KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Jual Bakso


__ADS_3

Aku menatap lampu lalulintas yang durasinya masih 120 detik.


Tiba-tiba seorang anak kecil yang menurutku masih umur 9 tahun menghampiri kami dengan membawa keranjang berisi penuh bunga mawar merah.


"Bunganya Kak, masih segar-segar. Silahkan dibeli, bisa buat pacarnya Kakak yang cantik ini," tawarnya kepada Andri.


Masih kecil udah ngerti pacar-pacaran nih anak!


Andri sedikit tertawa kecil. "Maaf Dek, tapi pacarnya Kakak sukanya cilok, bukan bunga."


"Nggak papa Kak, sekali-kali beliin bunga. Biar romantis!"


Aih! Anak kecil jaman sekarang bahasanya udah sampek romantis-romantisan ya!


"Gimana, beli bunganya nggak?" tanya Andri kepadaku.


"Ya nggak tahu. Terserah kamu! Lagian kan kita nggak pacaran!"


"Beli aja ya Sa. Kasian Adeknya. Tuh, kamu lihat. Bunganya masih banyak, belum ada yang beli."


"Terserah."


Andri pun membeli dua tangkai bunga.


"Makasih ya Kak," ucap anak itu.


"Iya, sama-sama."


Setelah Andri membayar bunganya, anak itu pergi meninggalkan kami.


"Sa, ini buat kamu!" Andri menoleh kepadaku dan memberikan dua tangkai bunga itu kepadaku.


"Lah. Kenapa dikasih ke aku?! Nggak mau!"


"Udah, pegang aja nih! Tuh lampunya udah hijau. Aku mau nyetir, gimana mau pegang bunga?!" Andri langsung menyodorkan bunga itu ke telapak tanganku dan langsung menarik pedal gas karena lampunya sudah berubah hijau.


Dengan terpaksa, aku menerima bunga itu. Dan motor pun mulai berjalan.


"Sa?" panggil Andri.


"Ya?"


"Aku masih nungguin jawaban kamu!"


Duh! Andri ngapain bahas tentang masalah itu sih?! Mana suasananya jadi aneh gini lagi!


"Selalu!"


Deg!


"Akan kupastikan jawabanmu berubah!"


Setelah percakapan itu, tak ada lagi pembicaraan diantara kami. Sampai akhirnya kami sampai di kos-kosan.


Setelah turun dari sepeda, aku langsung masuk ke kamar tanpa berbicara lagi dengan Andri.


Lebih tepatnya aku sedikit menghindari Andri karena pembicaraan tadi.


Karena terburu-buru masuk kamar, bunga milik Andri jadi ikut kebawa masuk juga.


Aku meletakkan bunga itu di atas lemari baju yang hanya setinggi leherku. Lalu merebahkan tubuhku di kasur.


Di siang hari yang mendung ini, perlahan aku mulai terlelap. Sampai akhirnya sebuah ketukan di pintu kamar membangunkanku.


Tok tok tok!


Aku mengabaikan ketukan pintu itu dan memilih untuk memejamkan mata lagi.


Tok tok tok!


"Tis, ini aku. Buka pintunya!" terdengar suara Pipit berteriak.


Tapi aku masih mengabaikan suara Pipit dan masih memejamkan mata.

__ADS_1


"Tis! Buka! Kalau pintunya nggak dibuka, baksonya aku bawa pulang lagi deh!"


Segera aku bangkit dari kasur mendengar kata bakso.


Aku langsung memutar kunci dan membuka pintu. Terlihat Pipit berdiri di depan pintu.


Aku mengernyit saat tangannya kosong tidak menenteng bakso seperti yang dia katakan barusan.


"Cih! Giliran makanan aja. Langsung cepet!" cibir Pipit sambil langsung nyelonong masuk ke kamar.


"Mana baksonya?!" tanyaku sembari mengekori Pipit yang duduk di kasur.


"Nggak ada! Aku nggak bawa bakso!" sahut Pipit. "Kalau aku nggak nyebut makanan, kamu nggak bakal bukain pintunya!"


"Ck! tau gitu tadi aku nggak bukain pintu buat kamu!"


"BAKSO BAKSO!!" Aku langsung menoleh ke ambang pintu mendengar teriakan itu.


"Bang! Beli bakso!!" teriakku.


"Tis, aku juga mau dong!" ucap Pipit menghentikan langkahku saat ingin keluar kamar.


Aku mengulurkan tanganku ke Pipit.


"Apa?" tanya Pipit.


"Apa lagi?! Duit lah! Katanya kamu juga mau bakso!"


"Iya-iya!" Pipit membuka tasnya dan mengeluarkan uang. "Nih! Sama gorengan ya!"


"Oke!" Aku meraih uang itu dan berjalan keluar menghampiri tukang bakso.


"Dua porsi ya Bang, bungkus!" ucapku sambil menyerahkan uang.


Duuut!


Aku mengernyit mendengar suara itu dan disusul bau tak sedap. Segera aku menutup hidung.


"Hehehe, iya Neng. Maaf ya," ucapnya sambil nyengir. "Adu-duh!" Abang tukang bakso itu tiba-tiba memegangi perutnya.


"Kenapa Bang?"


"Aduh Neng, titip gerobak dulu ya! Kebelet nih!" ucapnya sambil terus memegangi perut.


"Lah, kok jadi aku Bang?!" cegahku saat Abang tukang bakso mulai berlari meninggalkanku.


Dia berhenti berlari dan menoleh kearahku. "Bentar doang kok Neng, rumah Abang deket kok dari sini! Abang tetangganya Ibu kos kamu!"


Setelah mengatakan itu, dia kembali berlari. Tapi kemudian berhenti lagi dan menoleh kepadaku.


"Kalau ada yang beli, tolong jualin ya Neng! Kamu kan udah hafal harga bakso Abang. Nanti bakso kamu Abang kasih gratis deh!" teriaknya lalu berlari lagi dan menghilang dari pandangan mata karena belokan gang.


Aku tersenyum mendengar teriakannya.


"Kalau ada gratisannya sih, ya dengan senang hati aku membantu!"


Aku menurunkan satu kursi yang berada di atas gerobak untuk aku duduki.


Tak berapa lama kemudian sebuah sepeda motor melambat dan menghampiri gerobak bakso. Begitu melihatku si pengendara motor itu langsung turun.


"Cantik-cantik kok jaga bakso. Jagain hati Abang aja!" ucapnya sambil tersenyum kepadaku.


Aku hanya memutar bola mata mendengar gombalannya.


Sabar, ini demi bakso gratis!


"Mau beli bakso apa Bang?"


"Emang baksonya ada berapa macam?"


"Ada bakso biasa, bakso campur, bakso jumbo, sama bakso pedas," ucapku menjelaskan dengan penuh kesabaran.


"Harganya berapaan?"

__ADS_1


"Bakso biasa, delapan ribu. Bakso campur, sepuluh ribu. Bakso jumbo, tujuh belas ribu. Bakso pedas, lima belas ribu."


"Kalau beli yang jual boleh nggak?"


"Ck. Mau beli apa kagak sih Bang--" Aku langsung menutup mulutku begitu keceplosan karena kesal.


Duhhh! Nih mulut remnya blong lagi!


"Galak amat sih Neng!"


Duuh, gimana nih kalau orangnya nggak jadi beli?!


"Untung cantik, jadi Abang maafin deh! Beli bakso jumbonya dua porsi ya, dibungkus."


Haaah, untung dia nggak marah!


Aku langsung mengambil dua plastik. Memasukkan mie beserta bakso jumbonya. Karena sering beli bakso, jadinya aku hafal takaran baksonya.


"Minta nomornya dong Neng!" ucap cowok itu ketika aku masih sibuk menakar kuah bakso.


"Sendal jepitku udah tipis Bang, jadinya kagak kelihatan nomornya!" ucapku sambil menunjukkan sendal jepit yang sudah tipis dengan tali nyaris putus.


"Yaelah Neng! Bukan nomor sendal jepit, tapi nomor hp!"


"Waduh, maaf Bang! Kalau nomor hp mah, kagak ingat! Nomor hp ada dua belas biji, kebanyakan. Jadinya kagak ingat!" ucapku memberitahu, karena aku memang tidak hafal dengan nomorku sendiri.


"Lah, gimana sih Neng! Nomor sendiri kok nggak hafal! Hp mana? Lihat nomornya dari hp dah!"


"Aku nggak bawa hp Bang!" sahutku.


"Wah, ada penjual bakso baru nih!" ucap Andri yang tiba-tiba muncul.


"Eits! Antri dulu dong! Kan gua duluan yang beli!" ucap cowok itu karena Andri main nyerobot antrian.


"Totalnya jadi tiga puluh empat ribu Bang!" Aku menyerahkan kresek berisi bakso yang sudah aku bungkus.


"Makasih Neng," cowok itu meraih kresek yang aku sodorkan. "Nomor hpnya gimana Neng?"


"081.." tiba-tiba Andri membacakan nomor dari hpnya.


Aku dan cowok di depanku serempak menoleh ke Andri yang sedang menatap layar hpnya.


Andri mendongak dari layar hpnya. "Kenapa diem aja?! Buruan catet, katanya mau minta nomor hpnya dia!" ucap Andri ke cowok itu dengan menunjukku.


"Ah, tunggu sebentar Mas!" cowok itu dengan buru-buru mengeluarkan hpnya dari saku celana.


Aku melotot ke Andri, mengisyaratkan untuk tidak memberikan nomor hpku padanya. Tapi Andri malah tersenyum kepadaku.


Ck. Aish! Jangan bilang Andri beneran mau ngasih nomorku!


"081.."


"224.."


Tunggu! Ini kan bukan nomorku. Lalu nomor siapa yang Andri kasih?!


"240..007."


"Oke. Makasih ya Mas!" cowok itu tersenyum ke Andri.


"Iya, sama-sama. Cepetan hubungin ya Bang. Selalu online kok!"


"Siap!!" cowok itu mengerling kepadaku lalu melajukan motornya meninggalkan kami. Segera aku menghampiri Andri.


"Ndri, tadi itu bukan nomorku!"


"Emang bukan!" sahut Andri enteng.


"Lah, terus nomor siapa yang kamu kasih?!"


"Nomor sedot WC!" jawab Andri sambil menunjuk tiang listrik yang penuh dengan tempelan nomor sedot WC.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2