
Bermacam-macam barang kami beli. Mulai dari kereta bayi, selimut bayi, bedak bayi, sabun mandi bayi, shampo bayi, dan banyak lagi barang yang intinya berkaitan dengan bayi.
Dia mau jenguk bayi atau mau buat persiapan bayinya sendiri kelak?!
Andri terus berjalan ke arah bagian kasur khusus bayi.
"Kamu mau beli apa lagi?!" tanyaku.
"Beli paku!" seloroh Andri. "Jelas-jelas ada tulisan kasur bayi. Ya pasti beli kasur bayi lah!"
"Aku juga tahu kalau ini tulisan kasur bayi!! Maksudku itu, ini udah banyak. Jangan beli yang lain lagi!" ucapku sambil menunjuk barang yang dipilih Andri tadi.
"Yakin udah cukup nih?" tanya Andri.
"Ya, cukup!" Aku mengangguk mantap.
Untungnya Andri menurut. Dia nggak jadi beli kasur bayi tadi. Kami pun pergi ke kasir untuk membayar.
Depanku, belakangku, semua yang mengantri adalah Ibu-ibu hamil yang ditemani oleh suaminya.
Perut mereka pada besar semua. Mungkin sedang hamil tua. Hanya perutku sendiri yang rata.
Di sampingku, berdiri Andri yang membawa semua barang yang hendak kita bayar.
Dia terlihat kerepotan dengan barang sebanyak itu. Aku sudah menawarkan diri untuk membantunya membawa barang itu. Tapi dia menolaknya.
Kalian tahu apa katanya? 'Ibu hamil nggak boleh bawa yang berat-berat!'
Aish! Kesal sekali aku mendengarnya. Nggak sekalian aja aku digendongnya. Biar sekalian aku nggak usah jalan.
Seorang Ibu hamil di depanku menoleh. Dia tersenyum padaku.
"Sudah berapa bulan Mbak?" tanyanya.
"Apanya Mbak?" lagi-lagi dengan polosnya aku malah balik bertanya.
Aish! Kenapa aku malah balik tanya?! Sudah pasti dia menanyakan tentang kehamilanku.
"Baru satu Minggu Mbak," jawab Andri.
"Wah, hamil muda ya!" ucapnya dengan tersenyum.
Iya! Hamil muda! Malahan setiap hari aku melahirkan! Tapi bukan di rumah sakit, melainkan di WC!
"Dari kelihatannya, kalian ini pengantin baru ya?" tanyanya lagi.
"Iya Mbak, baru dua bulan," jawab Andri.
Ya, terserahlah! Kau yang memulai drama ini, jadi kau juga lah yang harus menjawab pertanyaannya.
"Wah, masih baru sekali ya kalau gitu. Dulu aku waktu hamil muda, aku ngidam jambu merah Mbak. Tapi suami saya malah marah!"
"Lho kok marah, kenapa?" tanyaku bingung. Bukankah ngidam itu hal yang biasa dialami Ibu hamil?!
"Gimana aku nggak marah, dia nggak mau jambu dari toko. Tapi maunya jambu nyolong punya Pak RT!" sahut suaminya yang sedari tadi mendengarkan.
Istrinya terkekeh mendengar suaminya yang menjawab. "Kalau Mbaknya suka ngidam apa?"
Hah? Ngidam apa?!
Aku menoleh ke Andri, berharap dia yang menjawab. Tapi dia malah mengangkat bahunya dengan senyum yang menyebalkan.
Aish!
__ADS_1
"Saya ngidam ngunyah kepala dia Mbak!!" sahutku kesal sambil menunjuk Andri.
Ingin sekali aku mengunyah kepala yang sudah mengeluarkan ide gila ini. Ngadi-ngadi pakek drama suami istri segala!
Tapi Ibu hamil itu malah tertawa mendengar jawabanku.
Apa?! Kenapa dia malah tertawa?!
"Mbaknya ternyata agresif juga ya!" ujarnya di sela-sela tawa.
Hah! Agresif? Apa hubungannya?!
"Suamiku bilang, aku itu ngidam yang aneh-aneh! Tapi ternyata ada yang lebih aneh ya!" dia tertawa lagi. "Gimana rasanya ngunyah kepala suami Mbak?" tanyanya sambil tertawa. Matanya tertuju
ke Andri.
Aku mengikuti arah pandangannya. Tidak. Dia tidak melihat Andri, tapi melihat selangkang*n Andri.
Astaga! Dia salah paham!! Maksudku bukan kepala yang itu!!
Suami istri di depanku sama-sama terkekeh.
Tidak! Jangan tertawa! Kalian salah paham!!
Aku menoleh ke Andri. Berharap dia menjelaskan kesalahpahaman ini.
Astaga! Wajah Andri malah merah karena berusaha menahan tawa.
Ya ampun!! Kenapa kau malah tertawa juga?!! Ini tidak lucu!!
Kupukul lengannya, tapi dia malah menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar, menandakan dia sedang berusaha menahan tawa.
"Gimana rasanya dikunyah Mas?" tanya suami Ibu hamil itu sambil terkekeh geli.
Dengan berusaha menahan tawa, Andri menjawabnya. "Rasanya geli Bang!"
Mataku membulat mendengarnnya.
"Sebenarnya saya nggak tahan karena geli. Tapi mau gimana lagi, demi anak!" lanjutnya.
Dengan akting senyum malu-malu Andri menjawabnya. Sementara suami istri itu malah tertawa terbahak-bahak.
Mereka baru berhenti tertawa ketika giliran mereka membayar sudah tiba.
"Duluan ya Mbak," pamit mereka ketika sudah selesai membayar.
Aku hanya mengangguk dengan memaksakan senyum.
"Semoga lahirannya lancar ya," doa Andri.
Kini giliran kami yang membayar. Penjaga kasir tersenyum dengan ramah.
"Sudah berapa bulan Mbak?" lagi-lagi pertanyaan itu yang terlontar.
Malas sekali aku mendengar pertanyaan itu.
"Bukan bulan Mbak. Tapi satu hari! Dan setiap pagi aku membuangnya ke WC!" sahutku kesal.
Kasir itu menatapku bingung.
"Ahaha! Istri saya memang sering bercanda Mbak!" Andri berusaha memberi penjelasan. "Baru satu Minggu Mbak!"
"Wah, hamil muda ya."
__ADS_1
"Iya, Mbak," sahut Andri.
"Semoga sehat selalu ya, sampai hari lahiran," ucap kasir itu dengan tersenyum.
"Iya, makasih ya Mbak," jawab Andri dengan berlalu dari kasir karena kami sudah selesai membayar.
Kami keluar dari toko dengan banyak barang di tangan Andri.
"Sini, biar aku bantu bawa!" ucapku hendak meraih kereta bayi.
"Udah, jangan. Ibu hamil nggak boleh bawa yang berat-berat!" tolaknya dengan masih melanjutkan drama tadi.
"Aish! Kau ini! Gendong aku sekalian! Biar aku nggak perlu berjalan!!" sahutku kesal.
"Wah, Mbaknya ternyata juga manja ya!"
Aku menoleh mendengar suara itu. Ternyata Ibu hamil yang tadi.
"Suaminya sudah repot membawa barang, masa minta digendong," lanjutnya.
"Biasa, bawaan hamil!" sahut Andri.
Harrggh! Bodo amat lah! Terserah kalian!
________
Di perjalanan menuju rumah Pipit, Andri tak henti-hentinya tertawa.
"Berhenti tertawa!"
"Ahaha!! Haduh, haduhh!!" Andri memukul-mukul stir mobil agar bisa berhenti tertawa. "Haduuuh, ahaha! Perutku," dia memegang perutnya. "Perutku sakit karena terus tertawa! Ahaha!!"
Aku hanya berdecak kesal karena dia terus tertawa.
"Bisa-bisanya kamu bilang ngidam ngunyah kepalaku! Ahaha! Ternyata kamu mesum juga ya!"
"Aish! Andri!!" kupukuli lengan Andri yang sedang menyetir.
"Mbak yang tadi itu salah paham tahu! Maksudku bukan kepala yang itu! Tapi kepala yang ini!!" ucapku sambil menunjuk kepalaku sendiri.
"Lagian ini salah kamu tahu! Gara-gara kamu pakek acara drama suami istri segala, jadinya gini!" ucapku dengan kesal.
"Ya kalau nggak gitu, nanti kita nggak dibantuin sama pegawai tokonya!" kilah Andri.
"Nggak usah pura-pura hamil juga, pegawai tokonya pasti tetap mau bantuin kok! Mereka itu jualan, sudah tugasnya bantuin pelanggan!!"
"Tap--"
"Aish! Udahlah!" potongku. "Lagian udah lewat juga!" Aku membuang muka ke luar kaca mobil.
Tak sengaja, dari spion aku melihat sebuah mobil warna abu-abu terus mengikuti kami.
Ini perasaanku aja, atau gimana ya. Mobil itu dari tadi kok seperti ngikutin.
Pasalnya, sudah lewat lima belokan. Dan mobil itu terus di belakang kami.
"Ndri, kok kayaknya mobil kita diikutin deh!" ucapku memberitahu Andri.
"Hah?! Masa sih?!" Andri menengok dari kaca spion di atasnya.
Kedua alis Andri saling bertaut. Setelah itu dia berdecak kesal dan menambah kecepatan mobil.
BERSAMBUNG
__ADS_1