
Dengan langkah yang berat, aku berjalan menuju ke dapur.
Terdengar canda dan tawa ria dari arah dapur yang membuat langkah ini semakin berat.
"Ih! Andri! Kamu jail juga ternyata ya!" Indah membalas Andri yang mencoret mukanya dengan tepung.
Aku urung masuk ke dapur melihat pemandangan yang bikin hati jadi tambah panas.
Aku jongkok di samping pintu dapur sambil mengacak rambut ini.
"Duh... kalian ini jangan bercanda terus dong! Nanti nggak selesai-selesai nih masaknya!" terdengar Mama pura-pura protes.
Aaakhh! Aku nggak mau masuk kesana! Tidak ada tempat untukku di sana!
"Loh? Tisa? Kamu ngapain jongkok di situ? Kenapa nggak masuk ke dapur?"
Duh! Mampus!
Aku mendongak, terlihat Indah melihatku dengan keheranan. Disusul kepala Andri yang nyembul di belakangnya.
"Ahaha... Ng.. Ini.. Kakiku gatal," jawabku terbata sambil pura-pura menggaruk kaki yang tak gatal.
"Oh.. kirain ngapain. Yuk masuk, Mama udah mau mulai masak tuh!" ajak Indah sambil membantuku berdiri.
"Kita mau masak apa Ma?" tanyaku sambil berdiri di samping Mama yang tampak sibuk menuang tepung.
"Kita akan bikin koloke."
"Sini, biar Tisa bantu Ma!"
"Sa, pakek celemek dulu. Biar nggak kotor bajunya!" Aku menoleh ke Indah yang memberikanku sebuah celemek.
Aaa.. Kok kamu baik gini sih Ndah? Aku kan jadinya nggak bisa benci kamu!
"Sini aku pakein," tawar Indah yang mulai memakaikan celemek kepadaku.
Setelah itu kami sibuk dengan tugas masing-masing.
Aku bertugas memotong ayam menjadi kecil-kecil. Indah bertugas menggoreng ayam yang sudah dibaluri tepung.
Sedangkan Mama sibuk membuat sausnya. Lalu Andri?
Jangan tanyakan tugas Andri apa. Dia cuma duduk manis doang seperti mandor yang mengawasi pegawainya.
Nggak ada gunanya dia memakai celemek!
Aku meliriknya kesal ketika sesekali dia senyum-senyum kecil melihat ke arah sini.
Ah, tentu saja bukan aku yang sedang dilihatnya. Melainkan Indah yang memang sedang berdiri di sampingku.
Rambutku yang tergerai membuat aktivitas memasak ini jadi susah. Aku pun sedikit merasa risih karena sesekali rambut ini menghalangi pandangan.
Sudah kuduga aku tak akan cocok dengan rambut tergerai. Gatal pula rasanya di telinga!
"Duhhh, harusnya tadi aku ngikat rambut dulu sebelum memasak," keluh Indah yang membuatku menoleh ke arahnya.
"Sini, biar aku ikatin rambut kamu," tawar Andri yang dengan sigap langsung mendekat ke Indah.
Ihhh! Sok romantis banget sih! Sengaja dia rupanya mau pamer!
Dengan gerakan tangan yang luwes, Andri mengikatkan rambut Indah.
Tuhan... mata ini sudah tak sanggup melihat keromantisan mereka!
__ADS_1
Ini semua salahku! Coba saja aku tetap pada pendirianku untuk tak jatuh hati pada Andri. Pasti aku tak akan merasakan sesakit ini!
"Ndah, hpmu bunyi tuh!" ujar Mama sambil menunjuk hp Indah yang tergeletak di meja dapur.
"Sebentar ya, aku angkat telfon dulu," pamit Indah setelah mencuci tangan lalu meraih hp yang terus saja berdering. Kemudian dia berjalan keluar dari dapur.
"Titip ayamnya ya Sa," ucapnya yang kujawab dengan anggukan saja.
"Ndri, Mama mau anterin teh buat Papa. Titip saus kolokenya sebentar ya. Aduk terus, jangan ditinggalin!" pesan Mama sambil berlalu membawa cangkir berisi teh.
Kini tinggallah aku dan Andri saja di dapur ini.
Kusingkirkan rambut yang menghalangi pandangan dengan lengan karena tanganku kotor.
"Sini, biar aku ikatin ram--"
Plak!
Kutepis dengan kasar tangan Andri yang hendak menyentuh rambutku, tapi di detik berikutnya aku langsung menyesali perbuatanku begitu melihat ekspresi wajah Andri.
Tidak! Aku tak bermaksud jahat. Aku hanya tak ingin merasa nyaman dengan perhatianmu dan berharap lagi denganmu!
"Sa, aku tahu kita sudah putus. Tapi kau tak perlu sampai seperti ini. Kita berpisah dengan cara yang baik. Bukankah kita masih bisa berteman?!"
"Ndri, sebaik apapun caramu berpamitan, yang namanya perpisahan akan tetap menyakitkan!"
"Maaf.. Tapi percayalah padaku, setelah ini pasti akan ada hal baik yang menimpamu."
Aku akhirnya pasrah ketika Andri meraih rambut ini. Dengan sabar ia merapikan rambutku yang berantakan.
"Tapi tali rambutku ketinggalan di kamar Mama," ujarku yang baru saja teringat dan membuat tangan Andri berhenti merapikan rambut ini.
Tapi detik berikutnya tangan Andri kembali bergerak merapikan rambutku.
"Tenang aja, kita pakek gelangku," sahut Andri.
Tapi Andri malah terkekeh. "Memang kalau dia salah paham kenapa?"
"Aish! Kamu ini gimana sih?! Nanti kalau aku dicap sebagai pelakor gimana?!" ucapku kesal sambil menyikut Andri.
Andri segera menghindar yang membuatnya jadi harus melepas rambutku yang belum diikatnya.
"Nah kan lepas! Kamu sih! Katanya disuruh cepetan."
"Aish, udalah! Aku ikat rambut sendiri aja!" kesalku sembari menuju wastafel hendak mencuci tangan.
"Lah, jangan ngambek dong Sa! Kan salahmu sendiri, siapa suruh gerak. Udah, nggak usah cuci tangan. Biar aku yang ngiketin rambutmu!" Andri menarik lenganku agar urung cuci tangan.
Andri pun mulai merapikan rambutku lagi.
"Fuuuhhh..."
Kugosok leherku yang seperti terkena angin.
"Ndri, kamu niup leherku ya!" tuduhku.
"Mana ada! Nggak kok. Angin kali!"
Masa sih ada angin di dalam rumah.
"Fuuuuhhh..."
Angin itu semakin kencang menerpa leherku, tapi detik berikutnya yang membuatku heran adalah...
__ADS_1
Kok bisa ada angin yang baunya kek permen mint?
"Aish! Andri! Jangan jail ya! Jangan ditiup gitu! Geli tahu!"
"Mana ada aku niup. Beneran angin itu!" kekeh Andri sambil terkekeh.
"Sejak kapan angin bau permen mint?!"
Seketika tawa Andri pecah mendengar tuturanku.
"Jadi orang jangan jail!" ujarku seraya menghadiahi Andri dengan cubitan setelah dia selesai menguncir rambutku, tapi ia segera menghindar.
"Ahaha. Makanya jangan galau mulu!"
"Emangnya gara-gara siapa coba aku jadi galau kayak gini! Mana tadi sok-sok pamer mesra lagi!"
"Jadi kamu cemburu nih ceritanya?"
"Cemburu terlalu mahal kulakukan untukmu! Aku hanya tidak suka melihat orang pamer!"
"Jiah! Nggak mau ngaku dia!"
"Sa, ayamnya udah mateng belum?" suara Mama yang seperti mendekat ke dapur menghentikan aksi kami.
Kami pun segera kembali ke aktivitas masing-masing.
"Dikit lagi Ma," sahutku.
Setelah sedikit drama tadi, akhirnya semuanya selesai. Kini kami duduk di meja makan, menyantap makanan di piring masing-masing.
Aku sedikit merasa canggung. Sudah lama aku tidak makan bersama seperti ini. Aku sudah terbiasa makan sendirian di kos-kosan.
"Ndah, sering-sering main kesini. Biar makin akrab dengan Andri," ujar Om Heru, Papanya Andri.
Aku mengetahui namanya dari Andri. Aku bertanya karena bingung mau manggil dia apa.
"Iya Pa," sahut Indah malu-malu.
"Jadi waktu kalian nikah nanti, sudah nggak canggung lagi!"
"Uhuk uhuk!" Andri tiba-tiba terbatuk. "Kenapa mesti buru-buru nikah Pa?"
"Iya dong. Lebih cepat lebih baik!" ujar Om Heru sambil melirikku sinis.
Iya, aku tahu maksudnya. Itu adalah kata-kata peringatan agar aku tak mendekati anaknya lagi.
"Harus tunangan dulu dong Pa," usul Mama sambil menuangkan minuman untuk suaminya.
"Iya, tenang aja. Nanti bisa diatur semuanya," sahut Om Heru enteng. "Nanti biar Tisa aja yang jadi MC di acaranya. Dia kan udah terbiasa mandu-mandu acara besar. Jadi kita nggak perlu repot-repot cari MC lagi."
Aku hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Takutnya kalau aku nolak, nanti malah dapat ancaman lagi.
Ya, meskipun hati sakit mendengar orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain.
"Kalau Tisa kapan mau nikah?"
"Uhuk uhuk uhuk!" kini gantian aku yang terbatuk mendengar pertanyaan dari Om Heru.
"Saya masih nggak mikir ke situ Om. Mau fokus menggapai impian dulu," jawabku setelah minum.
"Mau sampai kapan kamu menunda untuk menikah? Bukannya kamu udah dijodohin ya?"
"Uhuk uhuk uhuk!" lagi-lagi aku terbatuk. Mataku membulat mendengar ucapan Om Heru.
__ADS_1
Dari mana Om Heru tahu kalau aku udah dijodohin?!
BERSAMBUNG