
Tririring!
Hp yang aku taruh di meja dapur berbunyi. Aku segera mengangkat mie instan yang sudah matang dan menuangkannya ke piring.
Setelah itu aku bergegas meraih hp yang terus saja berdering. Aku mengernyit membaca nama kontak yang menelfonku.
Ngapain Pak Yosua pagi-pagi nelfon aku?
"Halo?"
[ Iya, halo Tisa! ]
Aku mengernyit mendengar suara wanita dari seberang telfon. Kembali kubaca nama kontak yang menelfonku.
Iya, bener kok yang nelfon Pak Yosua! Tapi kok suaranya perempuan ya?!
[ Ini Tante Ima ] lanjutnya lagi.
Oala.. Tante Ima tho..
"Iya Tante. Ada apa?"
[ Hari ini kamu sibuk nggak? ]
"Memangnya ada apa ya Tante?"
[ Tante ada acara makan-makan di rumah. Kamu kesini ya! ]
Wah, makan-makan. Enak nih! Tapi aku nggak enak sama Pak Yosua. Aku kan udah nolak dia. Masa sekarang nerima undangan makan di sana?! Tapi mau nolak juga nggak enak.
[ Halo Tisa? Kok kamu diem? Atau jangan-jangan, kamu udah ada janji?! ]
"Ah, nggak kok Tan.."
[ Wah, bagus deh kalau kamu nggak ada janji hari ini. Berarti kamu bisa datang kesini dong ]
"Mm.."
[ Ma, hpku mana?! ] teriak Pak Yosua dari seberang telfon.
[ Udah dulu ya Tis. Ini Tante pinjam hp Yosua tapi nggak bilang-bilang. Hehehe. Tante tunggu kedatangan kamu. ]
"Tapi Tan--"
Tut tut tut.
Tante Ima menutup sambungan telfon secara sepihak.
"Udah kayak menantu aja diundang makan-makan segala!"
Aku terkejut mendengar suara itu dan langsung menoleh.
Aku langsung menjauh dari Andri yang berdiri sambil mendekatkan telinganya ke hpku. Rupanya dia menguping pembicaraanku.
"Aku juga mau ikut kesana!"
"Dih, nggak ada yang ngajak main ikut aja!"
"Aku nggak peduli. Pokoknya aku mau ikut!" ucap Andri ngotot.
"Apaan sih, ngotot banget! Orang situ nggak diundang kok!"
__ADS_1
"Bodo amat! Pokoknya aku mau ikut!"
"Aish! Tuh kepala atau batu sih?! Kenapa keras banget!"
"Meskipun keras kepala gini, tapi ganteng kan?!" Andri mengedipkan mata kirinya padaku.
Aku pura-pura bergidik melihatnya.
"Halah! Nggak usah sok bergidik gitu. Padahal kamu sendiri nggak bisa kan ngedipin satu mata?" ujar Andri dengan nada mengejek.
"Sok tahu kamu! Siapa bilang aku nggak bisa?! Aku bisa kok!!"
"Mana buktinya?! Coba kedipin satu mata kamu!"
"Nih, lihat nih!"
Ting ting
Aku mengedipkan mata kananku dua kali ke Andri.
"Ih! Tisa nakal deh. Suka main mata sama aku!"
Mataku membulat mendengar ucapan Andri.
"Apa kamu bilang?! Aku main mata?! Eh, Bambang! Kan kamu tadi yang nyuruh aku buat ngedipin satu mata! Pikun atau gimana kamu?!"
"Wah, malu dia! Nggak mau ngakuin! Udah, bilang aja deh kalau kamu itu udah mulai suka sama aku! Nggak usah kode-kodean ngedipin mata segala!" ucap Andri sambil menyisir rambutnya dengan tangan ke belakang. "Aku akan ikut ke rumah Pak Yosua!"
"Ah, terserah kamu lah! Aku nggak mau tanggung jawab ya kalau nanti piringnya kurang karena ada tamu tak diundang!"
________
Di sinilah aku sekarang berada. Aku duduk di ruang tamu Pak Yosua bersama dengan Andri dan Pak Yosua tentunya.
Dia mengira Andri adalah pacarku. Tapi aku segera mengenalkan kalau dia adalah Bos di kantor.
"Maaf ya Tis, kami jadi ngerepotin kamu. Aku nggak tahu kalau tadi Mama nelfon kamu pakek hp aku. Kamu jadi harus repot-repot datang kesini deh!" ujar Pak Yosua.
"Halah! Sok-sokan banget sih! Padahal Kakak seneng kan ada Kak Tisa di sini?!" ucap Yosi yang tiba-tiba muncul dari dalam sambil membawa minuman.
"Haish! Ck. Anak kecil diem aja! Jangan ikut-ikutan ngomong!" sahut Pak Yosua. "Udah, sana cepet masuk. Bantuin Mama di dalam!"
"Ahaha. Nggak repot kok Pak!" sahutku.
"Makanya, punya hp itu disandi! Biar nggak gampang dibuka!" cetus Andri yang duduk di sampingku.
Aku segera menyikutnya. "Yang sopan dong! Kamu ini tamu tahu!"
Andri hanya meresponku dengan lirikan mata.
"Ahaha. Saya nggak biasa ngunci hp pakai sandi Pak," sahut Pak Yosua.
"Ya udah, kalian ngobrol dulu aja ya. Aku mau bantuin Tante Ima di belakang," ucapku ke Pak Yosua dan Andri, lalu bergegas ke dapur.
"Lho, Tisa ngapain kesini?! Udah, kamu di depan aja! Nggak usah repot-repot bantu! Baru kalau nanti udah jadi mantu, nggak papa bantu-bantu!"
"Aish, Mama nih. Apa-apaan sih?!" timpal Pak Yosua yang juga ikut menyusul ke dapur bersama dengan Andri.
"Aduh, maaf. Mama cuma bercanda kok! Tapi kalau ter-ijabah jadi mantu sih, ya syukur alhamdulillah!"
"Aish Mama!"
__ADS_1
"Iya-iya. Mama cuma bercanda kok!"
"Ehem!" Andri berdehem sedikit keras.
Kulirik wajahnya yang tampak ditekuk itu. Dengan wajahnya yang cemberut itu, dia terlihat sedikit gemesin. Eh!
"Yuk, kita makan. Udah pada siap nih!" ujar Tante Ima setelah semua makanan sudah tersusun rapi di meja makan yang berbentuk persegi panjang.
Aku pun mengambil tempat duduk di bagian tengah Andri dan Tante Ima.
"Yos, Mama tukar tempat duduk sama kamu ya!" ucap Tante Ima ke Pak Yosua.
"Lah, memangnya kenapa Ma?"
"Kursi yang Mama duduki kurang empuk!"
"Masa sih Ma?"
"Iya, beneran! Coba kamu berdiri dan duduk di sini deh!" Tante Ima berdiri dari duduknya dan bertukar posisi dengan Pak Yosua.
Jadinya sekarang aku duduk di tengah-tengah antara Pak Yosua dan Andri.
"Mana? Kursinya sama-sama empuk kok Ma!" ucap Pak Yosua.
"Hah? Iya kah? Mungkin tadi cuma perasaan Mama aja kali ya," ucap Tante Ima sambil menggaruk dagunya. "Yaudah lah, nggak papa. Kita lanjut makan aja!"
"Hmh! Itu mah cuma akal-akalan Mama aja. Biar Kak Yosua bisa duduk dekat Kak Tisa!" cetus Yosi yang sedari tadi diam menyimak.
"Aish, Yosi! Kenapa buka kartu Mama sih!"
"Udah ketebak kali Ma!" seru Yosi sambil mengambil nasi.
"Ehem! Abaikan Mama ya. Jangan dianggap serius!" ucap Pak Yosua.
"Ahaha. Iya Pak."
"Tisa," panggil Tante Ima.
"Iya Tante?" Aku mendongak dari piring di depanku.
"Kamu sekarang tinggal sama orang tua kamu?" tanyanya.
"Nggak Tante. Saya ngekos."
Tante Ima manggut-manggut mendengar jawabanku.
"Kamu umur berapa sekarang?"
"Umur 22 tahun Tante."
"Wah, udah siap nikah dong berarti!"
"Uhuk uhuk uhuk!" Aku langsung tersedak mendengar ucapan Tante Ima.
"Pelan-pelan! Ini minum airnya!" ucap Andri dan Pak Yosua bersamaan sambil memberikan segelas air.
"Uuu.. Banyak yang perhatian ya sama Kak Tisa!" seru Yosi yang melihat kekompakan Andri dan Pak Yosua.
Aku menoleh ke gelas yang diberikan Andri, lalu berganti menoleh ke gelas yang diberikan Pak Yosua.
Ambil yang mana nih?!
__ADS_1
BERSAMBUNG