KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Es Krim Untuk Sepasang Kekasih


__ADS_3

"Aaa.. Emm.."


Sial!! Aku harus cari alasan apa lagi?!!


"Kenapa kamu membuang obat ini?!!" Andri bertanya lagi.


"Anu.., itu.."


"Kenapa?!"


"Aku.., Aku nggak suka obatnya! Pahit!" ucapku berasalan.


Konyol! Semua obat kan memang pahit!!


Kutatap wajah Andri.


Mudah-mudahan Andri percaya ucapanku.


Alis Andri menyambung. "Kamu ini gimana sih Sa? Kamu umur berapa?! Yang namanya obat pasti pahit lah! Tapi kan itu untuk kesehatan!!"


Haaaa.. Syukurlah! Kelihatannya Andri percaya.


"Ayo kamu minum obatnya sekarang juga! Biar cepat sembuh!"


Andri mengajakku ke dapur untuk minum obat.


Kemudian dia menuangkan air putih untukku di gelas. Lalu dia juga membukakan obatnya dan membelah obat yang besar menjadi dua.


Dia menyodorkan obat itu kepadaku. "Ini, minum."


Dengan berat hati aku menerima obat itu. Aku menaruh obat itu di pangkal tenggorokan dan mendorongnya dengan air.


________


Besoknya aku memutuskan untuk masuk kerja karena aku tidak ingin Andri memaksaku untuk minum obat lagi.


"Aku nggak nyangka lho Sa! Kata karyawan yang lain tadi kamu presentasinya udah kayak orang yang handal dan berpengalaman!!" ucap Andri sambil mengunyah makanan.


Aku dan Andri makan siang bersama di sebuah kafe.


Pagi tadi, Andri berhalangan untuk hadir di sebuah meeting. Alhasil, Andri menyuruhku untuk menggantikannya.


Karena aku dulu kerja di kantor Ayah, jadinya aku bisa menangani meeting itu.


"Sayang sekali aku nggak bisa lihat langsung waktu kamu presentasi tadi."


Dari tadi dia terus mengoceh, menyayangkan karena tidak bisa melihatku presentasi waktu meeting.


Aku hanya acuh dan melahap makanan gratis yang ditraktir Andri karena aku sudah menggantikannya waktu meeting tadi.


"Apa kamu dulu pernah bekerja perusahaan?!"


Aku mendongak mendengar pertanyaan Andri.


"Nggak pernah," ucapku berbohong. "Aku nggak pernah kerja di kantor manapun."


"Masa sih Sa?! Tapi kalau melihat dari kinerjamu, sepertinya kamu sudah terbiasa kerja di kantor!"


Emangnya kelihatan banget ya, kalau aku pernah kerja di kantor?!


"Iya, beneran. Aku nggak pernah kerja di perusahaan. Kan kamu tahu sendiri kalau aku itu kerja di pabrik."

__ADS_1


"Maaf, permisi. Kamu yang presentasi waktu meeting tadi itu kan?!" seorang pria paruh baya menghampiri meja kami.


Aku mengernyit menatapnya. "Iya Pak. Ada apa ya?" Kalau tidak salah, dia adalah klien kantor yang ikut meeting tadi.


"Sepertinya aku mengenalmu. Tapi aku lupa." Ekspresi pria itu seperti mengingat-ingat sesuatu.


Aku hanya menatapnya bingung. Karena aku tidak merasa pernah bertemu dengan orang ini.


"Ah, ya! Aku ingat sekarang! Kamu adalah orang yang memenangkan tender besar tahun lalu. Kalau tidak salah, waktu itu kamu adalah perwakilan dari kantor Pak Darma kan?!"


Aku terkesiap mendengar ucapan orang ini.


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku pernah menang tender?! Apa waktu itu dia juga hadir di sana ya?!


Aku segera mengubah ekspresi wajahku yang sedikit terkejut. "Ahaha. Sepertinya Bapak salah orang!" ucapku menyangkalnya.


"Nggak. Saya nggak salah orang! Nada bicaramu waktu meeting tadi itu sama persis dengan orang yang waktu itu menang tender!!"


Tririring!


Hp pria itu berbunyi. Di mengangkatnya.


Setelah mengakhiri telefon tadi, dia dengan buru-buru memasukkan hpnya ke dalam saku celana.


"Saya permisi dulu ya. Maaf sudah mengganggu waktu makannya," ucapnya, lalu pergi meninggalkan kami.


Aku melihat ke Andri yang sedang menatapku.


"Ahaha! Sepertinya wajahku pasaran ya. Buktinya, kata Bapak tadi ada orang yang wajahnya mirip denganku!" ucapku ke Andri.


Andri menatapku lekat-lekat. "Kau.., mempunyai mata yang bagus!"


Aku melongo mendengar ucapannya.


_______


Karena Andri menawariku untuk pulang bareng, jadinya sekarang aku pulang bersama dia.


Ketika di lampu merah, seseorang mengetuk kaca mobil. Aku pun langsung menurunkan kacanya.


"Ada apa Mbak?" tanyaku.


"Ini Mbak, khusus untuk hari ini kafe es krim kami lagi mengadakan promosi setengah harga untuk pasangan kekasih."


Perempuan itu menyerahkan brosur warna merah muda. "Silahkan datang ke kafe kami."


Kemudian dia berlalu meninggalkan mobil yang kami tumpangi dan menghampiri pengendara mobil dan motor yang ada di lampu merah.


"Aku mau lihat brosurnya." Andri mengulurkan tangannya meminta lembar brosur yang ada di tanganku.


Aku pun menyerahkan brosur itu.


Andri membolak-balik brosur itu. Membaca tulisan yang tertera di sana.


"Alamatnya nggak jauh dari sini. Kamu mau mampir ke sana nggak? Lumayan, mumpung es krimnya setengah harga," ucap Andri.


"Tapi kan kita bukan sepasang kekasih!"


"Nggak papa! Kan orang kafenya juga nggak tahu kita itu sepasang kekasih atau bukan."


Aku tersenyum mendengar perkataan Andri.

__ADS_1


Benar juga! Orang kafenya kan nggak tahu kita itu pacaran atau nggak.


"Kamu benar Ndri! Kalau gitu, ayo kita ke kafenya sekarang!!" ajakku.


________


"Selamat datang!" sambut pelayan kafe dengan senyum ramah di depan pintu masuk.


Setelah masuk, kami langsung memesan beberapa macam eskrim.


Yang tentunya eskrim itu dibayar oleh Andri.


Kami memilih duduk di kursi bagian pojok.


Andri sedikit mendekatkan wajahnya. "Tuh kan, apa aku bilang?! Mereka nggak akan tahu kalau kalau kita itu bukan sepasang kekasih!" bisik Andri.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Sambil menunggu pesanan, aku memainkan hpku.


"Tisa?!! Kamu pacaran sama Andri?!!"


Aku menoleh ke sumber suara yang terdengar tidak asing di telingaku.


Aku terkejut melihat Pipit dan pacarnya berdiri di sampingku.


"Kafe ini kan sedang promosi setengah harga untuk pasangan kekasih. Kalau kalian ada di sini, artinya kalian pacaran?!!" tebak Pipit membuat biji mataku melotot. Untung nggak sampek keluar.


"Tega kamu ya Tis! Kamu bilang aku itu sahabatmu, tapi kamu nggak cerita kalau udah jadian sama Andri! Sebenernya kamu masih menganggap aku sahabat nggak sih?!!"


"Ngawur!! Aku dan Andri itu--"


Aku urung melanjutkan bicara saat waiters mengantarkan pesananku.


Hampir saja aku bilang kalau kami tidak berpacaran. Untung masih sempat ngerem lidah.


Jangan sampai waiters-nya tahu kalau aku dan Anrdri itu pura-pura pacaran.


Saat Pipit hendak nyerocos lagi, aku langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"Nanti aku jelasin semuanya! Tapi nggak di sini!" bisikku di telinga Pipit.


"Oke! Kamu hutang penjelasan kepadaku!"


Setelah mengatakan itu, Pipit berlalu duduk di meja yang tidak jauh dariku. Matanya terus mengawasiku.


"Sa, dokumen untuk meeting besok pagi sudah kamu siapkan?!" tanya Andri sambil menyuapkan es krim ke mulutnya.


"Sudah!" ucapku dengan menyendok es krim rasa vanilla di depanku.


"Setelah meeting itu, siangnya kita ada meeting lagi Sa."


Aku mengernyit mendengar tuturan Andri.


"Besok kan jadwalnya, meeting cuma satu kali?! Lalu siapa yang mendadak ingin meeting denganmu?!!"


"Pak Darma. Besok dia ingin membahas tentang proyek pembangunan apartemen di tengah kota!"


Apa?!! Besok ada meeting dengan Ayah lagi?!! Gimana ini?!! Aku harus alasan apa lagi agar nggak ketemu sama Ayah?!!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2