
Aku diam membisu karena tak bisa menjawab apa.
"Kok malah bengong? Jawab Tis! Ini cincin apaan?" tanya Pipit sembari meraih tanganku, memperhatikan cincin di jariku dengan seksama.
Segera kutarik tanganku dari Pipit.
"Kamu bukan tipe orang yang suka pakek perhiasan," terdengar nada Pipit yang mulai mengintimidasi.
Di saat seperti ini kerongkonganku mendadak terasa kering. Alhasil, menelan ludah sendiri pun terasa susah.
"Tega kamu sama aku Tis!" kini nada bicara Pipit berubah seperti istri yang tersakiti persis di sinetron-sinetron. "Dengan kamu nggak ngasih tahu aku, itu sama aja kayak kamu ngekhianatin aku! Ini pasti cincin--"
"Cincin mainan! Hadiah snack lima ratusan!" potongku.
Pipit mengangkat sebelah alisnya. "Kau pikir aku anak kecil yang akan percaya itu?!"
"Ahaha.. Iya-iya, bercanda aku. Itu aku beli karena kelihatannya bagus banget!" bohongku lagi.
"Lebih nggak masuk akal lagi kalau kamu bilang beli Tis! Aku tahu kamu orangnya itu gimana. Nggak mungkin kamu beli. Itu pasti cincin--"
Triririring
Ucapan Pipit terhenti ketika hpnya berdering.
Dia merogoh hp dari tas warna pink yang bertengger di bahunya. Dahinya berkerut ketika membaca nama di layar hp.
"Bunda Tis," ujarnya.
Tumben Bunda nelfon Pipit.
"Halo Bunda, ada apa?" tanya Pipit. Ia tampak serius mendengarkan suara dari seberang sana.
"Iya, Bunda. Ini aku lagi sama Tisa," kemudian Pipit diam beberapa saat. "Hp Tisa mati Bunda," lanjutnya.
"Ada apa?" tanyaku berbisik ke Pipit.
"Bunda nyariin kamu!" ujar Pipit sambil menyodorkan hpnya padaku.
"Halo Bunda, ada apa?" tanyaku setelah menempelkan benda pipih itu di telinga.
Bukannya menjawab pertanyaanku, terdengar dari seberang Bunda seperti menangis.
"Bunda kenapa nangis?!"
[ Ayahmu Sa! Ayahmu!.. ] ucapan Bunda terpotong karena menangis kembali.
"Ada apa dengan Ayah, Bunda?! Ayah kenapa?!" entah kenapa perasaanku jadi tak enak. Ditambah Bunda yang terus saja menangis.
"Bunda! Ayah kenapa?!"
[ Ayahmu Sa! Ayahmu masuk rumah sakit! Kondisinya kritis! ] seketika badanku terasa lemas.
[ Kamu cepetan kesini Sa! Bunda takut.. Bunda takut Ayah kamu-- ]
"Bunda nggak boleh ngomong gitu!" Aku ingin menangis, tapi sebisa mungkin kutahan. Aku harus tegar, agar bisa menguatkan Bunda.
"Bunda di rumah sakit mana?" suaraku serak karena hampir menangis. "Oke, Tisa kesana sekarang juga!"
Segera kututup panggilan telepon. Aku yang panik tak bisa berpikir apapun.
__ADS_1
Aku harus segera kesana!
"Pit, aku pinjam motormu!" gegas aku meraih kunci motor Pipit.
"Tunggu Tis! Kamu mau kemana?! Barusan Bunda bilang apa?"
Tak kuhiraukan rentetan pertanyaan Pipit. Segera kunaiki motor Pipit yang terparkir di depan kos.
"Tis!" Pipit mencegah tanganku yang hendak memutar gas. "Kamu kenapa?! Apa yang terjadi?! Kamu mau kemana?!" Kulihat wajahnya berubah khawatir, mungkin karena air mataku sudah luruh membasahi pipi.
Segera kuusap air mataku. "Ayahku masuk rumah sakit Pit. Aku harus segera kesana!"
Langsung kutancap gas setelah mengatakan itu.
"Tapi Tis......" tak terdengar lagi kelanjutan kata-kata Pipit karena aku sudah keburu jauh.
Aku mengendarai motor Pipit dengan kecepatan penuh.
Tapi ada yang aneh, kenapa motornya.. Ah, aku baru ingat. Tapi terlambat sudah.
BRAGGHH!
Tepat ketika ingin belok dengan kecepatan penuh aku terjatuh. Badanku tertindih motor.
Aku menangis. Bukan karena sakit, tapi menangisi kebodohanku sendiri.
Mungkin ini yang mau Pipit katakan tadi. Aku tak pandai naik motor.
Terakhir kali aku naik motor, saat kelas tiga SMA itu pun aku baru belajar. Dan berhenti belajar karena jatuh dan akhirnya menyerah.
Andai dulu aku menuruti kata Pipit untuk tetap belajar naik sepeda motor.
Kepalaku rasanya terasa pusing karena jatuh membentur aspal.
Aku menoleh, rupanya Pipit berlari mengejarku.
"Pit, maaf.. motormu.."
"Kamu terjatuh dan malah mengkhawatirkan motorku?! Lihat kondisimu! Tak seharusnya kamu khawatir dengan motor!" ada nada marah dan khawatir saat Pipit berusaha mengangkat motornya yang menimpaku.
Aku tak tahu apa yang rusak dari motor Pipit. Tapi yang jelas, ada sesuatu yang bocor. Karena ada bekas cairan di aspal tempatku jatuh.
"Pit.. motormu.."
"Tisa! Aku kan sudah bil--" Pipit mengangkat wajahnya menatapku. "Astaga Tisa! Hidungmu!"
"Hah? Hidungku kenapa?"
"Tisa, Pipit! Kalian kenapa?!" Andri yang sedang naik motor berhenti di depan kami.
"Tisa jat--"
"Ya ampun Tisa! Hid--"
Seketika aku teringat Ayah. "Ndri, anterin aku!" langsung saja aku naik ke motornya.
"Tapi Sa, kamu--" ucapannya terhenti saat melihatku mengusap air mata yang kembali luruh.
"Buruan!"
__ADS_1
Seketika Andri langsung melajukan motornya dengan kencang. Tapi tak berapa lama kemudian laju motor kembali melambat.
"Tapi Sa, kita mau kemana?" tanyanya sedikit menoleh.
Astaga! Aku lupa memberitahunya. "Ke rumah sakit Ndri! Rumah sakit Cendana!"
"Ya ampun Sa, ini kita beda jalur! Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi?!"
Dan benar saja. Ketika aku mendongak melihat nama jalan di plang pinggir jalan. Ini beda arah dengan jalan rumah sakit yang mau aku tuju.
Mata ini mulai berembun lagi.
Ayah, maafin Tisa!
Aku segera mengusap air mataku. Andri pun segera putar balik.
"Kamu jangan nangis lagi. Apa kepalamu sakit banget? Hidungmu sampai berdarah karena jatuh tadi!"
Mendengar ucapan Andri, aku pun mengusap hidungku. Dan benar saja, aku mimisan. Darahnya terus keluar meskipun aku sudah mengusapnya.
"Tahan sedikit lagi ya Sa. Sebentar lagi kita sampai. Aku punya kenalan Dokter di sana. Jadi begitu kamu sampai aku akan minta dia langsung menanganimu!"
"Ndri, aku kesana bukan mau berobat! Aku kesana karena Ayahku dirawat di sana," terangku.
"Ayah? Ayahmu kenapa Sa?"
"Aku nggak tahu. Tadi Bunda nelfon dan mengatakan kalau Ayah masuk rumah sakit. Makanya tadi aku buru-buru. Tapi aku malah jatuh! Buruan ya Ndri!"
"Oke, pegangan ya Sa!"
Aku pun segera memegang besi yang ada di belakang jok sebagai pegangan.
Tapi entah kenapa kepalaku rasanya bertambah berat. Mimisanku juga masih belum berhenti.
Kusenderkan kepalaku yang berat ke punggung Andri. "Ndri, aku pinjam punggungmu sebentar ya," ucapku lirih memberitahunya.
"Sa? Kamu kenapa? Sa?" terdengar Andri bertanya. Tapi menggerakkan bibir ini untuk menjawabnya rasanya sangat capek.
"Sa! Tisa!" suara Andri terdengar semakin lirih hampir tak terdengar.
Brugh!
"Tisa!!"
Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang kurasakan hanya aku tak lagi menyandarkan kepalaku di punggung Andri.
Badanku terasa menghantam sesuatu yang keras.
Samar-samar terlihat Andri berlari ke arahku.
Bukannya tadi aku naik motor dibonceng Andri? Tapi kenapa saat ini aku malah terbaring di aspal?
"Sa, maafin aku Sa!"
Aku merasakan kepalaku diangkat dan dipangku. Terasa juga sebuah tangan memegang pipiku.
"Sa, bangun Sa! Tisa!"
BLEDARRRR!
__ADS_1
Terdengar suara petir menggelegar. Tak lama setelah itu kulit ini merasakan air yang mulai turun dari langit. Bersamaan dengan itu pandanganku mulai gelap.
BERSAMBUNG