematikan telfon saat lawan bicara belum selesai ngomong adalah kebiasaannya.
"Higggh!" Ingin kupites rasanya dia.
Aku selalu kesal setiap mendengarnya bicara. Nadanya seolah-olah memberitahu bahwa dia tak menerima kata penolakan.
________
"Siang ini ada acara meeting di kafe dekat kantor kan?" tanya Andri ketika jam istirahat tiba.
"Iya."
"Sekalian aja kita makan siang di sana lalu lanjut meeting."
"Tapi--" Aku ingin menolak namun Andri malah fokus ke hpnya yang terlihat seperti sedang menghubungi seseorang.
"Halo Indah," ucapnya.
Rupanya dia sedang menelfon Indah.
"Sibuk nggak? Makan siang bareng yuk? Di kafe dekat kantorku."
Duhh, padahal aku mau ketemu sama orang sinting itu. Gimana kalau Andri liat?
Setibanya di kafe aku dan Andri memilih tempat duduk masing-masing. Ya. Kami memilih tempat duduk yang terpisah.
Karena niatku kan mau ketemu sama seseorang. Lagi pula, mana mungkin aku satu meja dengan Andri yang nantinya akan makan siang sama Indah?!
[ Aku udah ada di kafe! ] kutekan tombol kirim untuk memberitahu seseorang.
Lama tak ada jawaban. Hingga aku memutuskan untuk memesan makanan.
[ Kamu dimana? ] pesan kukirim lagi kepadanya.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Lama aku menunggu jawaban darinya. Hingga makanan yang kupesan datang pun tak ada balasan darinya.
[ Katanya kau tak suka menunggu, tapi kenapa kau membuat orang lain menunggu?! ] aku mengetik dengan sedikit menekan-nekan layar hp karena kesal.
Kembali tak ada jawaban. Akhirnya aku menekan tombol telfon.
Triririring!
Dari seberang mejaku malah hp Andri yang berdering. Nampak ia sedang melihatku dengan tatapan aneh.
Aku yang tak mengerti dengan tatapannya itu akhirnya mematikan panggilan, disusul dengan hp Andri yang ikut tak berdering.
Lalu aku kembali menekan tombol telfon.
Triririring!
Hp Andri kembali berdering nyaring.
"Loh, kok?!"
BERSAMBUNG
__ADS_1