
Aku diam tak menjawab Pak Yosua.
"Nggak apa-apa. Pikirkan saja dulu, baru jawab," ucap Pak Yosua dengan senyum khasnya dan pergi meninggalkanku.
Aku mematung melihat Pak Yosua pergi.
Apa tadi itu.. Pak Yosua benar-benar menembakku?
"Astaga! Jaketnya!" jaket Pak Yosua masih tersampir di badanku. Dia pergi tanpa membawa jaketnya.
Aku segera bergegas mengejarnya. "Pak Yos--"
"Tisa!"
Seseorang memanggilku. Aku urung mengejar Pak Yosua dan menoleh ke sosok orang yang memanggilku.
"Oh, Andri! Kamu dengar ya, barusan?!"
"Apa?" Andri malah balik tanya.
Mungkin dia tidak mendengarnya.
"Ah, nggak! Nggak jadi!"
Andri terus menatapku. Dia menatap jaket yang kupakai.
"Ah, jaket ini.. tadi dipinjami Pak Yosua. Tapi aku lupa mengembalikannya."
Krik krik.
Andri diam. Dia terus menatapku. Tatapan matanya yang tajam seolah-olah mengatakan kalau dia sudah mendengar semuanya. Dan menyuruhku untuk mengaku.
"Oke-oke! Aku ngaku! Tadi aku ditembak sama Pak Yosua!"
"Aku kan nggak ngomong apa-apa."
"Tapi kamu denger kan?!"
Lagi-lagi Andri hanya diam menatapku.
"Jangan-jangan Pak Yosua nunggu jawabanku lewat jaket ini!" Berarti pas aku mengembalikan jaket ini, di saat itu juga aku harus memberi jawaban ke Pak Yosua!
"Terus, sekarang kamu maunya apa?" tanya Andri.
"Aku? Aku sekarang cuma mau pulang! Aku capek, dingin pula!" sahutku.
"Ya sudah, pulang saja dulu. Itu pikirkan nanti saja. Yuk pulang bareng!"
Aku mengangguk dan mengikuti Andri ke parkiran mobil.
________
"Aku ingin lebih dekat denganmu Tisa!"
Pak Yosua mengulurkan kedua tangannya memegang pipiku. Mendongakkan wajahku untuk menatapnya. Kemudian dia mendekatkan wajahnya.
Tidaaakk!
Aku langsung bangun terduduk.
"Haahh.. ternyata tadi itu cuma mimpi."
Aku menatap jaket Pak Yosua yang tergantung di dinding kamarku.
Kemarin itu aku beneran ditembak ya!
Aku mengikat rambutku yang berantakan ke atas.
__ADS_1
Sekarang aku harus memikirkan jawabannya!
Kruyuuuuk!
"Ah, aku tidak akan bisa berpikir kalau lapar! Aku harus makan dulu agar bisa berpikir!"
Aku bergegas ke dapur untuk memasak mie instan plus dengan telur ceplok. Kemudian aku memakannya di dalam kamar.
Aku menyuapkan mie ke dalam mulut. Dengan perlahan aku mengunyahnya.
Ayolah Tisa. Kau harus memikirkan jawaban untuk Pak Yosua. Nanti di kantor kau akan bertemu dengannya. Dan saat mengembalikan jaket itu, kau juga harus memberikan jawaban padanya!
Aku menyendok telur yang ternyata kuningnya masih belum matang.
Kayaknya aku butuh bantuan deh! Tanya siapa ya?
Aku men-scroll nomor kontak dan memencet nomor Pipit.
"Pit, aku ditembak sama Pak Yosua!"
[ Koko putih dan ganteng yang waktu itu?! ]
"Iya."
[ Ngapain masih nanya ke aku?! Kamu itu ditembak orang ganteng. Langsung terima aja!! Nunggu apa lagi?! ]
Aku urung memencet nomor Pipit. Sepertinya percakapan yang aku karang barusan adalah jawaban yang akan aku terima dari Pipit jika aku menelfonnya nanti.
Aku menghela nafas panjang dan menaruh hpku.
"Haaah... aku habisin mie dulu deh, baru mikir lagi!"
Setelah menyeruput sisa kuah mie, aku sedikit bersendawa. Kemudian aku memejamkan mata untuk berusaha berpikir.
Kalau dipikir-pikir, bukannya orang yang menerima pernyataan suka itu harusnya jadi berdebar-debar dan merasa senang ya?! Tapi kok aku malah jadi galau dan merasa terbebani gini ya?! Kalau sudah begini berarti jawabannya sudah jelas!
________
"Mau kemana kok pagi-pagi udah siap?" tanya Andri yang baru keluar dari kamar mandi.
Dia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Aku mau ke kantor!" jawabku sambil mengikat tali sepatu.
"Kok pagi banget?" Andri menatap plastik bag yang aku taruh di pinggir pintu. "Apa itu jaketnya Pak Yosua?"
Aku mengangguk menjawabnya.
"Tunggu bentar ya! Kita bareng! Aku juga mau berangkat!"
Blam!
Andri langsung masuk ke kamarnya tanpa menunggu jawabanku.
Tak berapa lama kemudian dia sudah siap dengan setelan jasnya.
"Yuk berangkat!" ajaknya.
Kami pun berangkat ke kantor dengan mobil Andri.
Di dalam mobil, hening beberapa menit. Sampai akhirnya Andri membuka percakapan.
"Itu isinya, jaket Pak Yosua?" tanya Andri dengan mata fokus ke jalan raya
"Iya."
"Kalau kamu mengembalikan jaketnya sekarang, itu berarti kamu udah punya jawaban untuk dia?" tanya Andri lagi, tapi kali ini dia menoleh ke arahku.
__ADS_1
Aku mengangguk. "Iya."
Andri terlihat seperti ingin bertanya apa jawabanku. Tapi dia tidak menanyakannya.
Setelah itu, cuma keheningan yang mengisi perjalanan kami hingga akhirnya sampai ke kantor.
Suasana kantor masih sepi karena memang ini masih pagi. Hanya ada beberapa OB yang datang untuk bersih-bersih.
"Kamu duluan aja masuk ke ruangan. Aku mau ke Pak Yosua dulu," ucapku ke Andri. Dia menatapku dan kemudian mengangguk.
Aku bergegas ke tempat dimana aku janjian dengan Pak Yosua. Tapi ternyata Pak Yosua masih belum datang.
Aku pun duduk di kursi yang biasanya digunakan oleh karyawan laki-laki untuk merokok.
"Tisa! Udah lama nunggunya?"
Aku menoleh mendengar suara Pak Yosua.
"Nggak kok, aku juga baru datang!"
Dia duduk di sampingku.
"Terimakasih untuk jaketnya," ucapku sambil menyerahkan plastik bag berisi jaket Pak Yosua.
"Iya, sama-sama."
Kenapa rasanya aku jadi gugup gini ya? Aku bingung harus mulai ngomong darimana!
Aku menarik nafas sebelum memulai bicara.
"Anu.. maafkan aku." Aku menarik nafas lagi. Lalu aku menoleh ke Pak Yosua. Dia menatapku dengan serius, menunggu kelanjutan kalimat yang akan aku ucapkan.
Aku menundukkan kepalaku sebelum melanjutkan bicara. "Aku sudah berpikir, dan sepertinya aku nggak bisa untuk lebih dari teman."
Aku mendongak menatap Pak Yosua. Aku bisa melihat raut wajahnya yang terlihat kecewa namun bibirnya tetap berusaha untuk tersenyum.
"Maaf ya.."
Rasanya aku jadi merasa bersalah banget.
"Nggak papa. Perasaan kan memang nggak bisa dipaksa," jawabnya. "Tidak semua yang kita sukai bisa kita miliki. Aku juga ikut bahagia untukmu," ucapannya dengan tersenyum.
Apakah setelah penolakan ini hubunganku dengannya jadi renggang?! Apakah aku sudah tidak bisa berteman dengannya lagi?
Pak Yosua sedikit menghela nafas panjang.
"Aku punya satu permintaan," ucap Pak Yosua.
Aku mendongak menatapnya. "Apa?"
"Apa aku boleh memelukmu?"
Belum juga aku menjawab, dia sudah menghambur memelukku.
Bertepatan dengan itu, Andri muncul dari pintu di depanku. Dia terlihat terkejut melihatku dipeluk Pak Yosua.
Aku segera melepas pelukan dari Pak Yosua.
"Tolong tetap seperti ini sebentar saja!" cegahnya.
Andri segera kembali masuk ke kantor.
"Aku tidak ingin orang yang aku sukai melihat ekspresi wajahku yang menyedihkan!" ucapnya di telingaku.
"Meskipun aku sudah menyatakan perasaanku padamu, tolong jangan menjauh dariku hanya karena kau sudah menolak perasaanku! Aku harap, kita bisa tetap berteman!" ucapnya lagi.
Aku hanya diam mematung membiarkannya memeluk diriku agar perasaan sedihnya sedikit berkurang.
__ADS_1
BERSAMBUNG