
Aku berdiri di pinggir jalan menunggu angkot untuk pulang.
"Hei Tis!" Pak Yosua menghampiriku dengan motornya. "Lagi nungguin angkot ya?"
"Iya."
"Setelah dari sini kamu ada cara nggak?"
"Nggak, emangnya kenapa?"
"Ke rumahku yuk!" ajak Pak Yosua.
"Hah? Ngapain?"
"Kamu pilih Manga yang mau kamu pinjam!"
Aku ragu, tidak menjawab ajakan Pak Yosua.
"Tenang aja. Di rumah, aku nggak sendiri kok. Ada Mama juga," ujar Pak Yosua.
"Mmm, oke deh!"
Bibir Pak Yosua melengkung tersenyum mendengar jawabanku. Aku pun naik ke motornya.
_________
Kami berhenti di sebuah rumah. Ternyata rumah Pak Yosua tidak terlalu jauh dari alun-alun dan kosanku.
Tanaman bunga berwarna warni membuat rumahnya tampak asri.
Ada seorang wanita paruh baya sedang menyirami bunga-bunga itu. Dari wajahnya, dia mirip seperti Pak Yosua.
Begitu mengetahui kedatangan kami, dia langsung menghentikan kegiatannya dan menghampiri kami.
"Waduh, jarang-jarang Yosua bawa pulang cewek!" wajahnya tersenyum menatapku.
"Kenalin Tante, saya Tisa," ujarku sambil menyalami tangannya.
"Saya Ima, Mamanya Yosua. Ayo masuk ke dalam," ajaknya.
Kami pun masuk ke dalam rumah.
"Yos, kamu buatin minuman untuk Tisa ya!"
"Lho, kok aku Ma?"
"Ck. Udah sana buat. Mama mau ngobrol-ngobrol sama Tisa," ucap Tante Ima sambil duduk di sampingku.
Pak Yosua pun berlalu masuk dalam dan kembali lagi dengan membawa minuman.
"Tis, kamu ngobrol dulu sama Mama ya. Aku mau ganti baju dulu."
Aku mengangguk menjawab Pak Yosua.
"Ayo diminum," ucap Tante Ima.
Aku pun mengambil minuman berwarna hijau muda itu.
"Baru kali ini Yosua bawa pulang cewek. Sebelumnya dia nggak pernah bawa pulang cewek. Kamu pacarnya Yosua ya?"
"Mama!" pekik Pak Yosua yang baru muncul.
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk!" Aku tersedak minuman mendengar ucapan Tante Ima.
"Aduh, pelan-pelan minumnya!" Tante Ima menepuk-nepuk pelan punggungku.
"Ish! Mama nih bikin malu aja! Tisa itu teman kerjaku di kantor Ma, bukan pacar!"
"Uhuk uhuk!!" saking kagetnya, minuman yang aku minum sampek keluar dari hidung. Tante Ima segera meraih lembar tisu di atas meja dan menyodorkannya padaku.
"Maaf ya Tis, Mama memang gitu orangnya," ujar Pak Yosua.
"Ya, habisnya Mama nggak pernah lihat kamu jalan sama cewek. Waktu ditanyain tentang pacar juga selalu menghindar. Lalu tiba-tiba kamu bawa pulang cewek ke rumah. Ya, Mama pikir dia pacar kamu!" tutur Tante Ima.
"Tapi semisal kalian jadian, Mama merestui kok!"
"Aish! Mama!!" telinga putih Pak Yosua kini berubah menjadi merah.
________
"Ini semua koleksi Manga punyaku!" ujar Pak Yosua sambil sambil membuka pintu sebuah ruangan.
Wuahh!
Aku terpukau melihat rak-rak buku yang tingginya sama denganku ini.
Di ruangan empat kali lima meter ini ada tiga rak buku.
"Aku juga suka baca novel. Kalau kamu mau pinjam novel, ada di rak yang itu!" Pak Yosua menunjukkan salah satu rak buku. "Kalau yang dua rak itu isinya Manga semua!"
"Ini banyak banget! Jadi bingung mau yang mana!" ucapku sambil berjalan ke salah satu rak buku.
Pak Yosua terkekeh mendengar tuturanku.
"Nggak usah bingung, kamu boleh meminjamnya secara bergiliran kok!"
"Iya boleh!"
________
Akhirnya aku pulang dengan membawa tujuh buku Manga.
Aku diantar pulang oleh Pak Yosua.
Pipit baru turun dari sepedanya ketika aku sampai di kosan.
Kuputar bola mataku melihat ekspresi wajahnya. Aku bisa membaca apa yang ada di pikirannya itu.
Di dalam kepala berambut lurus itu, pasti sekarang tersusun seribu pertanyaan yang ingin dia lontarkan padaku karena melihatku diantar pulang oleh cowok.
Sebelum Pipit menanyakan yang aneh-aneh ke Pak Yosua, aku segera menyuruh Pak Yosua pulang.
"Siapa itu?"
Itu adalah pertanyaan pertama yang Pipit lontarkan padaku. Jadi kurang sembilan ratus sembilan puluh sembilan lagi.
Aku harus menjawabnya dengan jawaban yang tepat dan akurat agar sembilan ratus sembilan puluh sembilan pertanyaan selanjutnya hilang.
"Dia adalah alien yang turun ke bumi lalu tersesat. Dan aku memanfaatkannya untuk mengantarkanku ke kosan agar aku tidak perlu keluar uang untuk biaya angkot!" jawabku sambil masuk ke kamar.
"Aish, Tisa! Aku nanya serius nih! Tega kamu ya! Sebagai sahabatmu, aku merasa sangat-sangat terkhianati. Kamu lagi dekat sama Koko-koko ganteng, tapi nggak cerita sama aku!" ucapnya dengan nada ala-ala tersakiti seperti di sinetron-sinetron.
"Ck! Dia itu cuma Manager di kantor Pit!"
__ADS_1
"Kalau cuma Manager, kenapa kamu diantar segala?"
"Tadi aku minjam ini dari dia! Setelah itu dianterin pulang!" Aku mengeluarkan buku Manga dari tasku.
Pipit menatap buku-buku Manga itu. "Jadi dia suka yang beginian juga?" Aku mengangguk. "Sayang sekali ya, ganteng-ganteng tapi suka kartun ju--"
Pipit urung melanjutkan perkataannya saat aku mengacungkan kaos kaki yang baru aku lepas ke depan wajahnya.
"Diralat! Anime maksudku, bukan kartun!" lanjutnya.
"Nah, gitu dong!" Aku menurunkan kaos kaki tadi.
"Jadi, kita mau makan apa nih?" tanya Pipit.
"Bakso aja ya. Ini uangnya." Aku menyerahkan uang ke Pipit. "Beli yang di depan gang, di sana enak dapat banyak lagi pentolnya. Makannya di kos aja!"
"Kok aku yang beli sih? Kan ceritanya kamu yang traktir aku!" protes Pipit.
"Kalau kamu nggak mau ya udah, nggak jadi makan bakso!" Aku meraih uang yang aku kasih ke Pipit tadi.
"Eits!" Pipit menjauhkan tangannya yang memegang uang. "Ck, iya-iya aku yang beli!"
Aku terkekeh melihatnya berdecak kesal sambil keluar dari kamar.
Aku bergegas ke dapur untuk mengambil mangkuk. Di dapur ternyata ada Andri yang sedang membuat teh.
"Baru pulang?" tanyanya dengan nada yang menurutku agak-agak aneh.
"Iya."
"Tadi aku lihat kamu pulang sama Pak Yosua," ucapnya lagi. "Kamu pergi kemana sama dia?"
Dia habis makan apa sih?! Kenapa nada bicaranya jadi kaku gini?!
"Aku ke rumahnya, pinjam sesuatu."
"Kayaknya kamu akrab banget ya, sama dia."
Sepertinya aku merasakan kadar kekakuannya makin bertambah. Auranya juga terasa berbeda. Seperti bukan Andri yang biasanya.
"Ada yang marahan, ey ey!"
Aku menoleh ke ambang pintu mendengar senandung itu.
Tante Sarah berdiri di sana dengan terus menyenandungkan lirik itu sambil menggoyangkan bahunya.
"Cieee yang lagi marahan!" ucap Tante Sarah sambil melangkahkan kakinya masuk ke dapur. "Ada masalah apa nih? Kayaknya Andri cemburu karena Tisa jalan sama cowok lain deh!"
Astaga!! Jadi dia menguping pembicaraan kami! Udah kayak CCTV aja!
"Lagian kamu Tis! Udah punya cowok, masih aja jalan sama cowok lain!" ucap Tante Sarah lagi.
Nih orang kenapa sih, datang-datang main nimbrung aja!
Andri yang biasanya akan meminum tehnya di dapur, kali ini membawa pergi tehnya ke kamar.
"Nah kan, ngambek dia!" ucap Tante Sarah. "Tapi tenang Tis, untungnya di sini ada pakar cinta!" dia menunjuk dirinya sendiri. "Aku punya seribu cara untuk membuat laki-laki agar tidak ngambek lagi!"
Aku memutar bola mata dan menghempas kakiku keluar dari dapur.
"Eh Tis, mau kemana kamu?! Kamu nggak mau dengerin cara membujuk Andri nih?!" pekiknya.
__ADS_1
Aku tak menghiraukannya dan masuk ke dalam kamar.
BERSAMBUNG