
Aku meninggalkan Pak Yosua yang masih duduk di sana dan pergi masuk keruanganku.
Rasanya lega sekali mendengar Pak Yosua tidak marah dan masih ingin berteman denganku. Seakan-akan dia mengangkat batu besar yang menghimpitku.
Begitu aku membuka pintu ruangan, terlihat Andri berdiri di depan jendela dan memandang keluar sana.
Dia menoleh padaku saat aku membuka pintu. Beberapa saat dia menatapku lalu kembali menatap keluar jendela.
Oh iya, tadi dia melihatku dipeluk Pak Yosua.
"Mm, Ndri.. yang kamu lihat tadi itu.."
"Aku sudah tahu!" potong Andri. "Kamu tidak perlu menjelaskannya."
Mungkin saja tadi dia sempat mendengar percakapanku ketika menolak Pak Yosua.
Karena Andri tidak berbicara lagi, aku pun memilih duduk di meja kerjaku.
Entah kenapa, Andri rasanya jadi lebih pendiam hari ini. Atau mungkin itu cuma perasaanku saja.
Ruangan ini jadi lebih sunyi dari biasanya. Tak ada percakapan diantara kami. Sesekali hanya terdengar suara mesin foto kopi ketika aku mengkopi sesuatu.
Dia kenapa sih? Lagi sariawan kali ya!
Aku menghampiri mejanya ketika ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangannya.
"Ndri, ini ada beberapa dokumen yang perlu kamu tanda tangani," ucapku sambil menyerahkan dokumen.
Dia hanya melirik dokumennya sebentar. "Hm."
Aku mengernyit mendengar jawaban pendeknya.
Sepertinya dia benar-benar sariawan deh!
"Kamu sariawan ya Ndri?"
Andri mendongak menatapku. "Nggak," sahutnya pendek lalu kembali fokus ke layar laptop.
"Nanti setelah makan siang kita ada pertemuan dengan Pak Hartono. Beliau ingin membahas tentang proyek perluasan apartemen yang ada di luar kota," ucapku memberitahu Andri.
"Hm," sahutnya.
"Setelah itu, kita ada meeting yang diadakan di kantor Pak Bowo," lanjutku lagi.
"Hm."
"Lalu setelah meeting dari kantor Pak Bowo, kita akan mampir ke proyek yang sedang dibangun di dekat sana. Untuk memantau sudah sejauh mana perkembangannya."
"Hm."
Lagi-lagi dia cuma menjawab 'hm' saja.
Aku pun tersenyum simpul.
Kita lihat, apakah perkataanku selanjutnya akan dijawab dengan 'hm' juga atau tidak.
"Dan juga, kamu perlu menaikkan gaji dua kali lipat untuk asistenmu yang baru ini!"
"Hm. Hah?! Apa?!" dia terkejut dan mendongak menatapku. "Menaikkan gaji?"
Aku seketika terkekeh. "Dari tadi kamu cuma menjawabku 'hm' saja. Aku pikir kalau aku menanyakan tentang kenaikan gaji, kau akan menjawabku 'hm' juga. Tapi ternyata tidak!"
Akhirnya dia ikut terkekeh kecil. Tapi kemudian senyum diwajahnya hilang lagi dan berganti dengan helaan nafas panjang.
"Sa, tolong buatkan aku teh. Gulanya yang banyak ya!"
__ADS_1
Aku mengernyit. "Tumben? Biasanya gulanya dikit."
"Aku lagi pengen yang manis-manis!" sahutnya.
"Oke! Tunggu sebentar ya," ucapku sambil keluar ruangan dan bergegas ke pantry.
Aku menghentikan langkahku untuk masuk ke pantry ketika melihat Pak Yosua juga ada di dalam sana.
Meskipun Pak Yosua nggak marah sama aku, tapi tetap saja aku merasa sedikit canggung dengannya. Masuk apa nggak ya? Tapi kalau nggak masuk tehnya Andri gimana?
"Tisa? Kok nggak masuk?!"
Pak Yosua menyadarkan lamunanku sebelum aku membuat keputusan untuk masuk atau tidak.
Karena dia sudah terlanjur melihatku, aku pun melangkahkan kakiku untuk masuk ke pantry.
"Lagi buat kopi ya Pak?" tanyaku berbasa-basi.
"Iya," sahutnya.
Setelah mengambil gelas, aku meraih bungkus teh. Tapi tehnya ternyata habis.
"Tehnya habis ya?" ternyata Pak Yosua juga melihat bungkus teh yang ada di tanganku.
"Iya, habis."
"Di lemari atas kamu, biasanya ada persediaan teh di sana!" Pak Yosua menunjuk lemari yang menempel di dinding.
Aku mendongak ke lemari yang ada di atasku. Aku pun membukanya. Ternyata benar, ada persediaan teh di sana.
Aku berjinjit-jinjit berusaha menggapai teh di dalam lemari yang tinggi itu.
Kemudian sebuah tangan dari belakangku membantu mengambil teh itu.
Seketika aku langsung sedikit menjauh darinya.
"Ini tehnya," ucap Pak Yosua sambil menyerahkan bungkus teh padaku.
"Makasih Pak."
"Kamu tidak perlu merasa canggung kepadaku. Kalau kamu bersikap seperti itu, aku jadi tambah merasa nggak enak!" ujarnya. "Gimana kalau nanti kita makan siang bareng untuk menghilangkan kecanggungan ini?"
Kalau aku menolak ajakannya, bukankah nanti dia malah mengira aku menjauhinya?!
"Oke!" jawabku.
"Di warung yang biasanya ya."
Aku mengangguk menjawabnya.
________
Ketika jam makan siang tiba, Andri masih berkutat dengan laptopnya.
Apa aku ajak Andri makan siang bareng juga ya, biar aku nggak cuma berdua saja dengan Pak Yosua.
Aku pun menghampiri meja Andri.
"Ndri, makan siang bareng yuk!" ajakku.
Dia mendongak dari laptopnya. "Sama Pak Yosua juga?" tanyanya.
Kok dia bisa tahu?
"Iya," jawabku.
__ADS_1
"Nggak ah! Nanti aku jadi nyamuk lagi!"
"Hah? Nyamuk?" aku mengernyit bingung mendengar dia bergumam tentang nyamuk. "Maksudnya?"
"Ah, nggak. Bukan apa-apa. Mau makan dimana ini?" tanyanya sambil menutup laptop.
"Di warung yang waktu itu."
"Oke deh. Ayuk!" Andri berdiri dari kursinya. Kami pun keluar ruangan bersama.
"Maaf ya Pak Yos, aku jadi ikut makan bareng. Tadi Tisa mengajakku!" ucap Andri ketika bertemu dengan Pak Yosua di koridor.
"Nggak papa Pak, lebih rame lebih enak," sahut Pak Yosua.
Kami pun beriringan berjalan pergi ke warung.
"Hai Kak!" seorang cewek dengan jas almamater kampus menyapaku ketika kami hendak menyebrang jalan.
"Yosi! Kamu ngapain disini?!" tanya Pak Yosua pada cewek yang menyapaku. Sepertinya Pak Yosua kenal dengan cewek ini.
"Aku cuma mau lihat perempuan yang pernah mengangkat telfon dariku. Dan juga perempuan pertama yang telah Kakak bawa ke rumah!" ucapnya pada Pak Yosua lalu beralih menatapku lagi.
"Kak Tisa kan namanya?" Aku mengangguk. "Kenalin, aku Yosi. Adeknya Kak Yosua!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menerima uluran tangannya.
"Ternyata benar kata Mama. Kakak cantik!" ucapnya lagi. "Sering-sering main ke rumah ya Kak!" Yosi kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Aku kasih tahu ya Kak, cuma Kak Tisa cewek yang pernah diajak ke rumah sama Kak Yosua!"
Pak Yosua segera menarik Yosi menjauh dariku. "Kamu bisikin Tisa apa?! Udah ya, jangan bikin malu aku! Cepet kuliah sana, ntar telat lagi!" ucap Pak Yosua sambil mendorong Yosi.
"Nggak usah dorong-dorong juga woy! Aku juga mau pergi kok! Daah Kak Tisa, sampai jumpa lagi!" Yosi melambaikan tangannya padaku tapi langkahnya berhenti begitu tatapannya melihat Andri. Dia kembali mendekat ke Kakaknya.
"Siapa dia?" bisiknya yang masih terdengar olehku.
Aku melirik Andri, sepertinya dia tidak tahu kalau sedang dibicarakan. Tangannya sibuk memainkan benda pipih miliknya.
"Kalau mau makan siang bareng itu jangan ngajak orang lain. Apalagi orangnya ganteng gitu! Ntar kalau Kak Tisa malah kepincut sama dia gimana?!" bisiknya pada Pak Yosua.
"Apaan sih, dia itu Bos aku tahu!" bisik Pak Yosua. Mereka berdua melirik ke arahku, tapi aku pura-pura tidak mendengar apa-apa.
"Justru Bos itu lebih berbahaya!" sahut Yosi.
"Ck. Udah ah, sana pergi!" Pak Yosua kembali mendorong Yosi.
"Iya-iya, aku pergi! Yang jelas aku udah kasih tahu ya. Jangan nyesel nanti kalau kejadian!" bisiknya lalu pergi menjauh.
"Yuk, cepetan ke warung. Nanti jam makan siangnya keburu habis!" ucap Andri memberitahu.
Kami pun bergegas menyebrang jalan.
TIIINN!
"AWAS TISA!" Andri dan Pak Yosua sama-sama meneriakkan namaku.
Tapi berhubung Pak Yosua yang lebih dekat denganku, dia lah yang menarikku agar terhindar dari motor tadi. Tapi Pak Yosua malah kehilangan keseimbangan setelah menarikku. Akibatnya kami berdua malah jatuh bersama.
"Kamu nggak papa Tis/Sa?" tanya Pak Yosua dan Andri bersamaan.
Terlihat tangan Andri terulur ingin membantuku berdiri. Tapi ia kembali menarik tangannya begitu Pak Yosua juga mengulurkan tangannya padaku.
"Anu, sepertinya aku tidak bisa makan bersama kalian. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Andri lalu pergi meninggalkan kami.
"Tunggu Ndri!" cegahku. "Apa nggak sebaiknya kamu makan dulu aja?"
"Nggak usah deh, nggak papa. Aku bisa memesan makanan kok!" ucapnya lalu kembali melangkah pergi.
BERSAMBUNG
__ADS_1