KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Di Balik Tembok


__ADS_3

"Tisa, aku menyukaimu!"


Deg deg deg!


Ini aneh! Waktu Pak Yosua menembakku, aku merasa biasa aja. Tapi kenapa kali ini jantungku jadi senam?!


Dengan manik hitamnya, Andri terus menatapku.


Tapi, aku dan Andri kan baru kenal. Masa secepat itu dia suka sama aku?! Lalu bagaimana dengan perasaanku sendiri?! Aku nggak tahu! Tidak! Ini bukan saatnya untuk cinta-cintaan. Aku harus membuktikan dulu pada Ayah, kalau aku bisa sukses tanpa bayang-bayang darinya!


Aku menarik tanganku dari Andri.


"Maaf Ndri.."


"Aku tahu jawabanmu!" potong Andri. "Tapi aku akan tetap menunggumu dan terus menyukaimu. Aku tidak akan menyerah dan akan terus menunggu jawabanmu!"


Deg!


Andri mendekat dan berbisik di telingaku.


"Aku tahu, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Semuanya butuh proses! Dan di dalam proses itu, aku tidak akan menyerah untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku!"


Mendengar kegigihan Andri, membuat jantungku kembali senam.


________


Aku jadi kikuk setiap kali Andri menatapku gara-gara pernyataan cintanya kemarin.


Saat aku kembali ke ruangan dari makan siang, aku menemukan cilok dan juga sempol di meja kerjaku.


Aku tolah toleh, tidak ada siapa-siapa di ruangan ini.


Siapa yang menaruh ini di mejaku?!


Tring!


Sebuah pesan masuk di hpku.


[ Aku tahu kamu bukan tipe perempuan yang suka dikasih bunga. Kamu lebih suka makanan. Makanya aku beliin kamu cilok sama sempol. Dimakan ya.. ]


Begitulah isi pesan itu yang terkirim dari nomor Andri.


[ Kok kamu bisa tahu kalau aku suka cilok sama sempol? ] kukirim balasan itu untuknya.


Tring!


Sebuah pesan baru masuk lagi.


[ Apa sih yang nggak aku tahu! ] begitulah balasan pesan dari Andri.


Aku tersenyum kecil membaca balasan dari Andri.


Tapi aku segera menarik senyumku begitu dia masuk ke ruangan.


Aku memandangnya dari meja kerjaku.


Aku nggak tahu perasaan apa yang aku punya untuk Andri. Kalau dipikir-pikir, dia sudah banyak membantuku sih! Tapi aku tidak bisa begitu saja menerima perasaannya di saat aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku padanya!


"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?!" ucap Andri mengagetkanku. "Udah mulai suka ya sama aku?!"


Aku langsung membuang muka ke arah lain.


Terdengar dari arah meja kerjanya, dia terkekeh kecil.


"Nggak usah malu, akuin aja! Sebenarnya aku ini ganteng kan?! Makanya kamu ngeliatin aku terus!"

__ADS_1


Aku hanya mendengus mendengar perkataannya yang kelewat PD.


Kepedean banget sih nih orang! Tapi dia memang ganteng sih! Eh!


"Di-stop dulu ya Bos PD-nya. Kita harus segera berangkat meeting!" ucapku memberitahu Andri sambil beranjak dari kursi.


Andri pun juga ikut berdiri dari kursinya. Setelah sedikit merapikan dasinya, kami bergegas keluar dari ruangan.


Baru juga sampai di koridor kantor, Andri berhenti berjalan. Di merogoh kantong celana kanan dan kirinya mencari sesuatu.


"Dimana ya?" ucapnya sambil terus mencari.


"Apa yang kamu cari?" tanyaku. "Mungkin ketinggalan di dalam ruangan. Apa yang ketinggalan? Biar aku ambilkan!"


Andri beralih merogoh saku jasnya.


"Ah, aku sudah menemukannya!" ucapnya. Andri menarik tangannya dari saku jas dan membentuk jarinya menjadi bentuk hati, kemudian menunjukkannya padaku.


Kelakuannya ini sukses membuatku tersenyum.


"Apa kamu suka?" tanyanya.


"Ck. Dasar! Uda ah, ayo berangkat. Nanti kita telat!" Aku segera mendorong Andri agar kembali berjalan.


"Barusan kamu senyum tuh! Kamu suka kan?!" ujar Andri sambil terkekeh.


"Udah ah! Ayo cepetan jalan!!"


________


Di sepanjang meeting berlangsung, hpku terus berdering. Aku lupa tidak mensilent hpku. Membuat semua mata tertuju padaku.


"Angkat saja dulu, nggak papa!" ucap Andri.


Aku pun segera permisi keluar dari ruang meeting untuk mengangkat telfon yang ternyata dari Pipit.


[ Sayang, aku kangen.. ]


"Siapa yang kau panggil sayang?!"


Geli kali aku mendengar nada Pipit yang menyebutkan kata sayang.


[ Aku kangen sama kamu Tis. Udah lama kita nggak ketemu! ]


"Kalau kangen, ya datang aja ke kosanku!"


"Siapa itu?!" tanya Andri yang ternyata juga ikut keluar dari ruang meeting.


"Udah dulu ya, aku matiin telfonnya!"


"Eits! Kenapa buru-buru dimatiin telfonnya?!" Andri merebut hp dari tanganku. "Siapa dia? Kenapa memanggilmu sayang?!" Andri menempelkan hpku di telinganya.


"Halo! Siapa ini?!" tanyanya dengan nada ketus.


[ Lah! Ini siapa?! Tisa-nya mana? Aku belum selesai ngomong sama Tisa! ]


Andri mengernyit mendengar sahutan dari seberang.


"Kok suaranya cewek?" tanya Andri.


"Ya iyalah suaranya cewek! Orang yang nelfon Pipit kok! Memangnya kamu kira siapa?!" ucapku sewot.


"Aku pikir tadi.."


"Udah deh! Yuk cepet masuk lagi, meetingnya kan belum selesai!" ucapku sambil bergegas kembali masuk ke ruang meeting.

__ADS_1


________


"Tisa, aku menyukaimu!"


Aarrghh! Kenapa jadi kebayang itu mulu sih?!


Aku segera mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahku ketika terbayang wajah Andri yang tersenyum ketika menembakku.


Kuraih hp untuk mengecek jam. Pukul 22.01.


Haaah! Ini udah jam sepuluh malam. Aku nggak bisa tidur gara-gara terus teringat dengan perkataan Andri!


"Sa?" terdengar suara Andri memanggilku dari seberang tembok.


Aku diam tak menjawabnya.


"Kamu udah tidur?" tanyanya.


Aku masih bergeming tak menjawabnya.


"Aku yakin kamu masih belum tidur!"


Dih! Ngotot banget sih nih orang! Lagian dia kok bisa tahu sih kalau aku belum tidur?!


"Kalau kamu nggak jawab, berarti kamu setuju jadi pacar aku!"


Aku langsung melirik kesal tembok di sampingku. "Ck. Iya, aku belum tidur! Ada apa?!"


"Yaah, padahal aku berharap kamu nggak jawab!" sahutnya dari seberang.


"Kamu mau ngomong apa?!" ketusku.


"Jangan jutek gitu dong nadanya. Ntar aku tambah suka gimana?!"


Deg!


"Kalau kamu cuma mau gombal, mending aku tidur aja deh!"


"Ini nih ciri khas kamu, cuek bebek! Dan karena ini juga yang bikin aku tambah suka!"


Aku memutar bola mataku mendengar gombalannya.


"Pertama kali aku ketemu sama kamu, kamu itu menurutku aneh!"


Aku mengernyit mendengar perkataannya.


"Terus kalau aneh, kenapa kamu suka sama aku?!"


"Ya justru karena itu! Kamu itu aneh karena unik! Itu pertama kalinya aku ketemu cewek yang cuek, apa adanya dan nggak jaim. Keunikan kamu inilah yang membuatku suka sama kamu!"


"Itu pujian atau ejekan?!" sahutku.


Dia hanya terkekeh mendengar sahutanku.


"Waktu itu aku masih belum menyadari perasaanku. Saat melihatmu, di dalam pikiranku hanya ada keinginan untuk melindungimu!"


Andri sedikit memberi jeda ucapannya, lalu kembali melanjutkan perkataannya.


"Waktu ada Iren datang kesini, aku bisa merasakan dia menyukaimu. Ternyata kenapa aku bisa mengetahui perasaan Iren, itu karena aku juga menyukaimu! Tapi waktu itu aku masih belum menyadarinya. Di dalam benakku, hanya ada keinginan untuk melindungimu darinya."


Aku terus menyimak ucapan Andri dalam diam.


"Dan di hari kamu membawa Mbak Lina ke rumah sakit, aku sangat khawatir padamu ketika kamu menelfonku dan menyuruhku untuk datang ke rumah sakit. Tapi bodohnya aku masih belum menyadari perasaanku. Aku baru menyadari perasaanku, ketika Pak Yosua datang ke kantor. Di hari kamu memanggilnya Koko, aku merasa cemburu dan di saat itulah aku sadar akan perasaanku padamu!"


Aku nggak tahu jam berapa Andri berhenti berbicara. Yang jelas saat aku terlelap tidur, samar-samar terdengar dia masih berbicara.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2