KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Penghuni Baru Lagi


__ADS_3

Aku pun segera membuka aplikasi hijau di hpku.


Dengan segera aku langsung mengunduh foto yang dikirim olehnya tadi siang.


Dan setelah loading beberapa saat, aku terbelalak menatap foto di layar hpku.


"Apa?! Ini kan Naruto!"


Aku memandang lekat foto Naruto di hpku. Rupanya dia sedang mempermainkanku.


Kutekan tombol telfon. Ingin sekali aku mengumpat. Tapi detik berikutnya hpku malah mati kehabisan baterai.


"Hiighh! Bikin kesel aja!"


Aku keluar dari toilet sambil menghentak-hentakkan kakiku. Kuhampiri Andri yang masih setia berdiri di tempat aku meninggalkannya tadi.


"Kok lama banget sih?" tanyanya. "Kamu--" ucapannya terhenti, mendadak dia meneliti wajahku. "Kamu sembelit ya?" tanya Andri pada akhirnya.


"Aish! Sembelit dari mananya? Orang aku tadi cuma buang air kecil kok!"


"Ya habisnya, ekspresi wajahmu jadi seperti itu setelah keluar dari kamar mandi. Dan lagi kamu ke kamar mandinya lama banget. Aku pikir kamu sembelit," ucap Andri sambil nyengir.


Sementara aku hanya meliriknya kesal.


"Udah sore nih, pulang yuk!" ajak Andri yang kujawab dengan anggukan kepala.


________


Dari dulu aku bertanya-tanya dimana Andri memarkirkan mobilnya ini.


Dan ternyata Andri menitipkan mobilnya di pekarangan rumah Ibu kos.


"Andri," panggilku ketika ia baru saja mematikan mesin mobilnya.


"Ya?" Andri menoleh menatapku.


"Setelah aku pikir-pikir, kamu kan udah setuju dengan perjodohanmu sama Indah, terus kenapa sekarang kamu nggak pulang ke rumah aja? Alasan kamu ngekos karena kamu dulu nggak setuju dengan perjodohan itu kan?" tanyaku penasaran.


Andri terdiam sejenak.


"Aku udah terlanjur bayar uang kos beberapa bulan. Rugi kalau aku tiba-tiba keluar dari kos. Uangnya juga nggak bakal kembali," jawaban Andri membuatku tergelak.


"Ndri, kamu kan direktur. Banyak duit. Masa cuma keluar uang segitu aja dibilang rugi?"


"Terus kamu sendiri gimana? Bukannya kamu juga udah menyetujui perjodohan yang dilakukan Ayahmu ya?" kini Andri membalik pertanyaan itu kepadaku. "Kenapa kamu juga nggak pulang ke rumahmu?"


"Ya.. kalau aku kan sedikit beda. Aku masih memikirkan cara membatalkan perjodohanku!"


"Kamu mau ngerencanain apa lagi Sa?" tanya Andri.


"Ya kan aku masih mau memikirkan, jadi rencananya masih belum ada!" sahutku sambil keluar dari mobil.

__ADS_1


"Tisa, Andri!" panggilan dari seseorang membuat kami menoleh serentak.


Terlihat Ibu kos di ambang pintu rumahnya. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang tidak kami kenal.


"Ada apa Bu?" tanya Andri. Kami pun berjalan menghampiri Ibu kos.


"Ini, kenalin, dia nanti akan jadi tetangga kalian di kos," terang Ibu kos.


"Lho Bu, bukannya kos-kosannya udah full ya?" tanyaku.


"Itu, si Putri udah pindah kos. Jadinya satu kamar kosong.


Aku hanya manggut-manggut mendengar jawaban Ibu kos.


Setelah kulihat-lihat lagi, wajah cowok ini mirip dengan Harry Potter yang versi dewasa.


Bedanya, kalau Harry Potter pakai kacamata. Sedangkan dia nggak pakai kacamata.


Cowok itu tiba-tiba itu mengulurkan tangannya padaku. "Faiz."


"Tisa," ucapku seraya menerima uluran tangannya.


"Andri," ucap Andri ketika tangan Faiz berganti menyalaminya.


"Kalian kan mau pulang ke kos ya, salah satu dari kalian bareng Faiz ya. Soalnya dia masih nggak hafal jalan ke kosan," pinta Ibu kos.


"Biar aku aja yang bareng Faiz!" seru Andri.


"Ndri, kamu kan cowok. Harusnya kamu yang ngalah jalan kaki ke kosan. Biar Tisa yang ikut Faiz sambil nunjukin arah jalan ke kosan," timpal Ibu kos.


Andri pun akhirnya mengalah. Sementara Faiz sudah siap di atas motornya dengan koper besar di bagian depan.


Terlihat juga dia membawa gitar yang ia selempangkan di punggungnya. Rupanya dia juga bisa bermain gitar, sama seperti Andri.


"Sini aku bawain gitarnya," tawarku sambil mengambil alih tas berisi gitar itu.


Aku pun segera menaiki motornya. "Duluan ya Ndri," pamitku pada Andri yang wajahnya berubah menjadi datar.


Ada apa dengan wajahnya itu? Masa dia kesal hanya karena tak jadi naik motor dan harus jalan kaki ke kosan?


"Udah lama ngekos di sana?" pertanyaan Faiz membuyarkan lamunanku.


"Lumayan."


"Gimana kos-kosannya, menurut kamu nyaman nggak?" tanyanya lagi.


"Nyaman kok, apalagi kos-kosannya juga bersih!"


Ya, meskipun dulu ada suara-suara aneh yang mengganggu tidurku. Tapi syukurlah suara itu udah nggak ada lagi!


"Maaf ya gara-gara aku, kamu jadi nggak bisa bareng sama pacarmu tadi," seru Faiz sambil membelokkan motornya seperti yang aku instruksikan.

__ADS_1


"Ha? Pacar?"


"Iya. Yang tadi itu pacar kamu kan?" tanyanya sambil mengubah arah spion kirinya. Kini kami bisa saling bertatapan lewat spion itu.


Aku sedikit tertawa kecut sebelum menjawabnya.


"Bukan, dia bukan pacarku."


Lebih tepatnya mantan pacar!


"Oh, kirain pacar kamu! Oh ya, toko yang jual bensin di sini dimana ya? Soalnya bensinku udah tinggal dikit nih!"


"Waduh, kenapa nggak bilang dari tadi. Harus putar arah lagi kalau mau beli bensin!"


Terpaksalah kini kami kembali memutar arah. Padahal satu belokan lagi udah sampai ke kosan.


"Maaf ya, jadi ngerepotin," ucap Faiz saat kami sudah sampai di salah satu toko yang menjual bensin.


"Nggak ngerepotin kok. Malahan aku yang makasih. Berkat kamu, jadinya aku nggak perlu jalan ke kosan."


Setelah itu, Faiz kembali menjalankan motornya lagi.


Tak lama kemudian, kami akhirnya sampai di kosan. Rupanya Andri sudah sampai lebih dulu.


Aku pun turun dari motor dan membantunya membawakan gitar miliknya sampai ke depan kamarnya.


"Makasih ya," lagi-lagi Faiz mengucap terima kasih kepadaku.


"Iya, sama-sama."


Kemudian Faiz merogoh-rogoh saku celananya. "Mana kuncinya tadi ya?"


Saat dia mengeluarkan kunci kamar dari sakunya, hpnya malah ikut terjatuh.


Aku yang refleks segera membungkuk mengambil hp itu.


Duk!


"Aduh!" Aku memegang kepalaku saat kepalaku terbentur dengan kepala Faiz yang rupanya juga sedang sama-sama membungkuk untuk mengambil hpnya.


"Maaf Iz, aku tadi refleks mau ngambil hp kamu yang jatuh."


"Iya, nggak papa."


Saat aku ingin mengembalikan hp Faiz, jariku tak sengaja memencet tombol power di pinggir hp.


Seketika layar hp itu menyala. Aku terpaku menatap wallpaper hp itu.


Itu.. Foto Naruto! Foto yang sama persis seperti yang Orang Sinting kiriman tadi siang!


Aku menatap Faiz yang sedang mengulurkan tangannya, menungguku memberikan hpnya.

__ADS_1


Ini nggak mungkin! Kenapa fotonya sama persis?! Apa jangan-jangan dia... Orang Sinting itu?!


BERSAMBUNG


__ADS_2